Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Melarikan Diri


__ADS_3

Ghani mondar mandir di dalam kamarnya mencari cara agar ia bisa melarikan diri dari rumah sakit jiwa. Tiba-tiba terbit ide di dalam kepalanya yang membuat pemuda itu langsung tersenyum senang. Pemuda itu lalu masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ya karena ia termasuk pasien VIP dan selama ini terlihat sangat kooperatif membuatnya mendapatkan fasilitas layaknya orang normal.


Ghani tersenyum menyeringai saat melihat lubang jendela yang ada di kamar mandinya. Meski cukup tinggi namun ia bisa menyusun beberapa barang untuk menggapainya. Dan kamarnya hanya di lantai dua rumah sakit itu sehingga tak membuat Ghani takut. Setelah menunggu visit malam dokter pada pasien yang ada dilantai yang sama dengannya selesai Ghani pun melancarkan aksinya.


Dengan menumpuk beberapa buku tebal yang sering ia pinjam untuk dibacanya selama ini dan meletakkannya di pinggir bak mandi ia dapat menggapai lubang jendela itu meski hanya bertumpu dengan satu kaki. Ternyata lubang jendela itu hanya ditutupi dengan kawat kassa yang membuat Ghani dengan mudah membobolnya dengan pisau cutter yang sejak lama sudah dicurinya dari pegawai yang pernah memperbaiki stop kontak di kamarnya yang rusak.


Semula ia berencana menggunakan pisau cutter itu untuk bunuh diri karena merasa bersalah telah membunuh Jasmine meski tanpa sengaja. Namun niatnya itu selalu gagal karena setiap kali ia ingin melakukan aksinya ia selalu saja merasa tak sanggup melakukannya saat pisau cutter itu telah ia tempelkan pada lengannya. Ternyata ia tak cukup berani untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dan ia sering kali meruntuki sikap pengecutnya itu. Tapi kini ia malah merasa beruntung tak jadi mengakhiri hidupnya sebab akhirnya ia tahu jika ia tidak membunuh Jasmine.


Dan sekarang ia bertekad akan mencari orang yang telah mencelakai Jasmine sehingga wanita yang dicintainya itu meninggal. Setelah berhasil merobek kawat kassa pada lubang jendela Ghani baru mengetahui bahwa ternyata lubang jendela itu tak cukup besar untuk ia lalui.


"S**l!" umpat Ghani kesal.


Tapi Ghani tidak kehilangan akal. Ia kembali turun dan mencari sesuatu untuk membobol lubang itu agar dapat ia lalui. Setelah mengeledah kamarnya Ghani jadi semakin frustasi karena tak menemukan apa pun untuk dijadikan alat membongkar jendela kamar mandi. Dengan lesu ia pun duduk ditepi tempat tidurnya.


"Maafkan aku Jasmine..." pikirnya kalut.


Ia pun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Tidak... aku tidak boleh menyerah! para pembunuh itu harus menerima balasannya... tunggulah Jasmine... aku pasti akan menemukan cara untuk keluar dari sini..." gumamnya.


Saat itulah terdengar suara alarm kebakaran berbunyi membuat semua penghuni kamar di sekitar Ghani menjadi gaduh karena tak berapa lama Ghani sudah mencium bau asap yang memasuki kamarnya. Tak lama seseorang membuka pintu kamarnya yang ternyata salah satu perawat di rumah sakit itu.


"Ayo Ghani cepat keluar!" ajaknya sambil menarik tangan Ghani.


Ghani pun langsung mengikuti perawat itu. Ghani dan pasien lainnya dikumpulkan dan dibawa menuju tangga darurat untuk keluar dari tempat itu. Saat mereka sudah berada di luar para perawat dan petugas di sana langsung mengumpulkan para pasien itu dilapangan parkir. Saat itulah Ghani menyelinap pergi dengan bersembunyi di belakang mobil yang terparkir disana. Setelah itu ia pun beringsut menuju pintu gerbang rumah sakit untuk melarikan diri.


Karena kebakaran yang terjadi cukup besar membuat semua orang panik terlebih semua pasien merupakan pasien gangguan jiwa. Sehingga membuat para petugas rumah sakit kurang ketat pengawasannya. Hal ini membuat Ghani dengan mudah melarikan diri. Setelah berhasil keluar dari rumah sakit Ghani langsung berlari ke arah pemukiman. Ia berniat mencari pakaian ganti karena saat ini ia masih memakai pakaian pasien rumah sakit.

__ADS_1


Setelah beberapa saat menyusuri perkampungan ia melihat disalah satu rumah tampak ada jemuran pakaian yang masih tertinggal diluar. Sambil tersenyum Ghani langsung memeriksanya. Ternyata ada kaos yabg sepertinya sangat pas untuknya. Segera Ghani mengambilnya dan memakainya untuk menggantikan baju pasiennya. Setelah itu ia pun segera kembali menuju jalan besar untuk pergi ke rumah ibunya.


Meski ia tak mau mengakui pernikahan kedua ibunya namun ia yang tahu alasan kedua orangtuanya bercerai memang membuatnya kini lebih memilih ibunya untuk tempatnya mencari perlindungan dibandingkan dengan ayahnya. Sementara itu Adam dan Jasmine sudah tiba di rumah Adam. Di sana keduanya langsung di sambut oleh mama Tika dan mama Sinta. Keduanya langsung memeluk anak mereka masing-masing.


"Alhamdulillah Jess... kau selamat..." ungkap mama Tika sambil memeluk Jasmine dengan erat.


