
Jasmine merasakan tubuhnya melayang sepertinya ada seseorang yang mengangkat tubuhnya. Namun karena ia sudah terlalu lemah dan banyak menghirup asap kebakaran akhirnya ia pun tak sadarkan diri. Entah kemana orang asing itu membawa tubuh lemah Jasmine. Karena saat ia sadar Jasmine sudah berada dalam sebuah kamar tidur bukan ruang perawatan di rumah sakit.
Jasmine yang masih lemah hanya bisa memandangi sekelilingnya. Kamar itu terlihat bersih dan rapi. Hanya ada almari dan juga meja rias yang berada di dekat jendela kamar selain tempat tidur yang kini ia tempati. Saat Jasmine tengah mengamati ruangan tempatnya berada tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar. Tampak seorang wanita paruh baya masuk dengan membawa nampan berisi makanan juga segelas minuman.
"Oh... nona Jasmine sudah bangun rupanya?" ucap wanita itu ramah.
"Da.. dari mana ibu tahu nama saya?" tanya Jasmine yang terkejut karena wanita itu sudah tahu namanya.
"Dari den Ghani..." jawab wanita itu sambil tersenyum.
"Ghani?" tanya Jasmine tak mengerti karena tak pernah merasa kenal dengan seseorang yang bernama Ghani.
"Iya... sudah non... lebih baik sekarang nona sarapan dulu... biar tenaganya cepat pulih..." ucap wanita itu lembut.
"Emmm bibi siapa? dan saya ada dimana sekarang?"
"Nama saya bik Narsih non... pembantu di rumah ini dan sekarang nona ada di rumah den Ghani..." terang wanita itu.
"Ayo non... sekarang makan dulu..." sambungnya.
Jasmine pun mengangguk dan menuruti wanita itu untuk makan. Setelah selesai makan Jasmine kembali menanyakan pada bik Narsih mengapa ia bisa sampai berada di rumah Ghani.
"Saya juga kurang tahu non... cuma semalam den Ghani menyuruh saya untuk mengganti pakaian nona dan juga membersihkan badan nona karena saat itu badan nona sangat kotor terkena abu dan tanah..." terang bik Narsih.
"Kalau saya boleh tahu ini di daerah mana ya bik?" tanya Jasmine hati-hati.
"O... ini di daerah C non... disini hawanya sejuk karena banyak perkebunan..." sahut bik Narsih.
Jasmine hanya mengangguk namun hatinya bertanya-tanya mengapa orang yang bernama Ghani itu malah membawanya jauh dari tempat kosnya yang terbakar bahkan sampai ke luar kota. Insting Jasmine langsung mengeluarkan alarm bahaya pada dirinya karena ia merasa jika orang itu sengaja membawanya pergi jauh dari keluarganya. Mungkinkah ia sekarang sedang diculik? dan apa bik Narsih tahu jika tuannya sudah menculiknya?
Pertanyaan demi pertanyaan berputar dikepala Jasmine hingga kepalanya menjadi sedikit pusing. Tak berapa lama bik Narsih keluar untuk meneruskan pekerjaannya dan meninggalkan Jasmine sendirian di dalam kamar. Jasmine ingin memeriksa sekelilingnya namun ia sadar itu tak mungkin ia lakukan karena dirinya yang belum bisa berjalan.
Tak lama pintu kamarnya diketuk dari luar...
"Masuk..." suruh Jasmine.
__ADS_1
Setelah itu tampak seorang pemuda masuk ke dalam kamar dan mendekati Jasmine membuat gadis itu langsung memundurkan tubuhnya ke belakang.
"Siapa kamu?" tanya Jasmine menutupi rasa takutnya.
"Aku Ghani..." jawab pemuda itu sambil tersenyum.
"Kenapa kamu membawaku kemari? bukankah ditempat kamu menemukanku ada petugas pemadam kebakaran dan juga petugas kepolisian? kenapa kamu malah membawaku pergi?" tanya Jasmine langsung.
