
Sudah hampir satu minggu ini sejak pertemuannya kembali dengan Rudi pria yang telah membuatnya trauma. Dan selama itu pria itu belum lagi menampakkan batang hidungnya. Tentu sajanhal ini membuat Mirna merasa lega. Wanita itu menjadi bisa menikmati kehidupannya yang jauh berbeda dengan masa lalunya. Bu Dita yang kini sudah resmi bercerai dengan pak Bima pun terlihat semakin bahagia dengan kehidupan barunya. Begitu juga dengan bu Nike. Ia juga sudah bercerai dengan suaminya. Dan dia juga mulai menata hidupnya.
Sesekali wanita itu mengunjungi Mirna baik di rumah maupun di toko bu Dita. Ia juga sudah berdamai dengan sepupunya Citra yang suaminya dulu direbutnya. Entah terbuat dari apa hati sepupunya itu karena dengan mudah ia memaafkan bu Nike. Bahkan Alya yang baru tahu jika bu Nike itu ibu kandung Mirna juga bersikap sama dengan ibunya. Ia juga pernah menemui Mirna saat baru saja ia tahu jika ternyata mereka masih saudara meski pernah terjadi konflik diantara orangtua mereka. Dan hubungan mereka pun jadi membaik meski tidak kembali sama seperti dulu. Tapi setidaknya keduanya kini tidak saling bermusuhan.
Hari ini Mirna tengah menjaga tokonya saat bu Dita mendapat pesanan melalui telfon toko jika ada yang memesan kue dan ingin agar diantarkan hari ini juga. Keadaan toko yang cukup ramai dengan pesanan pelanggan membuat para karyawan tidak bisa mengantarkan pesanan itu. Karenanya terpaksa Mirnalah yang harus mengantarkannya. Meski begitu Mirna sama sekali tidak keberatan. Dengan menggunakan sepeda motor yang baru beberapa bulan ia beli dan kuasai, ia pun segera berangkat untuk mengantarkan pesanan itu.
Sesampainya di tempat yang dituju Mirna langsung memarkirkan motornya dan mengambil kue pesanan pelanggannya itu. Kemudian ia pun menekan bel pada pintu rumah pelanggannya itu.
Tett!
Tak lama pintu pun terbuka dari dalam. Tampak seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu dan langsung tersenyum saat melihat Mirna yang datang membawa kotak kue.
"Mbaknya dari toko Delight ya?"
"Iya bu... ini pesanannya..." ucap Mirna sambil mengangsurkan kotak kue pada wanita paruh baya itu.
"Ah iya... terima kasih... silahkan masuk dan duduk dulu mbak... sebentar saya ambilkan uangnya..."
Mirna pun mengangguk dan mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi ruang tamu. Sedang wanita paruhbaya yang memesan kuenya langsung masuk ke dalam. Mirna duduk dengan tenang sambil memeriksa ponselnya saat menunggu wanita pelanggannya itu keluar dari dalam. Tak ada firasat buruk apa pun dalam fikirannya saat itu. Ia pun sibuk dengan ponselnya hingga ia tak menyadari jika ada seseorang yang sedang berjalan mendekatinya. Namun ia sangat terkejut saat kembali mendengar suara orang yang sangat dikenalinya meski ia sangat membencinya dan tak ingin bertemu lagi dengannya.
"Apa kabar Mirna?" sapa Rudi yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya.
"Bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Mirna dengan suara bergetar.
Sebisa mungkin Mirna berusaha melawan rasa takutnya dan berusaha bersikap berani dihadapan Rudi.
"Tentu saja aku bisa... sebab ini rumah aku Mirna" sahut Rudi tenang.
__ADS_1
"Ta.. tapi... tadi itu..." ucap Mirna tergagap.
"Tadi itu bi Ijah... Art ku..." potong Rudi.
"Ja... jadi..."
"Aku yang memesan kue itu..." terang Rudi dengan suara lembut.
Wajah Mirna kini berubah pias. Ini tak seperti yang direncanakannya bersama mamanya. Sebab mereka menduga jika Rudi lah yang akan datang ke toko mereka dan bukan malah sebaliknya, Mirna yang justru datang ke rumah Rudi. Bagi Mirna ini sudah seperti masuk ke kandang singa. Ia ingin berlari namun kakinya sudah terasa lemas. Untuk bangun dari tempat duduknya saja ia tak mampu saking lemasnya.
"A... apa... maumu?" tanya Mirna setelah bisa menguasai dirinya.
"Aku hanya ingin bicara denganmu Mirna..." ungkap Rudi.
"Aku ingin meminta maaf padamu atas perbuatanku padamu... aku khilaf... menjadikanmu pelampiasan balas dendamku..." terang Rudi mencoba memberi pengertian pada Mirna.
