Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Bertemu Rio


__ADS_3

Sejak pertemuan terakhirnya dengan Ghani, perasaan takutnya pada pria itu berangsur menghilang. Memang benar memaafkan itu akan memberikan energi positif dalam diri seseorang. Dan hari ini Jasmine bertambah bahagia saat tadi Maya menghubunginya dan memintanya untuk mendesainkan gaun pengantin untuknya. Akhirnya Maya dan Rian memutuskan untuk menikah. Jasmine pun sangat bahagia akhirnya sahabatnya itu menemukan pendamping hidupnya. Karenanya hari ini Maya akan datang ke rumah Jasmine sekaligus melepas kangen karena selama ini Maya tinggal di luar negeri untuk membantu ayahnya mengurus perusahaan.


Meski begitu saat ia menikah nanti ia akan menyerahkan perusahaan pada suaminya karena ia ingin fokus menjadi ibu rumah tangga seperti Jasmine. Semula Rian keberatan karena tidak ingin memanfaatkan kekayaan mertuanya tapi setelah Maya dan kedua orangtuanya membujuk dan berkata jika Rian akan bekerja sebagai pengelola dan bukan pemilik akhirnya ia pun menyetujuinya. Untuk menyambut kedatangan sahabatnya itu Jasmine sengaja membuat camilan yang dulu biasa mereka makan berdua saat masih sekolah. Meski camilan sederhana berupa gorengan bakwan tapi sangat disukai oleh keduanya apa lagi jika memakannya dengan cabai rawit.


"Jess..." panggil Maya saat melihat sahabatnya itu sudah menunggunya di teras rumah.


"Maya..." sahut Jasmine sambil memeluk sahabatnya itu.


"Aku kangen..." sambungnya.


"Aku juga Jess... kandunganmu sudah berapa bulan?" tanya Maya sambil mengelus perut Jasmine yang mulai mengembung.


"Baru empat bulan..." sahut Jasmine sambil tersenyum.


"Ayo masuk... aku sudah siapkan camilan andalan kita..." ajak Jasmine sambil menggandeng tangan Maya.


"Wah... sudah pintar masak kau rupanya..." ujar Maya sambil mencomot bakwan yang terlihat menggiurkan dan masih hangat.


"Ish... tentu saja... aku kan sudah sering berlatih..." kata Jasmine memasang wajah cemberut.


"Euleh-euleh... bumil ga boleh sering cemberut tahu..." goda Maya sambil mencubit pipi Jasmine yang kini agak tembem.


"Ish... sakit May..."


"Maaf..." sahut Maya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Setelah saling bercerita sebentar keduanya pun akhirnya membahas hal yang membuat Maya menemui Jasmine.


"Jadi apa kau sudah tahu model apa yang kau inginkan untuk gaun pengantinmu?" tanya Jasmine.


"Hem... sebenarnya aku ingin model yang hampir mirip dengan gaun pengantinmu dulu Jess... kau tahu kan kita ini seleranya sama..." kata Maya.


Jasmine pun lalu menggambarkan desain yang Maya inginkan pada buku yang sudah disiapkannya. Tak butuh waktu lama Jasmine langsung bisa menyelesaikannya. Saat Maya melihat hasil rancangan Jasmine ia pun langsung terpesona dan ingin agar gaun pengantinnya menggunakan desain itu.


"Bagus banget Jess... aku sangat suka..." puji Maya.


"Alhamdulillah kalau kamu menyukainya..." ujar Jasmine.


Keduanya pun berencana ke butik tante Fira agar rancangan Jasmine dapat segera dikerjakan. Setelah Jasmine meminta izin terlebih dahulu pada Adam mereka pun berangkat ke butik dengan menggunakan mobil Maya. Saat mobil yang dikendarai keduanya berhenti di lampu merah tanpa sengaja Maya yang mengemudikan mobilnya sendiri melihat Rio mantannya dulu berada tepat disamping mobilnya. Pria itu tampak mengendarai motor membonceng seorang wanita dan seorang balita. Dengan cepat Maya langsung memalingkan wajahnya kembali kearah depannya.


Meski sudah melupakan Rio namun entah kenapa Maya masih saja merasa tak ingin lagi bertemu dan berurusan dengan Rio lagi. Untung saja lampu lalu lintas segera berubah hijau hingga Maya bisa langsung melajukan mobilnya lagi.


