
Ditempat yang berbeda tampak Adam sedang mendengarkan laporan dari bawahannya mengenai kabar terbaru Jasmine. Sejak tokoh Jessica dihilangkan Adam sedang berusaha mendekati Jasmine. Namun karena usia Jasmine membuat Adam hanya bisa memantau gadis itu dari jauh. Apalagi dengan sifat Jasmine yang sungguh sangat kekanakan dan sama sekali tak mengenal masalah percintaan. Sangat berbeda dengan gadis seusianya yang lain yang berlagak dewasa dan mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Saat mendengar jika Jasmine dan Maya hampir jadi korban penculikan sindikat perdagangan manusia membuat Adam geram dengan kecerobohan anak buahnya yang kecolongan hingga peristiwa itu terjadi.
"Kalian itu aku bayar untuk mengawasi dan melindunginya kenapa bisa sampai kecolongan seperti ini hah!"
"Maaf tuan ... kami fikir tempat itu aman sehingga kami agak lengah..." sahut salah satu dari anak buahnya.
"Tapi kami langsung menghubungi polisi agar dapat menolong keduanya tanpa melibatkan kami jadi tak ada yang menduga jika anda selama ini mengawasinya" sambung yang lain.
Adam mendengus kesal pasalnya jika sedikit saja polisi itu datang mungkin saja kedua gadis itu kini sudah jadi korban.
"Baiklah tapi tingkatkan kinerja kalian sebab aku tak ingin kejadian kemarin terulang"
"Baik tuan...." jawab mereka serempak.
"Tapi tuan .... saat ini orang tua dari teman nona itu juga menyewa pegawalan sejak kejadian kemarin" lapor anak buahnya lagi.
"Kalau begitu bertindaklah lebih hati-hati agar kalian tak terendus oleh pegawal mereka!" perintahnya yang langsung diangguki oleh semua bawahannya itu.
Setelah semua anak buahnya pergi Adam kembali memandang foto Jasmine yang diambil diam-diam oleh anak buahnya saat berada di sekolah.
"Kau sangat imut dengan seragam sekolahmu itu Jess" gumamnya sambil tersenyum tipis.
Ingin rasanya ia mempercepat waktu agar ia dapat segera menemui gadis pujaannya itu tanpa takut disebut pedofil karena mencintai gadis dibawah umur. Sementara Jasmine dan Maya sedang asik ngobrol di bangku taman sekolah. Saat itulah datang seorang senior yang sangat digilai oleh para siswi di sekolah. Dia Rio pemuda yang menyebabkan Jasmine dan Maya menjadi bahan bullyan para seniornya.
"Maya bisa kita bicara sebentar?" ucapnya pada Maya yang membuat gadis itu langsung mengerutkan keningnya.
"Memangnya ada apa kak?" tanya Maya polos.
"Bisa kita bicara berdua saja?" ucap Rio lagi.
"May aku ke kelas dulu ya..." pamit Jasmine yang tidak mau mengganggu.
"Eh kita bareng aja Jess... kakak mau bicara apa? aku dan Jasmine ga pernah ada yang disembunyikan jadi bicara saja..." kata Maya pada Rio.
"Baiklah... Maya aku cuma mau bilang kalau aku suka sama kamu".
Duaaarr... seperti mendengar suara petir di siang bolong kedua gadis itu terpaku mendengar pengakuan Rio.
"Ka... kakak nembak aku?" ucap Maya terbata sambil menunjuk pada dirinya.
"Iya... memangnya disini yang namanya Maya ada yang lain?" sahut Rio sedikit kesal.
Maya menoleh pada Jasmine yang ada disampingnya seolah meminta bantuan. Namun Jasmine hanya menjawab dengan menggedikkan bahunya karena menurutnya itu urusan perasaan jadi ia merasa tak berhak ikut campur.
"Bagaimana?" desak Rio yang tak menduga jika ada gadis yang menolaknya secara selama ini banyak siswi yang selalu mengejarnya.
