
Hari sudah menjelang siang namun pak Bima tak mau beranjak meninggalkan putrinya. Begitu juga dengan bu Nike. Sepanjang waktu tadi keduanya tak banyak bicara dan sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
"Apa kau tidak ingin menghubungi istrimu dan memberitahunya tentang keadaan Mirna sekarang mas?" tanya bu Nike tiba-tiba.
Sebab dari tadi ia melihat jika pak Bima tidak berusaha untuk menghubungi bu Dita istrinya. Pak Bima mendesah pelan, ia bukan tak mau untuk menghubungi istrinya yang sebentar lagi akan menjadi mantan itu untuk mengabarkan tentang kondisi Mirna saat ini... tapi karena hubungan keduanya sedang memburuk. Hingga ia tidak yakin jika bu Dita akan mau mengangkat telfonnya.
Namun mau tidak mau akhirnya ia pun mengeluarkan ponselnya dan memencet nomor bu Dita. Karena memang wanita itu juga punya hak untuk mengetahui keadaan Mirna karena selama ini dialah yang telah merawat Mirna sejak balita.
Tut... tut... tut...
Terdengar nada tersambung namun belum juga diangkat oleh bu Dita. Meski begitu pak Bima tidak langsung mematikan sambunga ponselnya ia masih berharap jika bu Dita mau menerima panggilannya.
"Halo?" terdengar suara wanita yang beberapa hari ini sangat dirindukannya.
"Halo Dita... maaf aku mengganggumu... tapi ini tentang Mirna..." ucapan pak Bima langsung terpotong dengan suara panik dari bu Dita diseberang sana.
"Ada apa dengan Mirna mas?" tanya bu Dita panik.
__ADS_1
"Dia terkena musibah Dit... dan sekarang ada di rumah sakit..." terang pak Bima yang lega saat tahu jika istrinya itu masih mengkhawatirkan keadaan Mirna.
Tentu saja bu Dita khawatir karena wanita itu memang dengan tulus merawat Mirna sejak ibu kandungnya menyerahkannya diusia masih balita. Meski ada luka yang tersimpan pada hatinya karena saat menatap wajah Mirna membuatnya terus terngiang pada pengkhianatan suaminya. Apa lagi pria itu juga tidak pernah berhenti untuk terus mengulang kesalahanya dengan wanita yang berbeda. Hanya Mirna yang membuatnya kuat karena menganggap anak itu seperti putri kandungnya sendiri.
Namun pengkhiatan demi pengkhianatan terus dilakukan oleh pak Bima yang membuat bu Dita menjadi lelah dan muak. Sehingga akhirnya setelah bertahan berumah tangga selama puluhan tahun dengan pak Bima, bu Dita pun menyerah. Namun ia masih berharap Mirna bisa tetap ikut dengannya meski bukan darah dagingnya. Tapi saat ia tahu jika Mirna ingin merebut suami orang rasanya ia seperti tertampar... usahanya mendidik Mirna selama ini sudah gagal. Dan itu lebih menyakitkan dari pengkhianatan suaminya selama ini karena bu Dita sungguh sudah menganggap Mirna sebagai putrinya.
Tapi saat ia tahu jika Mirna tidak sedang baik-baik saja, wanita paruh baya itu pun langsung trenyuh dan ingin menemui Mirna. Tanpa buang waktu setelah mendapatkan alamat rumah sakit dimana Mirna dirawat dari pak Bima, ia pun segera menuju ke sana.
"Bagaimana mas? apa istrimu akan kemari?" tanya bu Nike setelah melihat pak Bima mengakhiri panggilannya.
"Iya... dia akan langsung kemari..." terang pak Bima.
Pak Bima hanya mengangguk membenarkan perkataan bu Nike. Pria itu juga membiarkan bu Nike pergi dengan membawa koper kecilnya sendiri setelah sebelumnya wanita itu berpamitan pada Mirna meski pun tidak mendapatkan respon dari Mirna. Setelah keluar dari rumah sakit bu Nike langsung menaiki taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpangnya di depan rumah sakit. Ia langsung menyuruh sopir taksi untuk membawanya ke sebuah apartemen sederhana.
