Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Kemelut


__ADS_3

Pak Bima terkejut saat istrinya melemparkan amplop coklat ke wajahnya. Dengan reflek pria paruh baya itu menangkapnya dan membaca tulisan yang ada diatas amplop itu.


"Pengadilan Agama?" batin pak Bima.


"Maksud mama apa?" kata pak Bima setelah ia membaca isi surat dalam amplop tersebut.


"Aku ingin kita bercerai! dan kau jangan coba-coba untuk mempersulitnya... karena aku punya segudang bukti tentang perselingkuhanmu selama ini!" kata bu Dita.


"Tapi ma... apa kau tidak malu diusia kita malah akan bercerai?"


"Kamu saja tidak malu hobi selingkuh kenapa aku harus malu bercerai denganmu?" jawab bu Dita telak.


Sementara Mirna tampak masih syok dengan kenyataan dirinya cuma anak haram.


"Dimana ibuku?" tanya Mirna tiba-tiba.


Ia tidak terima ibunya menyerahkannya pada wanita lain apa lagi bu Dita menyebut ibunya pelakor. Kedua orang paruh baya itu langsung menoleh ke arah Mirna.


"Aku tanya dimana ibuku!" seru Mirna.


"Kau mau tahu dimana ibumu?" tanya bu Dita.


Mirna mengangguk tegas.


"Baiklah...ibumu sekarang sudah menjadi nyonya keluarga Pambudi... tentu saja setelah dia berhasil menyingkirkan istri dan anak Pambudi..." terang bu Dita tanpa rasa bersalah pada Mirna.


"Mama!" seru pak Bima tidak terima.


"Apa? kau tidak terima aku katakan yang sebenarnya pada putrimu itu?" tantang bu Dita.


Kali ini pak Bima hanya bisa terdiam. Kenyataan jika dulu dengan suka rela ibu kandung Mirna menyerahkannya pada pak Bima dan bu Dita hanya karena saat itu usaha pak Bima diambang kebangkrutan sedang dia berhasil menggaet Prambudi seorang pengusaha yang kesuksesannya diatas pak Bima.


"Ini alamat ibu kamu!" kata bu Dita menyerahkan secarik kertas pada Mirna.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar Mirna menerima kertas itu dan membacanya.


"Bukannya ini alamat rumah ayah Alya?" batin Mirna.


Alya memang tidak pernah menyebut nama ayah kandungnya pada Mirna namun ia pernah sekali berkunjung ke alamat itu bersama Alya. Bukan karena sengaja... namun karena baru beberapa hari yang lalu saat keduanya tengah berkunjung ke rumah salah satu klien mereka, ternyata rumah kliennya itu berada tepat didepan rumah ayah Alya. Rumah dimana dulu Alya dan ibunya juga tinggal. Namun kemudian keduanya diusir setelah kehadiran wanita simpanan ayah Alya. Entah sekarang keduanya sudah resmi menikah atau tidak karena kenyataannya mereka berdua sudah bertahun-tahun tinggal bersama namun belum juga mempunyai keturunan.


Mirna bergegas mengambil tas dan juga kunci mobilnya. Ia hendak menemui perempuan yang disebut sebagai ibu kandungnya itu. Pak Bima berusaha mencegah Mirna namun wanita itu tetap keukeuh ingin menemui ibunya. Sementara bu Dita hanya menonton drama ayah dan anak itu tanpa mau ikut campur. Saat ini wanita paruh baya itu memang dalam titik paling jenuh dalam hidupnya. Perselingkuhan suaminya yang seolah tidak pernah berhenti membuatnya lelah. Niatnya untuk membawa Mirna bersamanya musnah saat tahu sifat gadis yang sudah ia rawat dan didik sejak kecil ternyata masih tetap menuruni sifat kedua orangtua kandungnya.


Karena merasa sudah tidak ada kepentingan lagi disana bu Dita pun melenggang pergi. Hatinya sudah mantap meninggalkan suami peselingkuh dan anak yang bukan darah dagingnya itu. Sementara Mirna kini tengah mengendarai mobilnya menuju rumah ibu kandungnya. Pak Bima mengikuti mobil putrinya itu dari belakang.


Saat tiba di depan rumah kebetulan ibunya dan pak Pambudi baru saja keluar dari dalam rumah. Segera Mirna memarkirkan mobilnya di depan rumah dan turun menghampiri keduanya.


"Ada apa kau kemari?" tanya Nike wanita yang merupakan ibu kandung Mirna.


"Aku ingin bertanya padamu..." tukas Mirna.


"Hah? kau pasti kemari karena temanmu itu kan?" tanya Nike yang sempat melihat Mirna bersama Alya.


Meski keduanya tidak menghampirinya saat itu wanita paruh baya yang masih berdandan modis itu sudah menduga jika anak dari Pambudi masih tidak rela karena terusir bersama ibunya dari rumah mereka sendiri. Ia langsung menatap Pambudi dengan manja...


"Kau salah nyonya..." kata Mirna membuat Nike dan pak Pambudi tertegun.


"Aku kemari bukan karena suruhan Alya... tapi bu Dita..." sambung Mirna membuat Nike terkejut.


Saat itulah pak Bima baru sampai di tempat itu.


"Mirna... kita pulang saja nak!" ajak pak Bima.


"Tidak! aku harus tanya pada nyonya ini apa benar dia itu ibu kandungku pa..." ucap Mirna sambil menatap tajam bu Nike.


Pak Pambudi terkejut dengan perkataan Mirna dan langsung menatap tajam istrinya itu.


"Apa maksudnya ini Nike? kau bilang kau janda tanpa anak... dan sekarang wanita ini mengaku sebagai anak kamu?"