"Apakah kakak mau memberikan aku waktu untuk berfikir? sebab aku merasa ini sangat mendadak..." kata Maya akhirnya.
"Baiklah ... aku tunggu tiga hari lagi" ucap Rio. Maya pun mengangguk tanda menyanggupi.
Kemudian kedua gadis itu pun pergi ke kelas mereka. Saat sampai di kelas kebetulan keadaan masih sepi karena bel akhir istirahat belum berbunyi. Keduanya pun langsung duduk berdampingan.
"Bagaimana May? apa kau akan menerimanya?" tanya Jasmine.
__ADS_1
"Aku tidak tahu Jess... tapi bukannya selama ini justru kamu yang dikira disukai kak Rio dan membuat kak Angel dan kak Cindy membully kita?" tanya Maya ragu.
"Aku juga tidak tahu May... tapi memang sebenarnya saat kita mengikuti kegiatan kesiswaan kak Rio sering menanyakan kabarmu padaku... mungkin karena itu mereka mengira aku yang disukai kak Rio" jelas Jasmine.
"Sekarang tinggal bagaimana perasaan kamu sama kak Rio? kamu suka sama dia atau tidak?" tanya Jasmine.
"Sebenarnya sejak pertama melihat kak Rio aku udah ada rasa suka tapi saat mendengar dia sukanya sama kamu aku berusaha untuk melupakannya apalagi dengan bullyan senior yang juga suka sama kak Rio aku jadi semakin mencoba untuk melupakannya" ucap Maya jujur.
"Tapi sekarang kamu tahu kan siapa sebenarnya yang disukai sama kak Rio?"
Maya pun mengangguk.
"Nah kalau begitu kamu ga usah ragu kalau kamu juga suka..." bujuk Jasmine.
"Tapi bagaimana dengan kamu?"
"Memangnya ada apa sama aku?" tanya Jasmine bingung.
"Apa kamu ga keberatan jika aku jadian sama kak Rio?"
"Untuk apa aku harus keberatan? aku kan ga ada rasa sama kak Rio"
"Iya.... tapi nanti waktu kita berdua pasti akan berkurang karena ga mungkin aku ajak kamu terus kalau jalan bareng dia" ungkap Maya sambil menundukkan kepala.
"Hemm... jadi sahabatku ini takut jika aku merasa kesepian gitu?" kata Jasmine menggoda.
Maya hanya bisa mengangguk.
"Jangan khawatir May... jika sekarang kamu punya pasangan mungkin ga lama lagi aku juga punya... jadi jangan melepaskan kebahagiaanmu hanya karena takut aku jadi merasa kesepian" ungkap Jasmine sambil menggenggam tangan sahabatnya yang sudah seperti saudara baginya itu.
"Nah begitu dong... harusnya kamu merasa sangat bahagia karena yang disukai kak Rio itu kamu bukan yang lain" sambung Jasmine yang membuat pipi Maya memerah.
Sesampainya di rumah Maya masih memikirkan kejadian di sekolah tadi. Jasmine memang benar jika ia harus mengikuti kata hatinya. Namun Maya masih merasa ragu apa benar Rio benar-benar menyukainya atau itu hanya salah satu jebakan dari kakak seniornya yang jahil. Maya yang sedang bergelut dengan fikirannya tak menyadari jika sedari tadi mamanya sudah masuk ke dalam kamarnya dan memperhatikan tingkahnya sejak tadi.
"Anak mama kenapa? sejak tadi mama memanggil tidak menyahut?" tanya mama Nura.
"Mama..." ujar Maya yang terkejut dengan kehadiran mamanya.
"Ada apa sayang?" tanya mama Nura lembut.
"Ma... jika ada yang suka sama Maya... apa mama marah?" tanya Maya takut-takut.
"Hemm... jadi anak mama sudah mulai tahu suka-sukaan ya..." goda mama Nura.
