
Mama Tika yang mendengar pengakuan dari Adam menjadi dilema. Di satu sisi ada putrinya sedang di sisi lain ada Adam yang mencintai putrinya.
"Maaf pengakuan anda terus terang membuat saya terkejut..." ucap mama Tika.
Terpaksa mama Tika berpura-pura terkejut. Ia masih ingin mengulur waktu agar ia bisa berfikir.
"Lagi pula putri saya tidak pernah menceritakannya pada saya... padahal saya fikir saya san putri saya sangat dekat dan saling terbuka" sambungnya.
"Saya tahu apa yang saya katakan membuat ibu terkejut... karena itu silahkan ibu berfikir terlebih dahulu" ucap Adam.
"Terima kasih atas pengertiannya..." sahut mama Tika lega.
Lalu Adam pun pamit undur diri. Setelah kepergian Adam, tante Fira langsung menghampiri mama Tika dan meminta penjelasan padanya. Setelah mama Tika menjelaskan semuanya tante Fira pun ikut bingung mencari solusi bagi masalah sahabatnya itu.
"Sungguh Tik... sebenarnya aku setuju jika putrimu berjodoh dengan pak Adam walau perbedaan usia mereka cukup jauh... tapi aku juga mengerti dengan keputusan Jasmine..."
"Iya Fir... aku jadi bingung"
"Bagaimana jika kau beri lampu hijau pada pak Adam... tapi biarkan dia mengetahui sendiri kondisi Jasmine. Kau tak perlu memberitahunya"
"Maksudnya?"
"Ya... bilang kau setuju jika pak Adam ingin menjalin hubungan serius dengan Jasmine. Tapi bilang saja jika saat ini Jasmine masih belum bisa ia temui... lalu kita pertemukan keduanya seolah tanpa sengaja agar Jasmine tidak bisa lagi menghindar" usul tante Fira.
"Akan aku fikirkan usulmu itu Fir..." ucap mama Tika akhirnya.
.........
Sementara Adam yang baru saja keluar dari dalam butik tampak sedang menerima telfon dari seseorang. Wajah pria itu seketika berubah saat menerima laporan dari orang suruhannya.
"Apa kau yakin jika itu dia?" tanyanya memastikan.
"Iya tuan... saya yakin walau dia menggunakan kursi roda namun wajahnya dapat terlihat jelas" ungkap orang itu.
"Jika tuan ingin memastikan akan saya kirimkan fotonya pada anda sekarang"
"Baiklah kirimkan saja sekarang!"
"Baik..."
Sambungan itu pun terputus dan tak lama terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Setelah ia buka tampak foto Jasmine terpampang di sana.
"Jadi kau sekarang...." batin Adam pilu.
"Apa karena ini kau tak bisa aku hubungi dan seolah menghilang?" gumamnya tak berhenti memandang foto Jasmine di ponselnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Jess?"
Adam sangat terkejut melihat keadaan Jasmine sekarang yang diberitahukan oleh orang suruhannya. Sebenarnya orang suruhannya itu hanya tidak sengaja melihat Jasmine saat sedang berada di kota B. Namun saat melihat Jasmine ia teringat dengan gadis SMU yang dulu sempat ia awasi namun mendadak ia tak bisa menemukan keberadaan gadis itu.
Disamping Adam yang juga menyuruhnya untuk tidak lagi mengawasi gadis itu lagi. Sehingga ia pun terpaksa mengakhiri rasa penasarannya tanpa kejelasan. Dan saat kembali melihat gadis itu ia pun langsung menghubungi Adam.
Adam segera melajukan mobilnya menyusul ke kota B setelah sebelumnya ia kembali menyuruh orangnya untuk kembali mengikuti Jasmine. Karena rasa penasarannya yang tinggi membuat Adam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung saja ia dapat sampai dengan selamat.
"Dia dimana sekarang?" tanyanya saat ia menemui orang suruhannya tadi.
"Dia sedang ada di dalam tuan..." ucap orang itu menunjuk ruang perpustakaan kampus.
