
Jasmine yang cemas tak dapat tiba di bandara tepat waktu menyuruh pengemudi ojek online yang mengantarnya untuk mempercepat laju motornya.
"Bang bisa lebih cepat motornya?" serunya.
"Ini udah cepat dek... kalau lebih cepat lagi nanti malah bahaya..." sahut pengemudi ojek itu dengan suara agak keras agar dapat terdengar oleh Jasmine.
Setelah berhasil menyalip beberapa kendaraan didepannya motor mereka terpaksa berhenti karena lampu merah. Jasmine semakin cemas. Lampu merah terasa sangat lama baginya. Ketika lampu berubah hijau pengemudi ojek itu pun langsung tancap gas. Namun tiba-tiba dari arah samping sebuah mobil box yang menyerobot lampu merah langsung menabrak keduanya.
Jasmine langsung terpental dan tubuhnya terlempar diatas kap mobil box yang menabraknya dan memecahkan kaca depannya... sedang pengemudi ojek sempat terseret bersama motornya. Pengemudi mobil box pun tak bisa melarikan diri karena mobilnya langsung menabrak pembatas jalan dan ringsek. Sedang Jasmine kembali terlempar dari atas kap mobil dan membentur tembok pembatas jalan.
Darah sudah mengalir dari sekujur tubuh Jasmine dan gadis itu juga tidak bergerak. Tak lama para petugas medis langsung berdatangan bersamaan dengan petugas kepolisian. Jasmine dan pengemudi ojek yang terluka segera dibawa ke rumah sakit. Sementara sopir mobil box yang masih terjepit di tempat kemudi masih harus menunggu dikeluarkan karena kondisi mobil yang rusak parah membuat petugas penyelamat kesusahan mengeluarkannya dari dalam mobil.
Karena kecelakaan tersebut arus lalu lintas terpaksa harus dialihkan membuat kemacetan menjadi mengular. Maya yang berada di dalam mobil dengan sopirnya pun cemas karena sedari tadi Jasmine tidak dapat ia hubungi.
"Jess kamu dimana?" gumamnya dengan wajah cemas.
Entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa tidak tenang seolah akan terjadi hal buruk yang menimpa sahabatnya itu. Saat melewati lokasi kecelakaan Maya yang sedang melihat keluar jendela pun kaget saat melihat tubuh sahabatnya itu sedang ditandu hendak dimasukkan ke dalam ambulans. Walau seluruh tubuh Jasmine tertutup darah namun ia dapat mengenali sepatu yang dikenakan sahabatnya itu. Karena sepatu itu sepatu yang sama seperti yang sedang ia gunakan saat ini. Mereka berdua memang sering mengenakan sepatu yang sama setiap harinya.
"Pak putar balik! ikuti mobil ambulans yang membawa korban kecelakaan tadi!" suruh Maya pada sopirnya.
Pak sopir pun langsung menuruti perintah nonanya walau belum sepenuhnya mengerti dengan alasan nonanya menyuruhnya mengikuti ambulans yang kini ada di depannya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit mereka pun tiba di rumah sakit. Maya langsung bergegas keluar dari dalam mobil dan berlari kearah ambulans.
Saat pintu ambulans dibuka Maya dapat melihat wajah Jasmine dengan jelas. Luka di kepalanya masih mengeluarkan darah begitu juga luka dibagian tubuh lainnya.
"Maaf dek... jangan menghalangi petugas..." kata petugas medis yang berada di sana.
"Tapi dia teman saya pak..." sahut Maya yang sudah berlinang air mata.
"Kalau begitu adek bisa hubungi orang tuanya? biar kami mengurus temanmu dulu"
"Baik..." jawab Maya yang langsung menghubungi mama Tika.
Sudah dua kali Maya mencoba menghubungi mama Tika namun tak juga diangkat. Maya sudah mulai frustasi hingga akhirnya pada panggilan ketiga akhirnya mama Tika mengangkatnya.
"Halo tante... tolong cepat datang ke rumah sakit Jiwa Kasih" ucapnya begitu terdengar suara mama Tika.
