Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Curhat


__ADS_3

Jasmine terus tersenyum saat memasuki rumahnya. Hatinya sedang sangat bahagia karena baru saja menghabiskan waktu bersama Adam. Walau bukan kencan yang romantis seperti drama korea yang sering ia tonton namun tetap saja menurut Jasmine menghabiskan waktu berdua dengan Adam sudah termasuk kencan baginya.


"Nona sudah pulang?" tanya bik Darti dari arah belakang.


Sepertinya dia baru saja selesai mengurus cucian.


"Iya bik... apa tadi mama telfon?"


"Belum non..."


"O... baiklah bik aku ke kamar dulu ya" kata Jasmine setelah memasukkan ice cream pemberian Adam ke dalam kulkas.


Sedang coklat sengaja ia simpan di dalam kamar.


Setelah mengganti bajunya dengan pakaian rumahan ia pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ternyata hari ini ia sungguh beruntung bertemu dengan pujaan hatinya tanpa di duga dan bisa menghabiskan waktu bersama. Walau tak pernah ada kata saling suka namun bagi Jasmine yang masih polos ia sudah bahagia. Dipandanginya coklat pemberian Adam.


"Andai saja ini hari valentine... coklat ini bisa menjadi tanda cinta darinya" gumam Jasmine dengan wajah yang bersemu merah.


Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu kamarnya.


"Jess... apa kau masih tidur?" terdengar suara mama Tika.


Ternyata ia benar-benar pulang untuk mengecek keadaan putrinya. Untung saja Jasmine sudah berada di rumah ... jika tidak bisa terjadi gempa di rumahnya karena amukan mama Tika.


"Enggak ma... " jawab Jasmine.


Mama Tika pun masuk ke dalam kamar.


"Kamu sedang apa sayang? kenapa tidak tidur?".


"Tadi kan sudah ma... lagi pula Jamine ga biasa tidur jam segini" sahut Jasmine.


"Mama kenapa pulang? kan bisa telfon" sambungnya.


"Mama kebetulan baru bertemu klien di dekat sini jadi sekalian mampir melihat keadaan anak mama...." jelas mama Tika sambil tersenyum.


"Kamu sudah makan siang?"


"Belum ma... nanti aja kalau udah lapar".


"Hem...baiklah mama harus kembali ke butik kamu baik-baik ya di rumah..."


"Baik ma..." jawab Jasmine lalu mencium tangan mamanya. Mama Tika pun lalu beranjak pergi.


Jasmine menghela nafas lega karena ia tidak ketahuan telah pergi keluar rumah. Ternyata bik Darti benar-benar tidak melaporkan perbuatannya pada mama Tika. Setelah sholat dhuhur Jasmine berniat untuk sekedar membuka buku pelajarannya sebentar untuk mengurangi rasa bosan. Baru saja ia membaca beberapa lembar buku bacaannya sudah terdengar suara teriakan Maya yang memanggilnya.


"Jasmine... i'm coming!" Jasmine pun segera menutup buku yang baru saja dibacanya dan segera membuka pintu kamarnya.


Terlihat Maya setengah berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


"Kenapa teriak-teriak sih... kayak ga ketemu seabad aja..."


"He...he...he... kan kita kembar walau cuma sebentar tapi aku langsung kangen ga ketemu kamu di sekolah" ucap Maya lebay.


"Ish... jangan bilang gitu nanti ada yang salah faham" sungut Jasmine.


Maya pun langsung nyelonong masuk ke dalam kamar Jasmine.


"Eh... ada banyak coklat? dapat dari mana?" tanya Maya langsung mencomot salah satu batang coklat.


"Itu... tadi aku dikasih sama ..." jawab Jasmine mengantung.


Ia ragu apakah harus jujur atau tidak pada sahabatnya itu.


"Hayo dari siapa? gebetan kamu ya?" potong Maya. Muka Jasmine pun langsung memerah.


"Eh betulkah?" sambung Maya tak menyangka jika tebakannya tepat.


