Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Mendampingi


__ADS_3

Pagi hari Adam sudah bersiap hendak menemui kepala rumah sakit Guna Jaya tempat Jasmine melakukan terapi. Ia berniat mengetahui perkembangan kesehatan Jasmine. Setelah menyerahkan pekerjaan pada asistennya ia pun segera menuju ke runah sakit.


Sesampainya disana ia langsung menuju resepsionis dan memberitahukan kedatangannya. Segera ia diantar oleh petugas satpam begitu ia menyatakan siapa dan apa keperluannya. Setelah menaiki lift dan sampai di lantai paling atas rumah sakit ia pin diantar langsung menuju kantor kepala rumah sakit.


Setelah mengetuk pintu dan dipersikahkan masuk sang satpam pun meninggalkan Adam sendiri menemui kepala rumah sakit.


"Selamat pagi pak..." sapa Adam pada seorang pria berseragam dokter yang sedang memeriksa berkas-berkas yabg ada di mejanya.


"Silahkan duduk dulu pak... sebentar lagi saya selesai" ucap pria itu masih terus menatap berkasnya.


"Baik terima kasih" sahut Adam yang memilih duduk di sofa.


Tak lama pria itu pun selesai dan menghampiri Adam.


"Adam?" seru pria itu saat melihat Adam.


"Bagas?"


"Ah.... jadi pengusaha besar yang datang pagi-pagi mau menemuiku itu kamu?" tanya Bagas sambil memeluk Adam yang sudah berdiri dari duduknya.


"Kau ini tidak pernah berubah... selalu saja melebih-lebihkan..." sahut Adam ikut tertawa.


"Duduklah... o iya ada perlu apa hingga kau ingin bicara denganku ha?"


"Aku ingin minta bantuan kamu Gas... bisakah kau memberitahuku informasi tentang salah satu pasien rumah sakit kamu?"


"Kau tahukan Dam... data pasien itu bersifat rahasia bisa-bisa rumah sakitku dituntut karena hal ini..." kata Bagas keberatan.


"Aku jamin dia tidak akan menuntutmu karena aku tidak akan membocorkannya pada orang lain" bujuk Adam.


"Siapa pasien yang kau maksud itu? dan apa hubunganmu dengannya?"


Adam pun mengeluarkan sebuah map berisi informasi yang ia dapat dari Budi tentang Jasmine berikut foto gadis itu.


"Dia keponakanmu?" tanya Bagas.


"Bukan" jawab Adam sambil menggeleng.


"Lalu?"


Akhirnya Adam pun menceritakan semuanya pada Bagas berharap dengan demikian Bagas mau membantunya menjalankan rencananya yang sudah ia susun sejak semalam.


"Wah... aku takjub sama kamu Dam... banyak wanita yang berusaha mendekatimu tapi kau justru terpikat pada gadis kecil ini..." cetus Bagas.


"Kau jangan berfikir macam-macam Gas... aku bahkan belum menyatakan perasaanku padanya hingga kini" tukas Adam.


"Oke... lalu maumu apa?"

__ADS_1


"Seperti yang aku katakan tadi... aku tahu jika dia melakukan fisioteraphy disini. Jadi bisakah kau mengijinkan aku ikut terlibat didalamnya? kau bisa mengatakan jika aku perawat baru yang membantu petugas terapisnya..."


"Kau tahu yang kau minta itu sangat beresiko Dam..."


"Aku hanya akan membantu saja... sekalian mendampinginya terapi... hanya saja aku tidak mau dia tahu jika aku ada disana..." ujar Adam.


Bagas terdiam dengan permintaan Adam. Disatu sisi ia ingin membantu temannya itu namun ia juga tidak mau mengambil resiko yang akan merusak nama baik rumah sakitnya.


"Lalu bagaimana caranya agar gadis itu tidak mengenalimu ha? kau tahu jika dia mengenalimu maka reputasi rumah sakitku dipertaruhkan demikian juga dengan gelar dokterku"


"Untuk itu aku akan mengaturnya... dan jika benar dia mengenaliku akan aku tanggung semua tanggung jawabnya padaku dan tak akan melibatkanmu atau pun rumah sakit ini..."


