
Keadaan Mirna semakin tenang setelah dokter kembali menyuntiknya dengan obat penenang setelah tadi wanita itu kembali terbangun dan histeris. Bu Nike yang semula ingin pulang sebentar akhirnya mengurungkan niatnya. Kini hanya Mirna yang jadi prioritas utamanya. Ia tak lagi perduli jika nanti rumah tangganya dengan pak Pambudi juga harus berakhir karena ia lebih memilih merawat putrinya itu. Rasa bersalah dan menyesal yang sangat tinggi pada putrinya yang harus menerima balasan akibat dosanya di masa lalu membuatnya tak lagi berfikir egois. Ia hanya ingin Mirna bisa sembuh dari traumanya dan kembali menjalani hidupnya dengan baik.
Rudi yang juga tak beranjak dari kamar perawatan Mirna pun merasakan hal yang sama. Rasa sesal karena telah dibutakan oleh dendam hingga membuatnya menjadi pria kejam membuat Rudi tak ingin lari dari tanggung jawabnya untuk membuat Mirna kembali seperti sedia kala. Saat Mirna sudah tertidur pulas karena pemgaruh obat penenang yang disuntikkanoleh dokter membuat bu Nike berani meninggalkan putrinya itu untuk pulang ke rumah untuk mengganti baju dan juga memberi penjelasan pada suaminya agar ia bisa merawat Mirna dengan tenang. Itu ia lakukan karena Rudi sudah terlebih dahulu pulang karena ia juga harus berangkat ke kantor. Bu Nike meminta perawat untuk menjaga putrinya sementara ia pulang, karena bu Nike lebih nyaman jika putrinya itu dijaga oleh perawat dari pada harus dengan Rudi.
Saat sampai di rumahnya bu Nike langsung di sambut dengan tatapan tajam dari suaminya. Pak Pambudi tampak marah saat tahu jika bu Nike meninggalkan pesta tanpa meminta izin terlebih dahulu darinya. Apa lagi wanita itu bahkan tidak pulang ke rumah dan baru pagi ini ia menampakkan batang hidungnya.
"Dari mana saja kau dari semalam hah?" tanya pak Pambudi dengan suara dingin.
"Aku menemani temanku di rumah sakit... kami kecelakaan saat akan pulang dari pesta semalam..." terang bu Nike dengan sedikit berbohong dengan mengatakan menemani temannya bukannya putri kandungnya.
"Lalu kenapa kau pergi tanpa memberitahuku dulu?"
"Untuk apa? bukannya kau sedang sibuk mengawasi mantan istrimu itu heh?" balas bu Nike yang teringat kejadian semalam saat suaminya tak mengalihkan pandangannya dari mantan istrinya itu.
Setelah mengucapkan itu bu Nike langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia harus segera membersihkan diri agar bisa segera kembali ke rumah sakit. Pak Pambudi tampak terdiam dengan ucapan bu Nike tadi hingga ia pun membiarkan istrinya itu masuk ke dalam kamar. Di dalam kamarnya bu Nike langsung melepas pakaiannya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana ia memandang wajahnya pada cermin yang ada di sana.
"Tuhan... kenapa karmamu begitu menyakitkan?" ucapnya lirih dengan berderai air mata.
Ia meremas dadanya yang sakit saat bayangan memilukan tentang Mirna terlintas kembali di dalam fikirannya. Segera ia menghapus air mata yang sempat lolos dari kelopak matanya dengan punggung tangannya.
__ADS_1
"Kau harus kuat Nike... demi putrimu... kini dia hartamu yang paling berharga..." ucapnya pada pantulan bayangannya di cermin.
Dengan cepat ia membersihkan tubuhnya agar kembali segar. Setelah itu ia pun segera keluar dari dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Sebelum kembali ke rumah sakit bu Nike ingin menyelesaikan masalahnya dengan pak Pambudi. Terserah jika akhirnya pria itu memutuskan untuk mengakhiri pernikahan mereka... bu Nike sudah tidak perduli. Ia tidak lagi takut akan hidup sendiri dan miskin karena ada Mirna dan juga berbagai aset yang sudah ia kumpulkan selama ia menjadi istri pak Pambudi. Meski tidak banyak hanya berupa beberapa perhiasan dan juga tanah atas namanya yang bisa ia jual jika benar ia jadi berpisah dengan suaminya itu.
