
Setelah puas berjalan-jalan di tepi danau keduanya pun memutuskan untuk kembali ke villa karena haris sudah mulai siang. Saat keduanya melangkah pergi orang yang sedari tadi mengikuti keduanya pun ikut pergi dari tempat itu. Bukan untuk mengikuti kembali keduanya tapi untuk bertemu langsung dengan orang yang telah menyuruhnya. Dengan mengendarai mobilnya pria itu menuju ke tempat dimana ia dan majikannya akan bertemu.
Bukan restoran atau tempat lain yang biasa digunakan untuk pertemuan. Pria itu memacu mobilnya menuju sebuah pondok tua yang terletak di pinggir sebuah hutan tak jauh dari danau tadi. Tampak olehnya jika orang yang menyuruhnya sudah datang terlebih dahulu ke tempat itu. Seorang wanita dan pria paruh baya tampak berdiri di samping sebuah mobil yang terparkir di depan pondok.
"Bagaimana? apa kau tahu kapan mereka berdua akan meninggalkan villa itu?" tanya sang pria.
"Sepertinya mereka akan disini selama satu minggu tuan... jadi kemungkinan mereka akan pergi lima hari lagi..."
"Bagus... kau awasi terus keduanya jangan sampai lengah!" titah sang wanita sambil mengeluarkan sebuah amplop tebal dari dalam tas tangannya lalu memberikannya pada orang suruhannya itu.
"Ini bayaranmu untuk saat ini... nanti jika semua sudah selesai akan kupastikan kau akan mendapatkan sisanya ditambah dengan bonusnya" sambungnya.
Orang itu tersenyum sambil mencium amplop coklat yang ternyata berisi uang itu.
"Terima kasih nyonya... saya pasti akan melaksanakan tugas saya dengan baik..." ujar pria itu lalu memasukkan amplop berisi uang itu ke dalam saku dalam jaketnya.
Tanpa berkata lagi pria itu langsung kembali ke dalam mobilnya dan melajukannya ke arah villa Adam. Sepeninggalnya pria suruhan mereka, kedua pria dan wanita itu pun masuk ke dalam mobil mereka.
"Sebentar lagi dendam kita akan terbalas... setelah itu aku tidak mau lagi bertemu atau berhubungan lagi denganmu mas" kata sang wanita.
"Baik aku setuju... tapi kau juga harus ingat kalau kau masih mengijinkanku untuk menemui anakku..." sahut sang pria.
"Tentu... asal kau atur jadwalnya jangan sampai bertepatan dengan jadwal kunjunganku!"
"Ya... ya... ya... baiklah" sahut pria itu sedikit jengkel.
Mereka pun lalu meniggalkan tempat itu menuju ke arah kota. Sesampainya di sana sang pria menurunkan wanitanya di depan sebuah mall. Tampak wanita itu langsung berlalu setelah keluar dari dalam mobil. Pria paruh baya itu pun mendengus kesal.
__ADS_1
"Ck... dari dulu kau tidak pernah berubah Rasti" sungutnya.
Sementara wanita bernama Rasti langsung masuk ke dalam mall untuk menemui teman sosialitanya. Dalam hatinya jika bukan karena ingin membalaskan sakit hatinya pada Adam dan Jasmine mana mungkin ia mau bertemu dan bekerja sama dengan mantan suaminya itu. Jika bukan karena suami barunya yang tak mau membantu membalas sakit hatinya maka ia tak akan pernah mau.
"Ghani... sabar sayang sebentar lagi sepasang manusia yang telah membuatmu mendekam dalam rumah sakit jiwa akan mendapatkan balasan atas perbuatan mereka padamu..." batin Rasti sambil terus berjalan menuju kafe tempatnya berjanji bertemu dengan teman-temannya itu.
