
Jasmine segera membersihkan wajahnya saat mendengar suara mobil masuk ke halaman rumahnya. Ia sudah bisa menduga jika itu mamanya. Setelah memastikan jika wajahnya tak terlihat sembab ia pun segera turun untuk menyambut mamanya.
"Assalamualaikum..." terdengar suara mama Tika.
"Waalaikum salam..." sahut Jasmine lalu membukakan pintu.
Tampak mama Tika sudah berdiri didepan pintu sambil menenteng plastik kresek berisi makan malam keduanya.
"Tante Fira dan om Dani mana ma?"
"Tadi mereka langsung pulang karena tante Fira agak kurang enak badan" terang mama Tika.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah. Mama Tika langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Sedang Jasmine langsung ke dapur untuk memindahkan makanan yang baru dibeli mamanya dan menyiapkannya diatas meja.
Setelah mama Tika selesai membersihkan diri dan berganti pakaian mereka pun makan malam berdua. Selesai makan malam mama Tika yang tampak sangat kelelahan langsung berkata ingin segera beristirahat. Jasmine pun merasa lega karena mamanya tak terlalu memperhatikan wajahnya karena terlalu lelah.
Adam sedang menatap kosong layar laptopnya. Fikirannya melayang teringat wajah Jasmine yang berubah saat ia mengatakan akan pergi. Ingin rasanya ia menghubungi gadis itu saat ini juga tapi ia menahannya.
Jasmine berusaha untuk memejamkan matanya namun tak bisa. Ia teringat dengan perkataan Adam yang akan pergi ke Sidney besok. Jamine meruntuki dirinya karena tak sempat menanyakan kapan jam keberangkatan Adam. Dalam hatinya ia ingin mengantarkan Adam di bandara sekaligus untuk melihat pria itu untuk terakhir kalinya. Ia ingin menghubungi Adam namun berkali-kali ia mengurungkannya padahal ponsel sudah ada ditangannya.
Gadis itu sangat gelisah hingga ia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan mondar mandir di dalam kamarnya.
"Ish apa aku telfon sekarang saja ya?" gumamnya sambil meraih ponselnya yang tergeletak diatas tempat tidur.
Namun saat melihat jam yang terpampang di layar ponselnya ia pun kembali mengurungkan niatnya.
"Ini sudah terlalu malam..." desisnya.
Jasmine pun kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur. Tak lama ia pun tertidur. Sedangkan Adam yang masih betah berdiri di balkon kamarnya tampak tengah menghirup rokok yang sejak tadi menemaninya. Walau pun keputusannya sudah bulat namun tetap saja ada rasa khawatir dalam hatinya. Setelah terdiam sejenak ia pun segera mematikan rokoknya dan masuk ke dalam kamarnya.
Diraihnya ponsel yang ada diatas nakas dan dengan cepat di dialnya nomor Jasmine. Ia tak perduli ini sudah jam berapa namun ia harus menghubungi gadis itu untuk terakhir kalinya.
Drrrt...drrrt....drrrt...
Ponsel Jasmine yang tergeletak di samping kepala gadis itu bergetar. Entah sudah berapa kali ponsel itu terus bergetar hingga gadis yang baru saja tertidur itu pun mulai terganggu dan dengan mata yang masih tertutup ia meraba mencari ponselnya. Setelah mendapatkan ponselnya gadis itu baru membuka matanya dan langsung menjawabnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya terlebih dahulu.
"Halo..." jawabnya dengan suara serak.
"Jess..." terdengar suara Adam di seberang sana.
Seketika mata gadis itu terbuka lebar dan langsung bangkit dari tidurnya. Ia tak menyangka jika Adam akan menghubunginya.
"Hemmm... ada apa kak?" tanyanya ragu.
"Aku ingin melihatmu...." ucap Adam yang langsung merubah panggilannya menjadi vc.
Jasmine yang gelagapan tak bisa berbuat banyak antara malu dan senang. Malu karena keadaannya sekarang yang berantakan karena baru bangun tidur. Senang karena harapannya dapat melihat Adam terkabulkan.
