Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Berbagi


__ADS_3

Mirna membelalakkan matanya dan menatap orang baru saja datang ke ruang perawatannya itu. Keringat dingin langsung mulai membasahi tubuhnya yang sudah bergetar. Rudi... ya Mirna mengenali pria itu yang kini datang menemuinya dengan santai. Tak tahukah ia bahwa Mirna sangat membencinya? Meski Rudi bukan salah satu dari orang yang sudah melecehkannya tapi pria itulah yang telah menyuruh para lelaki itu untuk melakukannya.


Dan Mirna masih ingat betul perkataan Rudi saat itu. Bahwa dirinya harus membayar perbuatan bu Nike pada keluarganya berpuluh tahun yang lalu. Rudi yang bertekad untuk meminta maaf pada Mirna pun langsung berlutut dihadapan wanita itu.


"Aku mohon maafkan aku Mirna... aku salah menjadikanmu alat untuk membalas semua perbuatan ibumu dimasa lalu..." ungkapnya tulus.


Bukannya tenang Mirna malah menjadi histeris dan berusaha melempari Rudi dengan benda apa pun yang ada disekitarnya. Bu Nike yang berusaha untuk menenangkan putrinya itu pun tidak dapat berbuat banyak karena Mirna semakin histeris.


"Rudi... lebih baik kamu pergi dari sini!" kata bu Nike yang sudah kewalahan menghadapi sikap Mirna yang terus mengamuk.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian! apa kamu tidak bisa lihat jika Mirna kembali histeris karena ada kamu?" potong bu Nike membuat Rudi terdiam.


"Aku mohon... kau jangan menemui putriku dulu! biarkan dia tenang..." terang bu Nike.


Rudi hanya bisa mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan Mirna dengan gontai. Sementara Mirna masih saja mengamuk meski Rudi sudah tak lagi berada disana. Suara teriakan Mirna pun terdengar oleh bu Dita yang baru saja selesai dari mushola. Dengan tergopoh-goboh wanita paruh baya itu berlari masuk ke ruangan Mirna. Disana tampak oleh bu Dita, Mirna yang sedang berusaha di tenangkan oleh seorang perawat dan juga bu Nike.


"Ada apa ini?" tanyanya pada bu Nike saat melihat keadaan Mirna yang kembali histeris.


Bu Nike hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pada bu Dita. Dengan cepat bu Dita menghampiri Mirna yang masih mengamuk dan langsung memeluk tubuhnya dengan erat.


"Tenanglah sayang... mama sudah ada disini..." ucapnya lembut masih memeluk erat tubuh Mirna.

__ADS_1


Mendengar suara bu Dita membuat tubuh Mirna melemah.


"Ma... ma..." ucapnya pelan.


"Iya sayang... mama disini..." bu Dita kembali menenangkan Mirna sambil mengelus punggung putrinya itu.


"Ba... wa... a... ku... per...gi... dari... si... ni... ma..." terdengar suara Mirna lirih dan terbata pada bu Dita.


"Iya sayang... mama akan membawa kamu pergi dari sini..." sahut bu Dita.


Mirna pun kembali tenang dan menyadarkan kepalanya di pundak bu Dita. Matanya kini mulai terpejam dan tak lama terdengar suara dengkuran halus yang menandakan jika wanita itu sudah tertidur. Bu Nike tampak syok melihat keadaan Mirna yang langsung histeris saat melihat Rudi. Dalam hatinya ia mengira jika Mirna mengenali Rudi sebagai orang yang telah menyuruh beberapa pria untuk melecehkan dirinya.


"Mungkin lebih baik aku membawa Mirna menjauh dari Rudi... agar putriku bisa cepat melupakan semua kejadian buruk yang sudah menimpanya..." batin bu Nike.


"Apa kau tahu kenapa Mirna bisa tiba-tiba kembali histeris?" tanya bu Dita langsung.


"A... aku juga tidak tahu mengapa Mirna tiba-tiba saja menjadi histeris..." jawab bu Nike berbohong.


Karena tidak mungkin ia mengakui jika Mirna histeris karena bertemu dengan Rudi orang yang membuat Mirna mengalami pelecehan. Bukan apa-apa... tapi bu Nike tidak ingin bu Dita melarangnya menemui putri kandungnya itu setelah apa yang sudah ia lakukan demi bisa bersama putrinya itu.