Saat bertemu dengan teman-temannya Rasti tampak menahan emosinya dan berusaha terlihat bahagia agar tak satu pun diantara temannya yang tahu jika kini putranya berada di rumah sakit jiwa. Bisa-bisa ia akan jadi bahan cibiran lagi setelah hampir sepuluh tahun tak dikaruniai keturunan dengan suami barunya itu. Untung saja dulu ia sudah memiliki Ghani pada pernikahan pertamanya jika tidak maka ia pasti sudah ditendang oleh keluarga suaminya karena dianggap mandul.
Sementara mantan suami Rasti tampak memasuki rumahnya. Ia ingin menemui istri barunya yang masih berusia muda. Saat ia memasuki kamarnya betapa terkejutnya ia saat mendapati istrinya itu tengah berbuat mesum dengan pria lain yang masih seusia dengan istrinya itu. Tanpa babibu Seno langsung melayangkan bogem mentahnya pada pria selingkuhan istrinya itu. Melihat pasangan selingkuhnya babak belur oleh Seno wanita yang masih dalam keadaan tanpa busana itu hanya bisa menjerit histeris. Setelah pria itu pingsan Seno beralih pada istrinya.
"Berani sekali kau berselingkuh di rumahku!" bentak Seno sambil menjambak rambut Winda istrinya.
"Ma... maafkan aku mas..." ucap Winda sambil menahan sakit dikepalanya karena Seno masih menjambak rambutnya.
"Maaf? maaf kau bilang? bukankah aku sydah katakan jika sampai kau mengkhianatiku maka nyawamu sebagai bayarannya!" sergah Seno.
Tapi Seno sama sekali tidak menghiraukan ucapan Winda. Pria itu terus menyeret tubuh polos istrinya hingga keluar dari dalam kamar dan mendorongnya dari atas tangga hingga wanita itu jatuh terguling dan pingsan diujung tangga. Bukannya menolong pria itu malah memanggil anak buahnya untuk membawa tubuh Winda dan selingkuhannya ke tempat rahasianya. Tampaknya Seno belum puas untuk menyiksa kedua orang itu sebelum nanti akhirnya ia akan menghabisi keduanya.
Kemarahan Seno tidak dapat dibendung. Ia yang masih memikirkan balas dendam pada orang yang telah menyebabkan putranya masuk rumah sakit jika kini harus dihadapkan pada kenyataan jika istrinya berselingkuh di depan matanya dan didalam kamarnya pula. Saat dalam perjalanan menuju tempat rahasianya ia teringat dengan masa lalunya dengan mantan istrinya Rasti.
Saat itu Ghani baru berusia tujuh belas tahun saat Rasti memergoki Seno suaminya tidur dengan wanita lain dikamar mereka saat Rasti tengah pulang ke rumah orangtuanya karena harus merawat ibunya yang sedang sakit. Hari itu Rasti sengaja pulang tanpa memberitahu pada Seno sebagai kejutan saat ibunya sudah sembuh. Namun pemandangan yang sangat menyakitkan hati justru yang menyambutnya di rumah. Bukan hanya perselingkuhan yang membuat Rasti langsung menggugat cerai suaminya itu. Tapi wanita yang tidur dengan suaminya itu adalah Art nya yang baru datang dari kampung.
Padahal Rasti memperlakukan wanita itu seperti putrinya sendiri karena ia tak memiliki seorang putri. Namun ternyata wajah polosnya cuma kamuflase untuk menjerat majikannya. Dan kini Seno baru menyadarinya. Ya istrinya itu adalah Winda Art yang dulu menjadi selingkuhannya saat menikah dengan Rasti.
Kembali ke masa sekarang...
Nasi sudah menjadi bubur untung saja selama pernikahannya dengan Winda wanita itu tidak memberinya keturunan. Jadi ia bisa menyingkirkan wanita itu tanpa harus memikirkan anak diantara mereka. Winda yang kini sudah diikat bersama selingkuhannya tampak masih berusaha untuk memohon agar Seno mau memaafkannya.
__ADS_1
"Mas... aku mohon... maafkan aku" rintihnya.
