Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Berubah


__ADS_3

Pagi ini Jasmine bangun dengan keadaan lebih baik dari kemarin. Tubuhnya juga sudah tidak merasa lemas lagi. Bahkan tadi subuh ia juga yang membangunkan suaminya untuk sholat subuh berjamaah. Walau Adam menyuruhnya kembali tidur setelah keduanya selesai beribadah. Saat terbangun ia tak mendapati Adam disampingnya. Dengan perlahan ia pun turun dari tempat tidur dan mencoba untuk mencari suaminya itu. Namun baru saja ia menapakkan kakinya di lantai pintu kamarnya sudah dibuka dari luar. Dan tampak olehnya suaminya itu masuk ke dalam sambil membawa nampan berisi makanan.


"Kamu sudah bangun Honey?" tanya Adam berjalan ke arah Jasmine.


"Iya... kau dari mana Dear?"


"Aku membuatkanmu sarapan Dear... makanlah selagi hangat..." terang Adam sambil meletakkan nampan diatas nakas.


Kemudian ia membantu Jasmine duduk bersandar dikepala tempat tidur.


"Aku sudah sehat Dear... aku bisa sarapan di luar..." ucap Jasmine.


"Tapi aku sudah membawakanmu sarapan Honey... makanlah disini... baru nanti siang kau bisa makan di luar..." bujuk Adam.


Jasmine pun mengangguk pasrah.


"Biar aku suapi ya..."


"Tidak usah... aku bisa sendiri..." tolak Jasmine halus.

__ADS_1


"Biarkan aku menyuapimu Honey..." kata Adam yang tak mau penolakan.


Lagi-lagi Jasmine hanya bisa menuruti perintah Adam. Dengan telaten Adam menyuapi Jasmine hingga makanan yang dibawanya itu habis. Setelah itu ia pun menyuruh Jasmine agar meminum susu hamil yang sudah dibelinya kemarin. Jasmine menurut tanpa banyak alasan. Untung saja porsi makanan yang dibawa oleh Adam sangat pas sehingga ia tak kekenyangan meski langsung minum susu setelahnya.


"Apa kau tidak berangkat ke kantor Dear?" tanya Jasmine yang melihat Adam tidak bersiap ke kantor setelah menyuapinya.


"Tidak Honey... hari ini aku akan menemanimu dan Aby..." jawab Adam.


Dia memang sengaja tidak masuk kerja agar Jasmine tidak kelelahan karena Aby sangat lengket dengan mamanya. Kejadian kemarin membuat Adam lebih memperhatikan istrinya itu karena kehamilan keduanya ini berbeda dengan saat mengandung Aby.


"Tapi aku sudah merasa baikan Dear... kamu tidak usah khawatir..." kata Jasmine yang tidak ingin pekerjaan suaminya terganggu karena harus mengurusnya di rumah.


Wajah Jasmine langsung merona. Sesungguhnya ia pun merindukan waktu berdua dengan suaminya itu. Apa lagi sejak ada Aby otomatis waktunya lebih banyak dihabiskan untuk merawat putra semata wayangnya itu. Di tambah kesibukan Adam yang membuat pria itu sering pulang larut sehingga saat sampai di rumah sering kali Jasmine sudah tertidur.


Cup!


Tanpa aba-aba Adam langsung melabuhkan kecupannya di bibir Jasmine. Meski telah menikah dan memiliki seorang putra namun tetap saja Jasmine terkejut dengan perbuatan suaminya itu. Namun ia tak menolak saat Adam kembali mengecupnya dan kali ini lebih lama dan dalam. Dan entah bagaimana awalnya kecupan singkat itu malah berakhir dengan olah raga peluh yang memabukkan. Untung saja Aby tidak rewel dan mengganggu kegiatan pagi kedua orangtuanya. Sepertinya bocah gembul itu masih asyik bermain dengan kedua omanya yang kini memutuskan untuk tidak lagi bekerja.


Memang sejak Jasmine kemarin diketahui hamil lagi keduanya sama-sama memutuskan untuk berhenti bekerja. Mereka ingin mendampingi Jasmine mengasuh buah hatinya karena tak ingin menyewa jasa baby sitter. Mama Tika bahkan langsung mengundurkan diri dari butik tante Fira hari itu juga saat Jasmine diketahui hamil lagi. Sedangkan mama Sinta langsung menyerahkan pengurusan usahanya pada Adam.

