
Mirna menghentakkan kakinya dengan kesal karena rencananya untuk menjebak Jasmine gagal. Dengan sembarangan wanita itu langsung meraih minuman yang sedang dibawa oleh salah seorang pelayan. Dan dalam satu kali tenggakkan ia langsung menghabiskan minuman dalam gelas yang digenggamnya. Tanpa ia sadari jika kini ia yang malah sudah terjebak. Tak butuh waktu lama Mirna mulai merasakan hal aneh pada dirinya. Ia merasa jika pandangannya mulai kabur dan tak lama wanita itu pun langsung tumbang. Pada saat itulah ada seseorang yang langsung menahan tubuhnya agar wanita itu tidak jatuh dan memapah Mirna menuju keluar dan membawanya ke dalam sebuah mobil.
Setelah meletakkan tubuh Mirna, orang itu langsung berpindah ke tempat duduk sopir dan mengemudikan mobil itu ke suatu tempat. Tak ada yang menyadari saat Mirna menghilang. Sementara bu Nike sudah seperti kebakaran jenggot saat melihat suaminya terus menerus memandangi mantan istrinya. Pak Pambudi bahkan tidak menghiraukan keberadaan bu Nike yang ada di sampingnya. Dan tanpa rasa canggung pria itu malah berjalan mendekat ke arah bu Citra yang tampak sedang berbincang akrab dengan seorang pria. Dan dapat pak Pambudi kenali jika pria itu adalah pria yang ia lihat bersama mantan istrinya itu kemarin.
"Permisi... bisa kita bicara sebentar Citra?" sela pak Pambudi pada bu Citra.
"Jika kau ingin bicara silahkan saja mas... tapi disini..." sahut bu Citra tegas.
"Tapi Citra... aku hanya ingin bicara berdua denganmu..." kata pak Pambudi bersikeras.
"Tidak bisa mas... karena saat ini kita sudah mempunyai pasangan masing-masing... jadi aku ingin menjaga perasaan pasanganku dengan tidak berbicara berdua denganmu" tolak bu Citra.
"Baiklah... aku hanya ingin meminta maaf padamu atas perlakuanku selama ini..." kata pak Pambudi mengalah.
"Hemm... aku sudah memaafkan kamu sejak dulu mas..." kata bu Citra tenang.
"Oh iya... sekalian aku ingin memberi tahu kamu jika sebentar lagi aku akan menikah dengan mas Hanif..." sambungnya sambil melingkarkan tangannya pada lengan lelaki yang ada disampingnya.
"Kalau begitu aku ucapkan selamat pada kalian..." kata pak Pambudi menahan rasa kecewanya di dalam dada.
Entah mengapa sejak melihat mantan istrinya itu ia merasa jika ia ingin diberikan kesempatan kedua oleh mantan istrinya itu. Rasanya sungguh tidak tahu malu mengingat apa yang sudah ia perbuat selama belasan tahun terakhir ini pada bu Citra dan juga Alya. Sementara bu Nike yang mendengarkan pembicaraan mereka merasa lega karena sudah tidak ada jalan lagi bagi suaminya itu untuk kembali pada mantan istrinya.
Di lain tempat...
Mirna kini sudah berada di sebuah tempat kosong dalam keadaan duduk terikat dikedua kaki dan juga tangannya. Wanita itu tampak belum sadar dari pengaruh obat bius yang ada di dalam minuman yang ia tenggak tadi. Sementara orang yang membawanya terlihat mengawasi wanita itu dari ruangan lain melalui kamera pengawas. Melihat Mirna yang belum sadar, orang itu pun tersenyum sinis. Tampaknya semua rencana yang sudah disusunnya sekian lama akan berjalan dengan lancar.
__ADS_1
"Tunggu saja... sebentar lagi dendam keluarga kita akan segera terbalaskan mama...." batin pemuda itu senang.
Kemudian pemuda itu mulai menghubungi seseorang melalui ponselnya. Tak butuh waktu lama orang yang ia hubungi pun mengangkat panggilannya.
"Halo..." terdengar suara di seberang sana.
"Selamat malam nyonya... apa kau masih ingat dengan suaraku?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Kau!" terdengar suara seorang wanita yang terdengar geram saat mendengar suaranya.