Apartemen itu memang miliknya yang ia beli tanpa sepengetahuan suaminya. Harganya yang tidak terlampau mahal untuk ukuran apartemen membuat bu Nike dengan mudah bisa membelinya dengan menjual beberapa perhiasan lamanya. Sehingga suaminya tidak curiga jika perhiasan yang pernah dibelikannya berkurang. Setelah meletakkan kopernya bu Nike langsung merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Tadi sebelum ia ke rumah sakit dalam perjalanan ia menghubungi agen jasa kebersihan yang biasa ia sewa untuk membersihkan apartemennya sehingga ia bisa langsung beristirahat saat sudah sampai.
Di rumah sakit tampak bu Dita tengah menangisi Mirna setelah ia melihat anak yang selama ini diasuhnya dengan penuh kasih sayang terlihat pucat dengan pandangan kosong akibat trauma yang dihadapinya. Meski marah karena Mirna menuruni sifat buruk kedua orangtua kandungnya namun ia juga tidak rela jika Mirna mengalami pelecehan hingga menyebabkan wanita itu trauma.
__ADS_1
"Mas... apa kau sudah lapor polisi?" tanya bu Dita setelah ia bisa menenangkan dirinya.
"Belum Dit... dan aku rasa itu juga percuma karena tidak ada bukti dan juga saksi atas kejadian yang menimpa Mirna... apa lagi kini kau lihat dendiri keadaannya sekarang... bagaimana dia bisa memberikan kesaksian jika dia sendiri sangat trauma..." terang pak Bima.
"Maafkan mama sayang... mama tidak bisa menolongmu saat kau sangat membutuhkan mama..." ucap bu Dita sambil menahan tangisnya yang kembali akan jatuh.
"Ma... ma..." terdengar suara Mirna yang merespon ucapan bu Dita.
"Sa... sayang? kau sudah mau bicara nak?" seru bu Dita sambil memegangi bahu Mirna lembut.
"Mama... a...aku takut..." ucap Mirna lirih dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan takut sayang... mama ada di sini... jadi jangan takut... tidak ada yang akan berani mengganggumu selama mama ada di sini..." kata bu Dita langsung memeluk erat Mirna berusaha menenangkan putrinya itu.
Mirna langsung memeluk bu Dita dengan erat seolah hanya dia yang bisa melindunginya. Sebenarnya sejak kecil Mirna memang sangat dekat dengan bu Dita yang ia anggap sebagai mama kandungnya. Hanya saja semakin dewasa sifat liarnya yang membuatnya lebih condong pada papanya dari pada sang mama karena pria itu akan selalu menuruti permintaannya tanpa berfikir baik dan buruknya. Sementara bu Dita selalu saja menasehatinya jika ia melakukan perbuatan salah.
Berada dalam pelukan mamanya membuat Mirna merasa sedikit tenang. Bahkan ia sudah mulai mau makan saat bu Dita menyuapinya. Meski tidak berbicara banyak namun wanita itu sudah tidak bertingkah histeris lagi dan hanya sesekali saja masih terlihat melamun. Bu Dita sejak datang ke rumah sakit tampak tidak lagi memikirkan permasalahannya dengan pak Bima. Wanita itu hanya memikirkan keadaan Mirna. Sungguh wanita yang sangat sulit ditemui didunia ini.
__ADS_1
Pak Bima yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara bu Dita dan Mirna pun merasa tercubit hatinya. Wanita yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah itu justru yang bisa menenangkan putrinya disaat terpuruk dan depresi. Sedangkan dia dan bahkan bu Nike yang notabene adalah ibu kandungnya pun tak mampu berbuat apa-apa untuk sekedar menenangkan putrinya itu. Baru kali ini pak Bima menyadari jika kasih seorang ibu tidak hanya bisa diberikan oleh ibu kandung saja. Selama ini meski ia melihat betapa tulus bu Dita merawat putrinya namun ia menganggap itu hanya karena wanita itu mandul dan terpaksa menerima Mirna sebagai putrinya.
Sungguh pak Bima merasa menyesal karena selama ini sudah menyia-nyiakan wanita sebaik bu Dita dan juga sering menyakiti hati wanita lembut itu dengan sering berkhianat darinya. Jika kali ini bu Dita memutuskan untuk menyerah dan berpisah darinya mungkin karena batas kesabaran wanita itu sudah pada akhirnya. Dan pak Bima yang mulai sadar dan ingin memperbaiki semuanya pun nampaknya akan sulit untuk bisa meraih lagi hati dan kepercayaan dari bu Dita. Penyesalan memang selalu datang terlambat... dan ini baru disadari oleh pak Bima.