Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Dua Ibu


__ADS_3

Hari sudah beranjak sore saat bu Dita dengan telaten membersihkan tubuh Mirna. Setelah itu ia juga menggantikan pakaiannya dan juga menyuapinya. Tampak Mirna sangat menurut pada bu Dita. Tiba-tiba wanita itu menangis saat bu Dita baru saja membereskan bekas makan Mirna. Dengan panik bu Dita pun langsung menghampiri Mirna dan memeluknya.


"Ada apa sayang... kenapa kau menangis?" tanya bu Dita dengan lembut.


"Maafkan Mirna ma... selama ini Mirna banyak salah sama mama... ga mau dengerin semua nasehat mama..." ucap Mirna sambil sesenggukan.


"Sudah sayang... mama sudah memaafkan kamu" sahut bu Dita sambil membelai rambut Mirna lembut.


"Tenanglah... mama akan menjagamu jadi kau istirahat saja dulu..." sambungnya sambil merebahkan tubuh Mirna perlahan.


Mirna menatap bu Dita dengan perasaan campur aduk... ingin rasanya ia mengadukan semuanya pada wanita yang selama ini ia anggap sebagai ibu kandungnya itu. Tapi entah mengapa lidahnya menjadi kelu saat teringat jika wanita itu bukanlah ibu kandungnya. Meski begitu wanita itu selalu menyayanginya dengan tulus. Ya Mirna kini sadar jika segala nasehat yang dulu sangat dibencinya ternyata itulah wujud cinta tukus seorang ibu pada putrinya. Jika saja ia menuruti semua nasehat mamanya itu maka hari ini peristiwa yang menimpanya tidak akan terjadi.


Tapi semua sudah terjadi dan dia tidak bisa merubahnya. Satu yang ia inginkan saat ini... yaitu pergi sejauh mungkin dari tempat yang telah membuatnya trauma. Meski ia tahu bu Nike sudah menolong dan bahkan mengakuinya sebagai putrinya namun ia lebih nyaman jika bersama bu Dita yang selama ini ia kenal sebagai mamanya. Apa lagi kejadian yang menimpanya juga akibat dosa masa lalu bu Nike. Membuat Mirna sedikit banyak juga merasa marah pada ibu kandungnya itu.


Sementara bu Nike setelah pulang dari rumah sakit langsung tertidur karena kelelahan. Baru kali ini ia mengurus seseorang di rumah sakit. Selama ini dialah yang selalu dilayani dan diurus. Apa lagi saat ia terkena penyakit hingga harus diangkat rahimnya. Selama itu ia selalu dirawat oleh perawat pribadi karena ia tahu jika suaminya sibuk mengurus bisnisnya. Dan saat ia terbangun ternyata hari sudah sore. Ia pun segera membersihkan diri dan bersiap untuk kembali ke rumah sakit.


Saat sampai di ruang perawatan Mirna, bu Nike terkejut saat melihat Mirna yang sudah jauh membaik. Ia terlihat sudah tidak histeris dan sering mengamuk. Bahkan pandangan matanya yang kosong pun sudah berganti lebih hidup. Sungguh bu Nike tidak pernah membayangkan jika Mirna dapat mengalami perubahan secepat ini. Mulanya ia mengira jika ini suatu keajaiban atau hasil dari obat yang diberikan oleh dokter. Tapi saat melihat bu Dita yang masih berada di sana dan juga interaksi diantara bu Dita dan Mirna membuat bu Nike tersadar jika semua perubahan baik itu berkat bu Dita yang dengan telaten merawat Mirna.


Menyadari itu, ada rasa sakit yang menjalar dihatinya. Putri kandungnya yang telah ia lahirkan dengan susah payah lebih dekat dengan wanita lain yang bukan ibu kandungnya. Rasa bersalah dan menyesal karena dulu telah meninggalkan Mirna pada pak Bima dan bu Dita membuatnya kini tidak bisa protes saat putrinya itu lebih merasa nyaman bersama bu Dita. Dengan langkah berat ia akhirnya masuk ke dalam ruang perawatan Mirna. Karena walau bagaimana pun ia juga ingin ikut merawat Mirna.


"Selamat sore..." ucapnya saat masuk ke ruang perawatan Mirna.

__ADS_1


Tampak olehnya bu Dita dan Mirn kaget dengan kedatangannya. Sepertinya belum ada yang mengatakan pada bu Dita jika ia yang telah membawa Mirna ke rumah sakit.


"Maaf mengganggu... aku kemari hanya ingin tahu tentang keadaan Mirna..." ucapnya saat mendapat tatapan tidak mengerti dari bu Dita.


