
Pak Bima tampak bergegas menuju ruang perawatan Mirna. Tadi ia mendapatkan kabar dari pihak rumah sakit jika putrinya kembali histeris. Tapi alangkah leganya ia saat melihat Mirna yang tengah tertidur pulas. Di sana dia juga melihat bu Dita yang sedang berbincang dengan bu Nike. Kedua wanita itu bahkan tidak menyadari jika pak Bima berada disana.
"Ehemmm..." dehem pak Bima memberitahukan kehadirannya.
"Oh mas... kau sudah datang?" tanya bu Nike.
"Iya... baru saja..." sahut pak Bima sambil melirik ke arah bu Dita.
Namun wanita yang sebentar lagi akan menggugat cerai dirinya itu terlihat biasa malah seolah tak memganggap keberadaan pak Bima. Pak Bima menghela nafasnya pelan. Sepertinya bu Dita masih belum bisa bersikap ramah padanya. Bu Nike yang merasakan suasana canggung sejak kedatangan pak Bima pun memilih untuk menyingkir dengan alasan ingin ke toilet. Jadilah kini pak Bima dan bu Dita berdua dalam satu ruangan dengan Mirna yang masih tertidur.
"Ehemmm... sebenarnya apa yang sudah terjadi? kenapa Mirna bisa kembali histeris?" tanya pak Bima pada bu Dita mencoba mencairkan suasana.
"Aku tidak tahu... tanyakan saja pada Nike karena dia tadi yang berada bersama Mirna..." sahut bu Dita ketus.
"Jadi kau meninggalkan putri kita dengan wanita itu?" tanya pak Bima tak terima.
"Apa maksud kamu hah? apa kau fikir dengan merawatnya sejak kecil lantas aku bisa melarang ibu kandungnya menemani Mirna? dan apa aku juga tidak boleh beristirahat barang sejenak hingga kau seenaknya mau menyalahkan aku? sedang kau sendiri dimana seharian ini hah?" cerocos bu Dita yang kesal dengan perkataan pak Bima yang seolah menyalahkannya karena membiarkan Mirna bersama bu Nike.
Pak Bima langsung terdiam saat mendengar perkataan bu Dita. Memang benar seharusnya ia tidak begitu saja menyalahkan bu Dita karena Mirna yang kembali histeris.
"Maaf... aku hanya terbawa emosi saat mendengar Mirna kembali histeris..." kata pak Bima sambil menunduk.
Bu Dita hanya diam dan tak menanggapi semua perkataan pak Bima. Baginya semua perkataan pria itu sudah tidak ada artinya lagi baginya karena sudah bosan dengan segala ucapan maaf yang keluar dari mulut pria itu. Karena yang sudah-sudah pria itu akan selalu saja egois yang hanya menginginkan semua perkataan dan keinginannya di penuhi. Dan perkataan maafnya hanya akan seperti kapas yang tertiup angin dan menghilang dengan cepat. Persis seperti Mirna dulu.
Suasana kembali sunyi karena kedua orang itu tidak lagi mau saling bicara. Hingga bu Nike kembali ke dalam ruangan suasana disana masih tetap sama.
"Eugh.... ma... mama..." terdengar suara Mirna yang mencari bu Dita.
Dengan segera wanita itu mendekat ke arah Mirna.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" tanyanya lembut.
"Aku haus ma..." ucap Mirna lirih.
"Ini sayang... minumlah..." kata bu Dita sambil mengangsurkan minuman dalam gelas.
Mirna pun langsung meneguk air minum itu dengan pelan. Setelahnya wanita itu meminta mamanya untuk menyuapinya karena ia merasa lapar. Dengan telaten bu Dita pun menyuapi Mirna. Semua itu diperhatikan oleh pak Bima dan bu Nike yang notabene orangtua kandung Mirna. Namun kenyataannya putri mereka tak bisa sedekat itu dengan keduanya. Rasa bersalah dan juga malu kini bersarang dihati kedua orang paruh baya itu.
"Sudah ma..." ucap Mirna saat ia sudah merasa kenyang.
Bu Dita hanya mengangguk dan tersenyum karena Mirna sudah hampir menghabiskan makanan yang disediakan. Itu hal yang sangat bagus mengingat beberapa waktu terakhir Mirna hanya bisa makan beberapa suap saja itu pun dengan sedikit dipaksa.
"Papa..." panggil Mirna saat melihat papanya berada diruang perawatannya.
"Iya sayang?"
"Aku ingin pulang..." ucap Mirna.
Mirna mendesah pelan... sesungguhnya ia takut jika ia masih di rumah sakit maka Rudi akan kembali mencoba menemuinya lagi. Sedang dia sudah tidak mau lagi berurusan dengan pemuda itu. Meski mencoba untuk memaafkan tapi dalam hatinya ia tak ingin melihat wajah pemuda itu ada dihadapannya. Karena itu akan mengingatkannya lagi pada malam kelam yang ingin ia lupakan.
