Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Mencari Bantuan


__ADS_3

Setelah berpakaian Jasmine mulai meneliti keadaan di dalam pondok itu. Ia dapat melihat beberapa peralatan dapur sederhana ada disana. Kemudian Jasmine juga memeriksa keadaan di luar pondok. Ternyata di belakang pondok terdapat sumber mata air kecil yang dapat digunakan untuk air minum. Segera ia kembali ke dalam pondok untuk mengambil panci yang tadi sempat ia lihat. Kemudian ia menggunakan panci itu untuk menampung air yang akan ia masak untuk air minum.


Untung saja api unggun yang di buat oleh Adam masih menyala meski sudah mulai kecil. Dengan segera Jasmine kembali keluar dan mencari beberapa batang ranting kering untuk dijadikan kayu bakar. Setelah itu Jasmine langsung menambahkan ranting yang diperolehnya pada api yang sudah mulai padam. Sesudah berusaha beberapa saat akhirnya api itu pun membesar cukup untuk matangkan air yang ada di dalam panci. Sambil menunggu air matang dan Adam, Jasmine kembali memeriksa pondok itu untuk mencari tempat yang bisa digunakan sebagai gelas. Akhirnya ia pun menemukan sebuah gelas yang terlihat cukup berdebu. Dengan segera Jasmine membawanya ke mata air untuk ia cuci.


Saat kembali ke pondok ia terkejut karena ternyata Adam sudah kembali. Pria itu bahkan tampak tengah mencari dirinya.


"Kau dari mana saja Honey? aku sangat mencemaskanmu!" seru Adam langsung memeluk istrinya itu.


"Aku hanya membersihkan ini agar nanti kita bisa minum saat airnya matang" terang Jasmine merasa bersalah karena telah membuat suaminya cemas sambil menunjukkan gelas yang dibawanya.


"Oh... baiklah... lain kali tunggulah aku terlebih dahulu agar aku tidak khawatir" ucap Adam sambil membimbing Jasmine masuk ke dalam pondok.


Tampak di dalam sudah ada beberapa macam buah yang sudah berhasil ditemukan oleh Adam untuk mereka mengisi perut. Adam pun langsung mengajak Jasmine untuk langsung memakan buah-buahan yang sengaja ia kumpulkan dari dalam hutan. Air yang Jasmine masak pun matang saat keduanya hendak mulai makan. Adam segera membantu Jasmine untuk mengangkat air yang baru saja mendidih itu dari atas api dengan menggunakan dedaunan untuk melindungi tangannya.


Setelah mereka berdua pun langsung memakan buah-buahan yang ada karena perut keduanya sudah mulai keroncongan. Setelah merasa kenyang keduanya pun beristirahat diatas bale-bale.


"Dear... apa kita akan tetap disini dulu?" tanya Jasmine sambil menyandarkan kepalanya di bahu Adam.


"Hem... setelah kita beristirahat sebentar kita akan mencari jalan keluar dari hutan ini dan mencari perkampungan penduduk agar bisa meminta bantuan" ujar Adam menerangkan rencananya.


"Apa kau takut berada disini?" tanya Adam sambil membelai kepala Jasmine.


"Tidak... selama aku bersamamu aku tidak akan pernah merasa takut" sahut Jasmine sambil melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya itu.


Adam mencium puncak kepala Jasmine lembut. Ia tahu jika istrinya itu pasti tengah merasa ketakutan sejak kecelakaan yang menimpa keduanya. Siapa yang tak takut mengetahui jika ada yang ingin mencelakai keduanya. Adam mengelus punggung Jasmine pelan, berusaha membuat istrinya itu merasa lebih tenang.


"Kita pergi sekarang saja... mumpung hari masih terang!" ajak Adam.


Jasmine pun mengangguk setuju. Adam mengumpulkan sisa buah yang tadi ia bawa dan membungkusnya dengan daun pisang yang tadi ia gunakan membawa buah-buahan itu. Sementara Jasmine mencari wadah agar ia bisa membawa air yang tadi sudah ia masak.


