
Sejak Jasmine dinyatakan hamil ia mendapatkan perhatian ekstra dari Adam dan juga kedua mama dan mama mertuanya. Ketiganya sangat menjaga calon ibu itu agar tidak terlalu stres atau pun kelelahan agar tidak mengganggu kehamilannya. Meski terkadang merepotkan namun Adam selalu berusaha untuk memenuhi semua permintaan ngidam Jasmine sebab kedua mama selalu mengingatkannya agar bersabar dan mau memenuhi permintaan bumil itu.
Seperti saat ini tiba-tiba Jasmine menelfonnya di kantor hanya untuk menyuruhnya membeli jagung rebus. Bukannya marah atau kesal Adam justru bersemangat. Namun saat sudah berada di jalan ia justru kebingungan karena tidak tahu kemana harus mencari pesanan istrinya itu. Alhasil ia terus berputar-putar mengendarai mobilnya sambil sesekali memeriksa sekelilingnya berharap bertemu pedagang jagung rebus yang mungkin saja sedang mangkal di pinggir jalan.
Sudah hampir dua jam ia berkeliling dan hampir saja menyerah saat matanya tak sengaja melihat seorang pedagang jagung rebus yang sedang berhenti di tepi jalan. Tanpa berfikir panjang ia pun segera menghentikan mobilnya di dekat sang pedagang. Setelah turun dari dalam mobil ia pun segera membeli jagung pesanan istrinya itu. Terlihat sang pedagang yang merupakan seorang pria renta sumringah saat tahu ada seorang pembeli yang hendak membeli barang dagangannya dalam jumlqh banyak.
Adam pun langsung membayar dengan tiga lembar uang merah yang membuat kakek penjual jagung itu terkejut.
"Maaf tuan ini uangnya terlalu banyak... saya belum ada kembaliannya" ucapnya pada Adam.
"Kembaliannya buat kakek saja..." sahut Adam.
"Tapi ini terlalu banyak..." tolak kakek penjual jagung rebus.
"Ga pa-pa anggap saja ini rezeki untuk kakek..." kata Adam tak ingin ada penolakan.
Akhirnya kakek penjual jagung rebus itu pun tak bisa pagi menolak dan langsung mengucapkan terima kasih. Setelah mendapatkan yang diinginkannya Adam pun segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Adam segera mencari Jasmine untuk memberika pesanannya. Saat Jasmine menerima pesanannya ia tampak sangat gembira dan langsung memakannya dengan lahab. Melihat itu rasa capek yang Adam rasajan saat mencari jagung pesanan Jasmine langsung menguap.
"Kau tidak ikut makan Dear?" tanya Jasmine saat melihat Adam hanya diam dan cuma memperhatikannya saja.
"Tidak Honey... kau makanlah sampai puas aku sudah kenyang..." sahut Adam.
"Tapi aku juga ingin kau ikut makan...." ucap Jasmine dengan sedikit merengek.
"Hemm... baiklah aku makan..." kata Adam mengambil satu buah jagung.
Untung saja tadi ia membeli sepuluh buah jagung karena ingin membaginya dengan orang rumah. Ternyata Jasmine sanggup menghabiskan dua buah jagung sedirian. Tampaknya nafsu makan Jasmine sudah mulai meningkat seiring dengan berkurangnya volume muntahnya. Hal ini tentu saja membuat Adam lega karena Jasmine jadi tidak kekurangan nutrisi karena sudah mau makan. Saat keduanya sedang makan mama Tika dan mama Sinta datang. Keduanya tampak terkejut melihat Adam sudah berada dirumah.
"Kamu sudah pulang Dam?" tanya mama Sinta sambil mendudukkan dirinya di kursi diseberang meja makan di depan Adam.
"Iya ma... aku baru membelikan pesanan Jasmine" sahut Adam.
"Kau ingin apa sayang... kok ga bilang mama saja agar suamimu tenang bekerja..." kata mama Tika pada Jasmine.
Ia merasa tak enak menantunya sering pulang ke rumah saat kerja karena ulah ngidam putrinya.
