
Cukup lama Jasmine bermain air bahkan Adam pun ikut bersamanya. Pria itu seolah melupakan usianya dan bermain bak anak kecil bersama Jasmine. Setelah lelah bermain keduanya pun beristirahat dibawah pohon yang tumbuh di sekitaran pantai. Jasmine menyelonjorkankan kakinya dan bersandar di batang pohon tersebut.
"Apa kau lelah?" tanya Adam memandang Jasmine yang duduk disampingnya.
"Sedikit...." ucap gadis itu sambil tersenyum.
Kruuyuuk....
Tiba-tiba suara perut Jasmine membuyarkan suasana hening mereka. Adam tersenyum. Sedang Jasmine langsung menunduk dan memegangi perutnya yang tak mau kompromi.
"Ayo kita pergi makan..." ajak Adam lalu ia pun membungkukkan badanya di depan Jasmine.
"Kakak mau apa?" tanya Jasmine bingung.
"Naiklah!" suruh Adam pada Jasmine agar gadis itu naik ke punggunnya.
"Tapi kak...."
"Sudah naik saja ... bukankah kau lelah?"
Dengan ragu-ragu gadis itu pun naik ke punggung Adam dan melingkarkan lengannya ke leher pria itu sambil menenteng flatt shoesnya.
Dengan sekali gerakan Adam langsung menggendong tubuh Jasmine yang mungil di punggungnya. Kemudian pria itu pun berjalan ke arah mobilnya. Baru kali ini tubuh keduanya dalam posisi saling menempel. Jantung keduanya terdetak lebih cepat dari biasanya. Rona merah juga sudah menghiasi wajah Jasmine. Begitu pun Adam yang merasakan tubuhnya meremang karena bersentuhan dengan Jasmine apalagi nafas gadis itu terdengar jelas di telinganya karena tanpa sadar Jasmine telah menyandarkan kepalanya di pundak Adam.
Sesampainya di depan pintu depan mobil ia tidak langsung menurunkan tubuh Jasmine. Ia malah membuka pintu mobil dengan tangan satunya sedang yang lain tetap menahan tubuh gadis itu. Setelah pintu terbuka diletakkannya gadis itu di kursi penumpang. Lalu ia pun memakaikan sepatu pada gadis itu. Jasmine yang mendapatkan perlakuan seperti itu sangat bahagia. Tak menyangka akan mendapatkan perlakuan romantis dari Adam. Selesai memasangkan sepatu di kaki Jasmine ia pun menutup pintu mobil dan segera berlari kecil ke pintu kemudi dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Kita mau kemana?" tanya Jasmine saat Adam mulai menyalakan mobilnya.
"Kau suka seafood?"
"Iya..."
"Kalau begitu kita akan ke tempat favoritku... kau pasti suka" sahut Adam lalu melajukan mobilnya.
Mereka pun meninggalkan pantai tersebut dan membelah jalanan menuju restoran favorit Adam. Setelah menempuh waktu 15 menit mereka pun sampai ke tempat tersebut. Tampak sebuah restoran yang berlokasi di sekitar pantai namun dengan lokasi yang sangat mudah dijangkau dengan kendaraan membuat tempat tersebut ramai. Apalagi menu mereka sudah terkenal kelezatannya.
Setelah keluar dari dalam mobil mereka pun masuk ke dalam restoran tersebut. Adam kembali memesan tempat privat untuk mereka. Namun kali ini lokasinya yang di rooftop membuat pemandangan laut terlihat membentang luas di depan mereka. Jasmine bahkan sampai berjingkrak kesenangan. Sambil menunggu pesanan mereka keduanya berdiri bersisian menghadap laut. Adam menggenggam tangan Jasmine erat seakan tak ingin melepaskannya.
"Apa hari ini kau senang?" tanya Adam masih menggenggam tangan Jasmine.
Jasmine mengangguk tegas sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sangat senang...." ucap gadis itu sambil menatap laut luas.
