Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Terkuak


__ADS_3

Entah kenapa sejak ada Jaka yang menjadi asisten Sari terapisnya, Jasmine merasa lebih bersemangat dalam melakukan latihannya. Mungkinkah karena sosok Jaka yang mirip denga Adam? dan bahkan bagi Jasmine aroma tubuh mereka pun sama.


Terkadang Jasmine bahkan bisa melihat sorot mata Adam pada tatapan mata Jaka. Sehingga gadis itu merasa jika Adam berada disampingnya. Seperti hari ini saat Jasmine baru saja selesai dengan latihan terapinya tanpa sengaja ia melihat Jaka yang sedang membersihkan kacamatanya tampak wajah pria itu sedikit berbeda tanpa kacamata tebalnya.


"Jika diperhatikan memang dia mirip sekali dengan kak Adam. Hanya wajahnya saja yang berbeda sedang postur tubuh dan gerak geriknya pun sama. Bahkan aroma tubuhnya membuatku selalu teringat kak Adam" batin Jasmine.


"Apa benar dia kak Adam? atau ini hanya perasaanku saja karena terlalu berharap kak Adam berada disini...." batin Jasmine lagi sambil mengusap wajahnya kasar.


Sebenarnya ada rasa sesal dalam hatinya saat memperlakukan Adam dengan dingin saat pria itu menemuinya di kampus. Namun ia juga tak mau jika ia malah menjadi beban bagi pria yang selama ini telah mencuri hatinya itu. Ia sadar walau selama ini ia telah berusaha keras untuk melakukan latihan namun tetap saja ia belum bisa lepas dari kursi rodanya.


Saat Jasmine tengah sibuk dengan fikirannya ia tak menyadari jika sedari tadi Jaka alias Adam sedang memperhatikannya. Sebenarnya ingin sekali Jaka menghampiri Jasmine dan menghibur gadis yang terlihat sedang kacau itu.


"Apa yang sedang kau fikirkan Jess? apa kau memikirkan aku?" batinnya.


"Ayo Jasmine... kita lanjutkan lagi latihannya..." ajak Sari setelah merasa jika Jasmine sudah cukup beristirahat.


"Iya..." sahut gadis itu lalu mulai mengikuti instruksi yang diberikan oleh Sari.


Sesekali terlihat jika tubuh Jasmine bergetar dan wajah gadis itu memucat menahan sakit. Namun tampak sekali jika ia tak mau begitu saja menyerah.


"Kali ini aku harus bisa bertahan lebih lama...." batinnya saat berusaha berdiri tanpa penopang apapun.


Saat itu bagian bawah kakinya mulai ia rasakan .... seperti mendapatkan durian runtuh gadis itu justru tersenyum saat merasakan nyeri pada bagian kakinya.


"Akhirnya aku bisa merasakan kakiku... walau itu rasa sakit..." soraknya dalam hati.


Namun kegembiraannya tak bertahan lama karena rasa sakit itu kini semakin menjadi dan menjalar ke bagian atas tubuhnya hingga gadis itu tak lagi bisa menopang tubuhnya sendiri dan langsung ambruk ke lantai. Jaka yang berada di samping Jasmine segera meraih tubuh gadis itu agar tak sampai membentur lantai.


Keringat sudah mengucur deras di tubuh Jasmine dan tampak gadis itu sudah tak sadarkan diri dalam pelukan Jaka. Segera Jaka membopong tubuh Jasmine menuju ruang perawatan. Sedangkan Sari segera memanggil dokter yang menangani Jasmine.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Jasmine dok?" tanya Adam saat dokter sudah memeriksa Jasmine.


"Hem sepertinya dia hanya terlalu memaksakan diri saja... sedangkan untuk keadaan fisiknya masih baik-baik saja..." ucap sang dokter.


"Kau tidak perlu khawatir Dam... setidaknya kita jadi tahu jika Jasmine masih bersemangat untuk sembuh..." ujar Bagas yang juga berada disana.


"Tapi Gas aku tidak bisa membayangkan rasa sakit yang dia rasakan hingga membuatnya pingsan" sahut Adam yang masih berpenampilan sebagai Jaka.


"Kak Adam?" ucap Jasmine yang ternyata telah sadar.


