Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Akhir Penculikan


__ADS_3

Adam dan Ghani kini saling berhadapan. Keduanya langsung saling serang. Tak ada yang mau mengalah dari keduanya. Berkali-kali saling serang membuat wajah dan tubuh mereka memar dan bahkan terluka. Tampak sudut bibir Adam sobek dan mengeluarkan darah. Sedang Ghani keadaannya pun tak jauh beda dengan Adam. Wajahnya lebam akibat pukulan dari Adam. Di bawah pohon tampaknJasmine mulai sadar dari pingsannya.


Hal pertama yang dilihatnya saat kembali sadar adalah pertarungan yang terjadi antara Adam dan Ghani. Gadis itu tampak ketakutan. Apalagi keadaan kedua pria yang sedang bertarung itu tampak mengenaskan dengan beberapa luka yang bahkan tampak mengeluarkan darah. Jasmine juga melihat saat Ghani mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya saat Adam terlihat lengah.


Dari tempatnya Jasmine yang mulai berdiri dengan bersandar pada batang pohon yang ada dibelakangnya dapat melihat dengan jelas benda apa itu. Jasmine langsung membelalakkan matanya saat tahu jika Ghani kini tengah menggenggam sebuah pisau lipat. Kilatan pada pisau itu menampakkan betapa tajamnya benda yang sedang dibawa oleh Ghani itu.


Seketika Jasmine teringat dengan mimpi buruknya beberapa hari yang lalu. Saat ia melihat Adam tertusuk pisau oleh Ghani. Ingatan saat itu berputar dalam otak Jasmine. Tidak... ia tidak boleh membiarkan Adam terluka. Saat Ghani kembali melancarkan serangannya dengan menggunakan pisau lipat yang ada ditangannya tampak pemuda itu sangat percaya diri. Walau beberapa kali Adam sempat dapat mengelak namun tendangan terakhir Ghani membuat Adam sempat terhuyung kebelakang.


Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Ghani. Pemuda itu langsung mengarahkan senjatanya untuk menusuk Adam yang dalam keadaan tak siap. Jasmine yang melihat itu terkesiap dan berteriak memberi peringatan pada Adam.


"Tidaaakk..." teriak gadis itu histeris sehingga tanpa sadar ia pun berlari kearah keduanya dan menghadang Ghani dengan menggunakan tubuhnya.


Seketika pisau tajam itu pun menembus tubuh Jasmine.


"Aaarrghh...." teriak Jasmine saat merasakan sesuatu yang tajam menembus perutnya.


Seketika Ghani tertegun dan berdiri mematung ditempatnya. Sedangkan tubuh Jasmine langsung terhuyung ke belakang. Untung saja Adam sempat menangkap tubuhnya dan memeluk gadis itu dengan air mata yang mulai menetes.


"Tidaaak Jasmiiiinne!" teriak Adam saat melihat wajah pucat kekasihnya itu.


Mata Jasmine terpejam dan tubuhnya sama sekali tidak bergerak membuat Adam panik dan mengguncang tubuh itu dengan keras. Namun tak ada respon apapun. Tubuh gadis itu tetap saja diam. Ghani yang melihat Jasmine terluka dan tak bergerak seketika syok dan mulai meracau.


"Tidak! aku tidak ingin melukainya... aku mencintaimu Jasmine!" racaunya.


"Aku mencintaimu... tidaak! aku tidak membunuhmu... aku tidak ingin membunuhmu!" racau Ghani lagi menjatuhkan pisaunya dan meraup wajahnya kasar sambil menggelengkan kepalanya keras.

__ADS_1


Darah Jasmine yang menempel ditangannya kini menutupi wajahnya. Ghani pun mundur kebelakang dengan sempoyongan. Ghani tak menyangka jika Jasmine akan menggunakan dirinya untuk menyelamatkan Adam. Saat itulah polisi dan anak buah Adam datang. Para petugas polisi pun langsung memgamankan Ghani dan memborgol pemuda itu lalu menggiringnya ke dalam mobil polisi.


