
Tak terasa sudah hampir satu tahun pak Bima mengalami strok. Meski ringan namun itu cukup mengganggu kinerjanya sehari-hari. Dan dengan ketelatenan putrinya Mirna akhirnya sedikit demi sedikit pria itu sudah mulai bisa menggerakkan anggota tubuhnya meski masih tertatih. Tapi setidaknya ia sudah bisa membersihkan tubuhnya sendiri meski untuk urusan buang hajat ia masih membutuhkan bantuan putrinya itu. Namun setidaknya sudah tidak terlalu bergantung pada bantuan putrinya itu. Untuk urusan perusahaan pak Bima menyerahkannya pada orang kepercayaannya karena Mirna ingin fokus merawatnya selama sakit.
Wanita itu juga ingin sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga saat ia menikah dengan Rudi nanti. Ya... selama setahun ini pemuda itu sudah berhasil meluluhkan hati Mirna yang tidak percaya diri akan masa lalunya juga trauma atas pelecehan yang diterimanya. Dan hingga sekarang pak Bima tidak pernah tahu jika Rudi juga terlibat pada insiden yang menimpa Mirna. Mirna yang memohon pada Rudi agar menyimpan rahasia itu selamanya dari pak Bima. Bukan tanpa alasan, Mirna hanya ingin menata masa depannya tanpa mengungkit kembali masa lalunya yang kelam.
Hari ini Rudi datang saat makan malam di rumah pak Bima. Pemuda itu akan melamar Mirna secara resmi sekaligus menentukan tanggal pernikahannya dengan Mirna. Ia melakukannya karena melihat pak Bima sudah mengalami kemajuan dalam kesehatannya. Ia juga tak ingin menunda lebih lama niatnya untuk mempersunting Mirna. Meski perbedaan usia mereka lima tahun lebih tua Mirna. Dan saat selesai makan malam pemuda itu pun memberanikan dirinya untuk melamar Mirna pada pak Bima. Pak Bima yang sudah memperhatikan kedekatan putrinya dengan Rudi selama satu tahun terakhir pun langsung memberika restunya.
Malam itu di depan pak Bima, Rudi menyematkan sebuah cincin pada jari manis Mirna sebagai tanda jika pemuda itu telah resmi menjadi tunangannya. Tanpa membuang waktu lama keduanya pun merencanakan pernikahan mereka satu bulan mendatang. Kondisi pak Bima yang berangsur membaik membuat Mirna mantap untuk segera menikah dengan Rudi.
Hari ini satu minggu sebelum keduanya melangsungkan pernikahan...
Rudi dan Mirna sepakat untuk menemui Adam. Mirna ingin meminta maaf pada pria itu karena dulu pernah ingin mengganggu rumah tangga pria itu. Disamping itu mereka berdua juga ingin mengundang Adam dan istrinya secara pribadi untuk datang ke pernikahan mereka. Dan disinilah sekarang... Mirna dan Rudi berada di depan ruangan Adam setelah sebelumnya meminta izin untuk menemui pria itu melalui sekretarisnya.
Tok... tok... tok...
"Masuk!" terdengar suara Adam dari dalam ruangannya.
Ceklek...
"Permisi pak..." ucap Rudi masuk ke dalam ruangan Adam diikuti oleh Mirna dibelakangnya.
"Hem..." sahut Adam yang masih berkutat dengan lembaran kertas kerjanya.
__ADS_1
"Duduklah!" sambung pria itu masih fokus dengan pekerjaannya.
Rudi pun membimbing Mirna untuk duduk disampingnya di depan meja kerja Adam. Tak lama pria itu tampak menyelesaikan pekerjaannya dan memandang ke arah keduanya. Mirna langsung menundukkan kepalanya tak berani memandang wajah Adam yang ada dihadapannya. Sedamg Rudi terlihat gugup untuk berbicara dengan atasannya tersebut. Setelah hening beberapa saat Rudi pin memberanikan diri untuk membuka suaranya.
"Maaf tuan... saya kemari ingin mengantarkan Mirna untuk meminta maaf kepada anda langsung atas perbuatannya yang tidak menyenangkan di masa lalu..." ucapnya dengan suara tegas.
Sementara sebelah tangannya menggengam tangan Mirna dengan erat di bawah meja. Rudi seakan memberikan kekuatan pada calon istrinya itu agar mempunyai keberanian untuk meminta maaf pada Adam.
"Maafkan saya tuan... saya dulu telah melakukan perbuatan yang sangat tidak terpuji pada anda dan juga istri anda... oleh karena itu saya mohon maaf yabg sebesar-besarnya..." Mirna mengatakan isi hatinya untuk meminta maaf pada Adam dengan tulus.
