
Teriakan dan jeritan Mirna masih terdengar. Wanita itu terus berusaha berontak. Sedang bu Nike tak kalah ikut berontak demi menyelamatkan putrinya. Sedang Rudi tiba-tiba seakan melihat sekelebat bayangan ibunya yang dulu pernah menasehatinya.
"Jangan menyimpan dendam dan berusaha untuk membalasnya... karena jika kita membalas dendam dengan cara keji maka apa bedanya kita dengan orang-orang yang telah menyakiti kita? lebih baik ikhlaskan dan maafkan..." seketika kata-kata ibunya yang terngiang ditelinganya membuat langkahnya yang hendak meninggalkan tempat itu pun langsung terhenti.
Secara reflek ia langsung berlari kembali ke dalam sebelum semuanya terlambat.
"Berhenti!" teriaknya yang membuat semua orang yang ada disana menghentikan perbuatan mereka.
Mereka kaget dengan tingkah tuannya yang tiba-tiba saja berubah. Rudi juga menyuruh anak buahnya yang lain untuk melepaskan bu Nike. Meski masih merasa lemas namun bu Nike langsung berlari ke arah putrinya begitu anak buah Rudi melepaskannya. Begitu berada di depan Mirna ia langsung memeluk tubuh putrinya itu yang masih bergetar karena ketakutan.
"Kalian semua keluar!" perintah Rudi pada anak buahnya.
Meski tidak mengerti dengan sikap Rudi namun mereka tetap mematuhi perintah tuannya.
"Kalian bisa meneruskan urusan kalian di tempat lain..." sambung Rudi.
Para anak buahnya pun langsung tersenyum dan bergegas keluar dari tempat itu. Sementara bu Nike masih memeluk Mirna yang tubuhnya masih bergetar karena trauma.
__ADS_1
"Terima kasih..." ucap bu Nike pada Rudi lirih namun Rudi masih bisa mendengarnya.
Karena walau bagaimana pun pemuda itu sudah menyelamatkan putrinya meski awalnya justru pemuda itulah yang telah menyuruh para pria itu sebelumnya.
"Tidak perlu berterima kasih... aku hanya tidak ingin menjadi manusia sepertimu jika aku membiarkan mereka melakukan itu pada Mirna"
"Tetap saja aku harus berterima kasih... dan aku juga meminta maaf atas dosa-dosaku padamu dan juga kedua orangtuamu... terutama ibumu... sekarang aku mengerti bagaimana perasaan ayahmu saat itu... sekali lagi maafkan aku..." kata bu Nike dengan air mata berlinang.
Sedang Mirna kini terdiam dengan pandangan mata kosong dan tubuh masih bergetar.
Bu Nike pun hanya bisa mengikuti pemuda itu dari belakang. Rudi meletakkan Mirna di kursi belakang bersama bu Nike. Ia pun memberikan kemejanya untuk menutupi tubuh Mirna. Sementara ia hanya mengenakan kaos dalaman. Kemudian ia pun melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. Ia tidak perduli jika nanti akan ada pertanyaan tentang penyebab kondisi Mirna saat ini.
Adam yang menerima laporan dari anak buahnya yang mengawasi Rudi pun menarik nafasnya lega. Ia tahu Rudi pemuda yang baik... jadi ia yakin pemuda itu tidak akan tega melakukan hal keji pada Mirna. Meski tadi ia juga sempat mengira jika Rudi benar akan melakukan semua rencananya karena sudah gelap mata. Dengan perlahan pria itu pun memasuki kamarnya. Dilihatnya Jasmine masih tertidur pulas. Segera ia membersihkan diri dan berganti pakaian setelah itu ia pun menyusul istrinya ke alam mimpi.
Di tempat lain Rudi sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai di rumah sakit. Dan butuh waktu lama mereka pun sampai di rumah sakit. Segera Mirna dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan menanganan. Bu Nike dengan setia menunggui putrinya itu di depan ruangan. Sementara Rudi langsung mengurus administrasi. Setelah itu ia kembali ke tempat bu Nike untuk mengetahui kondisi Mirna.