"Siapa?" lanjutnya kepo.


"Itu..." ucap Jasmine resah.


"Bilang saja... aku ga akan bilang siapa-siapa ... janji" kata Maya sambil mengangkat dua jarinya.


Akhirnya Jasmine pun menceritakan pertemuannya dengan Adam dan akhirnya menghabiskan waktu bersama.

__ADS_1


"Wow... diam-diam kamu udah berani pergi kencan ya? sama cowok yang lebih dewasa lagi" goda Maya.


"Emang itu bisa disebut kencan?" tanya Jasmine.


"Kan kami cuma pergi ke mall dan dia menemaniku main..." sambungnya.


Namun wajah Jasmine tampak memerah karena malu.


"Kalau bukan kencan apa namanya? kamu kan bukan adik atau keponakannya" sahut Maya.


Jasmine termenung, ya dia dan Adam tak ada hubungan apa-apa selain karena Adam pernah menolongnya. Walau sebelum itu ia juga sudah sering bertemu dengan pria itu namun sebagai Jessica bukan Jasmine. Dan Adam tidak tahu itu.


"Apa mungkin dia suka sama kamu Jess?"


"Mana mungkin..." sahut Jasmine sambil menggelengkan kepalanya.


"Mungkin saja dia menganggapku seperti adik atau keponakannya" sambungnya dengan nada lesu.


"Jadi kamu kecewa gitu?" tanya Maya.


"Apanya?"


"Ya kecewa kalau dianggap cuma sebagai adik atau keponakan..." terang Maya sambil menaik turunkan alisnya.


"Kau ini..." tukas Jasmine lalu melempar Maya dengan bantal.


"Ngaku aja... biar ga jadi jerawat" kata Maya terkekeh.


Blus... wajah Jasmine kembali memerah. Jasmine memang paling tidak bisa berbohong pada sahabatnya ini.


"Ah ternyata kita ini memang benar-benar mirip dengan anak kembar" ucap Maya sambil memandang langit-langit kamar.


Tubuhnya sudah terlentang nyaman di kasur Jasmine.


"Maksud kamu?" tanya Jasmine yang masih duduk sambil bersandar dikepala tempat tidurnya.


"Ya kita berdua secara bersamaan mulai merasakan jatuh cinta..." ucapnya sedikit bijak.


Jasmine hanya bisa termenung dengan ucapan sahabatnya itu.


"Hemm... jadi benar kamu sudah mulai suka sama pak Adam?"


"Ish ... jangan bilang begitu nanti jika mama tahu pasti marah".


"Memang kenapa? apa karena dia jauh lebih tua dari kamu?" tanya Maya.


"Yang pasti karena aku masih dibawah umur ... baru 16 tahun" terang Jasmine.


"Berarti aku juga dong... masih dibawah umur... tapi mama bilang ga pa-pa asal masih wajar dan ga ganggu sekolah"


"Itu mama kamu May... lagi pula kamu kan sukanya sama kak Rio yang masih sepantar dengan kita ... sedangkan aku..."


"Hemm... jadi beneran nih sahabatku ini jatuh cinta sama pria dewasa?" potong Maya sambil mendekat pada Jasmine.


Gadis itu pun mengangguk pelan.


"Cinta itu memang ga bisa tebak Jess... tapi setidaknya kita nikmati saja dulu bukankah seperti katamu kita ini masih dibawah umur ga perlu memikirkan hal berat tentang cinta jika pak Adam itu jodohmu pasti saat kamu dewasa dia akan jadi milikmu..." ucap Maya sambil mengelus pundak sahabatnya itu.


"Kau benar May... tapi janji ya kamu ga akan bilang apa pun pada mama"


"Iya..." jawab Maya kembali mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


"Jess aku lapar..." kata Maya tiba-tiba.


Jasmine kaget karena ia juga lupa jika dia juga belum makan siang.


"Kita pesan online aja yuk..." ajaknya.


"Oke" jawab Maya yang langsung memesan makanan secara online melalui ponselnya.