"Ish mama..." ucap Maya dengan wajah memerah karena malu.
"Kalau mama sih ga keberatan ... tapi asal jangan terlalu jauh dan mengganggu sekolah kamu" kata mama Nura sambil mengelus rambut putrinya itu.
"Tak terasa kini kamu sudah mulai beranjak dewasa sayang" batinnya.
"Tapi bagaimana dengan papa?"
"Jangan khawatir nanti biar mama yang bicara sama papa"
__ADS_1
Maya pun tersenyum dan memeluk mamanya.
"Terima kasih ma..."
"Iya sayang..." kata mama Nura sambil mengelus punggung Maya.
Sementara Jasmine yang sedang berbaring di dalam kamarnya entah mengapa tiba-tiba teringat dengan pak Adam.
"Ish... kenapa tiba-tiba aku jadi teringat dengannya sih!" keluh Jasmine sambil menggigit ujung selimutnya.
Wajah gadis itu pun sudah memerah hanya dengan memikirkan saat mereka bersama.
"Mamaa... apa yang sedang terjadi pada putrimu ini..." jeritnya dalam hati.
Dan jadilah semalaman Jasmine hanya berguling diatas tempat tidurnya tanpa bisa memejamkan mata. Alhasil keesokan harinya Jasmine keluar dari kamarnya dengan lingkar panda dikedua matanya. Mama Tika yang melihat keadaan putrinya pun jadi penasaran.
"Kamu kenapa sayang? apa semalam tidurmu nyenyak?" tanya mama Tika.
Jasmine menggelengkan kepalanya pelan.
"Apa kau sakit?" tanya mama Tika lagi sambil menempelkan telapak tangannya dikening Jasmine.
"Tidak panas..." ucap mama Tika.
"Jasmine hanya ga bisa tidur semalaman ma..." kata Jasmine.
"Kenapa sayang? apa ac dikamarmu rusak?".
Jasmine kembali menggelengkan kepalanya dan tak berani menceritakan alasan kenapa ia tidak bisa tidur. Ia yakin mamanya pasti akan marah jika tahu bahwa kini Jasmine mulai menyukai pak Adam.
"Ga tahu ma... cuman ga bisa tidur saja" ucap Jasmine tak ingin mamanya terus bertanya.
"Lebih baik kamu ga usah berangkat sekolah dulu sayang... dari pada nanti kau ngantuk di sekolah" kata mama Tika.
"Tapi ma..."
"Sudahlah sayang kau istirahat saja di rumah nanti biar mama yang minta ijin pada wali kelas kamu..." ucap mama Tika.
Selesai sarapan mama Tika menuntun putrinya itu untuk masuk kembali ke dalam kamar.
"Sekarang tidurlah dulu nanti kalau bik Darti datang biar dia menyiapkan makan siang buat kamu" kata mama Tika sambil membetulkan selimut pada tubuh Jasmine.
"Mama berangkat dulu ya... nanti pintu rumah mama kunci dan kunci cadangan masih kamu pegang kan?"
"Iya ma..."
"Sudah tidurlah... mama pergi dulu" kata mama Tika lalu mencium kening putrinya.
Setelah itu ia pun pergi untuk bekerja tapi sebelumnya ia pergi ke sekolah Jasmine terlebih dahulu untuk meminta ijin buat Jasmine.
Di kantor pak Adam tampak cemas setelah mendapat laporan dari anak buahnya bahwa hari ini Jasmine tidak tampak berangkat ke sekolah bersama mamanya. Bahkan gadis itu sama sekali tidak keluar dari dalam rumah.
"Ada apa denganmu Jess? apakah kau sakit?" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Jika saja hari ini tak ada rapat penting yang harus dia pimpin mungkin sudah sejak tadi ia akan pergi ke rumah Jasmine untuk memeriksa sendiri keadaan gadis itu. Tapi alasan apa yang akan ia katakan jika benar ia pergi ke rumah gadis itu?