Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Rencana


__ADS_3

Pagi hari saat Jasmine terbangun dari tidurnya ia kaget saat tak mendapati bik Narsih disampingnya. Namun saat mendengar suara iqamat sholat subuh ia tahu jika bik Narsih pasti sudah bangun untuk sholat subuh. Karenanya Jasmine pun segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah masuk dan mengunci kamar mandi Jasmine berusaha mengambil air wudhu dengan berdiri sambil melatih kakinya. Ternyata kali ini ia bisa melakukannya dengan lebih mudah. Jasmine semakin merasa bersyukur dengan keadaan kakinya yang semakin membaik.


Selesai wudhu ia pun kembali duduk di kursi rodanya dan kembali ke kamar untuk sholat. Ia terpaksa masih sholat diatas kursi roda karena untuk melakukan gerakan sholat sambil berdiri ia masih kesusahan. Apalagi ia juga takut jika tiba-tiba Ghani masuk ke dalam kamar dan melihatnya.


Selesai sholat Jasmine mendorong kursi rodanya perlahan keluar dari dalam kamar. Siapa tahu ia punya kesempatan untuk menggunakan telefon di ruang tamu. Keadaan rumah yang sepi membuatnya dengan cepat menuju ruang tamu. Sebelum meraih gagang telfon ia memeriksa sekelilingnya sejenak memastikan tidak ada orang lain di sana. Saat ia meletakkan telfon ditelinganya ia langsung tertegun. Tak ada nada sambung yang menandakan telfon itu berfungsi. Dengan resah ia langsung memeriksa keadaan telfon tersebut.


Alangkah terkejutnya Jasmine saat menemukan jika kabel telfon itu telah putus. Terpotong dengan rapi tepat diujung kontaknya. Jasmine sadar jika kabel telfon itu sengaja diputus. Mungkin dengan gunting atau benda tajam lainnya. Jasmine langsung mendengus sebal. Ternyata Ghani sudah memperhitungkan semuanya termasuk mengisolasi rumahnya dari dunia luar. Bahkan televisi atau sekedar radio pun tak ada.


Dengan gontai Jasmine kembali mendorong kursi rodanya ke arah teras depan rumah Ghani. Setidaknya ia bisa tahu dimana kini ia berada. Baru saja Jasmine hendak membuka pintu terdengar suara Ghani yang mencegahnya.


"Jangan keluar sayang..."


Walau suaranya terdengar lembut namun Jasmine tahu jika ia melanggar perintah pemuda itu maka ada resiko yang harus ia tanggung. Dengan perlahan Jasmine berbalik dan menatap Ghani dengan pandangan tak mengerti.


"Kenapa? aku kan hanya ingin melihat suasana di depan..." ujarnya dengan suara lirih.


"Bukan begitu sayang... ini masih terlalu pagi untuk keluar rumah..." alasan Ghani.


Jasmine hanya mengangguk pelan lalu mendorong kursi rodanya untuk kembali ke dalam kamarnya. Namun ia terkejut saat tiba-tiba Ghani menahan kursi rodanya.


"Tunggu disini sebentar..." ucap Ghani kemudian lalu masuk ke dalam kamarnya.


Jasmine hanya terdiam dan tak bergerak dari tempatnya. Dalam hatinya Jasmine masih berfikir bagaimana caranya agar ia dapat meminta pertolongan pada orang luar. Sebab ia tahu tak mungkin meminta tolong pada bik Narsih. Tak lama Ghani keluar dari dalam kamar dan memberikan jaketnya pada Jasmine dan menyuruh gadis itu agar mengenakannya.


Jasmine pun hanya menurut. Setelah mengenakan jaket yang diberikan oleh Ghani, pemuda itu pun lalu mendorong kursi roda Jasmine kembali ke arah depan rumah. Jasmine langsung menoleh kearah Ghani dengan wajah bertanya.


"Aku tahu kau pasti bosan di dalam rumah terus... jadi aku akan menemanimu jalan-jalan..." ucap Ghani sambil tersenyum.