"Kamu mau makan apa?" tanyanya sambil membuka aplikasi pada ponselnya.


"Terserah kamu saja"


"Oke... aku pesan soto aja kayaknya seger siang-siang begini"

__ADS_1


"Ya itu juga boleh..." jawab Jasmine.


"Kita tunggu dibawah aja ya..." ajak Jasmine setelah Maya selesai mengorder pesanannya.


Lalu keduanya pun keluar dari kamar dan pergi ke lantai bawah untuk menunggu pesanan mereka.


Selesai makan siang Maya pamit pulang karena mamanya sudah menyuruhnya untuk segera pulang.


"Lalu bagaimana keputusan kamu sama kak Rio, May? apa kamu akan menerimanya?" tanya Jasmine saat mengantar gadis itu keluar.


"Entahlah Jess... walau sudah diijinkan mama tapi aku masih ragu pada kak Rio" terang Maya.


"Bagaimana jika besok kita selidiki dulu? kita bisa mengikutinya" cetus Jasmine.


"Kita jadi detektif gitu?" tanya Maya dengan wajah yang langsung berbinar karena membayangkan adegan seperti dalam film action yang ia tonton.


"Eh... kenapa jadi mikir sejauh itu?"


"Ya ga pa-pa kan? mungkin saja kali ini giliran aku yang menyamar" kata Maya terkekeh.


"Baiklah..." sahut Jasmine yang tak pernah menang jika berdebat dengan Maya.


Malam harinya saat Jasmine baru bersiap untuk tidur tiba-tiba ponselnya berdering. Tertera nama Adam disana. Jasmine terkejut dan bingung apakah akan menjawabnya atau tidak. Namun karena panggilan itu tak mau berhenti akhirnya ia angkat juga.


"Ha... halo" jawabnya takut-takut.


"Jess..." terdengar suara Adam dari seberang sana.


"Aku tahu kau orang yang sama dengan gadis yang tadi siang menghabiskan waktu bersamaku" ucapnya.


Jasmine tertegun. Ia tak menyangka jika Adam sudah tahu jika Jasmine dan Jessica adalah orang yang sama.


"Maaf..." hanya itu yang dapat ia ucapkan setelah terdiam beberapa saat.


"Bisa kita bicara besok? aku akan menjemputmu sepulang sekolah" kata Adam.


Jasmine kembali tertegun. Adam tahu dimana ia bersekolah?


"Aku tidak bisa... maaf" ucapnya kemudian.


"Kenapa? aku tidak akan macam-macam"


"Bukan begitu... aku ada janji dengan temanku besok. Bagaimana jika lusa saja" usul Jasmine.


"Baiklah ... lusa pulang sekolah aku akan menjemputmu"


"Baik..."


"Jess..."


"Hemm..."


"Tidur yang nyenyak ya..." Jasmine tertegun.


"I..iya... kamu juga..." jawab Jasmine terbata.


Sedang di seberang disana Adam tengah tersenyum senang.


"Selamat malam Jasmine..."


"Selamat malam..."


Sambungan pun terputus. Jasmine masih memeluk ponselnya... nafasnya kini memburu karena baru saja mendapat telfon dari Adam.


"Alamat aku ga bisa tidur lagi ini...." keluhnya sambil memejamkan mata.


Tapi ternyata dugaannya salah... malam ini ia justru dapat tertidur nyenyak begitu matanya terpejam. Sedangkan Adam tengah berbahagia karena gadis yang disukainya sepertinya juga memiliki rasa yang sama dengannya.


"Selamat malam Jasmine... " ucapnya lirih sambil mengelus foto Jasmine saat tadi bermain di mall dan diam-diam dia candid.


Wajah ceria dan lugu Jasmine saat bermain sungguh sangat menggemaskan.


"Semoga kau memang jodohku..." gumamnya.


Ia tahu jika kini ia harus bersabar menunggu gadisnya cukup umur untuk menerima cintanya.

__ADS_1


__ADS_2