
Hari ini tak terasa sudah waktunya Jasmine melahirkan. Sejak semalam wanita itu sudah merasakan kontraksi yang hilang timbul. Namun ia masih menahannya sendiri karena menurut dokter hal itu wajar bagi wanita yang hendak melahirkan. Dan karena kontraksi yang dialaminya masih hilang timbul pada jarak waktu yang lama membuatnya yakin jika belum saatnya ia melahirkan. Hingga paagi ini saat ia baru saja selesai sholat subuh ia merasakan kontraksi kembali dan kali ini tidak berhenti membuatnya langsung meraih punggung suaminya yang masih berzdikir didepannya.
"De...dear..." panggilnya sambil mencengkeram punggung Adam.
Adam langsung berbalik ke arah Jasmine dan mendapati istrinya itu tengah terduduk sambil memegangi perutnya dan meringis menahan sakit.
"Kau kenapa Honey?"
"Se... sepertinya... aku... akan melahirkan Dear..." sahut Jasmine terbata karena menahan sakit.
Adam langsung membopong tubuh Jasmine dan membawanya menuju ke mobil. Tak lupa ia juga memanggil mamanya dan juga mama Tika saat melewati kamar keduanya.
Mama Tika dan mama Sinta yang juga baru selesai sholat pun terkejut saat mendengar Adam yang berteriak memanggil mereka. Keduanya buru-buru keluar dari kamar mereka dn mendapati Adam yang tengah menggendong Jasmine. Tampak wajah Jasmine yang pucat menahan rasa sakit. Kedua wanita paruh baya itu pun langsung mengerti jika Jasmine sudah akan melahirkan. Dengan sigap keduanya langsung mengambil tas berisi pakaian dan perlengkapan lain yang dibutuhkan saat Jasmine melahirkan.
Ya mereka memang sudah mempersiapkannya dan meletakkan tas itu di tempat yang mudah dijangkau disaat Jasmine melahirkan. Ketiganya langsung menuju mobil. Setelah memasukkan Jasmine ke kursi belakang bersama mama Tika ia pun segera masuk ke kursi kemudi. Sedang mama Sinta duduk di sampingnya. Adam melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar mereka bisa segera sampai di rumah sakit.
Beberapa kali mama Sinta bahkan harus menegurnya agar tidak terlalu ngebut agar mereka bisa selamat sampai di rumah sakit. Tapi Adam tak menghiraukannya karena ia sangata mengkhawatirkan keadaan Jasmine yang sedari tadi mengerang kesakitan. Meski mama Tika terus memberikan semangat pada putrinya itu tka urung dalam hatinya ia juga sangat cemas sebab wajah Jasmine yang semakin pucat dan terus merasakan sakit.
"Mama... sakit ma..." rintih Jasmine sambil memegangi perutnya yang membuncit.
"Sabar sayang... sebentar lagi kita sampai di rumah sakit... ayo sayang... ambil nafas... buang..." kata mama Tika berusaha membuat putrinya itu tenang.
Dengan patuh Jasmine mengikuti perintah mamanya. Meski ia masih merasakan sakit yang amat sangat namun ia kini sudah sedikit tenang karena ada mamanya yang berada di sampingnya.
"Bagus sayang.... teruskan!" ucap mama Tika tetap memberi sembangat pada Jasmine.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit. Adam langsung membopong tubuh Jasmine dan membawanya ke IGD.
"Tolong istri saya mau melahirkan!" teriaknya pada perawat dan dokter yang berada disana.
Melihat itu semua petugas kesehatan yang ada disana langsung menyuruh Adam meletakkan Jasmine diatas brankar dan langsung membawanya ke ruang persalinan. Namun belum sempat mereka membawanya, Jasmine sudah meraih tangan Adam dan menggengamnya erat. Adam yang mengerti keinginan istrinya walau pun wanita itu tak bisa berkata karena menahan rasa sakit langsung meminta pada dokter untuk mengizinkannya menemani istrinya di ruang bersalin.
Melihat keadaan pasien yang memang sangat menginginkan suaminya berada didekatnya membuat dokter pun memberikan izin pada Adam. Sementara anak dan menantunya berada di dalam ruang bersalin mama Tika dan mama Sinta tampak saling menguatkan di depan ruangan. Keduanya tak ada hentinya berdo'a untuk keselamatan Jasmine dan juga bayinya juga dilancarkan proses kelahirannya.
Mama Tika tampak paling cemas. Pasalnya Jasmine adalah putrinya satu-satunya yang selalu manja jika bersamanya. Ia bisa membayangkan kesakitan yang kini tengah dialami Jasmine dalam perjuangannya untuk melahirkan anaknya. Karena dulu ia juga merasakannya saat ia melahirkan putrinya itu.
"Ya Allah lindungilah putriku... lancarkanlah proses persalinannya..." do'anya dalam hati.
Tidak berbeda dengan besannya... mama Sinta juga sangat mengkhawatirkan Jasmine karena ia sudah menganggap menantunya itu seperti putri kandungnya sendiri. Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit akhirnya terdengar suara tangisan bayi yang membuat kedua wanita paruh baya itu merasa lega. Tak berapa lama keluar seorang perawat yang membawa bayi untuk dibersihkan.
"Selamat bu... bayinya sehat tidak kurang suatu apa dan jenis kelaminnya laki-laki..." ucapnya lalu membawa bayi itu untuk dibersihkan.
__ADS_1
Tak lama keluar Adam dan Jasmine yang masih tergolek lemah. Dibantu perawat Adam membawa Jasmine ke ruang perawatan. Kedua wanita paruh baya yang kini sudah menjadi nenek itu pun mengikuti mereka.
