
Keesokan harinya sepulang sekolah seperti yang sudah direncanakan Jasmine dan Maya berniat untuk mengikuti Rio. Bahkan Maya sudah membawa pakaian yang mereka perlukan agar tak ketahuan oleh Rio.
"Masak kita harus nyamar jadi cowok sih May?" ucap Jasmine saat melihat pakaian yang dibawa Maya.
Apalagi Maya juga membawa serta rambut palsu.
"Kan biar ga ketahuan kak Rio, Jess..." kata Maya memberikan alasan.
"Lalu dari mana kamu dapat semua ini?"
"Aku pinjam sama teman mamaku yang bekerja di bagian kostum sebuah rumah produksi..." sahut Maya tersenyum bangga.
"Udah cepetan kita ganti pakaian entar kak Rio keburu keluar dari kelasnya" sambung Maya.
Mereka pun segera berganti pakaian di dalam mobik setelah sebelumnya menyuruh pak sopir untuk menunggu diluar. Selesai berganti pakaian dan mengenakan rambut palsu barulah Maya memanggil pak sopir kembali. Pak sopir yang melihat kelakuan keduanya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sepertinya sudah tidak kaget lagi semenjak dulu melihat penyamaran Jasmine.
"Pak kita berdua udah kelihatan kayak cowok belum ya?" tanya Maya.
"Kalau dari pakaian udah sih non...tapi muka dan suaranya masih belum" jawab pak sopir memberikan pendapatnya.
"Ya udah Jess kayaknya kita harus pakai ini deh..." ucap Maya sambil menunjukkan sesuatu pada Jasmine.
"Kumis palsu? emang anak SMU udah ada yang punya kumis May?"
"Ish kau ini ... apa kau tak lihat si Heru anak IPA itu? terus juga kak Johan yang anak IPS... apa kamu gak pernah memperhatikan? lagi pula ini termasuk yang paling tipis jadi dijamin gak akan terlihat seperti bapak-bapak" terang Maya.
"Baiklah terserah kamu saja..."
Akhirnya mereka mereka berdua pun saling memasangkan kumis palsu pada wajah mereka masing-masing.
"Bagaimana sekarang pak? apa sudah mirip?" tanya Maya lagi pada pak sopir.
"Sudah non ... kalau saja saya gak lihat dari tadi pasti saya pikir kalian cowok beneran" ucap pak sopir kagum.
"Tapi ya itu... suaranya ga bisa bohong" lanjutnya.
"Kalau begitu kita berdua ga usah mengeluarkan suara di depan orang lain..." usul Jasmine. Maya dan pak sopir pun setuju.
"Eh lihat... bukankah itu kak Rio?" tunjuk Jasmine.
"Iya... ayo pak ikuti motor di depan itu!"
"Baik non" jawab pak sopir yang segera melajukan mobilnya membuntuti motor yang dikendarai Rio namun masih dengan jarak yang tidak mencurigakan.
Setelah beberapa saat Rio menghentikan motornya di depan sebuah gedung tempat biasanya orang betmqin futsal. Tampak Rio memasuki tempat itu setelah memarkirkan motornya. Pak sopir pun menghentikan mobilnya tak jauh dari tempat Rio memarkirkan motornya. Kedua gadis yang sedang menyamar itu pun segera turun dari mobil dan menyusul Rio. Tanpa mereka ketahui ada orang lain yang kini juga sedang mengawasi keduanya.
Sesampainya di dalam gedung keduanya sengaja mengambil tempat duduk dekat lapangan futsal agar dapat mendengarkan percakapan Rio dan teman-temannya yang sedang bermain futsal. Dan ternyata yang dilakukan keduanya sangat tepat karena ternyata Rio dan teman-temannya hanya bermain santai sambil saling mengobrol. Kedua gadis itu berpura-pura sedang menunggu temannya yang lain datang sambil bermain ponsel.
__ADS_1
"Eh Ri... gimana kabar cewek yang lo tembak kemarin? udah ada jawaban belom?" tanya Aryo salah seorang teman Rio.
"Belom... kan janjinya besok baru dia kasih jawaban" sahut Rio sambil terus menggiring bola yang ada dikakinya dan langsung menendangnya ke arah gawang begitu ia ada kesempatan dan gol...!!
Rio dan rekan satu timnya tampak tersenyum puas dan bertos ria merayakan gol yang baru saja dibuat Rio.
"Jadi gimana perasan kamu sekarang? yakin kalau tu cewek nerima lo?"
"Ga juga..." sahut Rio sambil kembali fokus pada permainannya.
"Ck... ternyata seirang Rio bisa ga percaya diri sama cewek culun" goda temannya yang lain.
"Jangan sebut Maya culun!!" sergah Rio langsung menendan bola yang kebetulan sedang dikuasainya tepat kearah temannya yang mengatai Maya culun.
Bugh... bola itu pun tepat mengenai perut anak itu.
"Auwgh... sakit!!" teriaknya.
"Lo tu yang kira-kira dong Ri... gua kan cuma bercanda" seru Leo nama anak itu.
"Ga ada yang bercanda kalau menyangkut Maya!" balas Rio.
"Sudah-sudah... kita kesini itu mau kain bukan berantem!" lerai Aryo.
"Kita istirahat saja dulu" sambungnya.
"Emang lo beneran suka sama si Maya, Ri?" tanya Aryo setelah mereka minum air mineral.
"Ya beneranlah... buat apa gua pura-pura?"
"Tapi kan si Angel mau dikemanain? lo kan tahu sejak dulu dia itu suka sama lo dan selalu ngejar-ngejar lo" sambung Bayu teman Rio yang lain.
"Tapi kan gua ga pernah ngasih harapan sama dia... jadi terserah gua kalau sekarang gua sukanya sama Maya" sahut Rio enteng.