Seno hanya diam dan menatap Winda dengan datar. Sementara selingkuhan Winda mulai membuka matanya. Wajahnya yang babak belur akibat pukulan Seno membuat pria itu sedikit kesusahan untuk melihat.
"Maaf... tuan... saya tidak tahu jika wanita itu punya suami...." elak pria itu berusaha untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.
"Ha... ha... ha... kau fikir aku bodoh hah? kau fikir bisa menyelamatkan nyawamu hanya dengan bicara seperti itu? meski pun itu benar... tetap saja kau harus membayarnya dengan nyawamu!" seru Seno.
Pria itu kemudian memberikan kode kepada anak buahnya. Dengan segera anak buah Seno langsung menyeret pria itu dan membawanya ke sebuah ruangan. Winda yang masih duduk terikat di kursinya hanya bisa mendengar jeritan pria yang jadi selingkuhannya itu. Entah berapa lama Winda mendengar suara-suara yang mengerikan itu hingga akhirnya tak lagi terdengar. Tak lama anak buah Seno keluar dari ruangan tadi tubuh mereka terlihat penuh dengan noda darah membuat Winda langsung bergetar karena ngeri.
Kemudian tampak anak buah Seno yang lain membawa karung yang dari dalamnya meneteskan cairan yang ketika Winda amati itu adalah darah. Ia yakin jika isi karung itu adalah tubuh selingkuhannya yang sudah tewas. Winda semakin ketakutan. Pria selingkuhannya itu pasti mendapatkan siksaan yang sangat mengerikan hingga meregang nyawa.
"Mas... tolong ampuni aku..." ucapnya kembali mencoba untuk memohon ampunan dari Seno.
Seno hanya tersenyum tipis sebagai jawabannya. Lalu ia pun menoleh ke arah anak buahnya.
"Bawa wanita j*l**g itu ke tempat biasa... biarkan ia membayar dosanya dengan tubuhnya... jika sudah selesai kuburkan bersama yang lain!" perintahnya pada anak buahnya.
"Apa maksud kamu mas? akan kau apakan aku?" tanya Winda mulai panik saat anak buah Seno menyeretnya dengan tubuh yang hanya berbalut kain.
Wanita itu mulai meronta dan menjerit meminta agar dilepaskan namun tenaganya tak seberapa dengan para anak buah Seno. Winda pun kembali dimasukkan ke dalam mobil dengan paksa lalu ia pun dibawa ke suatu tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ternyata Winda dibawa ke tempat prostitusi yang berada dalam kekuasaan Seno. Dan dia mulai sekarang harus bekerja disana sebagai budak untuk melayani para pria hidung belang.
Winda tak menyangka jika bisnis yang selama ini dilakukan oleh Seno adalah bisnis haram termasuk prostitusi. Rasanya ia menyesal telah mengenal Seno. Pantas saja pria itu dengan mudah masuk dalam jeratnya berselingkuh saat bersama istri pertamanya. Ternyata bukan pria itu yang terjerat tapi Windalah yang kini terjerat dalam lingkaran kejahatan Seno.
Saat berselingkuh ia hanya berfikir jika ia hanya akan kehilangan harta yang selama ini diincarnya. Tak pernah ia bayangkan jika ia sudah berurusan dengan monster. Dan parahnya ia melakukan kesalahan yang sangat besar hingga kini ia harus menanggung akibatnya. Menjadi budak di tempat terkutuk itu tanpa mempunyai kesempatan untuk bisa bebas.
Sementara Seno tengah menghabiskan waktunya di club malam yang juga miliknya bersama wanita panggilan pilihannya. Jika club yang didatangi Seno merupakan club elit, lain dengan tempat dimana Winda kini berada. Tempat wanita itu kini adalah tempat prostitusi yang melayani pelanggan yang biasa berbuat kasar pada wanita para penghiburnya. Ya Seno ingin wanita itu menderita melayani pelanggan yang rata-rata suka bersikap kasar dan mati didalam tempat itu.
__ADS_1