Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Memilih Pergi


__ADS_3

Hari ini Jasmine dan Adam mengadakan acara aqiqoh putra pertama mereka. Bukan hanya keluarga dan sahabat, keduanya juga mengundang anak yatim dari panti asuhan serta pak Jajang dan bu Sumi. Bahkan warga kampung juga mereka undang. Keduanya benar-benar ingin berbagi kebahagiaannya pada semua orang. Jasmine baru saja memberikan ASI pada baby Aby saat Maya masuk ke dalam kamarnya untuk pamit pulang.


"Jess... aku pulang dulu ya..." pamitnya.


"Makasih ya May udah datang..."


"Iya... sama-sama... oh iya Jess... apa kau tahu kalau ternyata kak Hans itu istri kak Rio?" tanya Maya tiba-tiba.


"Kau tahu dari mana May?" Jasmine malah balik bertanya.


"Tadi tidak sengaja aku melihat mereka saat acara aqiqoh baby Aby..."


"Apa kau masih sakit hati May?" tanya Jasmine hati-hati.


"Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi pada kak Rio... Jess" sahut Maya tenang.


"Sebenarnya aku sudah tahu jika kak Hana itu istri kak Rio, May... saat itu aku tidak sengaja bertemu dengan mereka di rumah sakit ketika aku cek kandungan..." terang Jasmine.


"Maaf aku tidak menberitahumu segera May... sebab saat itu kamu masih sibuk dengan persiapan pernikahanmu dengan kak Rian... aku hanya tidak ingin mengganggu fikiranmu..." sambung Jasmine yang merasa tidak enak pada Maya.


"Ga pa-pa kok Jess... aku hanya ingin tahu saja..." sahut Maya.


"Sekali lagi aku maaf May..." ucap Jasmine tulus.


"Hey... jangan minta maaf terus ih...aku kan juga udah punya kak Rian... jadi kamu ga usah khawatir..." sahut Maya meyakinkan Jasmine.


"Aku tahu... tapi tetap saja rasa sakit itu pasti masih ada saat kamu melihat mereka kan?"


Maya terdiam. Memang benar apa yang dikatakan oleh Jasmine. Hatinya masih sedikit terluka saat melihat Rio dan Hana. Kini setelah melihat keduanya bersama Maya kembali teringat dengan sosok wanita yang tidur dengan Rio dulu. Dan Maya yakin jika sosok wanita itu memang Hana... apa lagi saat melihat buah hati mereka ia sudah bisa menduga jika anak itu hasil hubungan terlarang mereka saat itu.


"Kau benar Jess aku masih sedikit terluka... tapi bukan karena aku masih punya perasaan padanya... tetapi lebih karena aku masih belum ingin melihat wajah orang yang telah mengkhianatiku dulu... itu saja..." terang Maya.


"Kau tahukan...jika aku bisa memaafkan seorang pengkhianat... tapi tidak untuk bertemu kembali?" ujar Maya.


"Aku tahu May... lalu bagaimana? apa yang akan kau lakukan sekarang setelah tahu jika mereka tinggal di kota ini? karena pasti akan ada kesempatan lain untuk kalian bertemu... apa lagi istrinya bekerja di butik tante Fira..."

__ADS_1


"Mungkin aku akan membujuk kak Rian agar mau menggantikan papa di perusahaannya..." kata Maya.


"Jadi kau ingin pindah ke luar negeri?"


"He um..." sahut Maya sambil menganggukkan kepalanya tegas.


"Aku rasa ini yang terbaik Jess... aku ingin menjalani hidupku tanpa bayang-bayang masa lalu" sambung Maya.


Jasmine pun hanya bisa mengangguk menyetujui keputusan sahabatnya itu. Ya Maya memilih pergi untuk menjauh dari Rio meski sebenarnya ia sangat keberatan karena ia sudah betah tinggal di rumahnya dengan Rian. Tapi ia juga tak mau bila masa lalunya akan mengusik kehidupan rumah tangganya dengan Rian. Setelah sedikit curhat Maya pun benar-benar pamit pulang. Jasmine dan Adam bahkan mengantarkan Maya dan Rian hingga ke depan mobil mereka. Keduanya baru masuk ke dalam rumah setelah mobil yang ditumpangi Maya dan Rian sudah berbelok ditikungan.


Selama perjalanan ke rumahnya Maya tampak sedikit diam. Bukan apa-apaa ia hanya sedang memikirkan cara agar suaminya mau diajak pindah ke tempat orangtuanya.


"Kau kenapa sayang? sedari tadi aku lihat kau seperti melamun..." ucap Rian sambil terus menyetir.


"Tidak ada apa-apa sayang... hanya saja tiba-tiba aku teringat sama mama dan papa..."


"Kenapa?"


"Hem... bisakah kita pindah ke tempat mereka? walau kita tidak akan tinggal serumah tapi setidaknya kan masih satu kota dan satu negara..."


"Aku hanya ingin jika aku hamil nanti akan ada di dekat mama..." sahut Maya lirih.


Hanya dengan alasan ini Maya bisa membujuk suaminya itu.


"Hemmm baiklah... apa pun keinginanmu sayang" kata Rian akhirnya.


"Tapi apa kita akan menjual rumah kita?" tanya Rian yang tak rela jika rumah pertamanya harus dijual saat mereka pindah.


"Jangan! aku ingin rumah itu bisa menjadi tempat kita menginap saat pulang kemari..." kata Maya yang juga menginginkan rumah itu tetap menjadi milik mereka.


"Baiklah..." sahut Rian sambil tersenyum.