__ADS_1
Ya ... sekarang ini Adam tengah berada di kampus Jasmine. Dengan perlahan pria itu memasuki ruang perpustakaan yang terlihat lengang. Hanya ada satu dua orang saja yang berada disana. Tak perlu waktu lama bagi Adam untuk menemukan Jasmine.
Tampak oleh Adam gadis pujaannya itu tengah fokus menatap buku yang berada diatas meja di depannya. Gadis itu sama sekali tak menyadari jika Adam sudah berdiri dihadapannya.
"Sore Jess..." sapa Adam yang membuat Jasmine langsung mendongakkan kepalanya.
Tampak sekali jika gadis terkejut dengan kehadiran Adam didepannya. Adam mendudukkan dirinya dikursi depan meja Jasmine. Sedang Jasmine langsung terlhat kalut.
"Kaa..aaak... Adam..." cicitnya lirih.
"Iya... lama kita ga ketemu ya?" ucap Adam berusaha tenang.
Padahal ingin rasanya ia memeluk Jasmine saat itu juga. Namun ia urung melakukannya karena tahu gadis itu pasti canggung bertemu dengannya.
Jasmine berusaha tersenyum menutupi rasa gugupnya. Bertemu dengan Adam adalah hal terakhir yang ingin dialaminya dengan kondisi tubuhnya yang seperti sekarang ini.
"Kakak kapan kembali?" tanyanya saat bisa menguasai dirinya.
"Tiga hari yang lalu" sahut Adam sambil memandang Jasmine tajam.
"Kenapa kau mengganti nomormu?"
"Maksudnya?"
"Iya... nomormu tidak aktif... jadi pasti kau menggantinya" kata Adam cepat.
"Itu... ponselku jatuh dan rusak jadi...."
"Pasti jatuhnya keras hingga sim cardnya pun sampai ikut rusak...." kata Adam.
"Aku harus kembali ke kelas kak..." ucap Jasmine berusaha menghindar.
"Ini sudah sore Jess... mana ada mata kuliah jam segini..." sergah Adam.
"Apa kau sengaja ingin menghindariku?" sambungnya.
"Kakak salah... dikampus ini juga menerima mahasiswa yang bekerja jadi disini jam kuliah ada yang mulai jam segini hingga nanti jam delapan" tukas Jasmine.
"Kau fikir aku bodoh sehingga percaya dengan alasanmu?" kata Adam mulai tak sabar.
"Terserah kakak mau percaya atau tidak... aku permisi" sahut Jasmine lalu membereskan buku-bukunya lalu mendorong kursi rodanya dan menjauh dari Adam.
Adam terdiam ditempatnya. Sungguh ia tak menduga akan mendapatkan sambutan yang dingin dari Jasmine.
Sedang Jasmine segera mendorong kursi rodanya cepat agar bisa segera pergi dari tempat itu. Ia tak ingib air matanya jatuh didepan Adam. Sungguh hatinya saat ini sangat rapuh. Ia tak menyangka akan secepat ini Adam akan menemukannya sebab tak mungkin mamanya atau tante Fira yang memberitahukan keberadaanya pada Adam.
Setelah berbelok kearah gerbang Jasmine sudah dapat melihat mang Oding menunggunya. Jasmine pun mempercepat gerakannya mendorong kursi rodanya. Melihat nonanya seperti sedang terburu-buru, mang Oding langsung berlari kearah Jasmine dan segera membantu mendorong kursi roda gadis itu.
Sesampainya di mobil mang Oding langsung membukakan pintu dan Jasmine pun langsung masuk kedalam. Dengan sedikit berlari mang Oding langsung mengitari mobil dan masuk ke kursi kemudi.
"Cepat jalan mang..." suruh Jasmine yang segera dilaksanakan oleh pria paruh baya itu.
........
Sementara Adam yang baru sadar jika Jasmine meninggalkannya langsung mengejar gadis itu. Ia dapat melihat Jasmine berusaha mendorong kursi rodanya dengan cepat. Membuat Adam terpaku melihatnya. Ia hanya bisa memandang dari jauh saat gadis itu dibantu seorang pria paruh baya yang ia duga adalah sopir Jasmine.