"Alhamdulillah... Mirna sudah semakin baik..." jawab bu Dita tenang.


Meski tidak mengerti dari mana wanita yang merupakan ibu kandung Mirna itu tahu tentang kejadian yang menimpa Mirna namun bu Fita juga merasa sedikit lega karena wanita itu sudah mulai memperlihatkan perhatiannya pada putri kandungnya itu. Ya bu Dita sadar ia cuma ibu sambung... sedang bu Nike adalah ibu kandung Mirna... oleh karena itu wajar jika ia datang menjenguk putrinya.


Sementara Mirna... ia merasa terjebak diantara dua wanita wanita yang sangat penting didalam hidupnya. Saat ini selain trauma yang masih ia rasakan, kedatangan bu Nike membuatnya tidak merasa nyaman karena seolah tengah dituntut untuk memilih antara dirinya dan juga bu Dita. Mirna kembali merasa tertekan meski terlihat jika kedua wanita yang ada dihadapannya itu tampak tidak saling bersaing atau pun bermusuhan.


Perubahan wajah Mirna yang kembali sendu terlihat oleh bu Dita. Wanita paruh baya itu pun langsung menyadari jika Mirna tengah dilema berada diantara dua wanita yang sama-sama berpengaruh dalam hidupnya. Yang satu adalah wanita yang telah melahirkannya sedang yang lainnya adalah yang telah merawatnya selama ini. Perlahan bu Dita mendekati Mirna dan mengelus pundak putrinya itu dengan lembut.


"Ayo sayang... sapalah ibumu..." ucapnya lembut membuat Mirna mendonggakkan kepalanya dan menatap ke arah bu Dita.


Mirna pun mengangguk dan menoleh ke arah bu Nike.


"Ibu..." ucapnya lirih namun masih dapat didengar oleh semua yang ada disana.


"Iya sayang..." sahut bu Nike langsung menghambur dan memeluk putri semata wayangnya itu.


"Maafkan ibu sayang... selama ini sudah menyia-nyiakanmu... permata berharga satu-satunya..." sambungnya sambil mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Keduanya pun saling bertangisan membuat bu Dita ikut terharu. Ingin memberikan ruang pada keduanya bu Dita pun menyingkir secara perlahan. Namun belum sempat ia keluar dari ruangan itu Mirna sudah memanggilnya.


"Mama! mama mau kemana?" terdengar suara Mirna yang seolah ketakutan jika bu Dita akan pergi meninggalkannya.


"Mama hanya ingin membesihkan diri sayang... kan sudah ada bu Nike yang menemanimu..." jawab bu Dita lembut.


Mirna langsung tersenyum mendengar jawaban dari mamanya itu. Dia pun mengangguk membiarkan bu Dita untuk membersihkan dirinya. Sementara di dalam hatinya bu Nike merasa mencelos saat melihat Mirna yang sangat takut jika ditinggal oleh bu Dita. Tapi ia juga tidak bisa apa-apa karena hubungan bu Dita dan Mirna sudah terjalin berpuluh tahun lamanya sejak ia balita dan statusnya sebagai ibu kandung Mirna pun baru diketahui oleh wanita itu sehingga sangat tidak mungkin jika Mirna bisa begitu saja menerima dirinya dan melupakan bu Dita.


Setelah bu Dita pergi untuk membersihkan dirinya bu Nike pun berusaha berbicara serius dengan Mirna. Ini ia lakukan demi masa depan putrinya itu agar tidak terus trauma dengan kejadian yang sudah menimpanya.


"Sayang... apa kau ingin suasana baru untuk melupakan semua yang sudah terjadi?" tanya bu Nike hati-hati.


"Ma... maksudnya?"


"Ya... apa kau tidak ingin pergi ke tempat lain yang jauh dari sini? ibu bisa menemanimu jika itu yang kau inginkan..." usul bu Nike.


"A... aku... aku tidak tahu..." ucap Mirna terbata.


Sungguh saat ini ia hanya ingin bersama bu Dita mamanya... jika pun ia akan pergi, maka ia akan pergi dengan bu Dita tidak dengan yang lainnya. Bu Nike menghela nafsanya pelan... ia sangka putrinya itu akan setuju dan mau pergi dengannya. Tapi ia tidak bisa memaksa karena Mirna masih trauma. Saat keduanya tengah berbincang seseorang datang ke ruang perawatan Mirna.


"Selamat sore..." sapa orang itu sambil tersenyum.

__ADS_1


Kedua ibu dan anak itu pun menoleh. Dan saat Mirna melihat siapa yang datang wajahnya langsung pucat dengan mata terbelalak.


"K..kau!" serunya dengan suara tercekat.


__ADS_2