
Setelah keduanya mengambil nafas dalam Adam mulai membuka pintu mobil. Seketika air yang masuk ke dalam mobil semakin banyak dan mobil Adam semakin cepat tenggelam ke dasar sungai. Adam segera keluar dari dalam mobil melalui pintu kemudi kemudian disusul oleh Jasmine. Tubuhnya yang mungil membuatnya mudah melewati bangku kemudi dan stir mobil.
Adam membimbing istrinya berenang menjauhi mobil mereka yang terus tenggelam ke dalam sungai. Ia sengaja tak langsung berenang ke permukaan karena menduga jika orang yang menabrak mereka pasti sedang menunggu untuk memastikan Adam dan Jasmine tak pernah oeluar dari dalam mobil dan tewas. Jasmine yang tak terbiasa menyelam terlalu lama mulai kehabisan nafas dan air mulai masuk ke dalam mulutnya.
Adam yang menyadari jika pegangan Jasmine pada tangan terlepas segera menoleh. Terlihat jika Jasmine mulai tersedak air yang masuk ke dalam mulutnya. Dengan sigap Adam berenang mendekati Jasmine dan memberikan sedikit pernafasan melalui mulut agar istrinya itu dapat sedikit bertahan lebih lama sebelum mereka bisa muncul ke permukaan sungai.
Setelah dirasa aman ia pun kembali membimbing Jasmine berenang menuju permukaan. Ketika kepala mereka menyembul dipermukaan sungai Jasmine terbatuk beberapa karena kembali kehabisan nafas sehingga ia segera menarik oksigen sebanyak-banyaknya dan tanpa ia sengaja justru membuatnya menelan banyak air. Adam melihat itu langsung menolong istrinya itu dengan membawanya ke tepian sungai. Saat sampai di tepi sungai Jasmine kembali terbatuk yang membuat air yang sempat masuk ke dalam mulutnya keluar.
Adam memijat tengkuk istrinya itu perlahan agar Jasmine merasa lebih baik. Benar saja wajahnya yang semula pucat berangsur pulih. Namun karena pakaian yang mereka kenakan sudah basah kuyub membuat Jasmine menggigil kedinginan.
"Sekarang kita cari tempat untuk berteduh dan mengeringkan baju kita dulu!" ajak Adam sambil memapah Jasmine yang masih lemas dan menggigil kedinginan.
Mereka pun lalu berjalan menembus hutan di tepi sungai. Adam tak mau mengambil resiko mereka ketahuan masih hidup oleh orang yang ingin mencelakai keduanya jika ia dan Jasmine berjalan menyusuri sungai. Setelah berjalan cukup lama Adam dan Jasmine menemukan sebuah pondok pemburu yang terbengkalai. Itu terlihat dari bentuknya yang sudah hampir roboh. Tapi Adam memutuskan untuk mereka beristirahat disana sambil menunggu baju mereka kering dan terhindar dari binatang buas.
Keduanya segera masuk ke dalam pondok begitu Adam berhasil membuka pintu pondok itu. Didalam terlihat lebih nyaman dan cukup bersih dan ada bale-bale untuk mereka tidur. Adam mendudukkan Jasmine diatas bale-bale itu kemudian ia memeriksa isi pondok itu mungkin saja ada sesuatu yang bisa mereka gunakan. Setelah memeriksa beberapa saat akhirnya ia dapat menemukan selebar kain sarung usang namun cukup bersih dan yang terpenting kering. Adam langsung menghampiri Jasmine yang sudah menggigil kedinginan dan wajahnya kembali pucat.
"Kau pakailah ini dan lepaskan semua pakaianmu!" perintahnya pada Jasmine.
Jasmine pun mengangguk dan langsung melakukan perintah Adam sambil masih menggigil kedinginan. Sementara Adam segera keluar mencari kayu kering untuk ia gunakan sebagai kayu bakar untuk menghangatkan tubuh keduanya juga mengeringkan pakaian mereka. Selesai melepas semua pakaiannya yang basah Jasmine meringkuk diatas bale-bale sambil menyelimuti dirinya dengan sarung yang tadi ditemukan oleh Adam. Bibirnya masih bergetar dan membiru karena kedinginan.