Anak buah Adam langsung membantu Adam membawa tubuh Jasmine yang sudah tak sadarkan diri masuk ke dalam mobil yang mereka bawa ke rumah sakit. Mama Tika yang melihat putrinya bersimbah darah langsung histeris dan berlari kearah mobil Adam dan ikut masuk untuk menemani putrinya itu.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit mama Tika yang duduk disebelah Adam memangku kaki Jasmine terus menangis. Sedang Adam hanya terdiam sambil terus memeluk tubuh kekasihnya itu. Sesekali ia mengusap wajah dan kepala Jasmine dengan lembut.


"Kau bertahanlah Jess!" bisik Adam di telinga Jasmine.


Butuh waktu sekitar lima belas menit hingga akhirnya mereka tiba didepan rumah sakit. Di sana sudah tampak tim dokter yang menunggu mereka. Begitu pintu mobil terbuka para petugas medis langsung memindahkan tubuh Jasmine ke atas brankar dan langsung membawanya ke ruang IGD. Mama Tika dan Adam pun mengekor di belakang mereka. Namun saat tiba di depan ruangan IGD keduanya dilarang masuk.


Masih dengan pakaian yang berlumuran darah Jasmine, Adam mondar mandir di depan ruangan IGD selama Jasmine mendapat tindakan dari dokter. Mama Tika sudah terduduk di bangku tunggu ditemani mama Sinta yang juga sudah sampai disana. Sedang Rian kembali ke rumahnya karena tak mungkin membawa Moci ke rumah sakit.


Anak buah Adam membawakan baju ganti agar pria itu tak lagi mengenakan bajunya yang kotor akibat terkena noda darah. Awalnya Adam enggan meninggalkan tempat itu khawatir jika tak menemui dokter saat mereka keluar dari ruang IGD. Namun setelah dibujuk oleh mamanya akhirnya ia pun menurut.


Adam baru kembali dari toilet saat dokter yang menangani Jasmine keluar dari ruang IGD. Dokter itu pun menerangkan jika luka yang dialami Jasmine cukup parah dan dalam. Untung saja mata pisau tak sampai mengenai organ vital gadis itu. Sehingga dapat diselamatkan meski harus mendapatkan beberapa jahitan.


Sementara dikantor polisi tampak Ghani sudah berada di ruang interogasi. Keadaan pemuda itu pun sudah mulai tenang meski masih diam dan sulit dimintai keterangan. Pakaiannya pun sudah berganti begitu juga tangannya yang sempat terkena darah Jasmine sudah dibersihkan. Bahkan keluarganya pun sudah diberi kabar oleh pihak kepolisian.


Saat kedua orangtua Ghani datang dengan pasangan baru mereka masing-masing tampak mereka saling menyalahkan saat polisi meminta keterangan dari mereka. Para petugas polisi bahkan harus memisahkan kedua orangtua Ghani saat ibu Ghani mulai membuat keributan. Setelah semua tenang akhirnya polisi mengijinkan kedua orangtua Ghani untuk menemui putranya itu.


Bukannya senang akan kehadiran orangtuanya, Ghani malah mengamuk dan membuat petugas yang berjaga menyuruh keduanya untuk keluar demi keselamatan mereka sendiri. Melihat keadaan Ghani yang tidak stabil membuat para petugas kepolisian akhirnya memutuskan untuk membawa Ghani menemui Spikiater. Berharap setelahnya mereka bisa mendapatkan keterangan dari Ghani tentang alasannya menculik Jasmine.


Setelah keadaan Jasmine mulai stabil akhirnya ia dipindahkan ke ruang perawatan biasa setelah dua hari berada ICU. Tampak Adam dan mama Tika setia menunggui Jasmine disana begitu juga dengan mama Sinta. Bahkan Rian juga sudah beberapa kali menjenguk namun Jasmine belum juga sadar.


