Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Sama


__ADS_3

Saat jam istirahat di sekolah Jasmine mengatakan pada Maya bahwa siang nanti ia akan di jemput oleh Adam. Jasmine juga menceritakan jika Adam juga sudah tahu tentang penyamarannya sebagai Jessica.


"Apa kau tidak takut jika ia melakukan sesuatu karena peyamaranmu itu Jess?"


"Aku juga merasa sedikit takut... tapi sepertinya dia tidak marah dan akan melakukan sesuatu yang jahat padaku May..." sahut Jasmine.


"Apa kalian akan bertemu berdua saja?" tanya Maya.


Jasmine hanya mengangguk.


"Saranku... lebih baik aku ikut denganmu Jess... untuk jaga-jaga" kata Maya.


Setelah berfikir sejenak akhirnya Jasmine menyetujui saran Maya. Tibalah saat untuk pulang. Semua siswa tampak berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Jasmine dan Maya sengaja berjalan lambat agar mereka keluar paling akhir. Namun saat mereka baru akan sampai di pintu gerbang seseorang memanggil Maya. Saat keduanya menoleh kearah orang tersebut ternyata orang itu adalah Rio.


"Ada apa kak?" tanya Maya.


"Bukankah kau berjanji jika hari ini kau akan memberikan jawabanmu?" tanyanya tanpa basa-basi.


Jasmine yang merasa tak enak karena obrolan mereka yang bersifat pribadi pun pamit pada Maya.


"May aku pulang dulu ya..."


"Tapi Jess..."


"Ga pa-pa aku bisa jaga diri kok..." sahut Jasmine tersenyum.


Akhirnya Maya pun membiarkan Jasmine pergi sendiri.


"Bagaimana May?" tanya Rio lagi setelah kepergian Jasmine.


Setelah terdiam sebentar kemudian Maya pun menjawab.


"Baik kak aku bersedia" ucapnya yang langsung disambut dengan teriakan gembira Rio.


"Yesss...!! terima kasih May" ucapnya sambil melompat kegirangan.


Maya yang melihat itu tersenyum tak menyangka jika Rio akan segembira itu mendengar pernyataannya.


"Aku antar kamu pulang ya?" tawarnya pada Maya. Maya pun mengangguk menyetujuinya.


Mereka pun berjalan beriringan ke tempat parkir dimana Rio memarkirkan motornya. Sebelum membonceng Rio, Maya menyempatkan diri untuk menelfon sopirnya untuk tidak jadi menjemputnya sebab ia akan pulang diantarkan oleh temannya.


Sementara Jasmine yang menunggu Adam di depan gerbang sekolah tampak sedikit kebingungan karena orang yang ditunggunya belum juga datang. Padahal Maya juga sudah pulang dengan dibonceng oleh Rio.


"Apa dia lupa sama janjinya ya..." fikir Jasmine sambil menyenderkan tubuhnya di tembok samping gerbang sekolahnya.


"Maaf... apa kau sudah menunggu lama?" tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedang ditunggunya.


Jasmine pun langsung menoleh ke arah suara itu dan tampak Adam sudah berdiri disampingnya dengan masih mengenakan pakaian kerjanya.


"Eum... tidak ... aku baru saja keluar" jawabnya berbohong padahal ia sudah berdiri disana hampir 20 menit.


Pria itu langsung tersenyum dan mengajak Jasmine menuju ke mobilnya yang berada tak jauh dari tempat keduanya berdiri.


"Kau sudah makan?" tanya Adam saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Belum" jawab Jasmine.


"Baiklah ... kita makan siang saja dulu" kata Adam lalu melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


Ternyata Adam membawanya ke sebuah kafe yang berada tak jauh dari sekolah Jasmine. Dan disana Adam memilih tempat private untuk mereka berdua. Walau sedikit takut karena harus berdua saja dengan Adam di dalam ruangan tertutup namun Jasmine tak berani menolak. Ia tak ingin Adam jadi tersinggung dan marah padahal ia juga masih takut dengan kebohongannya menjadi Jessica yang sudah diketahui oleh Adam akan membuat pria itu marah dan menuntutnya.


