
Saat melihat reaksi Mirna yang masih tampak trauma dan ketakutan meski hanya dengan mendengar suaranya saja, membuat Rudi langsung membeli kue disana secara asal agar ia bisa keluar dari dalam sana. Bukan tanpa alasan, sebab ia tak ingin membuat Mirna bertambah takut padanya jika ia tetap memaksa berlama-lama di sana. Saat menyadari jika Rudi telah meninggalkan toko, barulah Mirna berani keluar dari bagian dalam ruangan toko. Dengan nanar ia mencoba memindai ke seluruh ruangan memastikan jika Rudi sudah benar-benar pergi dari sana.
Ia bahkan mengintip dari kaca jendela toko memastikan jika Rudi juga tidak berada di luar area toko. Setelah memastikan jika pria itu benar-benar sudah tidak berada di sana Mirna pun menghembuskan nafasnya lega. Rasa traumanya pada pria itu ternyata masih ada dan itu baru disadarinya tadi saat melihat pria itu ada di toko. Sebab selama beberapa bulan ini Mirna sudah mulai bisa melupakan malam kelam yang menimpa dirinya itu. Meski para pria itu belum sempat m**p**k**anya tapi tetap saja mereka sudah melecehkannya dan itu cukup membuatnya trauma berkepanjangan. Dan disaat ia mulai bisa melupakan pemuda itu malah datang dan membawa trauma itu kembali pada ingatannya.
Sikap Mirna yang terlihat takut dan gelisah membuat karyawan toko merasa khawatir. Mereka pun mengadukannya pada bu Dita. Mendapat aduan dari karyawannya bu Dita pun langsung menghampiri Mirna yang tengah beristirahat dibelakang toko.
"Kamu kenapa sayang?" tanya bu Dita lembut.
Ia tahu jika Mirna kembali teringat akan malam kelam itu sehingga membuatnya trauma.
"Dia tadi datang kemari ma..." adu Mirna dengan mata berkaca-kaca.
"Siapa sayang?"
"Dia... orang yang menyuruh para b*j***n itu untuk melecehkanku" terang Mirna dengan air mata yang mulai luruh.
Bu Dita langsung memeluk tubuh Mirna berusaha menyalurkan rasa aman pada putrinya itu. Meski tidak tahu pasti siapa orang yang telah berbuat keji pada Mirna namun bu Dita akan berusaha untuk tetap melindunginya.
"Kau tenang saja... mama akan menjagamu darinya...untuk sementara kau tidak usah melayani pembeli di toko kita... dan jangan pernah pergi keluar sendirian... mengerti?"
"Iya ma..." sahut Mirna lemah.
"Sudah... lebih baik kita makan siang saja dulu agar kita bisa mendapatkan energi untuk menghadapi orang itu..."
__ADS_1
"Baik ma..."
Keduanya pun makan siang bersama dibagian belakang toko. Sementara Rudi tampak tengah mengawasi toko bu Dita dari jauh. Kini ia harus bersabar dan bertindak hati-hati agar Mirna mau berbicara dengannya dan memberi kesempatan untuk mengobati traumanya.
"Aku harus tetap bersabar untuk mendapatkan maaf dari Mirna... maafkan kesalahan anakmu mama... sudah membuat wanita lain merasakan apa yang dulu kau rasakan... meski dia anak dari wanita itu tapi sesungguhnya dia tidak pantas mendapat pembalasan dendamku..." gumam Rudi sambil mencengkeram stir mobilnya.
Pemuda itu tampak frustasi dengan perasaan bersalah dan merasa berdosa membuatnya tak ingin menyerah demi bisa mendapatkan maaf dari wanita itu. Dan dia harus sangat berhati-hati dalam bersikap agar wanita itu tidak melarikan diri saat bertemu dengannya. Sore hari Mirna dan bu Dita bersiap untuk pulang. Keduanya sengaja keluar dari pintu belakang toko yang langsung terhubung dengan gang kampung yang ada di belakangnya.