"Ah ternyata kau sudah sadar Jasmine..." ucap dokter yang merawat Jasmine.


Jasmine hanya mengangguk pelan. Dokter pun kembali memeriksa Jasmine memastikan jika tak ada yang dikeluhkan gadis itu. Setelah itu dokter pun keluar dari ruang perawatan Jasmine begitu juga dengan Bagas. Saat Jaka akan mengikuti keduanya tiba-tiba Jasmine memanggilnya.


"Kak Adam tunggu!"


Adam yang berpenampilan sebagai Jaka pun berhenti dan membalikkan tubuhnya.


"Maaf?" ucapnya berpura-pura tak mengerti.


"Kak Adam ga usah bohong lagi.... aku tahu kamu itu kak Adam" ungkap Jasmine sambil berusaha bangkit dari tidurnya dan menyandarkan badannya dikepala brankar.


"Aku...."


"Aku tahu... semua salahku... jadi kakak tidak usah merasa bersalah..." potong Jasmine.


Adam mendekati Jasmine dan berdiri menghadap kearah gadis itu. Digenggamnya tangan Jasmine.


"Aku merindukanmu Jess"

__ADS_1


"Aku juga kak... maaf sudah menjauhimu..." sahut Jasmine sambil menundukkan wajahnya.


Adam langsung menangkup wajah gadis itu dan mengangkatnya agar ia dapat melihat wajah gadisnya yang sangat ia rindukan dengan jelas.


"Kak..."


"Hemmm"


"Lepaskan kumis dan kacamatamu itu... aku geli melihatnya..." ucap Jasmine.


Adam malah terkekeh dan sengaja mendekatkan wajahnya pada Jasmine yang membuat gadis itu langsung memundurkan tubuhnya kebelakang.


"Kakaaakk...." serunya sambil memukul dada Adam pelan.


"Baiklah..." ucap Adam akhirnya lalu mulai mencopot semua atributnya.


Saat selesai dapat terlihat wajah Adam yang sangat Jasmine rindukan.


"Bagaimana?" ucap Adam sambil memperlihatkan wajah aslinya pada Jasmine.


"Hemmm..." sahut Jasmine sambil menganggukkan kepalanya senang.


"Apa kau suka?"


"Ya..."


"Apa kau merindukanku?"


"Ya"


"Apa kau mencintaiku?"


"Ya.... ups" Jasmine langsung menutup mulutnya karena keceplosan.


"Aku juga mencintaimu Jasmine..." bisiknya ditelinga gadis itu yang membuat wajah Jasmine bersemu merah.


"Ijinkan aku untuk selalu disampingmu..." ucapnya tulus.


Jasmine pun mengangguk. Gadis itu sadar jika dirinya memang tak bisa lagi jauh dari Adam.


"Apa kakak tidak malu denganku?" cicitnya lirih.


"Kenapa memangnya?"


"Aku..."


"Aku tidak pernah malu apapun keadaanmu..." potong Adam.


"Tapi bagaimana dengan mama? apa mama mau menerima keadaanku sekarang?"


"Kau jangan khawatir mama sudah tahu semuanya... dan dia tidak keberatan" sahut Adam yang membuat Jasmine menjadi lega.


"Aku antar kamu pulang ya?"


"Iya..."


Adam pun langsung mengurus kepulangan Jasmine. Karena gadis itu sudah tidak apa-apa maka Jasmine pun langsung diijinkan pulang. Di depan rumah sakit Jasmine memberitahu pada mang Oding bahwa ia akan pulang dengan Adam sehingga ia menyuruh sopirnya itu untuk pulang.


Setelah membantu Jasmine duduk di kursi depan dan memasukkan kursi rodanya ke dalam bagasi, Adam lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit. Sebelum mengantar Jasmine pulang ke tempat kosnya Adam sengaja mengajak gadis itu ke suatu tempat terlebih dahulu.

__ADS_1


Jasmine tampak sangat senang saat tahu ternyata Adam membawanya ke taman kota tak jauh dari rumah kosnya. Sengaja Adam membawanya kesana karena tahu jika Jasmine tak pernah kemana-mana jika sudah pulang dari kampusnya.


"Apa kau suka?" tanya Adam sambil mendorong kursi roda Jasmine.


"Iya...kak... aku suka..."