"Terima kasih..." sahut Jasmine membalas senyuman Ghani yang membuat pemuda itu merasa senang.


Karena kejadian semalam membuat pemuda itu ingin agar Jasmine merasa nyaman berada disampingnya. Sehingga tidak merasa takut jika berada didekatnya. Ghani pun membawa Jasmine keluar rumah menuju halaman depan. Setelah itu mereka keluar menuju jalanan. Saat itulah Jasmine baru menyadari jika mereka berada jauh dari perkampungan. Di sekeliling mereka terdapat kebun teh yang sangat luas dengan diapit oleh pegunungan.


"Pantas saja dia bersedia mengajakku jalan-jalan..." batin Jasmine.


Tapi ia juga bersyukur setidaknya ia bisa mencari sesuatu sebagai petunjuk untuk mencari pertolongan atau pun melarikan diri.


"Apa kau suka suasana disini?" tanya Ghani.


"Iya..." sahut Jasmine sambil menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


Tampak sekali gadis itu berusaha menikmati suasana pagi yang menenangkan. Otak Jasmine memang masih memerlukan pasokan agar dapat berfikir jernih nanti. Dengan telaten Ghani mendorong kursi roda Jasmine dan mengajak gadis itu berkeliling perkebunan. Sesekali terlihat Jasmine tersenyum dan tertawa lepas membuat Ghani semakin yakin jika gadis itu sudah merasa tenang dan nyaman bersamanya.


"Kita pulang sekarang..." ucap Ghani setelah dua jam kemudian.


Jasmine hanya mengangguk namun wajah gadis itu tidak terlihat muram itu berarti gadis itu juga sudah merasa lelah dan ingin pulang.


Maya tampak sangat syok saat mengetahui jika Jasmine telah diculik. Dan dia baru tahu setelah beberapa hari kemudian. Maklum saat kejadian itu terjadi di dalam keluarganya juga tengah terjadi musibah. Neneknya yang selama ini telah sering sakit-sakitan akhirnya meninggal dunia. Mungkin karena itulah mama Tika tak bisa memberitahukan kejadian yang menimpa Jasmine segera.

__ADS_1


"Tante..." seru Maya sambil menghambur pada mama Tika saat dirinya dan kedua orangtuanya datang ke rumah mama Tika untuk memberikan dukungan.


Mama Tika dan Maya saling berpelukan cukup lama untuk menumpahkan kesedihan mereka.


"Maafin tante... May. Karena tak segera memberitahumu tentang Jasmine" ungkap mama Tika setelah mengurai pelukannya.


"Ga pa-pa tante" sahut Maya.


"Tik... maaf kami baru bisa datang" kata mama Maya.


"Ga pa-pa... aku juga minta maaf karena tidak bisa datang ke pemakaman mama kamu ...." ucap mama Tika pada mama Maya.


"Kau sendirian di sini?" tanya papa Maya yang sedari tadi diam.


"Iya... tapi sebelumnya Fira sudah menginap di sini beberapa hari menemaniku..." kata mama Tika sambil tersenyum.


"Apa sudah ada kabar tante?" tanya Maya.


"Belum May..." sahut mama Tika sendu.


"Bahkan permintaan tebusan pun tak ada... pihak kepolisian jadi kehilangan jejak..." sambung mama Tika.


Mereka pun akhirnya terdiam dalam fikiran masing-masing.


"Tante maaf .... aku ga bisa menemani tante... aku harus segera kembali untuk melanjutkan kuliah..." kata Maya saat pamit bersama kedua orangtuanya.


"Iya tante..."


"Kami pamit dulu ya Tik..." ucap kedua orang tua Maya.


"Iya... terima kasih kalian sudah datang" sahut mama Tika sambil berusaha tersenyum.


Setelah kepergian Maya dan kedua orangtuanya mama Tika masuk ke dalam kamar Jasmine dan memandangi isi kamar putrinya itu. Ada rasa sesak di dalam dadanya saat memindai isi ruangan yang selalu ditiduri oleh putrinya itu. Bahkan aroma Jasmine masih terasa disana.