Saat keduanya memasuki mobil Adam pun langsung kembali ke mobilnya. Dengan cepat pria itu berusaha menyusul mobil yang ditumpangi oleh Jasmine.
__ADS_1
Sengaja Adam mengikuti mobil itu dengan hati-hati agar tidak diketahui oleh Jasmine dan sopirnya. Adam bertekad ingin mengetahui dimana Jasmine tinggal. Sambil mengikuti mobil Jasmine, Adam menghubungi orang suruhannya tadi yang bernama Budi.
"Halo Budi... bisa kau cari informasi tentang gadis yang tadi? cari tahu apakah ia pernah sakit atau kecelakaan sehingga dia seperti sekarang!" perintahnya melalui earphonenya.
"Baik tuan" sahut Budi.
Setelah mematikan sambungan Adam kembali fokus mengikuti Jasmine. Tampak mobil yang ditumpangi Jasmine memasuki sebuah rumah. Adam langsung tahu jika itu kosan Jasmine sebab di depan pintu terpampang plang nama tempat kosan tersebut.
Tampak Jasmine turun dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Tak lama mobil yamg mengantarkannya pun pergi dari tempat itu.
"Jadi sekarang kau tinggal disini Jess?" batin Adam tetap menatap tempat kosan Jasmine.
Tak lama ia pun pergi dari tempat itu. Adam memutuskan untuk menginap di hotel dekat situ. Malam hari Budi menemui Adam di hotel dan memberikan semua informasi tentang Jasmine.
"Jadi dia mengalami kecelakaan tepat di hari keberangkatanku ke Sidney?" gumam Adam.
"Sepertinya dia berusaha untuk pergi ke bandara tuan.... karena lokasi kecelakaan itu dekat dengan arah bandara" terang Budi.
"Apa kau ingin menemuiku Jess?" batin Adam.
"Lalu sekarang apa kegiatan gadis itu selain kuliah?" tanya Adam.
"Tidak ada yang istimewa tuan hanya saja seminggu dua kali dia pasti pergi ke rumah sakit Guna Jaya untuk melakukan fisioteraphy" kata Budi.
"Jadi kau masih punya semangat untuk sembuh Jess" batin Adam lagi.
"Hubungi kepala rumah sakit itu ... aku ingin menemuinya" perintahnya pada Budi.
"Baik tuan ..."
Kemudian Budi pun pamit.
"Aku akan mendampingi kamu Jess... meski tanpa sepengetahuan kamu..." ucap Adam lirih saat memandang wajah Jasmine di wallpaper ponselnya.
.......
Jasmine tengah termenung di kamarnya. Kejadian sore tadi membuatnya gelisah. Berbagai pertanyaan muncul dalam hatinya dari mana Adam tahu tentang keberadaannya. Saat itulah ponselnya berdering. Ternyata mamanya yang menghubungi.
"Jess bagaimana keadaan kamu nak?" tanya mama Tika yang khawatir karena tadi tak jadi mengantar putrinya.
"Jasmine baik--baik saja ma..." sahut Jasmine.
"Ma... bagaimana tadi? apa mama jadi bertemu kak Adam?" tanyanya.
"Iya sayang... tapi jangan khawatir mama ga bilang kamu sekarang ada dimana" terang mama Tika.
"Jika mama tidak memberitahu kak Adam lalu bagaimana tadi dia bisa berada di kampus?" batin Jasmine.
"Jess? kamu kenapa? kok diam?"
"Ng... ga pa-pa ma..."
"Ya sudah kamu istirahat saja dulu... jangan lupa besok kamu harus pergi terapi oke?"
"Iya ma... Jasmine ga akan lupa" sahut Jasmine.
Setelah sambungan ponselny terputus Jasmine kembali termenung. Apa yang harus ia lakukan jika Adam menanyakan penyebab kelumpuhannya? haruskah ia berterus terang jika itu terjadi karena kecelakaan saat akan menuju bandara untuk menemuinya? Jasmine tidak mau jika Adam merasa bersalah dan terpaksa bersamanya karena merasa kasihan. Dikasihani adalah hal yang tidak ingin diterimanya apalagi dari Adam.
__ADS_1