Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Permintaan Tolong


__ADS_3

Saat menemukan kucing kesayangannya sudah duduk manis diatas meja kerjanya Rian terkejut saat melihat ada seutas tali rafia yang melingkar dikepala kucing kesayangannya itu.


"Hei Moci... siapa yang tega melakukan ini sama kamu sih?" ucapnya sambil mengelus kepala Moci perlahan dan berusaha melepaskan taki rafia itu.


Rian tambah terkejut saat melihat ada sebuah gulungan kertas yang juga tergantung disana. Dengan penasaran ia pun membuka gulungan kertas tersebut.


"Maaf sebelumnya... saya terpaksa melakukan ini, tapi saya mohon jika anda membaca surat ini tolong hubungi polisi dan katakan jika kucing anda telah bertemu dengan saya. Saya tidak tahu pasti ada dimana karena saya sedang diculik. Nama saya Jasmine jika anda tidak percaya tolong hubungi nomor ini, 0xxx xxxxx itu adalah nomor ponsel ibu saya. Saya mohon bantu saya..."


Rian menghembuskan nafasnya pelan dan memandangi kucing kesayangannya itu.


"Hei... apa yang ditulis wanita ini benar?" tanyanya pada Moci seakan kucing itu bisa menjawabnya.


Namun Moci malah asyik menjilati cakarnya. Dengan hati bimbang Rian kembali membaca surat yang ditulis oleh Jasmine.


"Eh ... benar ga ya yang ditulis didalam surat ini... apa jangan-jangan cuma kerjaan orang iseng?" batin Rian ragu.


Akhirnya ia pun hanya meletakkan kertas itu diatas meja kerjanya dan melangkah keluar kamar untuk makan malam. Selesai makan malam ia pun kembali ke dalam kamar dan melihat si Moci yang masih setia diatas meja kerja Rian.Bahkan kucing itu seperti merajuk saat Rian hendak memindahkannya dari meja kerjanya.


Akhirnya dibiarkannya kucing hitam putih itu tetap diatas meja dan hanya mengambil laptopnya untuk mengerjakan tugasnya diatas tempat tidur. Saat tengah asyik berkutat dengan laptopnya tiba-tiba si Moci merebahkan dirinya di atas tuts keyboardnya. Rian hanya bisa mendengus kesal. Pasalnya jika sudah begini maka Moci tidak akan berhenti mengganggunya hingga Rian meninggalkan pekerjaannya.


Dengan sedikit kesal Rian pun menutup laptopnya. Dan benar saja Moci langsung menggesekkan tubuhnya pada Rian sambil mengeluarkan suara dengkuran halus. Rian pun lalu mengelus kucingnya itu lembut.


"Apa kau lapar?" tanyanya.


Moci langsung mengeong.


"Baiklah... kau makan dulu" ucap Rian sambil mengambil makanan kucing dan meletakkannya di wadah makanan Moci.


Setelah memberi makan Moci ia pun segera melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda. Tepat pukul sembilan malam ia akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaannya. Saat ia akan meletakkan laptopnya di meja kerjanya tak sengaja ia kembali melihat kertas yang tadi di bawa oleh Moci. Sekali lagi Rian membaca surat tersebut. Sepertinya ia tidak bisa mengabaikan surat itu begitu saja.


Akhirnya ia pun memutuskan untuk menghubungi nomor yang ada di dalam surat. Ia pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomor tersebut. Terdengar nada tersambung disana namun setelah beberapa saat tak juga diangkat. Rian pun kemutuskan sambungan. Sesaat kemudian ia kembali menghububgi nomor tersebut. Tak lama panggilannya pun diangkat dari seberang sana.


"Halo..."


"Halo? apa benar ini ibunya Jasmine?" tanya Rian hati-hati.


"Iya benar... ada apa ya?"

__ADS_1


Rian pun lalu menjelaskan tentang bagaimana ia menemukan surat yang ditulis oleh Jasmine. Terdengar suara seseorang tengah menahan isak di seberang sana.