"Jess ..." kata Adam sambil menatap Jasmine yang terlihat lucu dengan rambut berantakan.
"I... iya .. kak..." sahut gadis itu sambil berusaha merapikan rambutnya.
"Apa kau sudah tidur tadi?"
"Hemmm..." jawab Jasmine sambil mengangguk.
Sebenarnya ia masih marah pada Adam karena sikap pria itu padanya. Tapi entah mengapa saat melihat wajah pria itu dihadapannya kemarahannya seakan langsung menguap begitu saja.
"Maaf jika aku menganggumu..."
"Aaa.... tidak kak..." sahut Jasmine berusaha meyakinkan Adam.
"Besok aku berangkat jam 10" ucap Adam memberitahu.
Jasmine mengangguk pelan.
__ADS_1
"Maaf ... aku ga bisa mengantar.... aku harus sekolah"
"Aku tahu.... jadi tidak apa-apa...."
.............
"Apa kau akan merindukanku Jess" ucap Adam setelah keduanya terdiam sesaat.
"Pasti....." sahut gadis itu tanpa ragu.
"Maukah kau berjanji sesuatu padaku?"
"Apa itu kak?"
"Kau akan menjaga dirimu untukku...."
"Maksud kakak?"
"Maksudku... kau harus menjaga dirimu baik-baik agar tidak ada lagi yang membullymu..." kata Adam sambil terkekeh.
Padahal ia sedang menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya yang menginginkan gadis itu menjaga diri untuk menunggunya pulang. Sedang Jasmine yang sedikit merasa maksud dari ucapan Adam mendadak kelu saat pria itu menjelaskan seolah ia seorang kakak yang sedang mengkhawatirkan adiknya.
Mereka pun berbincang sebentar sebelum akhirnya Jasmine benar-benar tidak dapat menahan kantuknya dan mulai tertidur di depan kamera ponselnya. Saat melihat Jasmine yang mulai tertidur, bukannya mematikan panggilan Adam malah tetap menyalakan ponselnya demi tetap bisa memandang wajah Jasmine.
"Aku mencintaimu Jess" ucapnya saat Jasmine sudah terlihat tertidur.
"Hemmm....." jawab gadis itu bergumam.
Adam pun hanya tersenyum melihatnya. Lalu ia pun akhirnya ikut tertidur dengan posisi yang sama dengan Jasmine.
Pagi hari mama Tika sudah menggedor pintu kamar putrinya itu. Bukan tanpa alasan sebab sudah hampir setengah enam pagi tapi putrinya itu belum juga bangun.
"Jasmine....!!" teriak mama Tika yang sudah mulai kesal.
"Ya ma...." sahut Jasmine yang mulai terbangun.
"Iya ma..." sahut Jasmine lagi.
Kali ini gadis itu sudah berjalan ke kamar mandi meski dengan mata yang setengah tertutup. Setelah membasuh mukanya ia pun mulai mengerjapkan mata. Kemudian ia segera mengambil air wudhu dan menjalankan ibadahnya.
Selesai sholat ia segera menghampiri mamanya yang sudah sibuk di dapur.
"Kamu kenapa sih Jess? kok bisa kesiangan seperti ini?" tanya mama Tika saat Jasmine sedang membantunya.
"Ga tahu ma..." sahut Jasmine.
"Apa semalam kamu telat tidur?"
"Ga ma...." bohong Jasmine.
Setelah selesai sarapan Jasmine pun segera berangkat sekolah diantar mama Tika. Sesampainya di sana tampak Maya juga baru saja sampai diantar sopirnya.
"Pagi Jess..."
"Pagi..." sahut Jasmine.
Tampak pagi ini Maya terlihat sangat bahagia.
"Kamu kenapa? dapat undian berhadiah ya? kok seneng banget...." goda Jasmine.
"Ih... kamu tuh Jess... iya aku dapat undian berhadiah..."
"Hadiah apa?"
Maya pun membisikkan sesuatu pada Jasmine. Seketika mata Jasmine pun membola. Dan langsung menatap Maya tak percaya.
__ADS_1
"Benarkah?"
Maya mengangguk tegas.
"Kapan?"
