Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Berkumpul Kembali


__ADS_3

Kasus penculikan yang dilakukan oleh Ghani cukup tersendat akibat Ghani yang dinyatakan memiliki gangguan jiwa. Setelah melalui proses pengadilan akhirnya Ghani yang dinyatakan bersalah namun karena gangguan kejiwaannya akhirnya ia pun di masukkan dalam rumah sakit jiwa. Dengan berat hati mama Tika menerima keputusan pengadilan padahal ia ingin agar Ghani menerima hukuman yang setimpal karena telah menculik putrinya.


Sedang Jasmine ia sudah mulai bisa menghilangkan traumanya akibat penculikan Ghani. Sebab selama Jasmine diculik pria itu cukup bersikap baik padanya dan tak melakukan hal-hal yang diluar batas. Maya yang berada di luar negeri pun langsung pulang begitu ia mendapatkan kabar jika Jasmine selamat. Meski ia harus menunggu terlebih dahulu untuk menyelesaikan tugas kuliahnya dulu sebelum bisa kembali ke tanah air.


Setelah persidangan selesai dan kondisi kesehatan Jasmine membaik mama Tika langsung membawa putrinya itu kembali ke rumah. Untuk kuliah Jasmine ia sudah meminta putrinya itu untuk cuti sejenak sebelum melanjutkannya kembali setelah ia menemukan kosan baru yang aman untuk putrinya itu. Karena itulah Maya menyusulnya ke rumah mama Tika.


"Jess..." sapa Maya saat menemui Jasmine di dalam kamar.


"Maya!" seru Jasmine saat melihat Maya sudah berada di dalam kamarnya.


"Maaf Jess aku baru bisa datang" ucap Maya sambil memeluk Jasmine.


"Ga pa-pa May..." sahut Jasmine membalas pelukan Maya.


"Bagaimana kabarmu? apa kau sudah merasa baikan?" tanya Maya setelah keduanya saling mengurai pelukannya.


"Alhamdulillah May... aku sudah merasa baikan dan bahkan aku sudah bisa berjalan meski masih tertatih" terang Jasmine.


"Alhamdulillah... lalu apa selama ini kau baik-baik saja? orang itu tidak menyakitimu kan?"


"Aku baik-baik saja May... dia tidak menyakitiku... bahkan dia membawa terapis untuk menyembuhkan kakiku..." ucap Jasmine panjang lebar.


"Tapi dia juga salah Jess membawamu pergi dari keluargamu"


"Iya aku tahu... tapi dia juga sakit May... jiwanya sakit..." kata Jasmine mengingat Ghani.


"Ya... aku sudah menduganya Jess... jika dia tidak sakit ga mungkin dia akan berbuat nekat seperti itu" sahut Maya.


"Sudahlah... kita lupakan saja dia ... sekarang kita bicarakan hal lain saja..." sambung Maya.


Jasmine pun mengangguk setuju. Lalu keduanya pun berbincang mengenai hal lain. Jasmine bahkan bercerita tentang Moci si kucing hitam putih penyelamatnya. Mendengar itu Maya jadi penasaran dengan kucing yang bernama Moci itu.


"Aku jadi penasaran dengan Moci... jarangkan ada kucing yang bisa sepintar itu" kata Maya.


"Iya... aku juga sudah merindukannya..." sahut Jasmine.


"Eh kapan-kapan kita pergi menengoknya ya?" ajak Maya.

__ADS_1


"Iya..."


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka hingga mama Tika memanggil untuk makan siang. Maya cuti selama satu minggu sehingga ia bisa menemani Jasmine selama gadis itu belum masuk kuliah. Dan sebelum Maya kembali ke luar negeri ia dan Jasmine menyempatkan diri pergi ke rumah Rian untuk menjenguk Moci. Adam dengan senang hati mengantarkan keduanya.


"Jadi ini si Moci yang terkenal itu?" tanya Maya saat melihat kucing itu yang sedang tiduran di beranda rumah Rian.


"Iya..." sahut Jasmine.


