
Lama pak Pambudi duduk di dalam mobilnya menunggu kedatangan mantan istrinya dan juga putrinya Alya. Namun yang di tunggu tak jua datang. Malah istri barunya Nike yang sudah menghampiri mobilnya dan mengetuk kaca mobil dengan kasar.
"Mas! buka pintunya!" seru bu Nike tak sabar.
Dengan malas pak Pambudi pun membukakan pintu penumpang di sampingnya. Bu Nike pun langsung masuk dan mendudukkan dirinya dengan kasar.
"Apa maksud mas datang kemari? mas mau menemui anak dan mantan istri kamu itu hah?" cecar bu Nike emosi.
"Bukan urusanmu Nike!" seru pak Pambudi yang sudah kesal dengan sikap istrinya itu.
"Aku istrimu mas! tentu saja itu jadi urusanku!" sahut bu Nike tak mau kalah.
Pak Pambudi hanya bisa menarik nafasnya kasar karena sudah tidak bisa berdebat dengan istrinya itu. Namun keinginannya untuk menemui putrinya yang telah ia tinggalkan bertahun-tahun yang lalu membuatnya tetap bertahan meski bu Nike tak berhenti berteriak memaki Alya dan mantan istri suaminya yang menurutnya sengaja ingin merebut suaminya kembali.
"Diam!" sentak pak Pambudi yang sudah tidak tahan mendengar teriakan bu Nike.
"Jika kau tidak mau diam juga lebih baik kamu keluar dan jangan berani kembali ke rumah karena aku akan menceraikanmu!" sambung pak Pambudi yang membuat bu Nike langsung terdiam.
Ia tak menyangka suaminya yang selalu menurutu semua kemauannya itu kini malah mengancam akan menceraikannya.
"Kau berani mengancamku mas?" seru bu Nike tak terima.
"Aku tidak pernah mengancam... tapi jika kau ingin membuktikannya silahkan lakukan apa yang kamu inginkan sekarang... dan jangan menyesal jika besok kamu akan langsung jadi gembel!" sahut pak Pambudi dingin.
Bu Nike menelan saliva pelan... miskin... tidak... dia tidak mau menjadi miskin. Apalagi disaat sekarang. Usianya sudah tidak muda lagi ditambah akibat penyakitnya dulu ia juga sudah kehilangan rahimnya. Tidak... saat ini ia tidak punya apa-apa untuk ia banggakan kecuali wajah dan tubuh yang sudah ia permak beberapa kali agar bisa menutupi usianya. Meski begitu tetap saja sang waktu masih bisa membuktikan kejayaannya dengan masih ada saja jejak usia di setiap jengkal tubuhnya. Hingga hampir setiap bulan ia harus kembali memermak dirinya agar tetap bisa tampil sempurna.
Tak lama terlihat sebuah mobil berhenti di depan rumah mantan pak Pambudi dan dari dalam mobil itu terlihat Alya keluar dari pintu penumpang. Tampak gadis itu mengobrol sebentar dengan dua orang yang duduk di bagian depan mobil sebelum akhirnya gadis itu masuk ke dalam rumah. Setelah Alya masuk ke dalam mobil yang tadi ditumpangi Alya pun meninggalkan tempat itu dengan melewati depan mobil pak Pambudi. Alangkah terkejutnya pria itu saat melihat siapa orangnya yang duduk di kursi depan.
Bu Citra... mantan istri pak Pambudi tampak duduk di depan bersama seorang pria sebayanya yang memegang kemudi. Keduanya tampak tengah berbincang akrab saat mobil yang mereka tumpangi melintas di depan mobil pak Pambudi.
"Siapa pria itu?" batin pak Pambudi yang tiba-tiba merasa tidak terima dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Apa dia kekasih baru Citra? bagaimana bisa dia menjalin hubungan dengan seorang pria diusianya yang sudah tidak muda!" batin pak Pambudi masih dengan rasa tidak terima jika mantan istrinya kini memiliki pendamping.
Heh... sebenarnya sudah tidak ada gunanya pria itu protes dengan kedekatan mantan istrinya itu dengan pria lain. Toh ia dan mantan istrinya sudah berpisah sejak bertahun-tahun yang lalu itu pun karena ulahnya sendiri yang lebih memilih Nike selingkuhannya dari pada istri dan juga putrinya sendiri. Sementara bu Nike tampak makin geram saat suaminya terlihat memandang marah kearah mantan istrinya yang terlihat pergi dengan seorang pria.
__ADS_1
"Kita pulang mas!" ajak bu Nike yang tak ingin berlama-lama di dalam mobil.
Bukannya merespon ucapan istrinya pak Pambudi malah membuka pintu mobilnya dan berjalan ke rumah tempat tinggal Alya. Bu Nike yang melihat itu pun tak membiarkan suaminya pergi sendirian. Ia pun langsung mengekori suaminya itu. Meski ia tak lagi berani mengeluarkan suara.
Tok... tok... tok...
Pak Pambudi mengetuk pintu rumah setelah ia beberapa saat tercenung di depan pintu rumah. Tak butuh waktu lama pintu rumah itu pun terbuka dari dalam. Dan tampaklah wajah Alya yang terlihat terkejut melihat dua orang yang paling ia benci berada di hadapannya.
"Ada perlu apa anda kemari?" tanya Alya ketus.
"Bisa kita bicara sebentar nak?" tanya balik pak Pambudi.
"Bicara saja..." sahut Alya dingin tanpa mau mempersilahkan kedua orang yang ada dihadapannya itu untuk masuk.
"Papa minta maaf nak..." ucap pak Pambudi dengan suara tercekat membuat Alya terkejut.