"A...apa... kau bisa menscreenshot surat itu?" tanya mama Tika dengan suara bergetar.


"Iya... sebentar..." sahut Rian lalu ia pun segera menscreenshot surat dari Jasmine dan segera mengirimkannya pada mama Tika.


Saat melihat foto surat Jasmine yang dikirim oleh Rian, mama Tika langsung mengenali tulisan tangan putrinya itu.


"Benar... itu tulisan putri saya..." kata mama Tika.


"Apa kau yakin kucing itu tahu dimana putri saya?" tanya mama Tika.


"Iya bu... sebab saya sendiri yang mengambil surat itu dari leher kucing saya" terang Rian.


"Baiklah... bisa kau beri tahu dimana alamat rumah kamu? saya akan segera kesana"


"Baiklah bu..." sahut Rian lalu mengirimkan alamat rumahnya.


Setelah sambungan telfon terputus mama Tika langsung menghubungi Adam dan menceritakan semua yang dikatakan oleh Rian. Mama Tika pun akan segera berangkat ke rumah Rian. Adam yang masih berada di kota C pun akan menunggu mama Tika agar mereka dapat ke rumah Rian bersama-sama.


"Tapi tante pergi dengan sopirku saja ya... nanti akan kusuruh untuk menjemput tante di rumah" kata Adam.


Selanjutnya Adam langsung menghubungi mamanya untuk meminta izin menyuruh sopirnya untuk mengantar mama Tika. Dan saat mamanya tahu jika mama Tika hendak menyusul Adam dan menelusuri petunjuk terbaru dia pun langsung berinisiatif untuk ikut. Jadilah malam itu mama Tika dan mama Sinta berangkat bersama ke kota C.


Di kamarnya Jasmine sedang gelisah. Dari tadi ia hanya membolak balikkan badannya diatas tempat tidur. Fikirannya melayang mengira-ngira apakah kucing hitam putih itu berhasil membawa pesannya pada pemiliknya. Jika benar berhasil apakah sang pemilik akan mempercayai tulisannya dan menghubungi polisi atau setidaknya menghubungi mamanya.


"Dari pada aku gelisah seperti ini lebih baik aku latihan berjalan lagi saja..." batin Jasmine.


Lalu gadis itu pun bangun dan berusaha turun dari atas tempat tidurnya. Perlahan ia menapakkan kakinya di atas lantai. Setelah berhasil berdiri ia pun mencoba untuk melangkahkan kakinya perlahan. Saat pertama gadis itu agak tertatih dan sedikit menyeret kakinya namun kelamaan ia sudah dapat melangkah mantap walau belum cepat.


Setelah hampir satu jam Jasmine berlatih ia pun mulai merasa lelah dan mengantuk. Akhirnya ia pun beranjak naik ke atas tempat tidurnya dan bersiap untuk tidur. Namun sebelum itu tak lupa ia berdo'a agar semua rencananya berjalan lancar sehingga ia bisa kembali pada mamanya dan juga Adam.


Saat mengingat keduanya hati Jasmine langsung terasa sakit. Rasa rindu dan cemas karena khawatir memenuhi hatinya sehingga tak terasa air matanya pun mengalir.


"Mama... Jasmine kangen ma..." gumamnya sambil memejamkan matanya.


Sekilas bayangan Adam pun melintas di benak gadis itu. Kenangan bersama Adam membuat Jasmine kuat bertahan selama ini. Ia masih berharap jika pria itu bisa secepatnya menemukan dirinya dan membawanya pergi dari tempat itu. Lelah menangis akhirnya Jasmine pun tertidur dengan mata sembab. Tapi setidaknya malam ini ia tak bermimpi buruk sehingga ia bisa tidur dengan tenang.

__ADS_1


Pagi hari entah mengapa hati Jasmine merasa tidak tenang. Rasanya seperti akan terjadi sesuatu. Tapi ia tak bisa menebak apakah sesuatu itu merupakan hal baik atau malah sebaliknya. Hingga saat sarapan pagi gadis itu terlihat tidak bersemangat.