Hari ini Rian berniat menjenguk Jasmine sambil membawa Moci. Ya ... kucing itu sepertinya merindukan Jasmine. Hingga beberapa hari terakhir kucing itu selalu mengeong resah saat di rumah Rian. Tapi kucing itu tak mau keluar kemana-mana seperti yang biasa ia lakukan seolah tahu jika Jasmine tak lagi berada di rumah Ghani. Karenanya Rian berniat menyelundupkan Moci ke rumah sakit.

__ADS_1


Dengan memasukkan Moci kedalam tas ranselnya yang telah usang dan terdapat lubang di bagian sampingnya ia pun membawa Moci ke rumah sakit. Dan rencana Rian berjalan lancar karena tak ada petugas disana yang mengetahui jika ia membawa Moci di dalam tas ranselnya. Setelah meminta izin pada Adam dan mama Tika yang berada di ruangan Jasmine, Rian pun mengeluarkan Moci dari dalam tas ranselnya.


Kucing itu pun langsung melompat kearah Jasmine dan bergelung di samping gadis yang sedang tidak sadarkan diri itu. Adam dan mama Tika yang melihatnya terlihat sangat tersentuh. Apa lagi saat kucing itu seperti mencoba untuk membangunkan Jasmine dengan menekan dada gadis itu perlahan dengan kaki depannya saat merasa jika gadis itu tak bereaksi saat ia bergelung disamping tubuhnya.


"Kasihan kau Moci... tuan putrimu masih belum sadar..." ujar Rian sambil mengelus kepala kucing itu.


Moci pun mengeong lirih seakan faham dengan ucapan pemiliknya itu. Adam pun ikut mendekat ke arah Jasmine dan berbisik ditelinga gadis itu.


"Cepatlah sadar sayang... lihatlah Moci pun sangat merindukanmu..." ucapnya lembut.


Mama Tika tak dapat lagi membendung air matanya. Gadis kesayangannya tampak pucat dengan selang infus yang mancap di pergelangan tangannya. Tiba-tiba terlihat pergerakan jari tangan Jasmine perlahan. Lalu mata gadis itu pun pelan-pelan terbuka.


"Mama..." panggilnya dengan suara lirih namun semua yang ada di dalam ruangan itu masih dapat mendengarnya dengan jelas.


"Jess..." panggil Adam dan mama Tika serentak.


Keduanya pun semakin mendekat ke arah gadis itu.


"Hei... puss ..." ucap Jasmine sambil tersenyum tipis saat menyadari Moci telah duduk di dekat dadanya.


Adam pun langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Jasmine yang baru saja sadar. Rian langsung menyembunyikan Moci saat dokter hendak meneriksa Jasmine.


"Syukurlah keadaan nona Jasmine sekarang sudah baik-baik saja... jika tidak ada masalah maka besok sudah bisa pulang... sedang lukanya bisa dengan rawat jalan" ungkap dokter yang merawat Jasmine.


Akhirnya mama Tika memutuskan untuk menyewa rumah di dekat rumah sakit selama Jasmine menjalani rawat jalan. Sedang untuk kuliah Jasmine ia sudah mengajukan cuti untuk putrinya itu sejak Jasmine diculik. Proses hukum terhadap Ghani pun ditangani oleh Adam melalui pengacara keluarganya. Sehingga mama Tika hanya fokus pada kesembuhan Jasmine dan menunggu di panggil pengadilan untuk menjadi saksi persidangan Ghani.

__ADS_1


Setelah keluar dari rumah sakit Jasmine langsung dibawa ke rumah kontrakan mama Tika yang tak jauh dari rumah sakit. Walau kecil namun tempat itu terlihat nyaman dan lagi disana ada petugas keamanan komplek yang membuat mama Tika merasa aman bersama Jasmine.


__ADS_2