"Dear... bagaimana caranya kita membawa air ini?" tanya Jasmine pada Adam setelah ia tak juga menemukan wadah yang ia butuhkan.

__ADS_1


"Tunggu sebentar!" kata Adam lalu keluar dari pondok entah kemana.


Tak lama ia pun kembali dengan membawa batang bambu yang sudah ia bersihkan. Kemudian Adam pun memasukkan air yang telah dimasaknJasmine tadi ke dalam batang bambu itu. Kemudian keduanya pun meninggalkan pondok itu dan mulai berjalan membelah hutan. Adam membawa Jasmine untuk menyusuri tepian sungai. Berharap mereka dapat menemukan pemukiman di sekitar sana. Beberapa kali mereka berhenti sejenak untuk beristirahat dan meminum air yang mereka bawa. Adam tak ingin membawa Jasmine berjalan terlalu cepat agar istrinya itu tidak merasa terlalu kelelahan. Ia tahu keadaan Jasmine belum sembuh benar.


Setelah berjalan sekitar satu jam akhirnya Adam mendengar suara riuh anak-anak yang tengah bermain di sungai. Dengan segera Adam membawa Jasmine mendekat ke arah suara. Dan benar saja tak lama keduanya dapat melihat bocah-bocah yang sedang bermain dan berenang disana. Adam pun segera bertanya pada salah satu bocah itu dimana perkampungan terdekat. Dan berkat petunjuk yang diberikan oleh bocah itu keduanya pun kini dapat menemukan sebuah perkampungan yang terletak tak jauh dari sungai.


Setelah sampai di perkampungan itu Adam langsung mengetuk salah satu pintu rumah penduduk. Tak lama sang empunya rumah pun keluar dari dalam.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam... aden siapa ya?" tanya pemilik rumah yang seorang wanita paruh baya.


"Maaf perkenalkan saya Adam... dan ini istri saya Jasmine... kami mengalami kecelakaan dan tersesat di hutan..." terang Adam pada pemilik rumah.


Sang pemilik rumah pun lalu mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam rumahnya dan menyuruh keduanyan untuk duduk di ruang tamu. Setelah memperkenalkan diri kemudian ia pun mendengarkan penjelasan Adam tentang alasan keduanya sampai bisa berada di kampung itu dan meminta bantuan untuk bisa menghubungi keluarganya.


"Maaf aden... di sini tidak ada yang memiliki telepon atau pun ponsel seperti yang tadi aden tanyakan... soalnya daerah sini cukup terpencil bahkan listrik pun disini belum ada..." terang sang pemilik rumah yang bernama bu Sumi.


"Kalau aden mau besok saya bisa mengantar aden ke kota" usul pak Jajang suami bu Sumi.


"Terima kasih pak... bu... atas bantuan kalian pada kami..." ucap Adam.


"Sama-sama den Adam... sekarang lebih baik kalian istirahat saja dulu... di rumah ini masih ada satu kamar lagi" kata pak Jajang lalu menyuruh istrinya untuk mengantarkan keduanya ke kamar.


Setelah kembali mengucapakan terima kasih keduanya pun mengikuti bu Sumi. Setelah menunjukkan kamar yang bisa mereka tempati bu Sumi pun meninggalkan keduanya di dalam kamar. Tak lama ia kembali dengan membawa pakaian ganti untuk keduannya dan mukena untuk Jasmine saat tahu jika keduanya muslim.


"Ini pakailah neng... aden... maaf ini hanya ini yang ada...ini pakaian kami tapi ini masih bersih..." kata bu Sumi sambil menyerahkan pakaian dan mukena pada Jasmine.


"Tidak apa-apa bu... maaf sudah merepotkan" ucap Jasmine yang diangguki oleh Adam.