Setelah menerima perawatan Mirna pun dipindahkan ke ruang perawatan. Saat sang dokter menanyakan kejadian yang menimpa Mirna, bu Nike hanya memberi keterangan jika Mirna baru saja akan menjadi korban pelecehan sedang pelakunya tidak diketahui. Hanya itu... bahkan ia tak mau lapor pada polisi karena demi menghapus dendam antara dia dan Rudi. Apa lagi tadi pria itu juga yang mencegah agar Mirna tidak menjadi korban meski agak terlambat karena tampaknya Mirna sudah trauma karena kejadian yang menimpanya.
__ADS_1
"Kau pulanglah!" kata bu Nike yang tak ingin Rudi berada di dekatnya dan juga Mirna.
"Maafkan aku... aku ingin memperbaiki semuanya" kata Rudi.
"Tidak ada yang perlu diperbaiki... semua perkataanmu tadi benar... kami memang harus menerima balasan atas perbuatan kami.... tapi terima kasih karena setidaknya kau sudah tidak membiarkan putriku bernasib sama seperti ibumu akibat ulahku..." sambung bu Nike.
"Meski begitu aku sudah membuat putrimu trauma... jadi izinkan aku untuk memperbaiki semua kesalahanku..." kata Rudi.
Ya hati nuraninya kini mulai menyadarkannya. Ia tak ingin lepas tanggung jawab atas perbuatannya yang membuat Mirna trauma. Walau pun wanita itu juga sudah berbuat jahat namun Rudi kini merasa ia tidak berhak berbuat keji pada wanita itu karena sesungguhnya perbuatanya tadi tak bisa mengembalikan kebahagiaannya yang dulu telah terenggut. Begitu juga ia tak akan bisa membangkitkan lagi kedua orangtuanya yang telah tiada.
Bu Nike hanya terdiam. Ia merasa tidak nyaman menerima bantuan dari Rudi. Meski bibirnya berkata jika ia tidak akan menuntut Rudi atas perbuatannya pada Mirna namun tetap saja ia merasa tidak ingin pemuda itu berada didekatnya dan juga Mirna. Bu Nike menghela nafasnya pelan... ia kini juga merasa menyesal atas semua perbuatan dosanya dimasa lalu. Karena kini putrinya lah yang harus membayarnya. Wanita paruh baya itu pun akhirnya hanya bisa pasrah dan membiarkan Rudi melakukan keinginannya. Ia kini hanya ingin fokus merawat Mirna dan mencoba meminta maaf pada orang-orang yang telah disakitinya.
Walau kecil kemungkinan dirinya mendapatkan maaf namun wanita paruh baya itu akan tetap berusaha dan mulai bertobat atas perbuatannya dimasa lalu. Ia juga ingin agar Mirna segera sembuh dan bisa mengikuti jejaknya untuk bertobat. Malam itu keduanya bermalam di rumah sakit demi menjaga Mirna. Sedang Mirna setelah mendapatkan perawatan dan suntikan penenang akhirnya wanita itu bisa tertidur. Tapi tetap saja besok bu Nike harus menguatkan mentalnya untuk menghadapi Mirna yang masih trauma.
Di tempat lain tampak pak Bima yang dalam keadaan mabuk pulang ke rumahnya. Ia hanya disambut oleh Artnya yang sudah tua karena sudah bekerja padanya sejak sebelum ia menikah dengan bu Citra. Melihat keadaan tuannya yang mabuk sang Art pun meminta bantuan Satpam untuk menolongnya memapah pak Bima ke dalam kamar. Setelah itu keduanya pun keluar dari dalam kamar dan membiarkan majikan mereka itu sendiri di dalam sana.
Kehidupan majikan mereka yang berantakan meski memiliki banyak harta membuat kedua orang yang bekerja di rumah pak Bima merasa sedikit beruntung karena meski hidup sederhana mereka masih memiliki keluarga yang bisa diandalkan. Tidak seperti keluarga majikan mereka yang kini tercerai berai.
__ADS_1