
Sore itu Jasmine makan di dalam kamar ditemani kucing hitam putih yang baru saja muncul di jendela kamarnya. Gadis itu bahkan membagikan lauknya pada kucing tersebut. Kucing itu tampak senang dengan pemberian Jasmine dan memakan potongan daging ayam yang diberikan oleh gadis itu. Melihat kucing itu makan dengan dengan lahap Jasmine tersenyum senang. Dia memang sengaja memberikan kucing itu makanan agar binatang itu mau kembali lagi menemuinya.
"Mulai sekarang sering-seringlah kemari ya..." ucap Jasmine sambil mengelus punggung kucing itu dengan lembut.
Hari sudah mulai gelap saat Jasmine mendengar suara bik Narsih yang baru kembali. Wanita itu benar-benar pulang cepat. Pasti wanita itu hanya sebentar berada di rumahnya sehingga bisa kembali ke rumah Ghani secepat itu pasalnya rumah Ghani yang berada jauh dari perkampungan pasti membutuhkan waktu cukup lama bagi wanita itu untuk pulang pergi apalagi dengan perjalan kaki.
"Bibik sudah pulang?" tanya Jasmine saat melihat wanita paruh baya itu di depan kamar.
"Iya non... tadi bibik cuma sebentar pulang ke rumah" terangnya sambil tersenyum.
"Bibik jalan kaki dari sini?"
"Ga non... ada sepeda bibik di gudang yang biasa bibik gunakan untuk pergi ke pasar atau kalau pulang ke rumah saat den Ghani mengijinkan" terang bik Narsih.
Jasmine mengangguk tanda mengerti. Pantas saja wanita itu bisa kembali dengan cepat.
"Kucing tadi masih ada di sini non?" tanya bik Narsih.
"Udah pergi bik..." sahut Jasmine.
"Non suka dengan kucing ya?" tanya bik Narsih penasaran.
"Iya bik... tapi ga punya kucing di rumah... soalnya takut ga bisa merawat dengan baik" terang Jasmine.
"Kalau kucing itu kembali lebih baik jangan biarkan keluar dari dalam kamar... soalnya kalau ketahuan den Ghani bisa gawat..."
"Kenapa bik? apa dia akan melukai kucing itu?" tanya Jasmine cemas.
"Ehm... pokonya jangan sampai ketahuan kalau kucing itu ada di sini..."
"Baiklah..." sahut Jasmine.
Tak lama terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Keduanya langsung tahu jika itu pasti Ghani yang baru datang.
"Bik... aku mau tidur saja dulu..." kata Jasmine yang enggan bertemu dengan Ghani.
"Iya non... nanti biar bibik beritahukan sama den Ghani"ujar bik Narsih yang tahu alasan Jasmine yang sebenarnya.
Di sebuah villa tampak Adam tengah berkumpul dengan anak buahnya. Setelah beberapa hari menyelidiki mobil yang mirip dengan yang digunakan oleh penculik Jasmine, anak buah Adam menemukan fakta jika pemilik mobil itu adalah seorang pemilik perkebunan yang cukup luas di daerah itu. Namun mereka belum bisa memastikan seratus persen jika mobil itu benar yang digunakan oleh sang penculik. Pasalnya yang memiliki mobil jenis itu bukan cuma orang itu, masih ada dua orang lain lagi yang juga memilikinya.
"Lalu bagaimana rencana kita selanjutnya bos?" tanya salah satu anak buahnya.
"Kalian berpencar dan selidiki ketiga orang itu... kita lihat apakah salah satu diantara mereka ada yang berhubungan dengan penculik Jasmine!"
__ADS_1
"Baik bos... kalau begitu kami permisi dulu"
"Hemmm...." sahut Adam sambil mengangguk membiarkan anak buahnya kembali ke kamar mereka.
"Semoga saja rencana ini bisa mempercepatku untuk bisa segera menemukan Jasmine..." batin Adam.