Setelahnya bu Sumi pun pamit dan membiarkan keduanya beristirahat. Adam dan Jasmine pun segera berganti pakaian setelah sebelumnya membersihkan diri di kamar mandi yang ada dibelakang rumah. Adam dan Jasmine juga menjalankan ibadahnya yang tertunda karena tadi di dalam hutan. Setelah selesai barulah keduanya beristirahat dengan membaringkan tubuh mereka di atas tempat tidur. Meski beralaskan kasur tipis namun lebih baik dibanding saat di pondok tengah hutan. Keduanya pun langsung tertidur karena kelelahan.

__ADS_1


Sore hari Jasmine bangun terlebih dahulu. Untuk sesaat ia merasa bingung karena terbangun bukan ditempat yang ia kenal. Namun saat teringat dengan apa yang sudah terjadi padanya dan juga Adam akhirnya ia pun sadar. Saat menoleh kesamping ia dapat melihat Adam masih tertidur. Perlahan Jasmine bangun dan turun dari tempat tidur. Ia pun segera keluar dari dalam kamar untuk menemui pemilik rumah. Ia hendak membantu sebisanya karena sudah diizinkan untuk beristirahat disana.


Saat melewati dapur ia melihat bu Sumi tengah sibuk memasak. Ia pun berinisiatif untuk membantu wanita patuh baya itu.


"Maaf bu... biar saya bantu..." ucap Jasmine.


Bu Sumi pun menoleh dan tersenyum pada Jasmine.


"Tidak usah neng... ibu sudah biasa mengerjakan semuanya sendiri..." tolak bu Sumi.


"Ga pa-pa bu... saya juga biasa mengerjakan pekerjaan rumah seperti ini..."


"Baiklah kalau eneng memaksa..." sahut bu Sumi pasrah.


Keduanya pun memasak sambil bercerita dan dari sana Jasmine tahu jika bu Sumi dan suaminya hanya tinggal berdua karena putra semata wayangnya telah meninggal dunia saat berumur lima tahun karena sakit dan tidak sempat dibawa ke dokter atau puskesmas karena di kampung itu tidak ada fasilitas kesehatan dan untuk bisa keluar kampung mereka harus melewati jalanan yang terjal dan sulit. Jasmine ikut terharu mendengar kisah bu Sumi dan suaminya. Ia juga salut karena keduanya tetap kompak dan saling setia meski tak lagi memiliki keturunan. Sungguh pasangan yang patut untuk dijadikan contoh.


Saat keduanya asyik bercerita terdengar suara Adam yang baru bangun dan menemui keduanya di dapur.


"Maaf bu saya kesorean bangunnya..." ucap Adam tak enak.


"Tidak apa-apa den Adam... dari cerita neng Jasmine ibu faham kalau kalian pasti sangat kelelahan berjalan sejauh itu hingga sampai kemari"


"Iya bu... terima kasih" sahut Adam.


"Oh iya ... pak Jajang kemana? dari tadi saya tidak melihat beliau" tanya Adam.


"Oh... bapak kalau sore begini selalu pergi mencari rumput untuk kambing kami..." terang bu Sumi.


Mereka pun berbincang hingga bu Sumi dan Jasmine selesai memasak. Kemudian ketiganya bergantian membersihkan diri karena hari sudah semakin petang. Seperti kata bu Sumi kampung itu memang belum dialiri listrik. Karenanya suasana langsung temaram begitu mentari mulai tenggelam. Adam pun langsung membantu menyalakan lampu minyak agar rumah tidak gelap. Bahkan suara azan magrib terdengar lirih karena tak memakai pengeras suara.


Pak Jajang yang sudah pulang menjelang magrib mengajak Adam sholat berjamaah di musholla dekat rumah mereka. Adam pun langsung menyetujuinya. Dalam hati ia terenyuh melihat ketaatan orang-orang di kampung itu yang rajin beribadah ditengah keterbatasan yang mereka miliki. Tersirat di hati Adam untuk membantu mereka ketika nanti ia telah kembali ke kota asalnya.

__ADS_1


__ADS_2