Begitu pun mama Sinta yang memeluk Adam. Bahkan ia sampai menitikkan air matanya. Setelah itu mama Sinta juga memeluk Jasmine menantunya. Sedang mama Tika tampak tersenyum pada Adam dan mengelus pundaknya.


"Terima kasih Dam... kamu sudah menjaga Jasmine..." ucap mama Tika.


"Sama-sama ma... itu sudah kewajibanku sebagai suaminya..." sahut Adam.


Kemudian mereka pun langsung masuk ke dalam rumah. Mama Tika dan mama Sinta langsung menyuruh Adam dan Jasmine untuk masuk ke dalam kamar agar bisa beristirahat. Keduanya akan bersabar untuk mendengarkan cerita mereka saat kecelakaan esok paginya saja. Adam dan Jasmine pun menurut. Adam membawa Jasmine menuju kamarnya di lantai atas.


Sesampainya di dalam kamar Adam menyuruh Jasmine untuk membersihkan dirinya agar merasa lebih segar setelah perjalanan jauh. Jasmine pun menurut. Setelah Jasmine selesai mandi giliran Adam yang mandi setelah itu keduanya langsung naik ke atas tempat tidur untuk beristirahat. Tak butuh waktu lama keduanya pun langsung terlelap karena kelelahan setelah seharian mereka dalam perjalanan.


"Menurut mama kau benar Dam... ada seseorang yang menginginkan kalian celaka..." kata mama Sinta setelah mendengarkan cerita Adam.


"Tapi siapa yang tega ingin mencelakai mereka mbak?" tanya mama Tika.


"Saya juga belum bisa menduga siapa orangnya... tapi kita tidak tahu isi hati seseorang apakah dia suka atau benci dengan kita..." kata Adam.


"Tapi yang terpenting sekarang kalian berdua selamat... mama tidak tahu apa yang akan jika terjadi sesuatu pada kalian..." sahut mama Sinta yang diangguki oleh semua.


Mereka pun melanjutkan berbincang dan seharian itu mereka sekeluarga menghabiskan waktu bersama untuk melepas rindu. Sedang Ghani tengah bersusah payah untuk bisa datang ke rumah ibunya. Sementara bu Rasti baru saja mendapat kabar jika rumah sakit tempat Ghani dirawat terbakar sedangkan Ghani tidak dapat ditemukan.


Wanita paruh baya itu sontak menjadi panik karena khawatir memikirkan nasib putra semata wayangnya itu. Ia segera menghubungi suaminya mengabarkan tentang Ghani. Pak Farhan yang meski tengah marah pada bu Rasti namun demi mendengar tentang kabar rumah sakit tempat Ghani terbakar dan Ghani tidak ditemukan bersama pasien yang lain merasa iba dan tetap mau membantu istrinya itu untuk mencari informasi tentang keadaan Ghani.

__ADS_1


Ia bahkan mengantar bu Rasti untuk datang ke rumah sakit mencari informasi terakhir tentang Ghani. Karena tak mendapatkan informasi yang dapat dijadikan petunjuk tentang keberadaan Ghani apakah pemuda itu selamat atau tidak maka bu Rasti dan pak Farhan pun kembali ke rumah. Namun pak Farhan langsung pergi begitu sudah mengantar bu Rasti di depan rumah. Tampaknya kemarahannya belum juga usai.


"Mas apa kau tidak bisa menemaniku saat ini?" tanya bu Rasti mencoba menahan pak Farhan agar tidak pergi.


"Maaf Rasti... sudah aku katakan aku tidak bisa tinggal serumah dengan seorang pembunuh" tolak pak Farhan.


"Mas... aku sedang bersedih karena Ghani tidak ada kabarnya... kenapa kau tidak mau sedikit saja mengerti keadaanku saat ini? apa kau tidak merasa iba padaku mas?"


"Sekarang kau ingin aku mengerti tentang perasaanmu kehilangan putramu... tapi saat kau kenghilangkan nyawa orang lain kau tidak pernah memikirkan perasaan keluarga mereka yang juga merasakan kehilangan sepertimu saat ini! lucu sekali Rasti..." sahut pak Farhan.


"Tapi aku istrimu mas... seharusnya kau membelaku juga putraku... seandainya dia tidak masuk rumah sakit jiwa mungkin dia akan baik-baik saja sekarang..."


"Apa kau tidak sadar Rasti? putramu seperti ini karena kau selalu menuruti semua keinginannya... tanpa pernah mau menegurnya jika ia melakukan kesalahan hanya karena kau ingin dia tetap menganggapmu ibunya..." kata pak Farhan.


"Lalu apa kau akan masih dianggapnya ibu jika ia tahu apa yang telah kau lakukan pada wanita yang dicintainya itu?" sambungnya dengan emosi.


"Apa maksud perkataan om?" tanya Ghani yang tiba-tiba sudah berada di belakang keduanya.


Kedua orang yang tengah berdebat itu pun menoleh dan melihat ke arah Ghani dengan wajah terkejut.


"Katakan om... apa yang sudah mama lakukan pada Jasmine!" sentak Ghani tak sabar.


"Lebih baik kau tanyakan saja pada mamamu sendiri apa saja yang telah ia lakukan bersama dengan ayahmu!" sahut pak Farhan sambil berlalu meninggalkan ibu dan anak itu sendiri.


Ghani memandang bu Rasti dengan tatapan tajam. Fikirannya telah berputar mencoba mencerna perkataan ayah tirinya itu.


"Apa mama dan papa yang menyebabkan Jasmine kecelakaan?" tanya Ghani langsung yang membuat bu Rasti mematung tak mampu menjawab pertanyaan putranya itu.

__ADS_1


__ADS_2