
Hari ini Adam masih belum masuk kembali ke kantornya meski tadi pihak kepolisian telah memberikan kabar jika mereka telah menangkap semua pelaku penyebab kecelakaan yang menimpanya termasuk otak dari semuanya yang ternyata orangtua kandung Ghani. Adam masih ingin menikmati waktunya bersantai di rumah bersama Jasmine. Sedang Mama Tika dan mama Sinta sudah kembali pada aktifitas keduanya yang sibuk dengan butik dan usahanya mereka masing-masing. Setelah mama Tika dan mama Sinta pergi melakukan aktifitasnya kini tinggal Jasmine dan Adam yang ada di rumah.
Adam yang sedari pagi masih mengecek perkembangan perusahaannya tampak belum keluar dari dalam ruang kerjanya. Jasmine pun berinisiatif untuk membuatkannya segelas kopi dan memberikannya pada Adam.
"Diminum dulu Dear..." ucapnya sambil meletakkan gelas kopi diatas meja.
Adam pun langsung mendongak dan segera mematikan laptopnya.
"Terima kasih Honey..." sahutnya sambil tersenyum dan mengambil gekas kopi itu dan menyeruput isinya.
"Apa kau masih sibuk?" tanya Jasmine.
"Hem... sebentar lagi selesai" jawab Adam lalu meletakkan kembali gelas itu diatas meja.
"Kalau begitu aku tinggal dulu ya..." ujar Jasmine yang tak ingin mengganggu suaminya.
"Jangan... kau duduklah disini menemaniku!" kata Adam yang langsung menarik Jasmine hingga terjatuh dan terduduk dipangkuannya.
"Tapi..."
"Hem... tidak ada tapi-tapian Honey... dengan kamu disini akan membuatku lebih cepat menyelesaikan semuanya..." terang Adam.
Jasmine hanya bisa menghela nafas pelan dan tak dapat menolak keinginan suaminya itu. Tapi benar saja hanya dalam waktu lima belas menit Adam dapat menyelesaikan pekerjaannya meski dengan satu tangan yang merangkul pingggang Jasmine yang duduk dipangkuannya.
"Nah... benarkan? kalau ada kamu pekerjaanku cepat selesai..."
"Iya... iya... sekarang bolehkan aku pindah? aku tidak nyaman..." keluh Jasmine.
"Kenapa? bukannya seharusnya kamu suka Honey? kita..."
"Stop! jangan mulai deh..." sungut Jasmine yang tahu kemana arah pembicaraan Adam.
"Hem... ya sudah... sebenarnya aku hanya ingin mengatakan jika polisi sudah menangkap orang yang sudah mencelakai kita..." kata Adam.
Jasmine memandang Adam dengan penasaran.
"Mereka ternyata suruhan orangtua Ghani..." sambung Adam sambil menatap Jasmine.
Ia tahu jika membicarakan Ghani istrinya itu masih saja trauma. Meski selama diculik oleh Ghani, Jasmine tidak pernah diperlakukan tidak baik namun tetap saja itu membuatya trauma.
__ADS_1
"Lalu?"
"Kata polisi mereka dendam karena putra mereka harus masuk rumah sakit jiwa..." terang Adam yang kini menggenggam tangan Jasmine mencoba memberi rasa aman.
Jasmine menunduk... seharusnya yang kecewa itu dirinya karena Ghani hanya harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa dan bukannya dihukum penjara.
"Aku tahu kau masih kecewa dengan hasil keputusan pengadilan waktu itu Honey... tapi orang seperti dia memang butuh obat bukan hukuman..."
"Tapi aku takut Dear... aku takut dia akan melakukannya lagi padaku..." kata Jasmine lirih.
Adam langsung memeluk istrinya itu dan mengelus punggungnya pelan. Ia tahu jika Jasmine belum sanggup mengatasi traumanya atas penculikan yang dilakukan oleh Ghani. Kini ia jadi ragu untuk mengatakan permintaan Ghani yang ingin menemui Jasmine yang disampaikan melalui pihak kepolisian.
"Apa kau takut jika bertemu lagi dengannya?" tanya Adam hati-hati.