Sebenarnya hari sudah agak siang namun karena itu daerah pegunungan dan baru saja terjun dari sungai membuat Jasmine tetap merasa kedinginan meski sudah mengenakan kain sarung yang kering. Tak lama Adam masuk dengan membawa beberapa ranting kayu kering yang ia temukan disekitar pondok. Segera ia merogoh sakunya mencari jika saja ada korek gas yang terselip disana. Untung saja saja ia bisa menemukannya sebab meski ia bukan perokok berat namun ia selalu membawa korek gas di dalam saku celananya untuk berjaga jika ada teman yang membutuhkannya
Setelah sempat beberapa kali ia gagal menyalakan korek itu karena ikut basah terkena air, namun akhirnya bisa juga dinyalakan untuk membuat api unggun ditengah pondok untuk menghangatkan ruangan. Segera Adam membuka pakaiannya yang basah dengan hanya menyisakan celana boxernya dan meletakkannya di sekeliling api agar bisa kering. Begitu juga dengan pakaian Jasmine. Saat melihat Jasmine yang meringkuk kedinginan ia pun segera mendekati istrinya itu dan memeriksanya.
Adam sangat terkejut saat mendapati jika Jasmine ternyata demam akibat kedinginan. Istrinya itu terlihat menggigil kedinginan namun saat ia sentuh ternyata tubuh wanita muda itu terasa sangat panas.
"Apa yang harus aku lakukan ya Allah...." batin Adam panik.
__ADS_1
Dengan reflek ia melepaskan sisa pakaian yang melekat pada tubuhnya dan ikut masuk ke dalam sarung yang dikenakan oleh Jasmine untuk melakukan pertolongan skin to skin. Kemudian ia memeluk tubuh istrinya itu berharap dapat menurunkan suhu panasnya dan mengurangi rasa dingin yang dirasakan oleh Jasmine. Jasmine yang merasakan pelukan Adam langsung menyusupkan kepalanya di dada suaminya. Adam dapat merasakan tubuh istrinya yang masih bergetar dalam pelukannya.
Adam pun berusaha menghangatkan Jasmine dengan mengosok punggung istrinya itu. Perlahan tubuh Jasmine mulai tidak gemetaran dan suhu tubuhnya pun mulai turun. Adam tetap memeluk tubuh Jasmine erat. Sepertinya Jasmine masih dalam keadaan tidak sadar meski demamnya sudah mulai turun. Adam meletakkan dagunya diatas kepala Jasmine masih dengan memeluk tubuhnya yang polos. Saat ini fikiran Adam hanya tertuju pada keselamatan istrinya itu. Jika terjadi sesuatu pada Jasmine ia tak tahu apa ia bisa melanjutkan hidupnya.
"Siapa yang sudah berani mencelakaiku dan Jasmine?" batin Adam.
"Rasanya ini bukan perbuatan orang biasa... dan sepertinya mereka sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang dan sudah mengintaiku serta Jasmine sejak lama..." sambungnya membatin.
Fikiran Adam berkelana memikirkan segala kemungkinan dan orang yang mungkin memiliki dendam hingga ingin mencelakainya dan juga istrinya. Setelah beberapa lama Adam yang juga mulai merasa lelah akhirnya tertidur masih dengan Jasmine di dalam pelukannya.
Sementara di rumah bu Sinta tampak wanita paruh baya itu tengah cemas karena sejak tadi ia tak dapat menghubungi Adam dan juga Jasmine. Mama Tika yang baru saja datang juga mengatakan jika ponsel keduanya tidak aktif. Kedua besan itu tampak sangat cemas memikirkan anak dan menantu mereka. Tiba-tiba saja seorang Artnya datang tergopoh-gopoh menemui bu Sinta.