"Maaf..." kembali Rudi mengungkapkan permintaan maafnya.
Melihat Mirna yang semakin terisak reflek pria itu langsung memeluk tubuh Mirna yang bergetar karena menangis. Mendapat pelukan dari Rudi tubuh Mirna langsung tersentak kaget dan reflek wanita itu langsung berusaha melepaskan diri dari pelukan Rudi. Namun pria itu tak membiarkan Mirna lepas dari pelukannya.
"Maafkan aku..." bisik pria itu lagi ditelinga Mirna.
Mendengar permintaan maaf Rudi untuk kesekian kalinya membuat Mirna semakin menangis. Dalam fikirannya untuk apa pria itu berkali-kali meminta maaf padanya jika semua yang telah dilakukan oleh pria itu telah membuat dirinya trauma. Melihat kondisi Mirna yang semakin menangis membuat Rudi semakin mengeratkan pelukannya. Pria itu bahkan berkali-kali mengecup puncak kepala Mirna mencoba menenangkan hati wanita itu.
Setelah beberapa saat menangis akhirnya Mirna pun menghentikan tangisannya. Hatinya pun kini sedikit mulai merasa lega setelah menumpahkan air mata dihadapan pria yang telah menyakitinya itu. Meski mungkin orang akan mengatakan jika dirinya kini menjadi wanita yang lemah karena menangis di hadapan Rudi. Tapi setidaknya kini pria itu tahu bagaimana hancurnya dia setelah perbuatan pria itu padanya.
"Maafkan aku..." ucap Rudi sambil mengurai pelukannya.
__ADS_1
Dihapusnya sisa air mata yang ada di pipi dan sudut mata Mirna dengan ujung ibu jarinya.
"Aku tidak akan pernah berhenti meminta maaf atas perbuatanku padamu Mirna..." ungkapnya sambil menatap kedua mata Mirna yang masih berkaca-kaca.
"Izinkan aku menebus semua kesalahanku padamu dengan mendampingimu seumur hidupku dan membuatmu bahagia..." sambungnya.
Mirna menggelengkan kepalanya pelan. Meski Rudi pernah berbuat jahat padanya tetapi ia merasa tidak pantas untuk pria yang ada dihadapannya itu. Karena sesungguhnya sebelum kejadian malam itu pun ia sudah bukan wanita suci lagi. Bahkan ia sudah mirip ******* dan bahkan mungkin lebih buruk karena setiap ia melakukan *** dengan pria itu ia tak meminta bayaran. Hanya dengan alasan suka sama suka. Jadi meski ia trauma karena saat malam itu ia dalam keadaan dipaksa tetap saja sesungguhnya ia sudah tidak punya harga diri lagi jika seandainya ada pria yang benar-benar serius dengannya dan ingin menikahinya.
"Kenapa? apa kau masih membenciku?" tanya Rudi.
Mirna kembali menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah kotor... bahkan jauh sebelum orang suruhanmu melecehkanku..." ungkapnya sambil menundukkan kepalanya.
Sungguh ia merasa sangat malu akan kehidupan masa lalunya yang sangat kelam. Ia bahkan berfikir jika kejadian malam itu adalah karmanya atas perbuatan bejatnya dulu.
"Aku sudah tahu itu... tapi aku tidak perduli Mirna" sahut Rudi yang mengejutkan Mirna.
"Kenapa? kenapa kau masih mau saat kau sudah tahu bagaimana kelamnya kehidupan masa laluku?"
"Karena aku mencintaimu... aku baru menyadarinya saat kau jauh dariku..." terang Rudi sambil menatap kedua manik mata Mirna.
Wanita itu juga membalas tatapan Rudi dan mencoba mencari kebohongan disana, namun nihil. Karena yang kini ia lihat hanya ada kesungguhan dan ketulusan saja disana. Rudi menggenggam tangan Mirna dengan erat.
"Izinkan aku untuk bisa membuatmu juga jatuh cinta padaku... meski itu harus membutuhkan waktu yang lama..." ungkap Rudi yang tak ingin kehilangan Mirna, wanita yang telah mencuri hatinya.
Mirna menganggukkan kepalanya pelan. Ia mencoba untuk berdamai dan membuka hatinya untuk Rudi, pria pertama yang dengan gentle mengungkapkan cintanya tanpa ada n*f** didalamnya. Benar-benar ungkapan cinta yang tulus. Mungkinkah ia yang kotor dan sedang mencoba merubah dirinya kearah yang lebih baik sudah mendapatkan ganjarannya dengan mendapatkan pria yang mau menerimanya dengan masa lalunya tanpa syarat? Jika benar Mirna sungguh merasa sangat bahagia.
__ADS_1