"Kau mau pesan apa?" tanya Adam saat keduanya sedang melihat daftar menu.


"Samakan saja dengan yang Bapak pesan..." jawab Amira formal.


"Jangan panggil saya bapak..." ucap Adam setelah pelayan yang mencatat pesanannya pergi.


"Lalu saya harus panggil apa?" tanya Jasmine polos.

__ADS_1


"Panggil saja kakak..."


"Baiklah kak..."


Adam pun tersenyum mendengar jawaban Jasmine.


"Sebelumnya aku minta maaf karena sudah membohongi kakak ..." ucap Jasmine hati-hati.


"Tapi saat itu kami terpaksa karena tak ada orang lain lagi yang memahami desain mamaku..." sambungnya sambil menatap Adam takut-takut.


"Aku mohon jangan tuntut kami..." lanjutnya.


Adam yang melihat ketakutan pada mata Jasmine pun merasa iba. Sebenarnya ia memang tak pernah berniat menuntut siapa pun karena memang ia tak merasa ada yang dirugikan.


"Kau tenang saja aku tak akan menuntut siapa pun" ucapnya sambil tersenyum.


Mendengar itu Jasmine langsung menghembuskan nafas lega.


"Lalu apa yang akan kakak bicarakan padaku?" tanyanya.


"Kita makan saja dulu ...." jawab Adam karena pada saat itu pesanan mereka sudah datang.


Jasmine makan dengan sedikit lahap disamping karena memang sudah lapar tapi juga karena sudah lega setelah tahu Adam tak akan menuntut karena kebohongannya.


Selesai makan Jasmine tampak agak gelisah karena tak tahu apa lagi yang akan dibicarakan oleh pria yang ada dihadapannya itu namun sepertinya sangat penting.


"Eum... sebenarnya apa lagi yang ingin kakak bicarakan?"


"Aku hanya ingin tahu apakah kau benar-benar ingin menjadi desainer seperti mama kamu?"


"Aku belum begitu yakin kak... walau jujur aku sangat menyukai desain" ungkap Jasmine.


"Tapi aku juga menyukai hal lain seperti penjualan misalnya... kadang aku berfikir jika berdagang itu sangat menyenangkan" sambungnya dengan wajah menggemaskan.


Adam mengangguk memgerti. Dengan usia gadis itu yang baru 16 tahun wajar saja jika ia masih tak terlalu serius memilih karir yang diinginkannya.


"Oh iya kak... kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi bisakah aku ijin untuk pulang?" tanya Jasmine.


"Bukan... hanya saja sudah hampir sore dan aku takut mama pulang cepat dan mencariku di rumah"


"Baiklah... aku antar kau pulang" ucap Adam.


Lalu keduanya pun segera keluar menuju mobil Adam.


"Apa setelah ini kita masih bisa bertemu?" tanya Adam sambil mengemudikan mobilnya.


"Tentu saja kalau kakak ga malu jalan sama aku" jawab Jasmine.


"Memang kenapa harus malu?"


"Eum... soalnya banyak yang bilang kalau aku ini jelek dan culun" sahut Jasmine lirih.


"Siapa yang bilang kalau kamu jelek?" tanya Adam.


"Mungkin dia yang seharusnya pakai kaca mata bukan kamu" lanjutnya sambil tersenyum pada Jasmine.


"Kak Adam kenapa baik sama aku? bukankah aku pernah bohongi kakak?"


"Aku tak sepenuhnya kamu bohongi... karena kemampuan kamu memang sangat baik dalam desain. Tak heran jika bu Fira nekat meminta bantuanmu walau harus dengan membohongi saya karena usia kamu" ucap Adam.


Wajah Jasmine langsung bersemu merah mendapatkan pujian dari Adam.


"Jadi bagaimana? kau masih mau kan jika aku mengajakmu bertemu lagi? lain kali aku akan mengajakmu bermain lebih lama dari yang kemarin" bujuk Adam.


"Apa aku juga boleh membawa teman?" tanya Jasmine yang sudah membayangkan dapat bermain bersama Maya.


"Boleh... siapa yang ingin kau ajak?"