__ADS_1


Sedangkan Mirna sedang bersiap untuk pulang. Ia akan ikut bu Dita tinggal di rumah baru wanita itu. Meski pun ukurannya lebih kecil dari rumah milik pak Bima namun sepertinya bu Dita merasa lebih nyaman disana. Bagaimana tidak... disana dia tidak perlu lagi melihat tingkah suaminya yang sering pulang larut malam dan tak jarang dalam keadaan mabuk. Hidup sendiri beberapa hari terakhir membuat bu Dita merasakan ketenangan hidup setelah sekian lama hidup dalam tekanan saat bersama pak Bima.


Pak Bima pun tidak bisa memaksa Mirna untuk ikut pulang bersamanya. Melihat betapa Mirna sangat tergantung pada bu Dita beberapa hari terakhir ini membuat pria paruh baya itu hanya bisa menuruti permintaan putrinya itu. Begitu juga dengan bu Nike. Ia hanya bisa pasrah asalkan Mirna masih mau menemuinya. Apa lagi semua kejadian yang menimpa putrinya itu adalah buah dari kesalahan masa lalunya.


Setelah meletakkan barang-barangnya di kamar yang sudah disediakan oleh bu Dita, Mirna pun merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Meski traumanya mulai menghilang tapi tetap saja wanita itu ada kalanya merasa ketakutan jika sewaktu-waktu akan ada orang lain lagi yang datang untuk membalas dendam padanya. Dan dengan tinggal dengan bu Dita di rumah baru membuat Mirna sedikit merasa aman.


Tok! tok! tok!


"Mirna sayang... kita makan siang dulu yuk..." terdengar suara bu Dita memanggilnya.


"Iya ma..." jawab Mirna langsung bangkit dari tempat tidur.


Mirna melangkah keluar dari kamar. Di sana di depan kamar tampak bu Dita berdiri sambil tersenyum.


"Ayo sayang... kita makan siang bersama... ibu dan papamu sudah menunggu di meja makan" kata bu Dita sambil menggandeng tangan Mirna.


Mirna pun mengangguk pelan dan membalas senyuman dari mamanya itu. Keduanya pun langsung menuju ke ruang makan. Disana terlihat pak Bima dan bu Nike duduk saling berhadapan. Mirna memilih untuk duduk di samping ayahnya dan berahadapan dengan bu Dita. Kemudian mereka berempat makan siang dengan tenang. Kali ini Mirna makan sendiri dengan tenang. Ia bahkan mau menghabiskan makanan yang tadi diambilkan oleh bu Dita.


Hari pun berganti... tak terasa sudah satu bulan Mirna tinggal berdua dengan bu Dita di rumah barunya. Ia pun sudah mulai sembuh dari traumanya. Meski begitu Mirna belum beraktifitas seperti biasa. Ia bahkan belum kembali bekerja. Mirna malah lebih senang membantu bu Dita membuat kue kering di rumah. Bu Dita memang mulai membuka usaha kue kering sejak memutuskan untuk berpisah dengan pak Bima. Dan ternyata usahanya itu cukup sukses karena semakin hari semakin banyak pula pelanggan yang memesan kue buatannya.

__ADS_1


Bu Dita memang menjual kuenya secara daring karena tidak membutuhkan toko khusus. Apalagi ia masih merawat Mirna sehingga ia lebih memilih membuka usahanya dari rumah. Karena Mirna lebih merasa aman di rumah. Bahkan wanita itu kini tidak pernah lagi keluar dari rumah sendiri. Trauma yang menimpanya membuat Mirna berubah menjadi pribadi yang baru. Kini ia menjadi lebih kalem dan tidak lagi berhubungan dengan pergaulan bebas dan juga dunia malam. Ia bahkan ikut bu Dita mengikuti pengajian setiap minggunya. Mirna kini juga berubah lebih religius. Meski belum berhijab namun ia kini berpakaian lebih sopan dan tidak memakai pakaian yang mengumbar bentuk tubuhnya.


__ADS_2