Mungkin terdengar licik. Tapi ia anggap itu adalah harta goni gininya selama menjadi istri pak Pambudi. Karena ia yakin jika suaminya itu tidak akan memberinya harta karena ia tak memiliki keturunan saat menikah dengan pria itu jika benar mereka bercerai. Saat bu Nike mencari keberadaan suaminya itu ternyata pria itu tengah berada di ruang makan. Bu Nike pun langsung menghampirinya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu mas..."
"Apa?"
"Aku akan mengaku jika gadis kemarin itu memang putriku..." kata bu Nike tenang.
Pak Pambudi langsung mendengus. Ia sudah menduga sebelumnya jika istrinya itu memang sudah berbohong saat tidak mengakui wanita bernama Mirna itu yang datang pada mereka beberapa hari yang lalu.
"Tidak perlu jika kau tidak mau... tapi izinkan aku untuk tetap bisa menemuinya setiap waktu..."
"Enak saja... apa kau tidak ingat? dulu kau sudah melarangku untuk menemui putriku... lalu kenapa sekarang aku harus mengizinkanmu?"
"Karena putriku sedang sakit mas..." terang bu Nike mencoba memberi pengertian pada suaminya itu.
__ADS_1
"Sakit? kalau sakit biarkan bapaknya yang mengurus... kau sudah terlambat jika sekarang memberi perhatian pada putrimu itu... lagi pula dia juga sudah dewasa bukan balita yang masih harus diurus orangtuanya jika sakit"
"Tapi dia sakit parah mas..."
"Aku tidak perduli... dan jika kau nekat maka lebih baik kau keluar dari rumah ini dan aku ceraikan sekarang juga!" ancam pak Pambudi.
"Baiklah jika itu maumu mas..." sahut bu Nike.
Lalu ia pun kembali ke dalam kamarnya dan segera mengemas barang-barang miliknya termasuk semua perhiasan dan surat berharga miliknya. Ya... bu Nike telah mantap untuk lebih memilih putrinya dari pada pak Pambudi. Sudah cukup selama ini ia bodoh dan diperbudak oleh keinginan hidup nyaman dalam kemewahan meski harus berbuat keji dan meninggalkan putrinya. Meski apa yang ia bawa saat ini tidak seberapa tapi cukup untuknya memulai hidup baru dengan putrinya Mirna.
"Kau mau kemana?" tanya pak Pambudi saat melihat bu Nike keluar sambil menyeret koper kecilnya.
Bu Nike memang segaja hanya membawa dua lembar pakaian untuk menutupi perhiasan dan surat berharganya agar tidak diketahui oleh pak Pambudi. Ia juga tak membawa semua perhiasannya hanya perhiasan lama yang mungkin sudah dilupakan oleh suaminya bahwa ia pernah memberikan perhiasan itu untuknya. Sementara perhiasan yang baru dan sering dipakainya ia tinggal. Sedang surat berharga berupa akta tanah memang sama sekali tidak diketahui oleh suaminya itu saat ia membelinya.
"Aku akan pergi dari sini mas... sesuai dengan ucapanmu aku lebih memilih putriku... jadi sekarang kita pisah!" jawab bu Nike membuat pak Pambudi terkejut.
Ia tak menyangka wanita yang gila harta dan takut miskin seperti bu Nike bisa meninggalkan segalanya demi putri kandungnya yang bahkan baru saja diakuinya setelah sebelumnya wanita itu sempat menolak.
"Baik... kita cerai! kau tunggu saja surat panggilan dari pengadilan..."
__ADS_1
"Aku tunggu mas..." sahut bu Nike tenang.
Kemudian wanita paruh baya itu pun melenggang keluar dari rumah pak Pambudi. Taksi yang sudah dipesannya sebelumnya pun sudah menunggunya. Dan tanpa membuang waktu wanita itu langsung masuk ke dalamnya dan menyuruh sang sopir membawanya ke rumah sakit. Sedang pak Pambudi tampak frustasi melihat sikap bu Nike.