Bukannya menjawab pemuda itu malah terkekeh dengan sikap Jasmine yang menurutnya sangat lucu. Dengan santai pemuda itu berjalan ke arah Jasmine yang berada di tempat tidur. Hal itu membuat Jasmine semakin waspada.
"Tenang saja sayang... aku tidak akan menyakitimu..." ucap Ghani sambil menarik kursi yang ada di depan meja rias dan langsung mendudukinya.
"Lalu kamu mau apa? kembalikan aku pada keluargaku!" kata Jasmine.
"Sabar sayang... kamu pasti akan pulang... tapi setelah kita menikah" sahut Ghani.
Jasmine sangat terkejut dengan ucapan Ghani yang ingin menikahinya.
"Kau jangan bergurau! aku sama sekali tidak mengenalmu ... jadi bagaimana kita bisa menikah" ucap Jasmine dengan tubuh yang mulai bergetar karena takut.
"Kalau begitu kamu tahukan kalau aku sedang sakit?" tanya Jasmine berusaha mengulur waktu.
"Aku tahu itu ... makanya aku membawamu kemari..." kata Ghani.
"Disini aku punya kenalan yang ahli dalam akupuntur... dia yang akan mengobatimu agar kau bisa segera berjalan..." sambungnya.
"Lalu setelah itu kita akan segera menikah.." ucap Ghani lagi sambil tersenyum lebar.
Jasmine sudah mulai menduga jika pemuda didepannya ini punya gangguan kejiwaan. Maka dari itu ia harus bermain halus agar bisa keluar dari cengkraman Ghani.
"Tapi aku ingin bertemu mamaku... dia pasti sedang mengkhawatirkanku..." kata Jasmine mencoba mencari cara agar bisa memberitahu keberadaannya sekarang ini pada mamanya.
"Tidak sayang... tidak sekarang... kau sembuh dulu baru kita hubungi mama kamu... oke?" tolak Ghani.
Jasmine mendengus pelan. Ghani ternyata tidak mudah untuk dibohongi. Akhirnya Jasmine pun menyetujui apa yang dilakukan oleh Ghani demi menjaga emosi pemuda itu agar tidak berlaku kasar terhadapnya. Memang sejak tadi Ghani selalu berlaku lembut kepada Jasmine. Tapi siapa yang dapat menjamin jika sikapnya tidak akan berubah kalau Jasmine tidak menurut kepadanya?
__ADS_1
"Baiklah..." sahut Jasmine yang langsung membuat Ghani tersenyum senang.
"Bagus... kamu memang gadis yang penurut... tidak salah jika aku memilihmu..." ucap Ghani.
"Sekarang bolehkah aku beristirahat? rasanya kepalaku masih terasa pening" kata Jasmine yang berusaha untuk mengusir pemuda itu dari dalam kamar secara halus.
"Baiklah... kau beristirahatlah dengan tenang karena mulai besok kau akan mulai terapi akupuntur..." sahut Ghani sambil mendekat kearah Jasmine dan hendak mencium kepala gadis itu.
Jasmine berusaha menghindar dengan mengalihkan kepalanya ke belakang.
"Maaf ... kepalaku pusing sekali" ucapnya sambil menyandarkan kepalanya keatas bantal.
Ghani pun hanya tersenyum dan akhirnya cuma mengusap kepala Jasmine dengan lembut. Dengan segera gadis itu menutup matanya agar Ghani segera meninggalkannya. Melihat Jasmine yang sudah menutup matanya Ghani pun segera meninggalkan gadis itu sendiri di dalam kamar. Setelah mendengar suara pintu kamar ditutup Jasmine perlahan membuka kembali matanya. Andai saja kakinya sudah bisa berjalan maka detik itu juga ia akan melarikan diri dari sana.
"Mama... Jasmine takut ma..." batinnya dengan air mata yang menetes.
Kembali Jasmine menutup matanya berusaha agar dapat tertidur. Mungkin saja nanti saat ia terbangun maka ia akan menemukan cara agar bisa keluar dari tempat itu.
