
Berbekal informasi terakhir keberadaan mobil yang diduga membawa Jasmine para anak buah Adam berpencar ke seluruh pelosok kota. Disamping melaksanakan tugas dari atasannya mereka sebenarnya juga ikut berempati pada nasib Jasmine sebab mereka juga memiliki keluarga. Dapat mereka rasakan jika saudari, istri atau bahkan anak perempuan mereka mengalami hal yang sama dengan gadis itu. Penculikan adalah hal yang paling menakutkan apa lagi tanpa permintaan tebusan. Itu berarti jika harapan untuk kembali sangatlah kecil atau bahkan tidak ada sama sekali.
Kebaikan yang dilakukan Adam sebagai atasan juga ikut mempengaruhi kesetiaan anak buahnya. Mereka seakan dapat merasakan kesakitan dan kesedihan yang dialami atasan mereka. Keadaan Jasmine yang tak dapat berjalan menambah kekhawatiran mereka. Sebab gadis itu pasti akan sangat kesulitan untuk menyelamatkan diri.
Saat salah satu anak buah Adam tengah menyusuri daerah perbukitan yang banyak terdapat bangunan villa mereka menemukan mobil yang mirip dengan mobil yang digunakan oleh orang yang menculik Jasmine. Namun plat nomornya berbeda membuat mereka harus menyelidikinya terlebih dahulu agar tidak sampai berbuat gegabah yang justru akan merugikan pencarian mereka.
Terapis yang datang ke rumah Ghani ternyata seorang pria paruh baya yang tampak sudah sangat mengenal Ghani. Bahkan Ghani memanggil pria tersebut dengan sebutan paman.
"Paman Leo silahkan masuk..." kata Ghani ramah.
"Jadi ini calon istri kamu Ghani? cantik sekali... pantas kau sangat mencintainya..." ujar Leo.
Jasmine hanya bisa tersenyum canggung. Ia tak tahu apakah ia bisa menceritakan yang sebenarnya pada Leo jika dia bukan calon istri Ghani tapi malah ia adalah korban penculikan dari Ghani. Apa lagi melihat keakraban keduanya membuat Jasmine semakin yakin jika ia tak mungkin bercerita yang sebenarnya pada Leo. Bisa jadi kan kalau pria paruh baya itu sudah mengetahui semuanya tapi malah membantu Ghani.
Jasmine pun lalu dibawa ke sebuah ruangan yang ada di samping rumah. Ruangan itu seperti ruang dansa yang ada dalam film-film zaman dahulu pada masa kolonial.
"Kau berlatihlah di sini" ucap Ghani.
Di sudut ruangan sudah ada sebuah tempat tidur yang akan digunakan saat terapi akupuntur. Sedang di tengah ruangan sudah ada bebagai macam alat yang digunakan untuk latihan berjalan.
"Sepertinya dia telah mempersiapkan semuanya sejak lama..." batin Jasmine saat melihat semuanya yang ada di ruangan itu.
"Ayo kita mulai dengan terapi akupuntur terlebih dahulu" kata Leo.
Jasmine pun hanya mengangguk pasrah dan segera merebahkan dirinya di tempat tidur untuk terapi. Kemudian Leo pun segera melakukan tugasnya melakukan terapi akupuntur dengan menusukkan beberapa jarum di beberapa bagian tubuh Jasmine untuk merangsang kerja otot kakinya. Sementara Jasmine menjalani terapinya tampak Ghani selalu berada di sana untuk menemani Jasmine. Selesai terapi Jasmine diberi istirahat sejenak sebelum melakukan latihan untuk berjalan.
Selama terapi akupuntur Jasmine sudah mulai merasakan perubahan pada kakinya. Namun ia tak mau berharap banyak apa lagi ia juga tidak ingin jika Ghani mengetahui ada perkembangan baik pada kakinya. Jasmine ingin agar Ghani tetap menganggap ia masih lama untuk bisa berjalan agar pemuda itu tidak cepat melaksanakan keinginannya untuk menikahinya.
Saat melakukan terapi berjalan Jasmine sudah merasakan perbedaannya. Kakinya sudah terasa mulai kuat untuk menopang tubuhnya. Tapi Jasmine berpura-pura belum bisa menopang tubuhnya. Ghani tampak sabar melihat keadaan Jasmine.
"Tidak apa-apa sayang... kau harus sabar..." ujar Ghani memberi semangat.
__ADS_1
Jasmine hanya mengangguk dan mencoba tersenyum.
"Kita memang tidak bisa langsung melihat hasilnya... jadi nona harus sabar..." kata Leo.
"Iya paman..." sahut Jasmine.
Malam harinya saat sudah berada di dalam kamar dan memastikan semua orang sudah tertidur Jasmine bangun dari tempat tidurnya. Setelah memeriksa keadaan kamarnya sore tadi ia yakin jika di dalam kamarnya tak ada kamera pengawas. Jadi mulai malam ini Jasmine bertekad akan berlatih sendiri didalam kamar.
Perlahan Jasmine turun dari tempat tidurnya. Diturunkannya kedua kakinya ke lantai. Dengan hati-hati Jasmine mulai berusaha untuk berdiri diatas kakinya sendiri. Seketika tubuhnya bergetar terutama bagian kakinya. Namun rasa sakit yang ia rasakan saat terakhir ia terapi di rumah sakit sudah tidak ia rasakan lagi walau ia sudah berdiri cukup lama. Setelah merasakan sedikit lelah, Jasmine kembali mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
"Alhamdulillah..." batinnya saat merasakan perubahan pada kakinya.
Setelah itu Jasmine pun merebahkan tubuhnya untuk tidur. Kali ini Jasmine dapat tidur dengan lebih tenang setelah mengetahui jika kakinya sudah terasa lebih baik.