"Baiklah... tapi kau tahu baru kali ini aku melihatmu begitu gigih mengejar seorang gadis... apa kau merasa bersalah karena merasa secara tidak langsung membuatnya lumpuh?"


"Jika kau tanya rasa bersalah tentu saja ada tak bisa aku pungkiri Gas... tapi sejujurnya rasa cintakulah yang lebih banyak mendorongku untuk melakukan semua ini... aku ingin selalu ada disampingnya meski pun ia tak tahu ..."


"Baiklah... akan aku tanyakan jadwal gadis itu terapi dan akan aku beritahu terapisnya agar dia bisa membantumu..."


"Terima kasih Gas... aku tidak tahu bagaimana membalas budi kamu"


"Tidak usah dipikirkan..." sahut Bagas.


Setelah itu Bagas segera menghubungi bawahannya untuk memberikan informasi tentang jadwal terapi Jasmine sekaligus memanggil terapisnya.


"Kalau begitu aku bersiap dulu..." ucap Adam saat Bagas memberitahu jika hari ini jadwal terapi Jasmine.


Di kampusnya Jasmine mendadak jadi parno karena kedatangan Adam kemarin. Hampir seharian ia tak konsentrasi dengan dengan mata kuliah yang diajarkan oleh dosennya. Untung saja dia termasuk anak yang cerdas sehingga masih dapat mengikuti mata kuliahnya dengan baik.


Setelah Jasmine masuk ke dalam mobil mang Oding pun langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Sesampainya di runah sakit Jasmine langsung menuju ruang terapinya di temani mang Oding. Sesampainya disana tampak terapisnya telah menunggu.


"Maaf mbak ... saya agak terlambat" ucap Jasmine pada terapisnya.


"Ga kok Jasmine... kamu tepat waktu... " sahut sang terapis yang bernama Sari.


"Oh iya sebelum kita mulai ada yang ingin saya perkenalkan sama kamu..." ucap Sari.


"Siapa mbak?" tanya Jasmine.


"Ayo ... perkenalkan ini Jaka... dia akan membantu saya melatih kamu..." kata Sari sambil mengenalkan seorang pria dengan kumis dan jenggot tipis serta kacamata tebal yang menutupi matanya.


"Dia ini calon terapis yang masih magang di rumah sakit ini" terang Sari.


"Selamat siang Jasmine... perkenalkan nama saya Jaka"


"Jasmine" sahut Jasmine.


"Mbak bisa kita bicara sebentar?"

__ADS_1


"Iya?" ucap Sari sambil mendorong kursi roda Jasmine ke pojok ruangan.


Sedang Jaka terlihat mempersiapkan peralatan terapi yang akan mereka gunakan.


"Tapi mbak tahu kan kalau aku lebih nyaman jika terapisku bukan seorang pria" ucap Jasmine yang sedikit keberatan dengan kehadiran Jaka.


"Tidak apa-apa Jasmine... lagi pula kita juga membutuhkan tenaganya jika aku kesulitan mengangkat tubuhmu...." ujar Sari memberikan alasan.


Akhirnya Jasmine pun pasrah dan menyetujui jika Jaka ikut menjadi terapisnya mendampingi Sari. Selama sesi latihan Jasmine tampak sangat tekun menjalani latihannya. Walau terkadang gadis itu terlihat meringis menahan rasa sakit yang terkadang menjalar di pinggangnya.


Jaka yang memperhatikan kegigihan Jasmine tak kuasa menahan rasa harunya. Ya Jaka sebenarnya adalah Adam yang menyamar. Berkali-kali gadis itu melakukan latihan untuk merangsang otot-otot bagian kakinya agar dapat digerakkan. Kali ini Jasmine belajar berjalan walau masih tertatih ia sudah bisa menyeret kakinya untuk melangkah.