"Kemarin ... dia ngajak aku ke pantai dan ...."
"Kau?"
"Ayolah Jess ... aku kan ga berbuat macam-macam... jangan melihatku seperti sudah melakukan dosa besar..." sungut Maya saat melihat tatapan mata Jasmine.
"Hi..hi...hi... bukan gitu May... tapi aku ga nyangka aja sahabatku ini udah..." tiba-tiba Maya menutup mulut Jasmine dengan tangannya dan mata yang melotot.
"Ssst... udah jangan dibahas lagi" cebiknya.
"Lalu bagaimana rasanya?" tanya Jasmine.
"Emmm.... kamu rasakan aja sendiri nanti sama kak Adam..." sahut Maya yang membuat Jasmine langsung terdiam.
"Kamu kenapa Jess?" tanya Maya yang melihat Jasmine diam.
"Ga pa-pa kok May..."
"Kamu jangan bohong Jess... aku tahu kalau kau bohong apalagi sedih" ungkap Maya.
"Dia akan pergi ke luar negeri May..."
"Maksud kamu?"
Jasmine hanya bisa mengangguk. Bibirnya mendadak kelu saat membahas kepergian Adam. Maya langsung merangkul Jasmine dan mereka pun segera masuk ke dalam kelas. Entah kenapa mungkin ini sebuah keberuntungan bagi Jasmine karena tiba-tiba saja ada pengumuman bahwa sekolah akan dipulangkan lebih cepat karena ada rapat guru. Dan tepat jam 9 pagi para siswa sudah di pulangkan.
Dengan cepat Jasmine memesan ojek online untuk menjemputnya sebelum ia keluar dari dalam kelas. Maya yang melihat itu pun penasaran.
"Kau mau kemana Jess?" tanyanya.
"Aku mau ke bandara May... kak Adam akan berangkat jam 10 nanti... jadi masih ada waktu..." ucap Jasmine.
"Tapi Jess..."
"Tolong bantu aku May... ini terakhir kalinya aku bisa ketemu kak Adam..."
Maya pun memgangguk dan mengantar sahabatnya itu sampai depan gerbang. Disana tampak pengemudi ojek online pesanan Jasmine sudah menunggu. Dengan cepat Jasmine mengenakan helm dari pengemudi ojek online lalu segera naik ke atas motor.
"Aku pergi dulu ya May..." pamitnya.
"Iya .... aku akan menyusulmu dengan pak sopir" sahut Maya yang dibalas dengan anggukan oleh Jasmine lalu pengemudi ojek pun melajukan motornya menuju bandara.
Sementara itu di dalam mobil Adam yang sedang menuju ke bandara mendapat pesan dari orang suruhannya yang mengawasi Jasmine.
"Boss anak itu sepertinya akan pergi ke bandara..." tulis pesan itu bersamaan dengan foto Jasmine yang membonceng ojek online.
Adam tersenyum senang ... tak bisa dipungkiri sebenarnya ia pun ingin agar Jasmine bisa mengantarnya di bandara. Tak lama Adam sudah berada di dalam bandara. Tak henti-hentinya ia menanyakan posisi Jasmine pada orang suruhannya.
"Bagaimana? dia sudah sampai dimana?" tanyanya.
"Maaf boss kami kehilangan jejak ... karena tadi kami terhalang lampu merah... tapi menurut perkiraan seharusnya sebentar lagi dia sampai..." lapor orangnya itu.
"Baiklah...." sahut Adam sambil tersenyum.
Ia tak sabar bertemu Jasmine untuk terakhir kalinya sebelum ia terbang ke Sidney. Namun hingga panggilan terakhir bagi para penumpang gadis itu tak muncul juga yang membuat Adam kecewa.
"Bagaimana? kenapa dia belum juga sampai kemari?" tanyanya pada orang suruhannya.
"Maaf boss kami tidak tahu.... malah kami kini terjebak macet karena didepan ada kecelakaan..." terang orang tersebut.
__ADS_1
Adam menghembuskan nafasnya kasar dan mematikan ponselnya. Mau tak mau ia harus masuk ke dalam pesawat.