"Tenanglah sayang... jika kau mau makan dan minum obatmu dengan teratur, mama yakin tidak lama lagi dokter pasti mengizinkanmu pulang..." bujuk bu Dita.
Mirna pun menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti membuat bu Dita tersenyum lega. Sementara Rudi yang sudah kembali ke kantornya setelah diusir dari rumah sakit menjadi tidak berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
"Arrghh!" serunya sambil mengusak kepalanya karena merasa jika kepalanya seakan mau pecah.
Tidak dapat ia pungkiri jika rasa bersalah itu sudah membuat hidupnya tidak tenang. Saat ia membayangkan wajah ketakutan dan marah yang ditunjukkan oleh Mirna tadi tidak urung membuatnya teringat kembali dengan bayangan masa lalunya ketika ia melihat ibunya yang persis sama seperti Mirna saat depresi. Tak dapat dibayangkannya jika nasib Mirna sama seperti ibunya yang mati karena tertabrak saat depresi. Jika hal itu benar terjadi maka Rudi tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Mungkin benar jika untuk sementara aku tidak menampakkan diri dihadapan wanita itu..." batin Rudi.
__ADS_1
Kemudian terlintas sebuah ide dalam benaknya untuk menyuruh seseorang untuk mengawasi Mirna selama dirinya belum bisa berada di dekat wanita itu. Rudi tersenyum kemudian segera menghubungi seseorang untuk melaksanakan perintahnya.
Di sisi lain Jasmine tengah merasakan tidak enak badan. Sedari pagi ia merasa jika tubuhnya seperti remuk dan tidak berdaya. Bahkan ia tidak sanggup untuk menjaga putranya yang sangat aktif. Untung saja meski ia tidak memiliki pengasuh untuk putranya namun para Art yang ada di rumahnya juga cukup membantunya menjaga Aby. Secara bergantian mereka menjaga anak majikannya itu. Sehingga seharian ini Jasmine hanya tiduran di dalam kamarnya. Saat makan siang Adam yang seakan mendapatkan firasat pun pulang ke rumah dan mendapati jika putranya itu tengah bermain dengan salah satu Artnya di ruang tengah.
Saat ia menanyakan dimana Jasmine sang Art pun mengatakan jika Jasmine sedarin pagi berada di dalam kamar karena tidak enak badan. Mendengar itu Adam pun langsung menemui Jasmine di dalam kamar.
"Honey... kamu kenapa?" tanyanya pada Jasmine saat ia melihat istrinya itu tengah bergelung diatas tempat tidur.
Jasmine melenguh pelan dan membuka matanya. Saat melihat suaminya ada dihadapannya ia pun berusaha untuk bangun dari tidurnya.
"Entahlah Dear... sejak pagi badanku rasanya tidak nyaman..." ungkapnya lirih.
"Kita ke dokter saja ya?" bujuk Adam yang tidak tega saat melihat Jasmine yang pucat dan lemah.
Jasmine hanya bisa mengangguk lemah dengan usulan suaminya karena rasanya ia sudah tidak punya tenaga untuk menolak keinginan Adam. Lagi pula ia memang merasa jika ia benar-benar sudah tidak kuat dengan rasa tubuhnya yang tidak enak.
"Aby dimana Dear?" tanya Jasmine yang khawatir pada putranya yang sejak pagi tidak dalam pengawasannya.
"Dia dengan bi Asih... sedang bermain..." terang Adam yang membuat hati Jasmine lega.
Dengan hati-hati Adam menuntun Jasmine untuk dibawa ke rumah sakit. Aby yang melihat kedua orangtuanya turun dari lantai atas langsung berjalan tertatih menuju ke arah keduanya sambil mengoceh memanggil mamanya.
"Ma... ma!"
"Sayang..." sahut Jasmine sambil merentangkan tangannya menyambut putranya.
"Honey kau masih lemah... biar Aby dengan bi Asih dulu..." kata Raja saat melihat istrinya yang siap mengendong Aby.
"Tapi Dear..."
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian... sekarang kita ke dokter untuk memeriksakanmu, biar Aby bersama bi Asih!" ucap Adam tegas.
Untung saja setelah mendapatkan pelukan dari Jasmine bocah itu langsung tenang saat diambil alih oleh bi Asih. Sehingga Adam bisa membawa Jasmine ke rumah sakit dengan tenang. Walau begitu sebelum menjalankan mobilnya Adam sempat menghubungi mama dan mama mertuanya jika ia akan membawa Jasmine ke rumah sakit hingga keduanya pun berniat untuk segera pulang untuk menjaga cucu mereka.