Bu Nike pun tak menyangka jika suaminya itu meminta maaf pada putri kandungnya yang sudah dibuang sejak pria itu memilihnya. Sedang Alya tampak masih diam namun tatapannya tampak nyalang. Seolah begitu banyak luka dan kebencian bersarang disana.
"Maafkan papa atas semua kesalahan papa sama kamu dan juga mama kamu..." lanjut pak Pambudi dengan wajah memerah menahan air mata yang seakan mau tumpah dari kedua bola matanya.
Pak Pambudi dan bu Nike pun tampak kaget dengan perkataan Alya.
"Kalau sudah silahkan pergi dari sini!" usir Alya.
"Dasar anak tidak tahu diri! papa kamu datang baik-baik tapi kau malah mengusirnya!" teriak bu Nike tampak tidak terima.
Namun lain dihatinya...
Dalam hati wanita itu ia malah tersenyum dan bersyukur putri dari suaminya itu masih membenci ayahnya.
"Sudah Nike... kau diam saja!" bentak pak Pambudi yang membuat bu Nike syok.
Ia tak menduga reaksi suaminya akan berbeda dengan apa yang diharapkannya setelah baru saja ia pura-pura membela pria itu dihadapan putrinya.
"Baiklah nak... papa pulang dulu... maaf jika papa menganggu waktu istirahatmu..." ucap pak Pambudi lemah.
__ADS_1
Ia tahu kesalahannya yang lalu memang sangatlah fatal. Bukan hanya menyakiti hati istrinya saat itu... tapi juga putri semata wayangnya. Jika saat ini gadis itu masih marah dan dendam pak Pambudi memakluminya. Mana ada yang bisa memaafkan dengan mudah kesalahan yang sudah ia perbuat dahulu. Dengan gontai pak Pambudi kembali ke dalam mobilnya. Sementara bu Nike memgekorinya dari belakang. Saat ini ia harus berada di dekat suaminya agar ia tidak kehilangan statusnya sebagai istri pak Pambudi. Sudah banyak yang ia korbankan demi status yang ia sandang sekarang termasuk putri kandungnya yang ia serahkan pada pak Bima dan istrinya.
Sementara Alya tampak segera menutup pintu rumahnya setelah ayahnya dan istrinya pergi dari sana. Ayah... masih pantaskah pria itu ia panggil ayah? sedangkan dulu dengan kejamnya pria itu mengusirnya beserta ibunya dari rumah mereka demi membawa masuk wanita simpanannya?
Sakit...
Itulah yang dirasakan hati Alya saat ini. Jujur dari dalam hatinya ia masih merindukan ayahnya yang merupakan cinta pertamanya. Tapi ingatan saat pria itu mengusirnya dan mamanya masih terekam jelas di kepalanya. Ia ingat betapa ia sering kali melihat mamanya yang menangis di tengah malam memikirkan nasibnya yang malang. Meski mamanya wanita yang kuat nyatanya saat sendiri wanita itu menampakkan kerapuhannya.
"Salahkah aku jika masih belum bisa memaafkannya ya Allah? tapi hatiku masih sangat sakit jika melihat wajahnya... apa lagi wanita ular itu selalu saja mengekorinya..." batin Alya sambil menitikkan air mata ketika bersandar dibelakang pintu yang baru saja ia tutup.
...
Adam tengah memandangi wajah Jasmine yang terlihat sangat damai ketika tertidur setelah tadi mereka berdua menghabiskan waktu panas bersama mumpung Aby tengah dibawa oleh kedua omanya.
"Semakin hari kau semakin cantik saja sayang..." batin Adam sambil membetulkan anak rambut dikening istrinya itu.
"Eughhh!" Jasmine melenguh pelan dan sedikit membuka matanya.
"Sstt... tidurlah lagi Honey... kau pasti lelah..." bisik Adam di telinga Jasmine sambil mengelus rambut Jasmine perlahan membuat wanita itu kembali tertidur.
Adam menarik tubuh Jasmine ke dalam pelukannya dan pria itu pun mengecup puncak kepala istrinya sebelum ia ikut tertidur. Namun baru saja ia akan memasuki dunia mimpi ketika tiba-tiba saja ponselnya berdering membuat Adam kembali membuka matanya. Segera ia mengangkat sambungan ponselnya takut jika sampai Jasmine ikut terbangun dari tidurnya. Perlahan ia melangkahkan kakinya turun dari tempat tidur menuju balkon kamarnya agar bisa leluasa berbicara tanpa menganggu tidur istrinya.
"Ada apa?"
"Ada masalah tuan... sepertinya wanita itu tidak menyerah... dan sekarang tengah mencari cara untuk mengganggu tuan..." sahut seseorang di seberang sana.
"Kau awasi saja dulu rubah betina itu... kita lihat sampai dimana dia akan bertindak... jika saatnya sudah tepat kau lakukanlah perintahku!"
"Baik tuan..."
Sambungan itu pun dimatikan. Adam mendengus kesal. Ada saja yang mengganggu kebahagiaanya dan juga keluarga kecilnya.
"Sepertinya aku harus membuat permainan yang lebih menarik agar rubah itu tahu siapa yang dihadapinya sekarang..." batin Adam sambil tersenyum menyeringai.
Sedang ditempat lain tampak seorang wanita tengah bahagia karena mendapatkan dukungan dari papanya untuk mendapatkan pria impiannya. Meski ia harus bersusah payah tapi ia yakin jika keinginannya akan segera terwujud apa lagi saat ini rencana yang sudah disusunnya sudah sangat matang. Sambil menenggak minuman keras yang ada di depannya Mirna tampak tertawa lepas dengan seseorang yang kini menjadi partnernya untuk memiliki Adam.
__ADS_1
"Tunggu saja sayang... sebentar lagi kau akan menjadi milikku..." batin Mirna sambil bersulang dengan orang itu.