"Benar nyonya... bagaimana? apa sekarang nyonya sudah mengingatnya?"
"Dasar b***g**k! apa maumu hah?"
"Tentu saja membalaskan semua yang sudah nyonya lakukan pada keluarga saya..." sahut pemuda itu sambil terkekeh.
"Tentu saja bisa nyonya... semua rahasia anda sudah ada ditangan saya... bahkan putri semata wayangmu juga..." sahutnya dengan seringai dingin.
"A... apa maksud kamu hah?"
"Jangan pura-pura polos nyonya... itu sangat tidak cocok dengan sifat anda yang licik itu... anda bisa lolos dari jeratan hukum bertahun yang lalu... tapi tidak dariku..." ucap pemuda itu penuh dengan tekanan.
Bu Nike tampak tegang, rahasia bertahun lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam ternyata kembali lagi mengusiknya. Dan kini bahkan menyeret putrinya yang tidak tahu apa-apa...
"Lalu apa maumu sekarang?"
__ADS_1
"Aku ingin kau membayar semua perbuatanmu dengan lunas!"
Bu Nike tampak tegang... ia tidak mau jika harus mendekam dalam penjara. Tidak! ia harus memikirkan cara agar bisa meloloskan diri dari semua masalah ini... meski ia harus mengorbankan Mirna. Ya... bukankah dulu ia juga tega meninggalkan anak kandungnya itu saat bayi karena menginginkan harta dan memberikannya pada pak Bima dan istrinya? jadi tidak masalah jika ia kembali meninggalkan Mirna untuk kedua kalinya...
"Baiklah... sekarang apa yang kau ingin aku lakukan?"
"Datanglah kemari... dan kau akan tahu apa yang harus kau lakukan" sahut pemuda itu lalu langsung mematikan ponselnya.
Bu Nike mendengus kesal. Tapi ia harus melayani permainan pemuda yang ia kenal sebagai Rudi itu. Ia harus mendapatkan semua bukti yang ada pada pemuda itu sebelum ia menyingkirkannya sama seperti dulu saat ia menyingkirkan kedua orangtua pemuda itu. Tak lama ponsel bu Nike pun berdering dan terdapat pesan berisi alamat yang harus ia datangi.
"Tunggu saja b***g**k... kau tidak bisa melawan seorang Nike jika mengenai kelicikan... sebentar lagi kau juga akan menyusul kedua orangtuamu yang bodoh itu!" batinnya sambil meremas ponsel yang ada dalam genggamannya.
Sementara di tempat lain tampak Rudi tengah menghubungi seseorang.
"Halo tuan... semua sudah sesuai dengan rencana yang kita buat... sebentar lagi perempuan itu akan datang kemari dan pertunjukan kita akan segera di mulai..."
"Bagus... sebentar lagi aku juga akan ke sana untuk menyaksikan langsung kehancuran perempuan itu" sahut sang tuan lalu mematikan ponselnya.
Rudi tersenyum setelah memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
"Tenanglah ma... pa... semua akan berakhir malam ini... karena setelah betahun-tahun akhirnya aku bisa membalas perbuatan perempuan itu pada kita meski harus dengan bantuan seseorang..." batin Rudi kembali menatap Mirna melalui kamera pengawas.
Di rumah Adam tampak pria itu tengah memandangi wajah istrinya yang tengah tertidur pulas setelah tadi keduanya bergelut panas sepulangnya dari tempat pesta. Ya sengaja Adam memanfaatkan waktu berdua dengan Jasmine karena Aby yang sudah tidur bersama kedua omanya. Rasanya ia tak puas memandangi wajah polos istrinya yang tampak damai dalam tidurnya.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu meski seujung kuku pun Honey..." gumamnya sambil menyibakkan anak rambut yang menutupi kening Jasmine.
__ADS_1
"Wanita itu akan mendapatkan balasannya... dan itu akan lebih menyakitkan dibandingkan apa yang sudah ia lakukan padamu..." gumam Adam lirih.
Dikecupnya kening Jasmine sebelum ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia pun langsung bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Ia harus menyelesaikan semuanya malam ini. Agar ia dan istrinya bisa hidup tenang tanpa gangguan wanita ular yang ingin menghancurkan keluarga kecilnya itu.