__ADS_1


"Dia fitnah mas... seperti pria itu dulu yang juga memfitnahku pernah jadi simpanannya..." elak Nike sambil menunjuk pada pak Bima.


"Kau boleh tidak mengakui jika dulu kita pernah berhubungan... tapi kau jangan tidak mengakui putrimu satu-satunya hasil dari hubungan kita Nike!" kata pak Bima yang sudah meradang.


Dia memang pria brengsek tapi jika menyangkut putrinya ia tidak akan membiarkan putrinya sakit hati. Apa lagi dengan tidak diakui oleh ibu kandungnya.


"Ha... ha... ha... ternyata benar... aku memang hasil dari bibit kotor kalian!" tawa Mirna tiba-tiba menggelegar mengagetkan semua yang ada di sana.


"Mama benar pa... aku memang j*l**g! meski mama berusaha mendidikku menjadi wanita terhormat tetap saja darahku mengalir darah pelakor dan tukang selingkuh! pantas saja Alya tidak tahan berteman denganku... andai dia tahu jika selama ini yang ia anggap sahabat adalah anak dari perempuan yang telah menghancurkan keluarganya mungkin saat itu juga ia akan membunuhku!" sambung Mirna dengan air mata yang berlinang.


Jiwa Mirna mulai terganggu akibat pukulan yang bertubi-tubi mengenai masa lalunya. Sementara Pambudi juga terlihat syok karena ternyata putri yang sudah dibuangnya saat memasukkan simpanannya ke rumah ternyata malah berteman dengan anak wanita simpanannya itu. Sementara Nuke juga tidak bisa bicara apa-apa lagi. Meski tadi ia bersikeras tidak mengakui Mirna sebagai putrinya namun hatinya mencelos saat mendengar perkataan Mirna yang menyebut dirinya sendiri j*l**ng.


"Kita pulang saja nak..." bujuk pak Bima pada putrinya itu.


Dengan perlahan pria paruh baya itu membawa tubuh putrinya menuju ke mobilnya dan mendudukkannya di kursi samping kemudi. Mirna pun terlihat pasrah saja saat pak Bima membawanya. Setelah memastikan putrinya duduk dengan benar dan memasangkan sabuk pengaman pria itu langsung memutari mobilnya menuju kursi kemudi dan segera menyalakan mobilnya meninggalkan tempat itu setelah sebelumnya ia menghubungi sopirnya untuk mengambil mobil Mirna yang ditinggalkan di tempat itu.


Pambudi urung mengajak istrinya itu untuk makan diluar. Pria itu kembali masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang campur aduk. Ia yang selama ini bertahan tanpa keturunan dari Nike karena cinta mati pada wanita itu hingga ia tega mengusir darah dagingnya sendiri. Ternyata wanita yang ia anggap baik tak lebih dari wanita murahan yang rela menjual dirinya bahkan anak kandungnya sendiri. Tapi mereka berdua memang cocok. Ia yang membuang putrinya sendiri demi wanita itu... sedang wanita itu rela membuang putrinya sendiri demi dirinya yang bergelimang harta.


Pantas saja Tuhan menghukum keduanya dengan memberi Nike penyakit kanker rahim hingga membuat rahim wanita itu harus diangkat. Dan setelah pengobatan yang panjang akhirnya wanita itu dinyatakan sembuh. Karma yang mereka rasakan rupanya tak membuat keduanya sadar akan kesalahan mereka. Menganggap itu hanya salah satu penyakit yang mungkin saja bisa diidap oleh siapa saja.


Tapi kini kenyataan yang baru saja terjadi di depan matanya membuat Pambudi mulai berfikir. Kira-kira karma apa yang akan menimpanya kelak? apa ia akan sanggup menjalaninya? apa ia sudah terlambat jika meminta maaf sekarang pada mantan istrinya dan juga putrinya Alya? Sementara Nike juga termenung di ruang tamu. Ia tak menyangka putri yang ia serahkan pada istri Bima sudah dewasa dan kini malah menyebut dirinya sendiri j*l**g. Apa putrinya juga melakukan apa yang pernah ia lakukan dulu? Jika benar apa putrinya gagal meraih yang diinginkannya hingga putrinya terlihat kacau.


Ia jadi penasaran siapa pria yang bisa menolak pesona putrinya itu. Karena saat melihat Mirna ia bisa melihat dirinya sendiri saat muda. Cantik, menarik dan sexy. Bukankah itu modal yang cukup untuk menggoda seorang pria? fikir Nike. Dalam otaknya kini malah penuh dengan rasa penasaran tentang sosok pria yang sudah menolak pesona Mirna. Hati merasa tidak terima jika putrinya gagal menaklukkan mahluk yang bernama pria.


Meski tidak mengakui Mirna tapi Nuke tidak rela jika putrinya tidak bisa sepertinya. Mendapatkan pria mana pun yang ia suka.


"Pasti karena didikan wanita itu akhirnya putriku menjadi wanita bodoh!" gumam Nike geram.


Saat ia sibuk dengan fikirannya ia tak menyadari jika pak Pambudi melewatinya dan pergi meninggalkan rumah. Hanya saat suara deru mobil suaminya itu yang meninggalkan halaman yang membuat wanita itu baru tersadar.


"Mas Pambudi!" teriak Nuke sambil berlari keluar berusaha mengejar suaminya.


"S**l*n! pasti mas Pambudi pergi menemui anak dan mantan istrinya itu! ini ridak bisa dibiarkan" batin Nike.

__ADS_1


Ia pun segera memesan taksi online untuk menyusul suaminya itu di rumah mantan istrinya.


__ADS_2