Begitu mendengar suara Jasmine, Moci yang tiduran sambil memejamkan matanya pun langsung bangun dan mendekat kearah Jasmine. Kucing itu langsung mengeong dan menggesekkan tubuhnya di kaki Jasmine. Gadis itu pun langsung berjongkok lalu membelai kepala Moci lembut. Kucing hitam putih itu pun langsung mengeram lembut seperti menikmati belaian Jasmine. Rian yang baru keluar dari dalam rumah terkejut saat melihat Jasmine dan Adam datang bersama seorang gadis yang penampilannya hampir mirip dengan Jasmine. Walau wajah keduanya berbeda.


"Maaf Rian ... kami datang kemari tiba-tiba" kata Adam.


"Tidak apa-apa" sahut Rian ramah.


"Aku rindu dengan Moci kak..." terang Jasmine.


"Lagi pula temanku juga ingin bertemu dengannya" sambung Jasmine sambil menunjuk Maya.


Maya pun maju dan memperkenalkan dirinya pada Rian lalu ia pun mendekat pada Moci dan mencoba mengelus kucing itu. Tanpa diduga Moci juga bisa langsung menjadi jinak pada Maya.


"Wah... wah... sepertinya Moci play boy sejati ... tahu mana cewek cantik..." seru Rian yang gemas dengan kucing jantan peliharaannya itu.


Mereka pun duduk dan mengobrol dengan Moci yang langsung bergelung dipangkuan Jasmine.


"Sepertinya dia lebih menyukaimu Jess dari pada aku pemiliknya..." ujar Rian dengan wajah dibuat sendu.


Jasmine hanya terkekeh melihat tingkah Rian yang cemburu padanya. Saat hari menjelang sore ketiganya pun berpamitan pada Rian untuk pulang. Dan tampak sekali jika Rian menaruh hati pada Maya terbukti dengan bagaimana pria itu sering kali mencuri pandang pada gadis itu. Dan terakhir ia meminta nomor ponsel Maya. Dan sepertinya Maya pun memberikan lampu hijau dengan langsung memberikan nomor ponselnya pada Rian. Sejak itu mereka pun jadi sering berhubungan lewat telfon.


Kehidupan Jasmine berangsur kembali normal. Kakinya pun sudah bisa berjalan lancar. Maya juga sudah kembali untuk melanjutkan kuliahnya begitu juga dengan Jasmine. Ia kembali masuk kuliah setelah Adam menyuruhnya untuk tinggal di apartemen yang sudah dibelinya. Meski awalnya ia menolak tapi akhirnya ia pun setuju setelah Adam meyakinkannya jika di sana ia akan lebih terjamin keamanannya.


Sementara Ghani yang kini berada didalam rumah sakit jiwa tampak tak menunjukkan perubahan. Dalam fikirannya ia selalu terbayang dengan kejadian saat ia tak sengaja menusuk Jasmine gadis yang sangat dicintainya. Meski kedua orang tuanya sering menjenguknya namun Ghani tak pernah menggubrisnya. Pemuda itu bahkan pernah menangis seharian karena mengira jika Jasmine sudah tewas ditangannya. Memang Jasmine tidak pernah sekalipun menampakkan dirinya dihadapan Ghani setelah selamat dari penculikan dan penusukan oleh Ghani. Sehingga pemuda itu semakin yakin jika Jasmine telah tiada.


Tak terasa Jasmine sudah menyelesaikan skripsinya setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun yang penuh cobaan. Adam yang selalu setia mendampinginya membuat gadis itu bertekad untuk segera menyelesaikan pendidikannya. Dan terbukti kini Jasmine sudah tinggal menunggu hari dimana ia akan diwisuda. Sambil menunggu Jasmine sengaja pulang ke rumahnya. Mama Tika sangat bahagia karena putrinya kini sudah meraih impiannya.


"Akhirnya putri kita akan diwisuda pa... perjuangannya selama ini tidak sia-sia..." ucap mama Tika sambil menatap foto almarhum suaminya yang berada di pigura yang sedang dipegangnya.


