
"Katakan ma! apa yang telah mama dan papa lakukan pada Jasmine!" sentak Ghani lagi yang membuat bu Rasti terhenyak.
"Mama..." sahut bu Rasti tercekat.
"Katakan!" teriak Ghani yang kini mulai mengguncang bahu ibunya.
"Mama hanya mengikuti saran papamu untuk memberi pelajaran pada mereka berdua yang sudah menyebabkanmu masuk ke rumah sakit jiwa nak..." ucap bu Rasti ketakukan melihat sikap Ghani yang berubah garang.
"Pelajaran? pelajaran apa yang membuat seseorang jadi celaka dan meninggal ma? itu bukan pelajaran namanya tapi pembunuhan! aku fikir selama ini aku yang sudah membunuh Jasmine... tapi ternyata tidak... dan rasa bahagiaku karena tahu aku bukan pembunuhnya sudah berganti dendam karena dia dibunuh dan ternyata malah mama dan papa lah yang sudah melakukannya! kenapa? kenapa mama tega melakukannya?" teriak Ghani kesetanan.
"Dia menikah dengan orang lain Ghani! saat kau menderita di rumah sakit jiwa dia malah bersenang-senang dan menikah dengan orang lain! apa mama tidak boleh marah hah!"
"Tapi bukan dengan membunuhnya ma... aku masih sangat mencintainya... jika dia masih hidup aku yakin bisa membuatnya meninggalkan suaminya itu dan kembali padaku..." ucap Ghani menangis dan merengek bak anak kecil.
"Tapi kenapa kalian malah membunuhnya? kalian dulu sudah menghancurkan hidupku dengan perceraian dan drama perselingkuhan papa... apa itu belum cukup? dan sekarang apa hak kalian untuk ikut campur lagi dalam urusan hidupku hah?" seru Ghani tak terima atas perbuatan kedua orangtuanya.
Ghani melepaskan cengkramannya pada pundak bu Rasti dan tubuhnya pun luruh ke tanah. Ia tak menyangka kedua orangtuanyalah yang membuat Jasmine meregang nyawa. Dendamnya yang semula menyala menjadi luruh. Meski ia dianggap tidak waras karena sudah menculik anak orang namun sesungguhnya ia masih normal dan bisa berfikir jika kini yang dihadapinya adalah kedua orangtuanya sendiri.
Ghani terduduk dengan posisi berlutut dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Air matanya menetes tak berhenti. Takdir apa ini! ia bahkan lebih rela melihat Jasmine dengan pria lain asalkan dia bahagia. Bukan kematian gadis itu yang ia inginkan. Kini berharap melihat pujaan hatinya dari jauh pun tak akan pernah terpenuhi. Bahkan makamnya pun tak mungkin ia sambangi karena jasad Jasmine tidak ditemukan. Ghani sungguh merasa amat malang.
Dengan gontai Ghani pun berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan bu Rasti. Melihat putranya pergi bu Rasti langsung berusaha mencegahnya. Pasalnya ini kesempatan bagus bagi Ghani agar bisa kabur. Pihak rrumah sakit dan kepolisian pasti akan berfikir jika Ghani jadi korban kebakaran jika Ghani mau ikut pergi untuk ia sembunyikan ditempat yang aman.
"Kau mau kemana nak? lebih baik kamu ikut mama... mama akan membawamu ketempat yang aman!" kata bu Rasti sambil meraih tangan Ghani untuk menahan putranya itu agar tidak pergi namun dikibaskan oleh Ghani.
"Tidak! Ghani tidak mau ikut mama atau pun yang lainnya... Ghani mau kembali ke rumah sakit saja... biar disana Ghani bisa mengenang Jasmine..." sahut Ghani terus melangkahkan kakinya dengan gontai.
"Tidak sayang... mama tidak akan membiarkan kau melakukan hal bodoh seperti itu! kamu ikut mama dan pergi ke tempat aman tanpa ada orang lain yang akan mengenalimu... disana kau buka lembaran hidupmu yang baru... mama yakin kau akan jatuh cinta lagi pada gadis yang lain!" tolak bu Rasti tetap menahan tangan Ghani.