Sementara mama Tika tengah menatap foto Jasmine di figura yang tengah di pegangnya.
"Kamu dimana nak? apa kau baik-baik saja? apa orang yang menbawamu memperlakukanmu dengan baik?" gumamnya lirih sambil mengelus foto Jasmine.
"Ya Allah ... tolong lindungilah putriku... dan tunjukkanlah segera dimana dia berada..." do'anya dalam hati.
Air mata mama Tika meleleh di kedua pipinya tak kuasa menahan rasa sedih atas kehilangan putri semata wayangnya. Hingga akhirnya ia pun tertidur dalam keadaan duduk sambil memeluk foto putrinya itu.
Di dalam kamarnya Adam tengah menerima laporan terbaru dari anak buahnya yang tengah melakukan pencarian terhadap Jasmine. Mereka melaporkan tentang temuan mobil yang mirip dengan yang digunakan untuk membawa Jasmine. Namun karena nomornya berbeda membuat mereka belum bisa memastikannya.
Adam yang merasa jika bisa saja nomor kendaraan yang digunakan pelaku palsu untuk mengecoh pihak kepolisian pun memutuskan untuk menyusul anak buahnya keesokan harinya. Ia sendiri yang akan memimpin pencarian. Setelah memutuskan sambungan telefon dengan anak buahnya ia pun segera menghubungi asistennya untuk menghandle perusahaan sementara agar ia dapat fokus mencari Jasmine.
Keputusannya itu dikarenakan ia merasa jika petunjuk terakhir yang disampaikan anak buahnya cukup sebagai titik terang untuk mereka dapat menemukan Jasmine. Karenanya ia tak mau membuang waktu untuk tidak mengindahkan secuil apa pun petunjuk yang akan ditemukan lagi nantinya. Tapi sebelumnya Adam memberitahukan rencananya pada mamanya. Ia tahu jika do'a dan restu dari seorang ibu akan memperlancar segala urusannya.
Mama Sinta yang mendengar penuturan Adam langsung menyetujui rencana putranya itu. Namun ia menyuruh Adam agar jangan memberitahukan terlebih dahulu tentang petunjuk yang ditemukan kepada mama Tika. Sebab mama Sinta tidak ingin membuat calon besannya itu memiliki harapan palsu sebelum petunjuk itu benar-benar bisa dibuktikan kebenarannya.
Adam pun setuju dengan usul dari mamanya itu. Ia juga tidak ingin melihat kesedihan diwajah mama Tika jika ternyata petunjuk itu tidak membantu. Wanita itu sudah terlihat sangat terpukul sehingga Adam dan mamanya tidak ingin menambah fikirannya lagi.
__ADS_1
.........
Tengah malam Jasmine terbangun dari tidurnya. Ia merasa ingin ke kamar mandi. Dengan perlahan ia berpindah dari tempat tidurnya ke atas kursi roda. Lalu ia pun mendorong kursi rodanya ke kamar mandi. Baru saja ia selesai dan keluar dari dalam kamar mandi ia mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap. Karena penasaran ia pun mendorong kursi rodanya untuk mencari sumber suara tersebut.
Dengan menajamkan pendengarannya ia dapat memastikan jika suara tersebut berasal dari luar kamarnya. Perlahan ia membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak terkunci.
"Pantas saja mereka semua dapat keluar masuk ke dalam kamar dengan leluasa..." batin Jasmine.
Dengan perlahan ia mendorong kursi rodanya ke arah suara itu berasal. Jasmine sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan suara sedikit pun yang dapat membuat kehadirannya di ketahui. Setelah mendorong kursi rodanya agak jauh dari kamar ia dapat melihat jika ada dua orang yang tengah berbicara di lorong dekat dapur. Dengan sangat hati-hati Jasmine kembali mendekat agar ia juga dapat mendengarkan perkataan keduanya.
"Kamu jangan sekali-kali lagi datang kemari kang" ucap salah seorang diantara mereka yang ternyata adalah bik Narsih.
"Kenapa Narsih? aku kan masih suami kamu... aku pantas menemui kamu secara terang-terangan dan bukan dengan sembunyi-sembunyi seperti ini" sahut seorang yang lain yang ternyata suami dari bik Narsih.
"Aku tahu kang... tapi kau juga tahu kan jika den Ghani tidak suka orang datang ke rumahnya tanpa ijin terlebih dahulu darinya" sahut bik Narsih takut-takut.
"Kau selalu begitu... apa tidak bisa kau pindah kerja saja dari sini?" ucap suami bik Narsih.
"Ga bisa semudah itu kang... den Ghani memang orangnya baik... tapi kalau dia sedang marah akang tidak akan bisa menyangka apa yang bisa diperbuatnya..." terang bik Narsih dengan suara bergetar.
"Baiklah... aku tidak akan memaksamu atau pun datang kemari lagi... tapi kau harus ingat untuk pulang Narsih! kau juga masih punya keluarga sendiri yang juga harus kamu perhatikan"
"Iya kang aku tahu... nanti aku coba untuk minta ijin untuk pulang sebentar"
"Baiklah... kalau begitu aku pulang sekarang" ujar suami bik Narsih.
Lalu keduanya berjalan menjauh ke arah pintu belakang. Sepertinya tadi suami bik Narsih masuk dari arah sana.
"Ternyata bukan hanya aku yang merasa jika sifat Ghani itu tidak wajar..." batin Jasmine.
Melihat kedua orang itu sudah menghilang dibalik pintu Jasmine langsung berbalik mendorong kursi rodanya untuk kembali ke kamarnya. Untung saja saat ia sampai di dalam kamar dengan selamat dan tidak ada yang mengetahui jika ia baru saja keluar dari kamar.--
__ADS_1