
Saat ini Rudi tengah duduk berhadapan dengan Adam. Rudi memang bekerja di perusahaan Adam dan dia cukup dekat dengan atasannya itu sehingga ia yang hidup sebatangkara merasa seperti memiliki kakak karena sikap Adam yang sangat baik padanya. Dan karena itulah akhirnya ia mendapat bantuan dari pria itu untuk bisa melacak keberadaan bu Nike. Dan saat Adam tahu jika bu Nike ibu dari Mirna membuatnya mau membantu pemuda itu untuk balas dendam.
"Maafkan saya pak... saya tidak jadi menghukum wanita itu seperti yang sudah saya katakan sebelumnya..." ucap Rudi yang merasa jika tuannya itu akan marah pada perbuatannya.
"Jangan merasa bersalah padaku... seharusnya jika kau merasa bersalah lebih baik kau tujukan pada wanita itu... aku tahu aku juga sempat emosi dan malah menyuruhmu untuk melakukan lebih... tapi untungnya kau tidak jadi melakukannya..." sahut Adam yang membuat Rudi merasa lega.
Ia tahu jika atasannya itu termasuk orang yang cukup lembut hati dibanding para pebisnis lainnya. Tapi jika menyangkut keluarga apa lagi istrinya maka ia akan berubah 180 derajat.
"Kalau begitu lanjutkan apa yang ingin kau lakukan pada wanita itu untuk mengurangi traumanya... tapi jangan sampai mengganggu kinerjamu di perusahaan saya..."
"Baik pak..." sahut Rudi mantap.
Sementara pak Bima kini tengah mencari keberadaan putrinya yang ternyata tidak pulang ke rumah sejak semalam. Ya sejak tersadar dari mabuk dan mendapatkan laporan jika putrinya Mirna belum pulang ke rumah dari para pekerjanya di rumah membuat pak Bima mulai merasa cemas. Apa lagi saat menanyakan pada beberapa teman Mirna yang ia ketahui, bahwa tak satu pun diantara mereka yang pulang bersama putrinya itu setelah dari pesta yang mereka hadiri bersama.
Ada rasa menyesal di hati pak Bima yang terlalu larut melampiaskan kekesalannya karena kasus perceraiannya dengan bu Dita ia jadi melupakan keberadaan putri semata wayangnya itu. Meski sudah dewasa tetap saja pak Bima khawatir jika putrinya tidak memberinya kabar. Pak Bima memang tidak mengetahui sifat putrinya yang terlalu bebas karena wanita itu selalu saja memberi kabar pada ayahnya itu meski dengan berbohong sebagai alasannya. Agar ayahnya itu tidak mengetahui kebobrokannya.
Saat tengah mengemudikan mobilnya di jalan tidak sengaja ia melihat bu Nike tengah turun dari taksi di depan sebuah rumah sakit. Tampak wanita itu juga membawa koper pakaian.
__ADS_1
"Siapa yang sakit dan dirawat di situ ya?" batin pak Bima.
Jika yang dirawat itu pak Pambudi rasanya tidak mungkin karena semalam ia sempat melihat pria itu di pesta yang juga ia hadiri bersama putrinya. Karena penasaran ia pun mengikuti bu Nike masuk ke dalam rumah sakit setelah ia memarkirkan mobilnya. Beruntung bu Nike tidak langsung menuju ruang perawatan karena ia masih harus mengurus administasi di meja resepsionis. Meski Rudi bersedia menanggung semua biaya tapi bu Nike tidak ingin menerimanya sehingga ia langsung membayar dengan uang yang ia miliki sekarang.
Setelah urusan administrasi selesai ia pun menuju ruang perawatan Mirna. Bu Nike tidak menyadari jika sedari tadi pak Bima sudah mengikutinya. Bahkan pria itu juga sempat mendengar jika yang dirawat di rumah sakit itu adalah putrinya Mirna. Rasanya ia ingin langsung menanyakannya pada bu Nike tapi pria paruh baya itu masih menahan diri dan hanya mengikuti bu Nike sampai ke ruangan Mirna.
Bu Nike masuk ke ruang perawatan Mirna. Di sana Mirna sudah terlihat sadar dan masih ditemani seorang perawat. Meski sudah tidak histeris dan mengamuk namun wajah wanita itu tampak pucat dengan pandangan kosong menatap langit-langit. Melihat keberadaan putrinya yang dalam keadaan menyedihkan di dalam ruangan membuat pak Bima langsung menerobos ke dalam.
"Apa yang sudah terjadi pada putriku Nike?" tanyanya dengan suara sedikit keras.
"Kita bicarakan di depan mas..." kata bu Nike sambil menarik tangan pak Bima keluar dari ruang perawatan Mirna.
"Katakan... apa yang sudah terjadi pada putriku!" sergah pak Bima begitu keduanya berada diluar.
"Mirna mengalami pelecehan mas... tapi belum sampai dip**k**a... aku yang menemukannya dan membawanya kemari..." terang bu Nike tak sepenuhnya jujur.
"Apa? bagaimana bisa?" seru pak Adi tak percaya dengan apa yang sudah terjadi pada putrinya itu.
__ADS_1
"Apa kau tahu siapa pelakunya?" tanya pak Bima.
Bu Nike hanya menggeleng... ia tak berbohong memang tak mengenal para pria itu... tapi ia juga tidak jujur jika ia tahu siapa otak dari peristiwa yang menimpa Mirna. Bukan apa-apa... ia hanya tak ingin dosa masa lalunya juga terungkap karena ia tak ingin masuk penjara dan tidak bisa merawat putrinya yang menjadi korban karena dosanya di masa lalu. Mungkin ia dianggap pengecut dan egois karena tak mau jujur mengakui semuanya, tapi ia hanya ingin menebus kesalahannya pada Mirna putrinya dengan merawatnya hingga sembuh.
"Ayo ikut aku ke kantor polisi... kita buat laporan atas kasus ini" kata pak Bima berapi-api.
Ia tak terima jika putrinya mendapatkan perlakuan yang keji. Namun bu Nike tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Membuat pak Bima tak mengerti dengan sikap bu Nike dan memandang wanita yang ada dihadapannya itu dengan kening yang berkerut.
"Kenapa kau tidak mau ikut denganku ke kantor polisi hah?"
"Bukan begitu mas... aku hanya memikirkan nama baik Mirna itu saja... apa kau sudah fikirkan apa yang akan dikatakan oleh orang-orang jika mereka tahu apa yang sudah menimpanya? sebagian orang mungkin akan iba dan mendukungnya... tapi tidak yang lain... pasti akan ada orang yang malah akan menghinanya apa lagi kita tahu sikap Mirna selama ini... pasti akan ada yang tidak menyukainya... dan ini pasti akan membuat mereka justru merendahkannya... apa mas mau itu terjadi padanya?" terang bu Nike panjang lebar.
Pak Bima mendengus kesal... tapi ia juga membenarkan perkataan bu Nike. Sifat putrinya yang selama ini angkuh dan seenaknya sendiri pasti membuat beberapa orang sakit hati dan dendam pada Mirna. Mungkin saja orang-orang itu justru bersorak saat tahu Mirna sedang terpuruk.
"Baiklah... kau benar... saat ini kita fokus untuk kesembuhan Mirna..." ucap pak Bima akhirnya.
Bu Nike langsung merasa lega dengan keputusan pak Bima tersebut. Keduanya pun langsung kembali ke ruang perawatan Mirna untuk menjaganya.
__ADS_1