Keesokan harinya di saat yang sama dengan kemarin, kucing hitam putih itu kembali bertengger di jendela kamar Jasmine. Jasmine yang baru saja selesai mandi sangat senang dengan kedatangan kucing lucu itu. Kembali Jasmine mengelus dan memangku kucing itu di dalam kamar.
"Aku harus mencari cara agar bisa mendapatkan kertas dan pensil..." batin Jasmine.
Saat itulah ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Boleh aku masuk?" terdengar suara Ghani.
Memang sejak kejadian di malam Jasmine mengalami mimpi buruk yang membuat gadis itu ketakutan Ghani tidak lagi sembarangan masuk ke dalam kamar Jasmine.
Dengan cepat Jasmine menutupi tubuh kucing yang ada dipangkuannya itu dengan selimut. Lalu ia pun mempersilahkan Ghani untuk masuk.
"Ada apa kak?" tanya Jasmine saat pemuda itu telah masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa kau sedari tadi berada di dalam kamar? apa kau tidak ingin duduk di luar melihat pemandangan sore?"
"Aku hanya sedang ingin di dalam sini saja"
"Kenapa? apa kau tidak bosan?"
"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Jasmine setelah terdiam sebentar.
"Apa?"
"Boleh aku minta buku gambar dan pensil? aku ingin menggambar..."
"Baiklah... besok akan aku belikan untukmu" sahut Ghani yang tahu jika Jasmine suka menggambar.
"Terima kasih kak..." ucap Jasmine sambil menampilkan senyumannya.
Ghani pun langsung senang dengan sikap Jasmine yang kembali ceria seperti saat ia mengamati keseharian gadis itu diam-diam dulu.
"Baiklah... aku keluar dulu... nanti kita makan malam bersama" ucap Ghani yang sejak tadi berusaha menahan dirinya agar tidak bersin di depan Jasmine.
Tapi baru saja pemuda itu keluar ia langsung bersin karena ia sungguh sudah tidak dapat menahan rasa gatal pada hidungnya.
"Haattsssyiii.... haaatttsssyii..." berkali-kali Ghani bersin sehingga hidung dan wajah pemuda itu sampai memerah.
__ADS_1
"Ada apa ini? kenapa tiba-tiba aku jadi bersin-bersin seperti ini? padahal sudah lama aku tidak seperti ini" batin Ghani yang langsung menuju kamarnya untuk membersihkan hidungnya.
Di dalam kamar Jasmine yang sempat mendengar suara bersin Ghani menjadi cemas. Ia takut jika pemuda itu tahu jika ada kucing di dalam kamarnya.
"Ya Allah semoga dia tidak curiga jika ada kucing di sini..." do'a Jasmine dalam hati.
Sedang si kucing masih mendengkur nyaman di pangkuan Jasmine. Dia bahkan tidak terganggu dengan suara bersin Ghani yang cukup keras.
Saat hari mulai gelap kucing itu mulai terbangun. Setelah meregangkan ototnya kucing itu pun melenggang santai lalu melompat keluar dari jendela dan pergi dari kamar Jasmine.
"Besok kembalilah lagi..." ucap Jasmine lirih pada kucing itu yang menoleh sebentar kearah Jasmine sebelum ia kembali melompat ke atas tembok pagar rumah yang tidak terlalu tinggi.
"Kembalilah... karena kau kini adalah harapanku satu-satunya untuk bisa keluar dari sini..." batin Jasmine sambil memandang sang kucing yang tampak berjalan diatas tembok sebelum akhirnya melompat ke sisi lain dan menghilang dari padangannya.
Sesuai dengan janjinya keesokan harinya Ghani membelikan Jasmine alat gambar. Gadis itu langsung terlihat senang. Wajahnya semakin terlihat bahagia dan langsung menggambar sketsa di depan Ghani.
Pemuda itu sangat senang saat Jasmine menunjukkan hasil sketsanya pada Ghani. Pasalnya gambar sketsa yang dibuat oleh Jasmine adalah gambar dirinya.