"Mama mohon nak...." sambung bu Rasti yang kini berjongkok sambil memegangi kaki Ghani.
"Jatuh cinta lagi kata mama? lalu mama sama papa akan melakukan hal yang sama lagi jika gadis itu menolakku? dengan membunuhnya?" sergah Ghani sambil menarik kakinya.
"Tidak... mama tidak akan membiarkan kamu kembali ke sana lagi sayang..." kata bu Rasti mempererat pegangannya pada kaki Ghani.
__ADS_1
"Biarkan Ghani pergi ma..." seru Ghani dan menarik kakinya lebih kuat agar terlepas dari pegangan mamanya dan bu Rasti pun jatuh tersungkur.
"Ghani! apa yang sudah kamu lakukan pada mama kamu hah?" teriak pak Seno yang baru saja datang.
Ghani pun menoleh ke arah papanya. Kilat kebencian kini muncul dimatanya yang sedari tadi terlihat sendu.
"Untuk apa papa kemari? untuk menghancurkan hidupku lagi? belum puas papa membuatku trauma karena perselingkuhan papa dan perceraian kalian?" tanya Ghani dengan penuh emosi.
"Dan sekarang apa papa puas sudah membunuh gadis yang aku cintai karena menolakku dan menikah dengan orang lain? untuk apa pa? apa supaya aku mau memaafkan kesalahan papa yang berselingkuh? bodoh sekali! ha... ha... ha... mama memang bodoh... seharusnya mama meminta bantuan suami mama yang waras dari pada pria yang jelas-jelas sudah menghancurkan keluarganya sendiri demi kesenangannya" lanjut Ghani yang kini mengalihkan pandangannya pada mamanya.
Bu Rasti tersentak dengan ucapan putranya itu. Ternyata apa yang dikatakan oleh pak Farhan suaminya semua benar. Kini putranya bahkan juga mentertawakan kebodohannya. Percaya pada laki-laki yang hanya mementingkan keinginannya sendiri.
"Ghani kami melakukan semuanya ini karena kami menyayangimu dan tak ingin ada yang menyakiti hatimu!" seru pak Seno.
"Sayang? baru sekarang papa bilang sayang... kemana saja selama ini kalian hah? aku memang memilih tinggal di rumah kakek tapi itu karena aku tak ingin menyakiti hati salah satu diantara kalian karena mau bagaimana pun kalian terapa orangtuaku meski kalian juga telah menyakiti hatiku... tapi ternyata semua itu tidak cukup sebelum kalian benar-benar menghancurkan hidupku dengan membunuh wanita yang aku cintai!" balas Ghani.
Saat mereka tengah berseteru tiba-tiba terdengar sirine ambulans dan mobil polisi yang datang ke tempat itu. Tak lama tampak sebuah ambulans dan beberapa mobil polisi juga datang. Semuanya berhenti di depan ketiga orang itu yang berada di halaman rumah.
"Angkat tangan kalian bertiga! kami kemari untuk menangkap kalian berdua dan membawa Ghani kembali ke rumah sakit jiwa!" kata salah seorang polisi yang sudah berada di depan mereka.
"Anda pak Seno dan bu Rasti kami tangkap karena percobaan pembunuhan terhadap tuan Adam dan nyonya Jasmine!" terang polisi tadi.
"Apa maksudnya?" tanya bu Rasti.
"Ya tuan Adam dan nyonya Jasmine berhasil selamat dari kecelakaan itu setelah hanyut di disungai dan diselamatkan oleh penduduk sekitar...."
"Tapi dari mana kalian tahu jika kami yang mencoba membunuh mereka dan apa buktinya?" sergah pak Seno.
"Salah satu pelaku penabrak tuan Adam dan nyonya Jasmine sudah kami tangkap dan mengaku jika ia dan rekannya dibayar oleh kalian berdua untuk menabrak mobil mereka agar terlihat seperti kecelakaan biasa. Untung saja korban selamat dan bisa memberi keterangan jika mereka sengaja ditabrak hingga masuk ke dalam sungai. Dan pelaku berhasil kami identifikasi berkat cctv yang ada di sekitar TKP dan juga kamera yang ada di dashboard mobil tuan Adam" terang polisi itu panjang lebar membuat pak Seno dan bu Rasti tidak bisa berkutik.