Sari tampak terdenyum puas dengan kemajuan Jasmine. Walau dimata orang lain kemajuan ini cuma sedikit namun bagi Sari yang mendampingi Jasmine selama satu tahun terakhir sangatlah besar apalagi dengan diagnosis dokter yang menyatakan jika gadis itu akan sulit untuk bisa berjalan lagi.


"Coba Jasmine kau lepaskan peganganmu pada kayu pegangan itu..." suruh Sari.


Jasmine pun perlahan melepaskan pegangannya secara perlahan. Badan gadis itu tampak bergetar apalagi kedua kakinya yang terlihat bergetar hebat karena berusaha menyangga tubuh bagian atasnya.


Hampir saja Jasmine terjatuh jika saja Jaka tak segera meraih tubuh Jasmine dari belakang. Gadis itu tampak terkejut dengan perlakuan Jaka namun ia juga berterima kasih karena jika tidak maka tubuhnya sudah mencium lantai.


"Terima kasih..." ucap Jasmine lirih


"Sama-sama" sahut Jaka tersenyum akhirnya ia dapat memeluk tubuh Jasmine lagi setelah sekian lama.


Jasmine yang berada didepan Jaka tak dapat melihat senyuman itu. Namun hidungnya terusik dengan aroma yang keluar dari tubuh Jaka. Aroma yang sama yang ia rindukan tiga tahun terakhir ini. Namun Jasmine segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Tidak... dia bukan kak Adam.... sadar Jasmine!!" serunya dalam hati.


"Kamu kenapa?" tanya Jaka dengan suara serak saat melihat Jasmine menggelengkan kepalanya.


"Ummm itu.... kepalaku tiba-tiba pusing" ucap Jasmine beralasan.


"Baiklah ... kita duduk dan istirahat dulu sebentar" kata Jaka dengan suara serak agar Jasmine semakin tak mengenalinya bahwa dirinya Adam.


Dengan perlahan Jasmine dipapah oleh Jaka untuk duduk kembali di kursi rodanya.


"Betulkan kataku jika kita memerlukan tenaganya..." ucap Sari sambil tersenyum dan mendekati Jasmine.


Jasmine hanya bisa membalas dengan tersenyum mengakui perkataan Sari. Setelah beristirahat sebentar mereka pun kembali melanjutkan latihan. Tak terasa hari sudah sore saat latihan yang mereka lakukan selesai. Setelah mengucapkan terima kasih pada kedua terapisnya Jasmine pun pamit pulang. Selama perjalanan pulang entah kenapa ia jadi memikirkan Adam.


"Andai saja kak Adam bisa mendampingiku saat terapi mungkin aku akan merasa lebih bersemangat untuk sembuh..." batin Jasmine.


"Tapi rasanya tak mungkin memintanya mendampingiku apa lagi setelah kemarin aku terang-terangan menghindarinya" sambung Jasmine dalam hati.


........


Sementara Adam setelah selesai membersihkan peralatan terapi bergegas menemui Sari untuk mengetahui perkembangan Jasmine.

__ADS_1


Sari yang sudah diberitahu oleh Bagas tentang Adam yang berpura-pura menjadi Jaka pun dengan suka rela menjelaskan kondisi terakhir Jasmine yang menurutnya sudah mengalami banyak kemajuan. Bahkan tadi gadis itu sudah bisa berdiri tanpa berpegangan walau cuma sebentar. Setidaknya gadis itu sudah mulai mengalami kemajuan.


Setelah mendengarkan penjelasan Sari, Adam pun merasa lebih lega. Sepulangnya dari rumah sakit Adam langsung kembali ke kotanya sebab besok ia harus mulai kembali bekerja. Namun ia akan kembali lagi ke kota B saat Jasmine kembali terapi. Adam memang segaja mengosongkan jadwalnya saat Jasmine terapi agar bisa tetap mendampingi gadis itu saat terapi. Walau pun gadis itu tidak akan tahu jika Adam berada disampingnya.


__ADS_2