Tak lama pesanan mereka pun datang dan keduanya pun langsung menyantapnya karena setelah tadi bermain di pantai tak urung perut keduanya pun kelaparan. Selesai makan Jasmine meminta untuk segera pulang karena hari sudah sangat siang. Ia takut jika nanti mereka akan kesorean tiba dirumah. Adam pun menuruti permintaan gadis itu. Mereka pun segera pulang setelah Adam membayar makanan mereka.
Selama perjalanan pulang tampak Jasmine jadi mengantuk karena kekelahan dan juga kenyang. Tanpa sadar ia pun sudah tertidur pulas di kursi penumpang. Adam yang melihat itu tersenyum perih. Hari ini mungkin terakhir kalinya ia bisa bertemu dengan Jasmine. Sengaja seharian ini ia tak membahas perihal kepergiannya pada Jasmine. Ia ingin memberikan kenangan terindah pada gadis itu sebelum memberitahukan kepergiannya ke Sidney.
Tak lama mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan rumah Jasmine. Namun gadis itu belum juga terbangun. Dengan perlahan Adam membangunkan Jasmine dari tidurnya. Semula gadis itu tampak tak bergeming namun karena tepukan lembut pada wajahnya membuat gadis itu perlahan membuka matanya. Saat itulah ia dapat melihat wajah Adam yang sudah begitu dekat dengan wajahnya. Jasmine sedikit tersentak dan memundurkan tubuhnya.
"Maaf ... kita sudah sampai Jess..." kata Adam tersenyum kecil saat melihat wajah Jasmine yang memerah.
"Aaa.... aku ketiduran ya kak?" tanyanya dengan muka memerah.
"Hemmm" jawab Adam sambil mengangguk.
"Maaf..."
"Tak apa..."
"Aku turun dulu ya kak..."
Tiba-tiba Adam mencekal tangan Jasmine membuat gadis itu tak jadi membuka pintu mobil.
Jasmine memandang wajah Adam yang berubah sendu.
"Ada apa kak?"
"Aku hanya ingin memberitahumu jika besok aku akan pergi ke Sidney..." ucap Adam.
"Perusahaanku akan membuka cabang baru disana... itu berarti aku harus tinggal di sana beberapa waktu untuk mengawasi semuanya" jelas Adam sambil menatap wajah Jasmine yang kini juga mulai berubah sendu.
"Apa kakak akan lama di sana?" tanya Jasmine setelah terdiam sesaat.
"Mungkin dua atau tiga tahun..." sahut Adam.
"Kenapa lama sekali..." ucap Jasmine lirih.
"Aku tahu... tapi dalam bisnis kita tidak dapat berharap semua akan berjalan sesuai keinginan kita yang selalu lancar..." kata Adam.
"Karena itu waktu dua atau tiga tahun itu waktu yang cukup untuk menilai perkembangan bisnisku disana sebelum akhirnya bisa aku wakilkan pada orang kepercayaanku" jelas Adam.
Jasmine hanya bisa mengangguk pasrah dengan keputusan Adam. Toh ia juga sama sekali tak mengerti bisnis. Lagi pula sampai detik ini ia pun tak tahu apa nama hubungan yang tengah dijalaninya dengan Adam. Karena tak pernah sekalipun pria itu menyatakan perasaannya hingga Jasmine merasa jika ia hanya dianggap adik saja oleh Adam.
__ADS_1
Sementara Adam kini hatinya tengah bergemuruh karena ia sangat ingin memeluk gadis di sampingnya itu. Ia ingin mengatakan jika ia telah jatuh cinta padanya. Namun lagi-lagi kenyataan tentang umur gadisnya yang masih terlalu muda menghalanginya. Ia tak ingin gadis itu terkekang dengan hubungan jarak jauh yang memerlukan kedewasaan penuh untuk menjaganya. Ia ingin gadis itu masih bisa menikmati masa remajanya dengan bebas sebelum akhirnya ia bisa menyatakan perasaannya.
"Maaf aku baru memberitahumu sekarang..." ucap Adam penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa kak... " sahut Jasmine dengan suara bergetar.