"Kamu kenapa May?" tanya Jasmine yang melihat wajah sahabatnya itu sedikit pucat.


"Aku tidak apa-apa kok Jess... hanya saja sepertinya aku masuk angin..." sahut Maya asal.


"Lho apa kamu tadi belum sarapan dan langsung makan gorengan?" tanya Jasmine khawatir.


"Aku udah sarapan kok Jess... tapi mungkin karena terlalu sibuk mempersiapkan pernikahanku jadi aku agak kecapekan..." terang Maya.


"Apa kamu ga pakai WO?"

__ADS_1


"Pakai Jess... tapi tetap saja kan aku dan mas Rian harus terus mengawasi semuanya..."


"Hemm... iya juga... tapi kau jangan memforsir dirimu sendiri May... dari pada kau jadi jatuh sakit saat hari pernikahanmu nanti..." nasehat Jasmine.


"Iya Jess... aku tahu dan aku akan jaga diri kok ... kamu ga usah khawatir..." ujar Maya sambil tersenyum agar Jasmine tidak mengkhawatirkannya.


"Hufh... kenapa harus bertemu dengan manusia itu sih... bikin moodku berantakan aja..." batin Maya.


Ya meski sudah ada Rian yang mengobati lukanya karena pengkhianatan Rio tapi tetap saja bekas luka itu masih tetap ada dan belum hilang sepenuhnya dari hati Maya.


"May... kita mampir ke sana dulu yuk..." ajak Jasmine saat melihat ada penjual es cendol yang mangkal di pinggir jalan.


"Apa kamu lagi ngidam Jess?" tanya Maya pasalnya tadi di rumah Jasmine keduanya sudah makan es krim.


"Eum... mungkin saja May... soalnya aku pengen banget saat melihatnya..." ucap Jasmine.


"Tapi apa ga pa-pa kamu sering minum minuman dingin? apa ga mengganggu kandunganmu Jess?" tanya Maya khawatir.


"Eum... gimana kalau belinya satu aja... terus kita bagi dua... dan esnya minta sedikit aja..." kata Jasmine yang terlihat sangat ingin mencicipi es cendol tak mau menyerah sebelum keinginannya terwujud.


"Baiklah... tapi kita makan disana aja ya... biar gampang..." ujar Maya.


"Iya..." sahut Jasmine dengan mata berbinar.


Maya pun langsung menepikan mobilnya didekat penjual cendol itu. Lalu keduanya pun turun untuk membelinya. Sambil menunggu pesanan mereka, keduanya sengaja duduk di bangku yang sudah disediakan oleh penjual. Setelah pesanan mereka datang Mayabpun mengaduk cendol itu terlebih dahulu sebelum memberikannya pada Jasmine agar meminumnya terlebih dahulu.


"Apakah enak cendolnya Jess?" tanya Maya yang melihat Jasmine sangat menikmati minumannya.


"Habiskan saja jika kau menyukainya..." kata Maya .


"Tidak May... kita kan tadi sudah janji akan membaginya berdua..." tolak Jasmine.


"Apa ini yang dikatakan ngidam?" batin Maya.


"Ayo May... cicipi dulu enak dan seger banget..." kata Jasmine sambil menyodorkan gelas cendolnya.


Maya pun langsung menerimanya dan meminum es itu tanpa rasa jijik.


"Hemmm... betul enak..." kata Maya.


Mereka pun kembali bergantian menghabiskan es cendol itu. Setelah drama es cendol keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka ke butik tante Fira. Sesampainya di sana mereka langsung disambut tante Fira dan juga mama Tika. Tante Fira tampak senang Maya mau membuat gaun pengantinnya di butiknya dengan rancangan Jasmine. Mereka pun seperti bernostalgia saat dulu Maya dan Jasmine sekolah. Bahkan Dara yang kini menjadi karyawan senior pun ikut serta karena memang dia lah yang ikut sejak awal jatuh bangunnya butik tante Fira.