"Selamat sayang... kau sekarang sudah menjadi ibu..." ucap mama Tika setelah mengecup lening putrinya.
"Iya sayang... sekarang kau sudah menjadi mama" sambung mama Sinta sambil menggengam tangan Jasmine.
Tak lama seorang perawat datang dengan membawa bayi Jasmine dan Adam yang sudah di bersihkan. Ia pun menyerahkan bayi merah itu pada Adam untuk diadzani.
Dengan gerakan sedikit kaku karena baru pertama kalinya menggendong bayi Adam mulai melantunkan adzan dan iqmat di telinga bayinya. Semua yang ada disana tampak sangat terharu. Apa lagi Jasmine, meski masih lemah ia tak dapat menyembunyikan rasa bahagia dan harunya saat melihat Adam yang sedang mengadzani putra mereka.
Setelah selesai sang dokter yang juga datang menyuruh Adam untuk meletakkan putranya di dada Jasmine untuk melakukan IMD. Adam pun menurut setelah semua orang meninggalkan ketiganya sendiri di ruang perawatan Jasmine. Adam sangat terharu saat melihat putranya dengan segera dapat menemukan p****g ibunya dan langsung m*******pnya dengan rakus hingga membuat Jasmine sedikit meringis.
"Tidak usah buru-buru sayang... tidak ada yang akan merebutnya darimu" kata Adam yang gemas dengan putranya itu.
"Apakah sakit Honey?" tanya Adam pada Jasmine saat melihat istrinya itu tengah meringis menahan sakit.
"Sedikit Dear... tapi kata dokter tidak apa-apa itu wajar..." ucap Jasmine sambil tersenyum.
"Terima kasih Honey... kamu sudah mau melahirkan putra kita..." kata Adam sambil mengecup kepala istrinya itu.
Jasmine pun mengangguk dan tersenyum lebar pada suaminya.
"Menurutmu dia mirip siapa?" tanya Adam sambil memandang putranya yang kini sudah tertidur pulas di dalam boxnya setelah kenyang meminum ASI dari Jasmine.
"Iya sih... tapi lihat... mata dan hidungnya mirip denganmu Honey... juga bibirnya..." kata Adam saat memperhatikan putranya dari dekat.
Ia bahkan mencium pipi tembem bayi itu sekilas. Tak lama pintu ruang perawatan Jasmine dibuka dari luar. Ternyata dua Oma masuk untuk melihat cucu pertama mereka. Karena bayi itu tengah tertidur keduanya pun hanya bisa memandangi bayi mungil itu dengan gemas.
"Apa kalian sudah mempunyai nama untuk putra kalian?" tanya mama Sinta.
"Sudah ma... namanya Abrisam" ungkap Adam.
"Bagus sekali namanya..." sahut mama Tika sambil menoel pipi baby Aby.
Kabar kelahiran baby Aby pun sudah tersebar pada semua saudara dan teman keluarga Adam dan Jasmine. Maya bahkan datang yang pertama diantar oleh Rian. Melihat kelucuan baby Aby membuat Maya pun semakin ingin segera memiliki momongan sendiri.
"Duh... lucunya... gemes banget deh... jadi pengen bawa pulang..." celetuknya saat menggedong baby Aby.
"Ish... kau ini sembarangan saja... lebih baik kau bikin sendiri saja sama kak Rian..." sungut Jasmine yang tak rela putranya dibawa Maya.
"Dih... yang punya bayi langsung sewot!" sahut Maya tak mau kalah.
__ADS_1
"Sudah-sudah... kalian ini sudah berkeluarga masih saja suka bertengkar seperti anak kecil!" potong mama Tika melihat tingkah anak dan sahabatnya itu.
"He... he...he... cuma bercanda tante..."
"Iya ma... mana mungkin sih aku beneran marah sama Maya..."
Mama Tika hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kedua wanita yang masih bertingkah seperti remaja itu.
"Eh tapi aku serius lho... saat nyuruh kamu bikin anak sama kak Rian..."
Plak!!
"Aduh sakiit..." seru Jasmine saat tangan Maya mendarat dilengannya.
"Lagian kamu kenapa sekarang ngomongnya ga bisa disaring sih!" sergah Maya.
"Tapi aku kan bener ngomongnya..." ujar Jasmine tidak mau kalah.
Maya mendengus kesal. Tapi ia juga tidak bisa marah pada sahabatnya itu. Setelah meletakkan baby Aby ke dalam boxnya ia pun duduk di samping brankar Jasmine.
"Sebenarnya aku mau Jess... tapi aku juga takut... soalnya kan sakit banget saat melahirkan... kamu sudah merasakannya sendiri kan?"
Jasmine tersenyum mencoba membuat sahabatnya itu untuk tidak takut hamil dan mahirkan.
"Sakitnya cuma sebentar kok May... setelah melihat wajah anak kita yang baru lahir semua kesakitan itu akan langsung hilang digantikan rasa bahagia..." ucap Jasmine.
"Benarkah?" tanya Maya tak percaya.
"Kalau kau tidak percaya coba saja..."
"Kau!" sungut Maya saat menyadari jika Jasmine menggodanya.
"Tapi kau benarkan? kalau kau tidak mencobanya bagaimana kau bisa merasakannya..."
"Betul juga katamu Jess" sahut Maya sambil mengangguk.
Sedang mama Tika yang sedari tadi memperhatikan keduanya hanya bisa mengus dada melihat tingkah polos keduanya yang tidak pernah habis.
"Kalau begitu aku akan lebih semangat agar bisa segera menyusulmu..."
"Iya... semangat!" sahut Jasmine sambil mengepalkan tangannya keatas.
__ADS_1
Mama Tika semakin menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa kedua sahabat yang sudah menikah itu masih saja bertingkah polos seperti gadis remaja.