Jasmine hanya mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Adam menandakan jika ia memang tak mau lagi bertemu dengan Ghani. Adam menghela nafasnya pelan. Di satu sisi ia merasa sedikit iba dengan Ghani setelah ia mengetahui masa lalu pemuda itu tapi ia juga tidak bisa memaksa Jasmine karena istrinya itu termasuk rapuh jika berhadapan dengan traumanya. Bagaiman tidak meski Ghani tidak pernah berbuat lebih padanya namun setiap saat Jasmine selalu merasa cemas takut jika tiba-tiba saja pria itu berubah sikap dan akan berbuat kasar padanya atau lebih.
"Kau tenanglah... aku janji kau tidak akan pernah lagi melihat orang itu..."
"Benarkah?" tanya Jasmine sambil memandang mata suaminya itu mencari kebenaran disana.
Adam mengangguk mantap. Jasmine pun kembali memeluk Adam meluapkan rasa ingin dilindungi oleh Adam. Setelah saling berpelukan beberapa saat akhirnya Jasmine pun mengurai pelukannya pada Adam.
"Iya..." sahut Jasmine mulai bisa tersenyum.
Sementara di tempat lain tampak pak Farhan tengah menemui bu Rasti di dalam tahanan. Pria itu tampak memandang iba pada bu Rasti yang sebentar lagi akan menjadi mantannya. Bu Rasti sedikit merasa lega saat tahu pak Farhan menemuinya. Ia menyangka jika suaminya itu akan membantunya keluar dari penjara.
"Mas... kau datang untuk menolongku kan?" tanyanya penuh harap.
"Maaf Rasti... aku kemari hanya ingin memberitahumu jika surat gugatan cerai sudah aku layangkan ke pengadilan. Jadi kau tinggal tunggu saja surat panggilannya..."
"Mas! apa kau sama sekali tak mau memikirkannya lagi? apa kau tidak merasa kasihan padaku mas?"
"Aku sudah lama memikirkannya Ras... untuk masalahmu dengan hukum aku akan membantu dengan menyewakan pengacara untukmu tapi hanya itu tidak lebih... dan perceraian kita tetap berjalan karena percuma toh selama ini kamu tidak pernah menghargaiku..."
"Tapi mas... aku mohon beri aku satu kesempatan lagi..." kata bu Rasti dengan nada memelas.
"Maaf aku tidak bisa... sekarang aku pergi dulu... selamat tinggal Rasti..." kata pak Farhan lalu bangkit dari tempat duduknya dan segera meninggalkan bu Rasti yang tampak masih syok karena pak Farhan tetap ingin menceraikannya.
Menyesal... itu yang ada didalam hati bu Rasti sekarang. Seandainya dulu ia mau menuruti perkataan pak Farhan saat itu yang ingin ia fokus pada kesembuhan Ghani dan bukannya malah membalas dendam maka semua tidak akan terjadi. Ghani pasti masih menganggapnya ibu dan ia juga pasti masih hidup tentram bersama pak Farhan. Tidak seperti sekarang... ia kehilangan anak dan suaminya serta terancam hukuman penjara yang tak sebentar. Nasi sudah menjadi bubur... ia tak mungkin lagi merubah semuanya untuk kembali seperti semula.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian...
Ghani yang tengah membaca buku dikamarnya tiba-tiba diberitahu jika ada yang ingin menemuinya. Dalam hatinya ia sangat berharap jika orang itu adalah Jasmine. Namun saat ia dibawa ke ruang pertemuan ia langsung kecewa karena yang datang seorang pria. Dan ia tahu siapa pria itu... Adam.
Ya... kejadian perkelahian keduanya saat penculikan Jasmine membuat Ghani tidak melupakan wajah Adam. Apalagi saat berita kecelakaan Jasmine dan Adam ramai diberitakan foto keduanya juga sering terpampang dilayar televisi. Hingga Ghani pun dapat mengenalinya dengan segera.
"Salam kenal Ghani... saya Adam... suami Jasmine" sapa Adam sambil mengulurkan tangannya.