"Tapi apa lo ga fikirin nasib Maya kalau sampai si Angel tahu kalau lo suka sama dia? kan lo tahu gimana sikap Angel sama si Jasmine teman Maya saat semua orang fikir kalau lo suka sama dia" kata Leo.
"Makanya gua mau lo semua rahasiain dulu hubungan gua sama Maya agar dia ga dibully sama Angel dan genknya" terang Rio.
"Lalu mau sampai kapan lo umpetin hubungan lo sama Maya jika cewek itu bener-bener nerima lo?" tanya Aryo.
"Sampai kita lulus aja... jadi Angel ga akan bisa ganggu Maya di sekolah"
"Tapi gimana kalau di luar sekolah?"
"Gua akan lindungi dia sekuat tenaga gua... kalau di luar sekolah gua bisa langsung lindungi Maya tapi kalau di sekolah kan susah" sahut Rio.
Teman-temannya pun hanya bisa mengangguk faham. Merasa sudah mendapatkan informasi yang diinginkannya Maya mencolek kaki Jasmine dan keduanya pun langsung melenggang pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Sesampainya di dalam mobil Maya tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya karena ternyata Rio benar tulus menyukainya.
"Cie...cie.... yang baru dapat pengakuan cinta..." goda Jasmine.
Maya hanya tersenyum dengan wajah memerah. Ia tak ingin membalas godaan Jasmine karena memang itu yang ia rasakan saat ini. Bahagia... Maya lalu menyuruh pak sopir untuk mengantar Jasmine untuk pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan gadis itu selalu terseyum. Jasmine yang melihat tingkah sahabatnya itu pun ikut tersenyum bahagia.
Sesampainya di depan rumah Jasmine langsung turun setelah berpamitan pada Maya. Mobil yang ditumpangi Maya pun segera berlalu sesaat setelah Jasmine turun. Maya dan Jasmine masih sempat saling melambaikan tangan sebelum akhirnya mobil itu berbelok keluar komplek. Di tempat lain tampak Adam sedang melihat foto kiriman anak buahnya yang ia kirim untuk menjaga Jasmine.
"Ck.. ternyata bukan kamu saja tapi temanmu itu juga suka menyamar Jess..." batin tuan Sam sambil memandang foto Jasmine dan Maya dalam penyamaran.
Sedang Jasmine sudah merebahkan tubuhnya setelah membersihan dirinya dan sholat dhuhur. Kruyuuk.... terdengar suara perutnya yang ingin diisi. Karena sibuk mengikuti Rio membuat Maya dan Jasmine melupakan makan siang mereka. Dengan gontai Jasmine pergi ke dapur berharap bik Darti sudah menyiapkan makan siang.
"Bik... bibik sudah masak makan siang?" tanyanya begitu bertemu dengan Artnya itu di dapur.
"Sudah non... hari ini bibik bikin kesukaan non Jasmine..." ucap bik Darti yang di sambut senyuman lebar Jasmine.
"Aku mau makan sekarang ya bik..."
"Iya non... itu saya sudah siapkan di meja" sahut bik Darti.
"Terima kasih bik" ucap Jasmine langsung menuju meja makan.
"Sama-sama non..."
Dengan lahap Jasmine menghabiskan makan siangnya. Di samping karena lapar, tapi juga karena menu yang dimasak bik Darti adalah menu kesukaannya. Sayur sop dengan daging empal. Sungguh Jasmine sangat menikmati makan siangnya walau sendirian. Sebab kini ia sudah lega karena ternyata Rio benar-benar tulus pada Maya sahabat tercintanya. Sekesai makan Jasmine pun memutuskan untuk tidur siang walau sebentar karena ia merasakan tubuhnya sudah lelah.
Jasmine baru membuka matanya saat hari sudah sore. Dengan bergegas Jasmine bangun dan menuju kamar mandinya untuk membersihkan diri. Sebentar lagi mamanya akan pulang. Ia harus sudah rapi saat mamanya datang. Dan benar saja baru saja Jasmine selesai menyisir rambutnya terdengar suara mobil mamanya memasuki halaman rumah. Dengan segera Jasmine keluar dari kamarnya untuk menyambut mamanya.
Malam hari saat Jasmine baru saja hendak beranjak tidur terdengar nada panggil dari ponselnya. Seketika jantung Jasmine berdetak lebih kencang setelah melihat nama orang yang menghubunginya. Dengan cepat diangkatnya panggilan itu takut jika mamanya sempat mendengar dering ponselnya.
"Halo..."
"Halo Jess..."
"Ada apa ya?"
"Hanya ingin menyapamu sekaligus mengingatkanmu ... besok aku akan me jemputmu di sekolah" ucap Adam.
"Iya... aku tidak akan lupa..." sahut Jasmine.
"Baguslah... selamat malam Jess..." kata Adam sambil tersenyum.
"Selamat malam..." jawab Jasmine sedikit kikuk.
Jasmine tak menyangka jika pak Adam akan mengingatkan janjinya kemarin malam.
"Hah... kenapa pak Adam terus mengingatkan akan menjemputku besok ya... apa ada hal penting yang harus dibicarakannya padaku? ah.. semoga saja dia tidak akan menuntutku karena telah membohonginya dengan menyamar sebagai Jessica" batin Jasmine kemudian berusaha untuk segera tidur.
__ADS_1
Sementara Adam setelah mematikan ponselnya tak henti-hentinya tersenyum. Ia sudah tak sabar menunggu esok hari agar dapat bertemu dengan Jasmine. Dengan memandangi foto Jasmine saat di mall ia pun berusaha untuk mulai memejamkan matanya seakan berharap jika gadis itu dapata muncul dalam mimpinya malam ini.