Akhirnya sepasang mantan suami istri itu pun diborgol dan dimasukkan ke dalam mobil polisi. Sementara Ghani langsung hendak dimasukkan ke dalam ambulans untuk dibawa kembali ke rumah sakit jiwa. Tapi sebelumnya ia meminta izin pada petugas rumah sakit yang akan membawanya agar bisa bicara dengan salah satu petugas polisi disana.
"Pak polisi... bisakah saya meminta bantuan pada anda?"
__ADS_1
"Apa itu?"
"Bisakah anda memberitahu Jasmine untuk mau menemui saya sekali saja?" ucap Ghani penuh harap.
Ya dia sangat lega saat tadi polisi mengatakan jika Jasmine berhasil selamat. Ia pun ingin melihat sendiri keadaan Jasmine. Karena itulah ia meminta tolong agar bisa dipertemukan dengan Jasmine meski itu akan menjadi pertemuan terakhir mereka.
"Hemm... akan kami coba... sebab saat ini kemungkinan besar dia masih mengalami trauma akibat kecelakaan yang menimpanya..."
"Saya mengerti..." sahut Ghani lalu ia pun mengikuti petugas rumah sakit untuk masuk ke dalam ambulans.
Di rumah Adam terlihat suasana kembali ceria setelah kepulangan Adam dan Jasmine. Para mama pun tampak antusias membuatkan masakan kesukaan anak-anak mereka. Jasmine pun tampak membantu mamanya dan mama mertuanya saat mengolah masakan. Rasanya kebahagiaan sudah menghampiri keluarga mereka setelah beberapa hari dirundung raa sa cemas akibat kecelakaan yang menimpanya dan juga Adam.
"Kamu harus tahu sayang makanan kesukaan Adam... jadi nanti kamu bisa masakkannya sendiri untuk suamimu..." nasehat mama Sinta yang diangguki oleh mama Tika.
"Iya ma..." sahut Jasmine patuh.
Ketiga wanita beda usia itu tampak heboh bercerita seolah mereka teman dan bukannya besan dan mertua menantu. Adam yang masih di ruang kerjanya tampak sibuk mengurus perusahaannya meski dari rumah. Sesuai kesepakatannya dengan pihak kepolisian ia memang belum berangkat ke kantor. Bahkan hanya asisten dan sekretarisnya saja yang tahu jika ia sudah kembali ke rumah dengan selamat. Adam baru saja mematikan laptopnya saat terdengar suara ketukan di pintu ruang kerjanya.
"Masuk..." suruh Adam.
"Maaf Dear... ini sudah waktunya makan siang... lebih baik kita makan dulu..." kata Jasmine setelah ia membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Hemm... baiklah... lagi pula pekerjaanku sudah selesai..." sahut Adam.
"Apa tadi kau memasak dengan mama dan mama Tika?" tanya Adam saat keduanya berjalan ke ruang makan.
"Iya... mama Sinta bahkan mengajariku memasak makanan kesukaanmu..." terang Jasmine.
"Hemm.. jadi istriku ini sudah belajar jadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya rupamya..." goda Adam.
"Ish... apa sih... memang aku belum jadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya?" gerutu Jasmine yang membuat Adam tergelak.
"Ha...ha... ha... tentu saja tidak Honey... sejak kau resmi menjadi istriku... saat itu juga kau sudah menjadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya untukku meski kau bisa memasak atau tidak..." ujar Adam sambil mengecup bibir istrinya singkat.
__ADS_1
"Dear!" seru Jasmine sambil melotot karena tingkah suaminya yang asal nyosor dan tidak melihat tempat.
Untung saja mereka masih berada dilorong lantai atas sehingga tidak ada orang disana saat itu karena semua orang sedang berada di lantai bawah.