"Akukan maunya cuma kak Adam yang membelikannya ma..." sahut Jasmine yang mulai berkaca-kaca karena perkataan mamanya.
"Iya... sayang aku ga pa-pa... udah kamu jangan nangis..." kata Adam saat melihat istrinya yang langsung sensitif.
__ADS_1
"Iya... maafin mama juga sayang... tapi mama juga pengen loh direpotin kamu ngidam... bukan cuma sama suami kamu saja..." kata mama Tika mengalah.
"Eumm... sebenarnya Jasmine juga pengen dibuatin lava cake buatan mama..." ucap Jasmine malu-malu.
"Hah?" seru ketiga orang yang ada didepan Jasmine tak menyangka jika bumil itu masih ingin makan lagi.
"Tapi apa perut kamu tidak bengah Jess kalau terlalu banyak makan?" tanya mama Sinta yang mewakili fikiran semuanya.
"Kan aku makannya nanti ma..." sahut Jasmine dengan wajah polosnya.
Akhirnya mama Tika dan mama Sinta pun pasrah dan langsung menuju dapur untuk membuatkan pesanan Jasmine.
"Kalau begitu aku kembali ke kantor dulu ya..." kata Adam.
"Iya... tapi kamu janji ya... jangan pulang larut..." pesan Jasmine.
Adam pun mengangguk dan langsung mengecup kening istrinya itu sebelum melangkah keluar. Setelah berpamitan dengan mamanya dan mama Tika, Adam pun segera kembali ke kantor. Sedang di tempat lain tampak Ghani tengah gelisah. Sudah lebih dari dua minggu sejak terakhir ia bertemu Adam dan mengungkapkan keinginannya untuk melihat Jasmine meski dari jauh. Namun sampai saat ini Adam belum juga memberikan jawabannya.
"Apa dia benar-benar tidak mengizinkan aku untuk melihat keadaan Jasmine ya?" batin Ghani di dalam kamarnya.
Saat itulah ia mendengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya.
"Iya..." sahut Ghani lalu bergegas membuka pintu kamarnya.
Setelah itu ia diantar oleh perawat untuk menemui dokter di ruangannya.
"Permisi dok... ini saya sudah membawa Ghani..." kata perawat itu setelah sampai di ruangan dokter yang menangani Ghani.
"Biarkan dia masuk!" kata dokter itu.
Perawat itu pun kemudian menyuruh Ghani untuk masuk menemui sang dokter. Setelah Ghani duduk di hadapan dokter Dina yang merawatnya, dokter itu pun langsung mengatakan tujuannya memanggil Ghani ke ruangannya.
"Ghani... menurut catatan medis yang saya terima mengenai perkembanganmu selama disini membuat saya yakin jika keadaan kamu sudah semakin baik dan bisa kembali pulang" katanya.
"Namun karena masalah hukum yang menjeratmu saya harus berkoordinasi dengan pihak pengadilan dan kepolisian tentang keputusan akhirnya apakah kau akan dipulangkan atau kembali menjalani masa hukumanmu di penjara..." terang dokter Dina lagi.
"Iya dokter... saya mengerti..." sahut Ghani.
Dalam hatinya ia berdo'a agar masalah hukumnya bisa dianggap selesai setelah ia menjalani masa perawatannya di rumah sakit jiwa agar ia bisa kembali pulang ke rumah. Meski ia sendiri tidak tahu kemana rumah yang akan ia tuju jika benar ia bisa keluar dari rumah sakit jiwa. Tapi setidaknya ia bisa mewujudkan keinginannya untuk melihat keadaan Jasmine tanpa harus meminta persetujuan dari Adam terlebih dahulu. Meski pun itu berarti ia hanya bisa melihat Jasmine dari jauh.
__ADS_1
"Ya sudah kembalilah ke kamarmu... nanti jika ada perkembangan akan saya beritahukan padamu" kata dokter Dina.
"Terima kasih dok..." kata Ghani lalu keluar dari ruangan dokter Dina.
Dokter Dina memandang tubuh Ghani yang keluar dari dalam ruangannya lalu mendesah pelan.
"Kasihan sekali kamu Ghani... karena cinta kau sampai terlibat masalah hukum dan masuk rumah sakit jiwa..." batinnya.