Di rumah kontakannya Rio tampak tengah melamun. Tadi ia menemani Hana ke rumah Jasmine. Dan di sana ia kembali bertemu dengan Maya. Kali ini bahkan keduanya saling berhadapan karena Hana menghampiri Maya yang tengah berbincang dengan suaminya. Maya bersikap seolah tak mengenalnya sebelumnya sehingga tidak membuat curiga pasangan masing-masing namun hal ini justru membuat Rio seolah tak terima karena Maya sudah berpura-pura tak mengenal dirinya.


"Sebegitu bencikah kamu sama aku May? sehingga kamu ga mau mengakui jika kita sudah saling kenal sebelumnya? padahal aku tak mengapa jika kau mengatakan jika kau mengenaliku sebagai mantan kakak kelasmu saja... tapi kenapa kau memilih untuk berpura-pura tak mengenalku?" batin Rio sambil meremas telapak tangannya.

__ADS_1


Entah mengapa Rio masih berharap jika ia dan Maya bisa tetap berhubungan baik setelah apa yang telah ia lakukan pada wanita itu dulu. Dalam fikirannya toh semua adalah masa lalu dan kini mereka sudah memiliki pasangan masing-masing jadi apa tidak ada salahnya jika mereka tetap berhubungan baik meski sebagai teman.


"Kau belum berangkat mas?" tanya Hana yang baru keluar dari dalam rumah setelah menidurkan putranya.


"Ini baru mau berangkat Han... aku cuma nunggu kamu untuk berpamitan..." sahut Rio sambil meraih tas ranselnya.


Hana pun mencium punggung tangan Rio sebelum pria itu melangkah ke arah motornya dan menghidupkannya lalu melajukannya ke tempat kerjanya. Hana memandang tubuh suaminya yang semakin menjauh dengan motornya. Ia mendesah pelan. Sebagai seorang istri ia bisa merasakan jika akhir-akhir ini sikap Rio sedikit berbeda. Meski ia tetap bersikap hangat padanya dan juga Raka namun ia juga melihat jika suaminya itu kini sering melamun. Entah apa yang sedang menganggu fikiran suaminya itu.


Ingin rasanya Hana menanyakannya pada Rio alasan mengapa pria itu kini sering melamun. Tapi Hana masih merasa takut. Meski selama mereka menikah Rio tidak pernah berlaku kasar tapi wanita itu tetap tidak berani membuat suaminya marah. Sudah cukup kemalangan pria itu yang diusir dari keluarganya demi bertanggung jawab padanya dan juga putranya. Hana tak ingin menambah beban Rio. Lelaki yang sangat dicintainya hingga ia rela memberikan segalanya pada pria itu termasuk kehormatannya bahkan sebelum keduanya terikat oleh tali pernikahan.


Sementara setelah kepergian Maya dan Rian, Jasmine pun jadi sedikit melamun. Perkataan Maya yang ingin pindah ke luar negeri membuat ibu muda itu merasa gelisah. Maya adalah sahabatnya satu-satunya sejak ia kecil. Meski sebelum menikah Maya juga sudah tinggal di luar negeri namun saat ia menikah dan memutuskan untuk tinggal di kota ini membuat Jasmine sangat senang. Akhirnya ia bisa menikmati masa-masa bersama Maya lagi seperti dulu saat mereka sekolah.


Jasmine juga sudah membayangkan jika mereka berdua bisa pergi jalan-jalan bersama dengan anak-anak mereka nanti. Tapi semuanya sirna saat Maya bertemu lagi dengan Rio. Jasmine sangat mengerti dengan perasaan Maya. Karena sesungguhnya ia pun masih marah pada pria itu yang telah melakukan kesalahan fatal pada Maya. Adam yang baru keluar dari dalam kamar mandi terkejut saat melihat Jasmine yang melamun diatas tempat tidur.


"Kamu kenapa Honey?" tanya Adam sambil menyentuh lengan istrinya dengan lembut.


"Ah... itu..." sahut Jasmine terkejut.


"Apa?"


"Maya ingin kembali ke luar negeri Dear... dia ingin dekat dengan kedua orangtuanya..." adu Jasmine.


"Hem... wajar sih... soalnya kan dia anak tunggal... mungkin ia berfikir jika akhirnya ia hamil bisa berada dekat dengan kedua orangtuanya..." kata Adam memberikan penjelasan pada Jasmine.


Ia ingin istrinya itu untuk tidak terlalu memikirkan masalah sahabatnya karena rumah tangganya yang baik-baik saja hanya akan pindah rumah saja.


"Jadi kamu tidak usah khawatir... toh dia pergi dengan sumaminya sendiri" lanjut Adam.


Jasmine pun akhirnya menganggukan kepalanya dan mulai tersenyum pada suaminya itu. Dalam hati Jasmine merasa bersyukur Adam menjadi suaminya. Pria itu sangat pandai dalam menempatkan dirinya saat mengahadapi Jasmine yang masih sering muncul sikap kekanak-kanakannya.


"Terima kasih Dear sudah menerimaku apa adanya..." ujar Jasmine sambil menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu.


"Aku juga Honey... kau sudah mau menerimaku meski usia kita terpaut jauh dan kau sama sekali tak pernah malu mengakuiku sebagai suamimu..."


"Apa yang harus membuatku malu pada dirimu Dear? kau adalah pria sempurna untukku..." sahut Jasmine.

__ADS_1


Keduanya pun akhirnya beranjak tidur sambil berpelukan sebab mungkin saja nanti tengah malam putra mereka akan membuat mereka begadang. Baby Aby memang sering terbangun tengah malam untuk menyusu dan setelahnya bayi itu akan sulit untuk kembali tidur. Karenanya Jasmine dan Adam pun jadi sering begadang demi menjaga putra mereka.


__ADS_2