"Kamu dimana nak? apa kamu baik-baik saja? apa orang yang menculikmu memperlakukanmu dengan baik?" batinnya sambil meneteskan air mata.


"Ya Allah... tolong lindungi putriku... jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk terjadapnya. Jagalah ia dimana pun ia berada" do'a mama Tika.


.....


Jasmine yang sedang berada di dalam kamarnya terkejut saat seekor kucing berwarna hitam putih tiba-tiba muncul dan bertengger di jendela kamarnya yang terbuka.


"Hai puss... kamu berasal dari mana?" ucap Jasmine setelah mendekat kearah kucing itu.


Kucing itu tampak jinak saat Jasmine merusaha untuk mengelusnya. Hewan itu malah tampak sangat menikmati sentuhan Jasmine dan mengeluarkan suara dengkuran lirih saat Jasmine mengelus tengkuknya.


"Kau sangat manis sekali..." kata Jasmine senang.

__ADS_1


Gadis itu pun berusaha memindahkan kucing itu kepangkuannya. Kucing itu bahkan tampak tenang dan tak memberontak saat Jasmine memindahkannya.


Setelah berada dipangkuan Jasmine kucing itu tampak bergelung nyaman disana. Jasmine kembali mengelus kucing yang kini tertidur di pangkuannya itu. Ada rasa senang dan nyaman saat bersama hewan kecil itu.


Ditelitinya tubuh kucing itu...


Mungkin saja kucing itu milik seseorang karena badannya dan bulu-bulunya yang terlihat bersih dan terawat.


"Rumahmu dimana? kenapa kau bisa sampai kemari?" tanya Jasmine seakan kucing itu dapat menjawab pertanyaannya.


Tiba-tiba terlintas sebuah ide didalam kepalanya saat menyadari jika kucing itu hewan peliharaan seseorang. Tapi ia harus memastikan dulu jika kucing itu benar-benar berasal dari luar kediaman Ghani agar rencananya berjalan dengan lancar.


Saat tengah bermain dengan kucing yang baru saja ditemukannya terdengar suara bik Narsih dari luar kamarnya.


"Non... boleh bibi masuk?"


"Iya bik... silahkan" sahut Jasmine sambil memutar kursi rodanya kearah pintu kamar masih dengan si kucing yang berada dipangkuannya.


"Non... apa non Jasmine mau makan malam sekarang?" tanya bik Narsih.


"Kenapa bik? kan ini masih sore..."


"Itu... den Ghani sedang keluar... mungkin pulangnya agak malam jadi bibik ingin pulang ke rumah sebentar"


"Baiklah bik... aku makan sekarang saja... tapi bibik ga lamakan? soalnya aku takut jika sendirian" ucap Jasmine.


"Ga non... nanti bibi usahan pulang sebelum gelap"


Jasmine mengangguk.


"Eh ... datang dari mana kucing itu non?" tanya bik Narsih saat menyadari ada seekor kucing dipangkuan Jasmine.


"Ga tahu bik.... tadi tiba-tiba saja dia udah bertengger di jendela" terang Jasmine sambil tersenyum.


Sedang kucing itu tampak sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran bik Narsih.


"Jangan sampai ketahuan sama den Ghani ya non... soalnya den Ghani ga suka sama kucing dan dia juga alergi sama hewan itu" kata bik Narsih memberitahu Jasmine.


"Iya bik..."


"Ya sudah bibik bawakan makanannya kemari ya non... setelah itu bibik langsung pergi agar nanti bisa cepat kembali sebelum den Ghani pulang"


"Iya bik..." sahut Jasmine.


Setelah kepergian bik Narsih senyum Jasmine mengembang.


"Ternyata Ghani tidak suka kucing dan alergi terhadapnya..." batin Jasmine senang.

__ADS_1


Ternyata benar kucing itu bukan berasal dari rumah ini... itu berarti ia bisa segera melaksanakan rencananya.


__ADS_2