"Ada apa May?" tanya mama Tika bingung.
"Jasmine tante... dia kecelakaan!!" sahut Maya sambil menangis.
Mama Tika langsung tertegun tak percaya dengan yang dikatakan Maya barusan.
"Jangan bercanda May!"
"Ga tante.... Maya ga bercanda... tadi Jasmine naik ojek dan dia kecelakaan..." terang Maya dengan sesenggukan.
"Tante segera kesana May... kamu tunggu ya..."
"Iya tante..." sahut Maya.
Setelah mematikan ponselnya Maya segera ke ruang IGD dimana Jasmine sedang menjalani tindakan. Maya pun hanya bisa menunggu di depan ruangan IGD dengan cemas sambil menunggu kedatangan mama Tika. Tak lama pintu ruang IGD terbuka dan tampak seorang perawat keluar dari dalam sana.
__ADS_1
"Keluarga nona Jasmine..."
"Saya temannya Sus..." sahut Maya.
"Apa keluarganya tidak ada?" tanya perawat itu pada Maya.
"Ada Sus... tapi masih dalam perjalanan kemari" terang Maya.
"Kalau begitu jika keluarganya datang tolong diminta untuk segera kebagian administrasi karena pasien harus segera dioperasi dan menunggu ijin dari keluarga" kata perawat tersebut.
"Iya Sus..."
"Tunggu...." terdengar suara mama Tika yang baru datang.
"Anda siapa?" tanya perawat tersebut.
"Saya ibunya Jasmine"
"Baik bu... kalau begitu akan saya jelaskan lagi... pasien harus melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawanya jadi kami butuh tanda tangan ibu sebagai persetujuan atas tindakan operasi yang harus kami lakukan" terang perawat tersebut.
Mama Tika langsung mengangguk dan segera memberikan tanda tangannya. Tak lama dari dalam ruang IGD keluar dokter dan beberapa perawat yang membawa brankar berisi Jasmine menuju ruang operasi.
Mama Tika dan Maya pun mengikuti mereka dari belakang. Namun saat tiba di depan ruang operasi mereka ditahan oleh perawat agar menunggu di luar.
"Bagaimana bisa terjadi seperti ini May?" tanya mama Tika saat keduanya duduk menunggu di depan ruang operasi.
"Maya juga ga tahu tante... tadi sekolah dipulangkan cepat karena ada rapat guru. Lalu tiba-tiba Jasmine sudah memesan ojek online dan ingin pergi ke bandara. Makanya Maya menyusulnya dengan pak sopir tante.... tapi di jalan Maya lihat Jasmine sudah terluka parah dan dibawa ke ambulans. Jadi Maya langsung mengikuti ambulans dan menyusul kemari ..." terang Maya sambil menangis.
"Sudahlah May... kamu ga salah..." ucapnya menenangkan Maya.
"Tapi kenapa Jasmine mau ke bandara May?"
Maya yang bingung antara mau jujur atau berbohong pada mama Tika akhirnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mama Tika pun hanya bisa menghela nafas pelan.
"Mungkin benar Maya tidak tahu alasan Jasmine pergi ke bandara bukankah tadi gadis itu bilang jika ia baru tahu saat Jasmine sudah memesan ojek online" pikir mama Tika.
Keduanya pun akhirnya terdiam larut dalam fikiran masing-masing. Dua jam sudah operasi yang dijalani oleh Jasmine. Baru kemudian ruang operasi dibuka. Tampak seorang dokter keluar bersama perawatnya.
"Dengan keluarga nona Jasmine?" tanyanya.
"Saya ibunya dok" sahut mama Tika sambil berdiri dari duduknya diikuti oleh Maya.
"Begini bu... operasi yang kami lakukan memang berhasil menyelamatkan nyawa putri ibu..." dokter itu menjeda kalimatnya dengan menarik nafas dalam.
"Tapi sayangnya luka pada bagian panggulnya menyebabkan putri ibu akan mengalami kelumpuhan..." sambungnya.