Di kantor polisi... tampak Adam tengah menerima hasil penyelidikan terakhir dari pihak kepolisian. Mereka menyatakan jika telah berhasil menangkap pelaku pembakaran rumah kosan Jasmine. Ternyata pelakunya adalah mantan pacar dari salah satu penghuni kos yang marah karena tak diperbolehkan bertemu dengan mantannya itu oleh ibu kos. Bukan tanpa alasan sebab pria itu ternyata telah berani memasuki kamar mantannya itu secara sembunyi-sembunyi dan berusaha melecehkannya.
Sedang tentang pemuda yang membawa Jasmine polisi belum bisa mengungkapnya. Apa lagi ponsel Jasmine ditemukan tak jauh dari tempat kejadian sehingga sulit melakukan pelacakan melalui GPS. Dengan sedikit kecewa dengan hasil penyelidikan polisi Adam pun pamit pulang. Dalam perjalanan pulang ia menyuruh anak buahnya untuk kembali mencari keberadaan Jasmine termasuk sampai ke luar kota. Entah mengapa perasaannya mengatakan jika Jasmine dibawa menjauh dari kota itu.
Sesampainya di hotel tempatnya menginap bersama mamanya dan juga mama Jasmine, Adam sudah di tunggu oleh keduanya di loby. Tampak sekali jika mereka sangat penasaran dengan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Namun setelah mendengar penjelasan dari Adam keduanya langsung terlihat kecewa.
"Lebih baik kita pulang saja dulu ma... biar anak buahku yang melanjutkan menyelidikan disini..." kata Adam.
Mama Sinta pun mengangguk setuju begitu pula dengan mama Tika. Karena memang mereka belum mengetahui dimana keberadaan Jasmine sekarang maka akan lebih baik jika mereka menunggu kabar di rumah. Sore harinya mereka pun cek out dan segera pulang ke kota J.
Sementara Jasmine yang baru saja selesai membersihkan diri dibantu oleh bik Narsih. Setelah itu ia pun dibantu untuk duduk di kursi roda. Jasmine memang meminta agar ia diantar keluar kamar dengan alasan ingin menghirup udara segar setelah seharian berada di dalam kamar. Bik Narsih pun mengantar Jasmine untuk duduk di taman belakang rumah Ghani. Gadis itu tampak sedikit senang karena bisa keluar dari dalam kamar. Sedikit demi sedikit Jasmine berusaha untuk mengorek keterangan dari bik Narsih tentang Ghani majikannya.
Bik Narsih yang polos pun dengan senang hati menceritakan semuanya tentang sosok Ghani. Apa lagi pemuda itu sudah pernah bilang padanya jika Jasmine itu adalah calon istrinya sehingga wanita paruh baya itu merasa tidak ada salahnya menceritakan pribadi tuannya pada Jasmine. Dari keterangan bik Narsih, Jasmine jadi tahu siapa sebenarnya Ghani.
Pemuda itu ternyata seorang anak korban perceraian kedua orangtuanya. Karena ia anak tunggal maka ia jadi rebutan kedua orangtuanya itu saat mereka memutuskan bercerai namun Ghani yang saat itu sudah berusia 17 tahun lebih memilih untuk tinggal di rumah kakeknya dari pihak ayah karena ibunya sudah tak punya keluarga lain. Sifat Ghani yang tertutup membuat semua orang dekatnya tidak pernah mencurigai kelainan dari sifat Ghani. Mereka hanya menganggap jika Ghani masih trauma dengan perceraian kedua orangtuanya dan masih dalam batas wajar.
Tapi tidak bagi Jasmine. Bagi gadis itu perbuatan Ghani yang menculiknya dari keluarganya menunjukkan jika pria itu punya masalah kejiwaan. Apalagi ia menyadari jika bisa saja pemuda itu selama ini sudah mengikuti dan selalu mengamatinya tanpa ia ketahui. Dalam hatinya Jasmine berencana untuk menyelidiki lebih lanjut. Oleh karenanya saat ini ia hanya bisa mengikuti permintaan pemuda itu.
__ADS_1