"Kau memang sangat berbakat Jasmine..." ucap Ghani senang.
"Terima kasih..." sahut Jasmine sambil tersenyum.
Setelah makan siang setelah sedari pagi berlatih berjalan Jasmine mengatakan pada Ghani jika ia ingin beristirahat dan tidur siang. Ghani pun langsung mengijinkannya. Saat Jasmine sudah masuk ke dalam kamarnya Ghani pun berbicara pada Leo yang memang belum pulang dari rumah Ghani setelah melakukan terapi pada Jasmine.
"Bagaimana perkembangannya paman?"
"Sudah semakin baik Ghani... sebab saat aku memeriksa keadaannya tampak sekali jika otot pada kaki dan panggulnya sudah mulai sembuh. Seharusnya tak lama lagi ia sudah bisa berjalan walau masih tertatih..." terang Leo.
"Baguslah... itu berarti sebentar lagi kami bisa melanjutkan rencana kami" kata Ghani senang.
Jasmine yang sebenarnya belum kembali ke dalam kamarnya dan sengaja mencuri dengar percakapan Ghani dengan Leo menjadi cemas. Ia harus segera melaksanakan rencananya sebelum Leo curiga jika ia sebenarnya sudah mulai dapat berjalan.
Jasmine kembali ke dalam kamarnya setelah mendengar percakapan Ghani dengan Leo. Tampak si kucing telah berada di dalam kamarnya dan bahkan sudah bergelung nyaman diatas tempat tidur Jasmine. Gadis itu langsung tersenyum dan segera mengambil kertas dan pensil yang tadi diberikan oleh Ghani.
Dengan cepat Jasmine menuliskan pesan pada kertas itu lalu menggulungnya jadi gulungan kecil. Kemudian Jasmine mencari tali untuk mengikat kertas berisi pesan tersebut. Untung saja ia dapat menemukan seutas tali rafia bekas yang berada di dalam salah satu laci nakas. Tidak terlalu panjang namun cukup bagi Jasmine untuk melancarkan rencananya.
Setelah mengikat kertas tersebut dengan tali sehingga berbentuk mirip dengan kalung, lalu Jasmine segera memasangkannya pada leher si kucing. Dan ajaibnya kucing itu sama sekali tidak berontak saat Jasmine memasangkan kalung hasil karyanya. Bahkan kucing itu pun tidak mengusik kertas yang tergantung pada tali itu.
Sore hari saat kucing itu hendak keluar dari kamar Jasmine, gadis itu masih sempat mengelus kepala hewan mungil itu.
"Pergilah dan beritahu tuanmu tentang pesanku... hanya kamu yang aku andalkan kali ini" ujarnya.
Dan seolah mengerti dengan ucapan Jasmine kucing itu pun segera melompat keluar dari kamar Jasmine melalui jendela dan langsung melesat melompati tembok pagar lalu menghilang. Jasmine mendesah pelan. Saat ini ia menggantungkan harapannya pada tuan si kucing agar mempercayai tulisan pesannya dan segera mencari bantuan agar bisa menyelamatkannya.
__ADS_1
Sang kucing yang berlari kencang menyusuri jalan perkebunan untuk kembali ke rumah majikannya. Entah mengapa seperti seolah mengerti bahwa ia tengah membawa pesan dari Jasmine kucing nakal yang sering keluyuran menerobos perkebunan itu tak melakukan kebiasaannya menerobos pepohonan. Ia sengaja melewati jalan setapak sehingga tak merusak kalung buatan Jasmine yang kini melingkar dilehernya.
Sesampainya di rumah majikannya kucing itu langsung nyelonong dan masuk ke dalam kamar sang majikan lalu duduk manis diatas meja kerja tuannya. Sang majikan yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi terkejut saat melihat kucing kesayangannya sudah duduk di meja kerjanya dengan tali rafia yang melingkar dilehernya.