Gadis itu sedang berusaha menahan tangisnya agar tak keluar. Sedang mata Adam pun sudah berkabut. Dengan cepat pria itu mengalihkan pandangannya kesamping dan menutupi rasa perih dalam hatinya. Tak tega rasanya harus pergi meninggalkan gadis yang dicintainya tanpa mampu memberi kepastian hubungan keduanya. Tapi Adam tak mau egois... ia ingin mencintai tanpa membuat gadisnya terluka ... meski sebenarnya apa yang dilakukannya saat ini sudah membuat Jasmine sangat kecewa.
"Aku masuk dulu ya kak..." pamit Jasmine yang takut air matanya jatuh di depan Adam.
Adam pun mengangguk.... membiarkan gadis itu keluar sendiri dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam rumah. Jasmine biasanya menunggu mobilnya menjauh terlebih dahulu baru masuk ke dalam rumah ...tapi tidak kali ini. Gadis itu tampak langsung memasuki rumahnya dan langsung menutup pintunya. Adam mendesah pelan... lalu ia pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Jasmine.
Sementara Jasmine langsung merosot ke lantai setelah menutup pintu rumahnya. Air matanya langsung berjatuhan membasahi pipinya. Ia tak menyangka jika Adam membawanya ke pantai seharian hanya untuk mengucapkan selamat tinggal padanya.
"Kakak jahaaaat....." teriak Jasmine disela tangisnya.
Gadis itu masih tergugu dibalik pintu sambil memeluk kedua lututnya. Semua kenangan manis yang baru saja di laluinya bersama Adam berubah menjadi sembilu yang merobek hatinya. Lama gadis itu menangis disana. Jasmine baru sadar saat terdengar suara adzan ashar berkumandang. Dengan cepat dihapusnya air matanya. Sebentar lagi mamanya pasti pulang ... ia tak ingin mamanya melihat keadaannya yang kacau seperti ini. Lalu Jasmine pun segera menuju ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.
Setelah mandi dan sholat ashar Jasmine pun mengompres kedua matanya agar saat mamanya pulang tak terlihat sembab. Saat sedang mengompres matanya terdengar ponselnya berdering. Ternyata panggilan dari mamanya.
"Assalamulaikum nak...."
"Waalaikum salam ya ma..."
"Maaf sayang mama baru bisa menghubungi kamu karena seharian ini mama sangat sibuk...."
"Iya ma... ga pa-pa..." ucap Jasmine berusaha terdengar baik-baik saja.
"O iya kamu mau makan malam pakai apa... sebentar lagi mama sampai, jadi nanti sekalian mama belikan" ucap mama Tika.
"Terserah mama saja... " sahut Jasmine.
"Ok sayang ... kamu baik-baik ya di rumah... sebentar lagi mama pulang"
"Iya ma..."
Sambungan pun terputus. Jasmine menghela nafasnya pelan. Ia memperhatikan wajahnya didepan cermin. Setelah dikompres sebentar tampak matanya sudah mendingan. Ia pun melanjutkan mengompres matanya lagi agar saat mamanya pulang jejak tangisnya pun sudah hilang.
Sementara di tempat lain tampak Adam tengah membereskan kopernya. Walau tangannya bergerak namun fikirannya kosong. Ia masih dapat mengingat saat Jasmine terlihat syok mendengar rencana kepergiannya ke Sidney. Ia akui walau ia tak pernah mengungkapkan perasaannya pada Jasmine ia juga dapat merasakan jika sikap gadis itu padanya akhir-akhir ini sangat berbeda dengan sikapnya saat mereka pertama kali berjumpa. Mungkinkah gadis kecil itu juga sudah mempunyai rasa terhadapnya? Adam tak dapat memastikannya. Tapi Adam sudah bulat dengan keputusannya. Kepergiannya mengurus bisnisnya hanya salah satu alasan baginya untuk menjauh sementara dari Jasmine.
Ia hanya ingin waktu yang membuktikan apakah gadis kecilnya itu memang benar jodohnya atau tidak. Dan Adam sudah bersiap dengan segala konsekuensinya. Termasuk jika ternyata ia harus kehilangan gadis itu pada akhirnya.
__ADS_1