Saat makan siang Adam datang menjemput Jasmine karena sekalian akan memeriksakan kandungannya. Sedang Maya juga dijemput oleh Rian calon suaminya yang datang bersama sopirnya hingga mobil yang tadi dibawa Maya akhirnya dikemudikan oleh sopir Rian. Sesampainya di rumah sakit Jasmine dan Adam langsung menuju ke ruang dokter kandungan. Sambil menunggu giliran keduanya duduk di bangku yang sudah disediakan. Tampak beberapa pasangan juga ikut mengantri di sana.


Untung saja Adam sudah mendaftar sebelumnya sehingga keduanya tidak perlu menunggu lama sampai nama Jasmine di panggil. Setelah melakukaan pemeriksaan dokter menyatakan jika kandungan Jasmine baik-baik saja membuat keduanya sangat bahagia. Saat keduanya sedang mengambil vitamin yang resepkan oleh dokter, Jasmine yang duduk di bangku tidak sengaja melihat Rio mantan Maya juga berada di apotek yang sama dengannya. Pria itu tampak datang dengan seorang wanita dan anak balita yang ia duga merupakan anak dan istri Rio.


Meski masa lalu Rio dan Maya buruk namun Jasmine tidak mungkin mengabaikan pria itu saat Rio terlanjur melihatnya dan menyapanya dengan ramah saat Adam tengah mengambil vitaminnya dikasir.


"Apa kabar Jasmine?" sapa Rio yang berdiri disamping istrinya.


"Aku baik kak... ini istri dan anak kakak?" tanya Jasmine sopan.

__ADS_1


"Iya... perkenalkan ini Hana istriku dan ini putra kami Raka..."


"Salam kenal kak..." ucap Jasmine sambil mengulurkan tangannya pada Hana.


"Salam kenal..." sahut Hana menyambut uluran tangan Jasmine.


Rio pun kemudian meninggalkan istri dan putranya duduk disamping Jasmine untuk mengambil obat putranya.


"Raka usianya berapa?" tanya Jasmine pada bocah balita itu.


"Tiga tahun tante..." sahut bocah itu sambil tersenyum.


"Wah... pintar sekali..." ujar Jasmine


"Terima kasih..." sahut bocah itu.


"Sebenarnya yang sakit siapa kak?" tanya Jasmine.


"Raka... dia dari kemarin demam... tapi untung saja tidak ada yang serius..." sahut Hana.


"Oh... syukurlah..." ucap Jasmine... ia tak tega jika membayangkan anak sekecil itu menderita penyakit parah.


Tak lama Adam pun datang dengan membawa vitamin Jasmine.


"Kita pulang sekarang sayang?" tanya Adam saat melihat Jasmine yang sedang mengobrol.


"Iya..." jawab Jasmine lalu ia pun menoleh ke arah Hana.


"Kami pulang dulu ya kak..." pamitnya pada Hana.


"Iya..." sahut Hana.


"Tante pulang dulu ya Raka..."


"Iya tante..."


Adam dan Jasmine pun kemudian pulang.


"Tadi itu siapa Honey?" tanya Adam yang tak mengenal Hana.


"Dia Hana... istri kak Rio mantan kekasih Maya..." terang Jasmine.


"Kau mengenalnya?"


"Baru tadi... aku bertemu dengannya dgan kak Rio saat menunggumu..." kata Jasmine sambil memandang ke luar jendela.


"Apa kau kesal sudah bertemu mereka?" tanya Adam yang melihat perubahan sikap Jasmine.


"Sebenarnya iya... sebab saat tahu jika umur anak mereka yang sudah tiga tahun bisa dipastikan jika wanita itulah selingkuhan kak Rio dulu..." sahut Jasmine.


"Aku tahu aku tidak berhak menghakimi mereka berdua... apa lagi sekarang Maya juga akan segera menikah... tapi tetap saja aku merasa tidak suka bertemu dengan mereka Dear... apa lagi tadi kak Rio dengan tanpa rasa canggung memperkenalkan perempuan itu sebagai istrinya padaku... apa dia tidak sedikit pun merasa bersalah dan malu melakukan itu?" sambung Jasmine.

__ADS_1


Adam menggenggam tangan Jasmine erat. Dan mencoba menenangkan istrinya itu. Ia tahu hormon kehamilan Jasmine membuat istrinya itu jadi begitu sensitif.


__ADS_2