Sengaja mereka melakukan itu agar mereka tidak lagi diikuti oleh orang yang membuat Mirna trauma. Mereka juga sengaja memesan taksi online setelah mereka berhasil keluar dari gang dan tiba di ujung jalan raya. Jika dari toko maka tidak akan terlihat karena jaraknya cukup jauh.
"Maafkan Mirna ma... gara-gara orang itu kita harus berjalan kaki jauh..." ucap Mirna saat keduanya sudah sampai di rumah.
"Tidak perlu meminta maaf sayang... hem... sepertinya kita harus menghindar sementara... mama takut jika orang itu juga sudah tahu dimana kita tinggal..." kata bu Dita.
Mirna mengangguk setuju.
"Bagaimana jika kita lapor polisi? dengan begitu orang itu akan mendapatkan hukumannya dan tidak akan mengganggumu lagi" usul bu Dita.
Sebenarnya ia sudah lama memikirkan hal itu tapi karena pak Bima yang tidak ingin nama putrinya tercemar karena menjadi korban pelecehan sehingga tidak mau melapor membuat bu Dita tidak bisa berbuat apa-apa. Apa lagi saat itu Mirna masih trauma berat membuat bu Dita hanya fokus merawat Mirna.
"Tapi bagaimana dengan papa?"
"Jangan khawatir sayang... kita melapor bukan tentang kasus pelecehanmu... sebab mama tahu kau pasti masih trauma. Kita bisa seret dia dengan tuduhan penguntitan meski nantinya hukuman yang akan ia terima tidak akan seberat jika kita seret atas kasus pelecehan, tapi setidaknya orang itu tidak akan bisa mendekatimu lagi..." terang bu Dita.
__ADS_1
"Tapi apa bisa ma?" tanya Mirna kurang yakin.
"Mama yakin bisa sayang... jadi jika orang itu datang lagi jangan ragu untuk berteriak dan meminta tolong... mama juga tidak akan membiarkan kamu sedirian dengan jarak jauh"
"Maksud mama?"
"Ya mama hanya akan membuat seolah kamu sedang sendiri sehingga orang itu akan mendekatimu, jadi saat itu mama bisa langsung memergokinya agar kita bisa membawanya ke kantor polisi..."
"Ta... tapi... aku masih takut ma..."
"Mama tahu sayang... karena itu mama tidak menyuruhmu untuk melakukannya sekarang... masih bisa lain waktu... yang terpenting saat itu kamu sudah tidak terlalu ketakutan sehingga kau bisa cepat berteriak untuk meminta tolong dan bukannya hanya terdiam karena terlalu takut"
Mirna mengangguk mengerti. Akhirnya wanita itu pun menghela nafasnya pelan. Dalam hatinya ia berfikir jika selama beberapa bulan ini ia telah terbebas dari bayang-bayang pria itu. Tapi ternyata salah... pria itu masih tetap mengganggunya. Tak cukupkah dengan ia tak melaporkan kejadian yang menimpanya ke polisi? dan apa ia perlu memasukkan pria itu dulu ke penjara agar tak lagi mengganggu hidupnya.
Bu Dita mengelus pundak Mirna perlahan. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh wanita yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya itu.
"Bersabarlah sayang... nanti semuanya akan baik-baik saja..." ujar bu Dita mencoba untuk menghibur Mirna.
"Terima kasih ma..." sahut Mirna.
Bu Dita pun mengangguk.
"Sudah... lebih baik sekarang kita tidur agar besok bisa bekerja dengan baik dan yang terpenting kau tidak boleh merasa takut lagi. Nanti mama akan menyuruh anak-anak untuk selalu menjagamu dari jauh... agar jika orang itu datang lagi dan mencoba mendekatimu mereka akan segera melaporkannya pada mama" kata bu Dita.
__ADS_1
"Iya ma..." sahut Mirn sambil tersenyum mencoba menenangkan hati mamanya.
Kemudian keduanya pun masuk ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Dalam hatinya Mirna berharap agar besok pria itu tidak akan mendatanginya lagi. Tapi kalau pun itu terjadi kini ia sudah merasa siap untuk menghadapinya meski masih ada trauma dan rasa takut dihatinya.