Jasmine yang baru saja masuk ke kamar mamanya tampak ikut terharu saat melihat mama Tika tengah memeluk foto suaminya. Ayah Jasmine.

__ADS_1


"Mama..." panggil Jasmine.


Mama Tika pun segera menghapus air mata yang tadi sempat meleleh dengan satu tangannya dan menoleh ke arah putrinya.


"Iya sayang?" tanya mama Tika sambil berusaha tersenyum.


"Mama rindu sama papa?" tanya Jasmine langsung mendekat kearah mamanya dan duduk disampingnya.


"Iya sayang... mama selalu merindukannya... apa lagi saat seperti ini... rasanya ingin sekali mengatakan padanya jika mama sudah berhasil menjagamu sampai saat ini..." sahut mama Tika sambil tersenyum.


Jasmine langsung memeluk mamanya dengan erat. Tak bisa dipungkiri jika keduanya sangat merindukan pak Hatta suami dan ayah mereka. Setiap kesedihan dan kebahagiaan seakan tak akan pernah lengkap tanpa kehadiran pria yang menjadi kepala keluarga mereka itu walau hanya dalam waktu singkat. Kepergiannya disaat Jasmine masih sangat muda membuat mama Tika mau tak mau harus bermental baja agar dapat memberikan kasih sayang baik sebagai ibu sekaligus ayah bagi Jasmine.


Bagi Jasmine ketegaran ibunya saat kehilangan suami membuatnya menjadi gadis yang bisa menghargai setiap pengorbanan ibunya itu. Setiap kali ia mengejar pendidikannya hanya wajah sang mama yang ada dalam fikirannya. Sebagai semangat yang tak pernah luntur untuknya agar dapat dengan segera menyelesaikan pendidikannya.


"Mama... maaf jika selama ini sudah membuat mama susah..." ucap Jasmine sambil memeluk mama Tika.


"Gadis bodoh... mana mungkin mama merasa sudah dalam mengasuhmu? apa lagi selama ini kau sudah menjadi anak yang berbakti bagi mama..."


"Tapi Jasmine pernah membuat mama cemas..."


"Tidak apa-apa sayang... itu bukan salahmu... semua sudah takdir dari Allah... yang terpenting semuanya sudah berakhir dengan baik..." terang mama Tika membalas pelukan Jasmine.


"Apa rencanamu setelah wisuda? apa kau akan bekerja dulu atau...." ucap mama Tika menggantung.


"Atau apa ma?" tanya Jasmine tak mengerti.


"Atau kau sudah tidak sabar untuk menjadi nyonya Adam?" goda mama Tika sambil menaik turunkan alisnya.


"Mama!" seri Jasmine dengan wajah merona.


"Saran mama... jangan biarkan Adam terlalu lama menunggumu sayang... usianya sudah sangat matang... dan dia pria yang setia. Kau akan sulit untuk mencari penggantinya jika kau membiarkannya pergi..." nasehat mama Tika.


"Apa mama tidak apa-apa aku langsung menikah tanpa bekerja dulu untuk mengamalkan ilmu yang aku dapat selama ini?"


"Tidak apa-apa sayang... seperti mama dulu... dan mama tidak pernah menyesal karena akhirnya mama mendapatkanmu dan bisa mendampingi papa kamu disaat terakhirnya..."


Jasmine pun mengangguk mengerti. Ya waktu memang tidak dapat diulang semua harus ia fikirkan baik-baik. Benar kata mamanya pria seoerti Adam sangat langka dan Jasmine tak ingin kehilangan pria sebaik dirinya. Tampaknya kini Jasmine yang harus melamar Adam.

__ADS_1


"Sudah malam ... ayo istirahat... besok kita harus bersiap untuk wisuda kamu... mama sudah menyiapkan baju yang cocok untuk kau pakai" kata mama Tika.


"Jadi besok kita ke butik untuk mencobanya" sambung mama Tika.


__ADS_2