"Maya" ucap Jasmine cepat.

__ADS_1


"Kembaran kamu?" kata Adam sambil tergelak mengingat saat perkenalan mereka di mall.


"Iya..." sahut Jasmine pelan.


"Kenapa?" tanya Adam yang melihat Jasmine sedikit terdiam.


"Kakak pasti menganggap kami sangat kekanakan ya..."


"Tidak... malah aku merasa kau sangat beruntung memiliki sahabat rasa saudara seperti Maya" kata Adam.


Mendengar itu Jasmine langsung tersenyum cerah. "Benarkah?"


"Tentu saja..." sahut Adam sambil mengangguk.


Tak terasa mereka pun sampai di depan rumah Jasmine.


"Terima kasih kak sudah memaafkan kami dan mentraktirku makan siang..." kata Jasmine sambil membuka sabuk pengaman.


"Iya sama-sama..." ujar Adam.


"Aku pulang dulu ya..." ucap Jasmine lalu keluar dari dalam mobil.


"Hemmm..." sahut Adam sambil mengangguk dan melajukan mobilnya setelah Jasmine melangkah masuk ke dalam rumah.


Hati Jasmine sangat bahagia karena apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Adam terlihat sangat baik dan tidak akan menuntut dirinya berserta mamanya dan juga tante Fira. Setelah mengganti seragamnya dengan pakaian rumah Jasmine pun merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia merasa jika hari ini hari keberuntungannya karena bisa terlepas dari bayang-bayang Jessica dihadapan Adam. Apa lagi Adam masih mau bertemu dengannya lagi lain waktu. Walau bukan peryataan cinta seperti yang diterima Maya dari Rio namun Jasmine tetap merasa bahagia. Biar saja ia memendam rasa sukanya pada Adam apalagi mengingat jarak usia keduanya yang cukup jauh membuat Jasmine mengira jika Adam hanya akan menganggapnya anak kecil.


Di tempat lain Adam yang juga sudah berada di dalam kamarnya juga tampak bahagia karena hari ini dapat kembali menghabiskan waktu berdua dengan Jasmine. Walau ia harus menahan perasaannya saat berada di dekat gadis itu sebab sepertinya Jasmine masih terlalu polos jika menyangkut perasaannya terhadap lawan jenis.


"Aku akan selalu menunggumu Jess... hingga kau siap dan mau menerima perasaanku padamu" gumam Adam sambil memandang foto Jasmine pada ponselnya.


Malam hari Maya menelfon Jasmine saat ia baru saja selesai makan malam bersama mamanya.


"Halo Jess?" terdengar suara Maya yang ceria.


"Hemm.... ya?" jawab Jasmine.


"Aku bahagia..." ucap Maya.


"Aku tahu..." jawab Jasmine lagi.


"Kau kenapa Jess? apa pak Adam melakukan sesuatu?" tanya Maya yang mendengar jawaban Jasmine yang singkat-singkat.


"Tidak ... dia tidak melakukan apa-apa"


"Lalu kenapa kau terdengar tidak bersemangat?".


"Aku hanya ..."


"Hanya apa?" tanya Maya penasaran.


"Hanya ingin menggodamu... ha.. ha... ha...".


"Kau..."


"Ha...ha...ha..." tawa Jasmine semakin pecah saat mendengar suara Maya yang terdengar kesal.


"Jadi?" tanya Maya.


"Jadi apa?" Jasmine balik bertanya.


"Apa kau juga bahagia karena bertemu dengannya lagi?" tanya Maya lagi.


"Aku bahagia...." sahut Jasmine.


"Lalu kau diajak kemana sama kak Rio berboncengan begitu?" kini Jasmine yang bertanya pada sahabatnya itu.


"Kami hanya makan siang bareng di tempat favoritnya kak Rio..." terang Maya sambil tersenyum membayangkan saat dirinya bersama Rio tadi.


"Kalau begitu hari ini kita berdua sama-sama bahagia...." kata Jasmine yang langsung diiyakan oleh Maya.

__ADS_1


Kedua gadis itu pun malam ini tertidur dengan perasaan yang sama-sama bahagia karena cinta.


__ADS_2