Bu Dita mendesah pelan. Meski ia merasa ada yang aneh namun ia tidak bisa sembarangan menduga tanpa ada bukti nyata. Bu Dita kembali mendekati Mirna. Melihat keadaannya sekarang akan sulit dibayangkan jika dulunya Mirna merupakan wanita angkuh yang segala keinginannya harus di penuhi. Wajahnya yang kini pucat tanpa make up terlihat lebih tirus ditambah lingkar hitam pada matanya membuatnya terlihat sangat menyedihkan.


"Mama akan membawamu pergi jauh dari kota ini sayang... dan mama harap dengan ini kau bisa melupakan semua yang sudah terjadi padamu dan bisa memulai hidup baru... meski pun mama tahu itu akan sangat sulit..." ucap bu Dita lirih sambil membelai rambut Mirna.

__ADS_1


Ucapan bu Dita meski lirih masih dapat didengar jelas oleh bu Nike yang berada di samping keduanya. Hati bu Nike langsung mencelos mendengar ucapan bi Dita tadi. Rasanya semakin tidak sebanding antara dirinya dan wanita baik itu. Ya bu Nike sadar jika dia masih egois dengan tidak menceritakan semua yang terjadi pada Mirna terutama tentang Rudi. Tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. Jika dia berterus terang sekarang maka bukan hanya tidak bisa kembali bersama putrinya tapi juga pak Bima pasti akan ikut menyeretnya ke penjara.


Karena bu Nike tahu bagaimana sifat pak Bima yang tidak mau seseorang menyakiti putrinya. Saat ini dia diam karena tak punya bukti apa pun ditambah Mirna yang selalu histeris. Jika ia jujur sekarang maka pak Bima bisa menuntutnya karena menyembunyikan pelaku kejahatan terhadap putrinya.


"Apa kau benar akan membawa Mirna pergi dari kota ini?" tanya bu Nike pada bu Dita.


"Ya... aku rasa itu satu-satunya cara agar Mirna bisa menghilangkan traumanya..." sahut bu Dita.


Bu Nike mengangguk pelan. Ia juga sebenarnya juga merencanakan hal itu. Tapi dalam rencananya dialah yang akan pergi bersama Mirna. Tapi lagi-lagi kenyataan menamparnya. Mirna hanya ingin pergi dengan bu Dita, wanita yang selama ini telah merawatnya dengan tulus. Bu Nike tersenyum perih... ternyata meski ia yang mengandung dan melahirkan Mirna tidak serta merta membuat Mirna bisa langsung menerimanya setelah ia tinggalkan sekian lama. Sungguh sekarang ia baru menyadari jika selama ini dirinya lah yang bodoh. Meninggalkan putrinya yang berharga demi harta dan cinta pria yang ternyata tak sekekal yang ia bayangkan.


Memang apa yang bisa diharapkannya dari pria yang sudah berkhianat pada istri dan juga putrinya sendiri selain juga kepahitan yang sama yang pernah ia torehkan pada anak dan istri pria itu sebelumnya. Kini meski sulit bu Nike akan berusaha meraih hati putrinya itu. Tidak masalah jika ia harus tetap berbagi dengan bu Dita. Karena kini dirinya hanya ingin putrinya Mirna juga bisa menyayanginya seperti dia menyayangi bu Dita.


"Apa aku boleh ikut dengan kalian?" tanya bu Nike hati-hati.


"Maksudnya?"


"Ya... bolehkah aku ikut kalian pergi... meski nanti kita tidak akan tinggal satu atap tapi setidaknya aku bisa tinggal berdekatan dengan putriku dan bisa ikut merawatnya...." terang bu Nike.


Bu Dita menghela nafasnya pelan. Ia tahu jika ia tak bisa melarang bu Nike untuk bisa dekat dengan putrinya.


"Tapi bagaimana dengan suamimu?"


"Kami akan segera berpisah..." sahut bu Nike.

__ADS_1


Bu Dita terdiam dengan pernyataan bu Nike. Ah... kenapa takdir keduanya bisa sama? sama-sama akan bercerai di saat Mirna dalam keadaan terpuruk. Mungkinkah ini pertanda jika dia harus berbagi merawat Mirna... karena walau bagaimana pun bu Nike adalah ibu kandungnya.


__ADS_2