Ghani pun membalas uluran tangan Adam. Meski tanpa Adam memberitahu ia sudah tahu jika pria dihadapannya itu suami Jasmine, namun tetap saja ia merasakan sakit saat mendengar pengakuan Adam tentang statusnya sebagai suami Jasmine. Kemudian keduanya pun duduk saling berhadapan.
"Ada perlu apa?" tanya Ghani langsung.
"Maaf... pihak kepolisian sudah memberitahuku tentang permintaanmu untuk bertemu Jasmine..." kata Adam tenang.
Ghani langsung menatap Adam penasaran. Ia ingin tahu apa pria dihadapannya itu merasa marah atas permintaannya untuk bertemu dengan Jasmine. Tapi tampaknya Adam sangat tenang dan tak terlihat marah sama sekali.
"Sebenarnya aku belum memberitahu Jasmine tentang permintaanmu itu... sebab saat aku menanyakan padanya apa ia mau bertemu denganmu suatu saat nanti... ia tampak takut dan langsung menolaknya..." terang Adam.
"Bukannya aku tidak mau mempertemukan kalian tapi aku tidak ingin memaksa Jasmine... aku juga tahu dia masih trauma apalagi setelah apa yang kedua orangtuamu lakukan pada kami..." sambung Adam.
Ghani tampak menunduk. Ada rasa kecewa saat tahu jika Jasmine masih ketakutan dan tak mau menemuinya. Tapi ia juga faham jika Jasmine masih trauma.
"Jika boleh... izinkan aku melihatnya dari jauh..." ucap Ghani kemudian.
"Maksudnya?"
"Iya... biarkan aku melihatnya dari jauh tanpa sepengetahuannya... aku mohon... sekali saja aku ingin melihatnya..." ucap Ghani.
"Akan aku fikirkan dulu... jika sudah aku akan menghubungi dokter yang merawatmu untuk memintakan izin..." sahut Adam.
"Terima kasih... kau memang pria yang baik mungkin karena itulah Jasmine bisa mencintaimu... bukannya aku..." kata Ghani sendu.
"Bukan... aku bukan pria yang baik Ghan... aku hanya beruntung bisa dicintai olehnya..." sahut Adam sambil tersenyum tulus.
Keduanya pun lalu bersalaman sebagai tanda perpisahan. Semakin mengenal Ghani, Adam merasa jika pria itu hanya butuh seseorang yang mau mencintai dan mengerti dirinya dengan tulus.
"Semoga kau juga akan menemukan seseorang yang kau cintai dan juga mencintaimu Ghani" batin Adam berharap yang terbaik untuk Ghani karena jika kebahagiaan datang pada pria itu maka ia tak akan lagi mengharapkan Jasmine.
Di rumah Jasmine tampak tengah merasakan tidak enak badan. Tubuhnya terasa lemah sejak pagi apalagi saat ia tengah mencoba memasak untuk suaminya. Perutnya serasa diaduk dan rasa mual membuatnya sering bolak balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Para Art yang melihatnya merasa kasihan pasalnya dia hanya sendirian di rumah. Mamanya dan mama mertuanya sudah ke kantor begitu juga dengan suaminya. Saat para Artnya ingin memberitahukan pada mereka Jasmine justru melarang mereka karena tak ingin membuat suami dan keluarga khawatir.
__ADS_1
Setelah memasak penuh perjuangan akhirnya Jasmine selesai juga memasak makanan kesukaan suaminya. Pasalnya Adam berjanji akan makan siang di rumah. Sambil menunggu Adam pulang Jasmine pun membersihkan dirinya sambil beristirahat sebentar di kamarnya. Para Art pun tampak sesekali mengecek keadaan Jasmine takut jika nyonya mudanya bertambah parah sakitnya. Tak lama Adam pun datang dan para Art pun melaporkan apa yang terjadi pada Jasmine. Mendengar istrinya yang sedang tidak enak badan Adam pun langsung berlari kearah kamarnya untuk memeriksa keadaan Jasmine. Adam tersenyum lega saat dilihatnya Jasmine tengah tertidur pulas.