Mendengar itu tubuh mama Tika terhuyung ke belakang. Untung saja ada Maya yang menahannya.
"Maksud dokter anak saya selamanya lumpuh?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Itu belum bisa dipastikan bu... namun melihat keadaannya saat ini kemungkinan untuk bisa sembuh dan bisa berjalan dengan normal sangat kecil" ungkap dokter tersebut.
__ADS_1
Mama Tika tak dapat menahan kesedihannya ... putri semata wayangnya kini cacat. Maya juga sangat terkejut dengan perkataan dokter. Ia tak dapat membayangkan betapa hancurnya perasaan Jasmine jika gadis itu nanti sadar.
Setelah menjelaskan kondisi Jasmine, dokter itu ou undur diri meninggalkan mama Tika dan Maya yang masih terpekur di bangku depan ruang operasi. Saat brankar yang membawa tubuh Jasmine keluar dari ruang operasi untuk dibawa ke ruang ICU karena kondisinya yang belum stabil, mama Tika dan Maya pun langsung mengikutinya.
Setibanya di ruang ICU Jasmine langsung dipasangi alat medis untuk mengontrol kondisinya.
"Sus ... sampai kapan putri saya berada di ruangan ini?" tanya mama Tika.
"Sampai kondisinya stabil bu... setelah itu baru bisa kami pindahkan ke ruang perawatan biasa" kata perawat yang membawa Jasmine.
Mama Tika pun mengangguk mengerti. Dalam hatinya mama Tika tak pernah putus berdo'a agar keadaan Jasmine semakin membaik.
"May... lebih baik kamu pulang dulu ke rumah. Nanti orangtua kamu khawatir" kata mama Tika.
"Tapi tante..."
"Jangan khawatir... tante ada disini jadi kalau ada apa-apa nanti tante kabari" kata mama Tika.
"Baiklah tante... kalau begitu Maya pulang dulu tan"
"Iya May... kamu hati-hati ya pulangnya"
"Iya tante..."
Sepeninggalnya Maya, mama Tika kembali menangis. Sejak tadi ia sudah berusaha tegar karen ada Maya. Namun saat sendiri mama Tika tak mampu menahan kesedihannya.
"Cepatlah sadar Jess..." gumamnya sambil memandang putrinya dari balik kaca ruang ICU.
Tante Fira dan Dara datang setelah mereka bisa menutup butik karena hari ini sangat ramai. Keduanya langsung menemui mama Tika di deoan ruangan Jasmine.
"Tika..." panggil tante Fira saat dilihatnya sahabatnya itu sedang duduk sambil menundukkan kepalanya.
Seketika mama Tika menoleh. Dan saat dilihatnya tante Fira datang bersama Dara ia pun segera memeluk tante Fira erat.
"Jasmine Fir..." ucapnya sambil menangis dipelukan sahabatnya itu.
"Yang sabar Tik..." kata tante Fira berusaha menenangkan.
"Bagaimana bisa sampai terjadi seperti ini Tik?"
Mama Tika pun menjelaskan apa yang terjadi sesuai yang didengarnya dari Maya.
"Sudahlah Tik... yang penting sekarang kita berdo'a agar Jasmine segera sadar" ucap tante Fira.
Mama Tika pun mengangguk. Dan mereka pun menunggui Jasmine bersama.
Sementara Adam yang masih berada di dalam pesawat tak merasa tenang. Hati dan fikirannya selalu tertuju pada Jasmine. Perasaan tak enak pun menghantuinya karena gadis itu tak muncul di bandara.
"Apakah sudah terjadi sesuatu padamu Jess?" batinnya sambil menatap kosong keluar pesawat.
Sedang mama Tika kini sedirian menjaga Jasmine setelah tante Fira dan Dara pulang. Namun tante Fira berjanji akan kembali dengan membawa baju ganti untuk mama Tika. Sementara Dara juga akan kembali menemani mama Tika setelah ia pulang ke rumah dan meminta ijin pada orangtuanya.
__ADS_1