Untung saja pagi itu ia sarapan sendiri sebab Ghani sudah pergi sejak pagi entah kemana. Saat melihat Jasmine hanya mengaduk-aduk sarapannya bik Narsih pun menegurnya sebab ia tak ingin Jasmine menjadi sakit karena makan tidak teratur.


"Non... sarapannya dimakan dong..." ucap bik Narsih lembut.


"Rasanya aku ga selera makan bik" sahut Jasmine masih mengaduk isi piringnya.


"Jangan begitu non... nanti non Jasmine bisa sakit"


Jasmine mendesah pelan. Namun akhirnya ia mulai memakan makanannya. Bik Narsih pun tampak senang melihat Jasmine sudah mau makan.


Sementara di hotel tempat Adam menginap, mama Tika dan mama Sinta sudah sampai di sana sejak sebelum azan subuh. Walau tubuh keduanya lelah namun mereka tetap keukeh ingin ikut ke rumah Rian sang pemilik kucing. Akhirnya mereka bertiga pergi ke alamat yang Rian berikan bersama anak buah Adam. Sedangkan pak sopir masih disuruh istirahat di hotel setelah semalaman menyetir.


Ternyata alamat rumah Rian cukup mudah untuk ditemukan sehingga mereka bisa cepat sampai di alamat yang dituju. Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam tak berapa lama pintu rumah pun terbuka dari dalam. Tampak seorang pemuda dengan penampilan seperti habis tidur membukakan pintu. Setelah saling mengenalkan diri mereka pun diajak masuk ke dalam rumah.


Rian langsung menunjukkan surat yang di tulis oleh Jasmine kepada mama Tika, Adam dan juga mama Sinta. Mama Tika semakin yakin jika tulisan pada kertas itu benar tulisan tangan Jasmine.


"Lalu dimana kucing yang membawa surat ini?" tanya Adam.


"Masih di dalam kamarku kak... tidur" terang Rian.


"Apa kau tahu kapan kucing itu akan bermain keluar?" tanya Adam lagi.


"Biasanya setelah aku beri makan kak... dan itu sebentar lagi" sahut Rian.


"Kalau begitu kita harus mengikuti kemana kucing itu pergi..." kata Adam yang langsung disetujui oleh semua yang ada di ruangan itu.


"Maaf jika kami mengganggumu pagi-pagi begini nak Rian" ucap mama Tika.


"Tidak apa-apa tante... saya juga sebenarnya tidak menduga jika benar surat itu merupakan permintaan tolong dari seseorang..." kata Rian.


Sambil menunggu si kucing bangun Rian pun pamit untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Selesai mandi dan berganti pakaian Rian mengajak tamunya untuk sarapan bersama walau dengan menu seadanya. Maklum dia hanya tinggal sendiri di rumah itu. Makanya ia memelihara Moci untuk menemaninya.


Tak lama terlihat Moci keluar dari dalam kamar Rian dan langsung menuju tempat makannya. Rian yang melihat itu pun langsung mengambilkan makanan untuk kucing kesayangannya itu.


"Jadi apa kau mau ikut kami mengikuti Moci?" tanya Adam pada Rian.

__ADS_1


"Iya... sebab aku juga penasaran dengan orang yang sudah mempunyai ide meminta Moci sebagai kurir untuk meminta pertolongan" sahut Rian sambik tersenyum.


Untung saja ini hari minggu jadi Rian tak berangkat ke kantor sehingga ia bisa ikut dalam misi penyelamatan Jasmine. Tak lama Moci sudah menghabiskan makanannya. Lalu terlihat kucing itu merengganngkan kaki-kakinya kemudian mulai melenggang keluar dari rumah. Para manusia yang ada disana pun bergegas mengikuti langkah kucing hitam putih itu berharap kucing itu langsung pergi ke tempat dimana Jasmine berada.


__ADS_2