Ghani pun kembali ke dalam kamarnya dengan diantar oleh perawat. Setelah mendengarkan perkataan dokter Dina wajah Ghani berubah ceria karena kemungkinan besar ia akan segera keluar dari rumah sakit jiwa. Saat itulah ia teringat dengan mamanya yang juga tengah menghadapi masalah hukum.
"Mama bagaimana kabarnya ya..." batin Ghani.
Sesungguhnya ia sangat mengkhawatirkan keadaan mamanya itu. Karena walau bagaimana pun mamanya melakukan semua itu karena sakit hati putranya harus masuk ke rumah sakit jiwa. Meski caranya salah dalam menunjukkan rasa sayangnya pada Ghani namun tetap saja ia menghargainya. Sedang tentang papanya ia tak bisa menebak apakah pria itu benar tulus karena menyayanginya atau hanya sekedar mencari penerus karena bersama istri keduanya ia tak mendapatkan keturunan.
Tapi sebenci-bencinya ia pada pria yang menjadi papanya itu ia tak bisa memungkiri jika ia masih menyayangi papanya itu sebagai orangtua.
"Mama... papa... seburuk apa pun kalian tetap saja aku tidak bisa membenci kalian... semoga saja saat aku keluar dari sini aku bisa menjenguk kalian..." batin Ghani.
Sebenarnya perubahan yang terjadi pada Ghani yang mulai menerima kenyataan jika Jasmine tidak mencintainya dan juga memaafkan kesalahan kedua orangtuanya tak lepas dari bimbingan dokter Dina. Wanita itu dengan telaten dan sabar mendengarkan semua keluh kesah Ghani selama ia dirawat di rumah sakit jiwa. Tak jarang ia juga memberikan nasehat dan motivasi pada Ghani dan memberikan pemikiran jika statusnya menjadi pasien rumah sakit jiwa tidak akan menghalangi masa depannya saat ia telah keluar dari sana.
Dokter Dina bukan hanya sekedar dokter yang merawatnya tapi juga sudah menjadi teman bagi Ghani. Selama ini baru wanita itu yang bisa mendapatkan kepercayaannya dan menjadi sahabat bagi Ghani. Dan bersama dokter Dina sedikit demi sedikit Ghani mulai bisa merelakan Jasmine dan menerima kenyataan jika Jasmine tidak mencintainya.
Sementara di rumah Adam tampak Jasmine tengah menikmati cake lava buatan mama Tika dan mama Sinta. Sejak hamil Jasmine memang bertambah porsi makannya dari biasa. Meski begitu berat badannya masih terbilang normal meski sudah mulai naik. Adam yang baru pulang dari kantor pun tampak menggelengkan kepalanya saat melihat cara Jasmine makan. Istrinya itu sudah seperti anak kecil yang belepotan saat menikmati makanannya. Coklat yang lumer dari cake lava sepertinya sangat disukai oleh Jasmine. Ibu hamil itu bahkan tidak perduli saat ada noda coklat yang menempel di mulutnya dan hanya menyekanya dengan ujung lidahnya.
Sikap Jasmine sungguh membuat Adam semakin gemas apa lagi kini tubuh Jasmine jadi semakin berisi sejak kehamilannya.
"Kau belum juga selesai memakan cakenya?" tanya Adam sambil mendekat dan duduk disamping Jasmine.
"Tinggal satu ini saja Dear... tanggung..." sahut Jasmine cuek.
"Sudah biarkan saja Dam... soalnya tadi siang dia muntah lagi... pasti karena itu dia jadi lapar lagi" terang mama Sinta.
"Jadi kau masih sering muntah?" tanya Adam khawatir.
"Sudah jarang kok... jadi kamu jangan khawatir yah!" ucap Jasmine meyakinkan Adam agar tidak mengkhawatirkan dirinya terlalu berlebihan.
"Ya sudah... kalau masih sering muntah nanti kita periksa ke dokter saja" kata Adam yang tak mau istrinya kenapa-kenapa.
"Iya..." jawab Jasmine menenangkan Adam.
__ADS_1