"Kenapa kau tak pernah pergi kemari?"


"Aku tak ingin merepotkan orang lain kak..." sahut Jasmine.


"Kau tak merepotkan... kau tahu itu" ucap Adam sambil berjongkok didepan Jasmine.


"Tapi tetap saja... aku merasa tidak enak..."


"Mulai sekarang aku yang akan mengantarmu jadi katakan saja kau ingin kemana... akan aku antar"


"Baiklah mulai sekarang aku akan bilang sama kakak jika ingin kemana-mana" ujar Jasmine sambil tersenyum.


Keduanya pun melanjutkan berjalan berkeliling taman dan menikmati kuliner disana. Setelah puas Adam pun kemudian mengantarkan Jasmine pulang. Sesampainya di tempat kosan Jasmine tampak ibu kos Jasmine sudah menunggunya diteras rumah. Sepertinya dia khawatir karena tidak biasanya Jasmine tidak langsung pulang setelah terapi.


"Assalamualaikum..." ucap Jasmine dan Adam bersamaan.


"Waalaikumsalam..." sahut bu Ratih.


"Maaf bu ... kami pulang terlambat..." kata Adam yang tahu jika ibu kos Jasmine khawatir.


"Maafin Jasmine juga bu... tadi tidak bilang ibu dulu kalau pulang telat..." sambung Jasmine yang tak ingin Adam disalahkan oleh bu Ratih.


"Iya... tapi lain kali kamu harus kasih kabar sama ibu ya ... agar ibu tidak khawatir"


"Iya bu... sekali lagi maaf sudah bikin ibu khawatir" ucap Jasmine.


"Oh iya... ini siapa? teman kamu?" tanya bu Ratih pada Jasmine sambil menunjuk Adam.


"Perkenalkan bu ... saya Adam calon suami Jasmine...." ucap Adam percaya diri.


"Kaak...!" seru Jasmine tak menyangka jika Adam memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Jasmine.


"O... kok saya baru tahu ya? soalnya selama ini baik Jasmine atau pun mamanya ga pernah bilang kalau Jasmine sudah punya calon suami..." kata bu Ratih kaget.


"Ga bu... kak Adam cuma bercanda..." sergah Jasmine.


"Ish kau ini ... ga pa-pa kan kalau nak Adam serius... itu malah lebih baik..." kata bu Ratih yang membuat Adam tersenyum senang.


Akhirnya Jasmine pun hanya bisa terdiam namun wajahnya yang merona sudah mewakili perasaan gadis itu yang sedang berbunga-bunga. Kemudian Adam pun berpamitan karena sudah larut. Namun sebelum melangkah kearah mobilnya Adam masih sempat membisikkan kata yang membuat Jasmine semakin berbunga.


"Tidurlah yang nyenyak sayang ...besok aku akan menemui mama kamu..."


Jasmine pun melepas kepergian Adam dengan hati yang bahagia. Mungkinkah ini awal dari kebahagiaannya? Semoga saja.... batin Jasmine.


"Nak... ibu rasa nak Adam itu pria yang baik... kau sangat beruntung bisa mendapatkannya" kata bu Ratih setelah kepergian Adam.


"Iya bu .... saya juga merasa sangat beruntung ... apalagi dengan keadaan saya sekarang" sahut Jasmine.


"Kamu masih muda sayang.... mungkin saja masih ada harapan untuk kesembuhanmu... kau tahu kunci dari kesehatan tubuh adalah kebahagiaan hati.... nah jika sekarang kau bahagia mungkin saja dalam waktu dekat keajaiban juga akan datang dengan kesembuhanmu" kata bu Ratih berusaha memberi semangat pada Jasmine.


"Terima kasih sudah menjaga Jasmine seperti putri ibu sendiri selama ini..." ucap Jasmine tulus.


"Sama-sama... kau tahu kalian memang anak kos di sini, tapi bagi ibu kalian semua sudah seperti anak-anak ibu sendiri.... jadi ibu akan sangat bahagia jika kalian bahagia dan sukses" kata bu Ratih dengan senyum yang tulus.

__ADS_1


"Sekali lagi terima kasih bu..." ucap Jasmine.


Ibu Ratih pun mengangguk lalu keduanya pun masuk ke dalam rumah.


__ADS_2