"Maaf nyonya... tadi saya lihat berita di televisi jika ada kecelakaan di jalan dekat villa den Adam. Ada mobil masuk sungai... dan..." belum sempat Art itu melanjutkan kalimatnya ponsel bu Sinta berdering.
Segera bu Sinta mengangkatnya.
"Halo selamat siang... dengan ibu Sinta?"
"Kami dari kepolisian... ingin mengabarkan jika mobil yang ditumpangi oleh saudara Adam mengalami kecelakaan dan masuk ke dalam sungai" terang suara yang ada diseberang.
"Apa!" seru bu Sinta tak percaya jika anak dan menantunya mengalami kecelakaan.
"Benar bu... kami menemukan mobilnya namun kedua penumpang yang diperkirakan ada didalamnya tidak dapat kami temukan" lanjut suara yang di sebrang.
"Silahkan ibu datang ke kantor kami untuk dimintai keterangan..."
Tubuh bu Sinta langsung lemas dan hampir jatuh ke lantai jika tidak ditahan oleh Artnya dan mama Tika. Baru saja bu Sinta duduk di sofa dengan dibantu Artnya dan mama Tika, ponsel mama Tika ikut berdering. Dan berita yang sama ia terima dari pihak kepolisian. Kedua wanita itu langsung saling berpelukan mencoba untuk saling menguatkan meski dalam hati mereka sangat mengkhawatirkan keselamatan Adam dan Jasmine.
__ADS_1
"Bik... bilang pada pak Man untuk menyiapkan mobil... saya harus pergi mencari informasi di kantor polisi!"
"Baik nyonya..."
"Kau tenanglah Tika... kita akan pergi kesana bersama-sama" kata bu Sinta pada besannya.
"Iya..." sahut mama Tika.
Keduanya pun langsung bersiap. Di tempat lain tampak Jasmine mulai sadar. Ia menggeliat pelan dalam pelukan Adam. Gerakannya langsung membuat Adam terjaga dari tidurnya.
"Kau sudah sadar Honey?" tanya Adam lembut sambil memeriksa kening Jasmine dengan telapak tangannya.
"Syukurlah demammu sudah turun" sambungnya saat merasakan jika tubuh Jasmine sudah tidak lagi panas.
"A... apa... yang... sudah... terjadi?" tanya Jasmine yang masih mencoba mengingat kejadian yang telah menimpa mereka.
"Kau tenanglah... kita sudah selamat sekarang" sahut Adam.
Jasmine pun mulai mengingat semuanya. Rasa ngeri kembali menerpanya. Wanita itu langsung memeluk Adam meyakinkan diri jika ia dan suaminya benar sudah selamat.
"Tenanglah Honey..." ucap Adam sambil mengelus kepala istrinya lembut.
Pria itu juga kembali memeluk istrinya itu memberikan rasa aman agar wanita itu tidak lagi merasakan ketakutan.
"Kita ada dimana Dear?" tanya Jasmine saat sudah mulai merasa tenang.
"Sepertinya ini bekas pondok pemburu Honey... kau tenanglah aku akan mengambilkan pakaian kita... pasti semua sudah kering sekarang" ucap Adam lalu keluar dari balik sarung yang selama ini menutupi tubuh keduanya.
__ADS_1
Melihat keadaan suaminya saat berjalan untuk mengambil pakaian mereka Jasmine baru menyadari jika selama ini keduanya dalam keadaan polos selain kain sarung yang menutupi tubuh keduanya. Jasmine langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan kain sarung yang dikenakannya karena malu. Setelah mengenakan pakaiannya terlebih dahulu barulah Adam mengambil pakaian Jasmine dan memberikannya pada istrinya itu.
Jasmine langsung menerima pakaiannya yang sudah kering dan berusaha memakainya sambil masih berada di dalam sarung. Adam yang tahu jika istrinya masih malu berganti pakaian didepannya pun berinisiatif untuk pergi keluar dengan alasan untuk mencari makanan sebagai pengganjal perut mereka. Setelah kepergian suaminya barulah Jasmine dapat leluasa mengenakan pakaiannya.