Bahkan wanita itu memberanikan diri untuk menatap pria yang dulu sempat digilainya itu. Dan Mirna merasa lega saat ia sudah tidak merasakan apa pun pada pria dihadapannya itu. Itu berarti jika rasa yang dulu pernah membutakannya sudah tidak ada yang tersisa. Mungkinkah itu karena sesungguhnya rasa itu hanya obsesi saja karena Adam lebih dulu menolaknya? apa pun itu yang terpenting bagi Mirna semua itu telah berlalu dan kini ada pria yang benar-benar dicintainya dan berada di sampangnya saat ini.
Adam menatap Mirna dengan tajam. Dan dapat ia lihat jika Mirna yang ada dihadapannya sangat berbeda dengan Mirna yang dulu dikenalnya. Kini wanita itu tampak lebih lembut dan juga sopan. Adam menghela nafasnya pelan. Dapat ia rasakan jika Mirna tulus dengan semua perkataannya.
"Be... benarkah?" tanya Mirna tak menyangka jika begitu mudah pria yang ada dihadapannya itu memberikan maafnya.
"Iya... lagi pula aku sudah tahu semuanya tentang perubahanmu selama ini... jadi tidak ada salahnya jika aku memaafkan kesalahanmu di masa lalu..." ungkap Adam.
Mirna tersenyum lebar dan langsung memandang ke arah Rudi dengan penuh suka cita. Telapak tangannya pun kini menggengam tangan Rudi tidak kalah eratnya dengan pria itu.
"Ehem... jadi ada lagi yang akan kalian katakan selain permintaan maaf tadi?" tanya Adam yang menyadarkan kedua orang yang ada dihadapannya itu.
__ADS_1
"Eh... eum... begini tuan... selain permintaan maaf kami juga ingin mengundang tuan dengan istri untuk datang pada acara pernikahan kami..." ucap Rudi sambil menetralkan hatinya.
"Jadi kalian akan menikah?" tanya Adam sambil menatap keduanya dengan pandangan tak percaya.
"Benar tuan..." sahut Rudi dan Mirna bersamaan.
"Syukurlah... semoga kalian menjadi pasangan yang langgeng... dan aku berjanji akan datang ke acara pernikahan kalian..." kata Adam sambil tersenyum.
"Terima kasih tuan..." ucap Rudi dan Mirna bersamaan.
Kemudian Rudi menyerahkan amplop undangan yang sudah ia persiapkan untuk Adam.
"Kalau begitu kami permisi tuan..." sambung Rudi sambil menjabat tangan Adam.
Sementara Mirna membungkukkan badannya sebagai tanda hormat pada Adam. Kemudian keduanya pun meninggalkan ruangan Adam. Dan hari ini hari pernikahan Rudi dan Mirna. Meski diadakan dengan sederhana namun tidak mengurangi kebahagiaan kedua pengantin. Hal ini memang sudah mereka sepakati karena kesehatan pak Bima yang belum sepenuhnya sembuh. Keduanya tidak ingin pak Bima terlalu capek jika acara pernikahan keduanya diadakan secara besar-besaran.
Hari ini Adam dan Jasmine juga datang dengan membawa kedua putra mereka. Kedua balita itu tampak menggemaskan mengenakan jas yang serupa dengan papa mereka. Sementara Jasmine tampak anggun mengenakan gaun panjang yang begitu pas ditubuhnya denga warna yang senada dengan ketiga pria yang datang bersamanya. Tanpa membawa pengasuh untuk membantu mereka namun keduanya tidak tampak kerepotan karena kedua putra mereka termasuk anak yang penurut di tempat umum.
Setelah memberikan selamat pada kedua pengantin, keluarga kecil itu pun segera meninggalkan pesta. Sebab mereka sudah ditunggu di villa Adam oleh mama Tika dan mama Sinta. Mereka memang berencana untuk menginap disana menghabiskan akhir pekan. Sepanjang perjalanan kedua buah hati Adam dan Jasmine tampak ceria. Keduanya sangat antusias melihat pemandangan yang ada selama perjalanan. Adam sengaja membawa sopir agar dia bisa bercengkrama dengan kedua putranya sepanjang perjalanan. Jasmine tersenyum bahagia, kehidupannya terasa lengkap setelah ia menjadi istri Adam dan memiliki dua putra darinya.
Setelah perjalanan panjang akhirnya mereka pun tiba di villa. Di sana mama Tika dan mama Sinta sudah menunggu mereka di teras villa. Keduanya tampak tidak sabar bertemu dengan kedua cucu mereka padahal cuma beberapa jam saja kedua oma itu tidak bertemu dengan Aby dan Aman. Setelah turun dari mobil mereka pun langsung menghampiri kedua oma itu. Mereka bahagia menjalani kehidupan yang tentram bersama.
__ADS_1
T A M A T