
Jasmine terbangun dari tidurnya saat merasakan pergerakan disampingnya. Saat ia membuka mata terlihat bu Sumi tengah mengelung rambutnya. Sepertinya wanita paruh baya itu telah bangun dan hendak memulai kegiatan paginya.
"Apa sudah subuh bu?" tanya Jasmine.
"Eh... neng Jasmine udah bangun... maaf ibu membangunkanmu ya?"
"Enggak kok bu... Jasmine memang sudah mau bangun... emm... apa sudah subuh bu?"
"Sudah neng... mungkin karena eneng kecapean jadi tidak mendengarnya..." sahut bu Sumi.
Keduanya pun lalu keluar dari dalam kamar dan segera kebelakang untuk mengambil air wudhu. Sementara pak Jajang dan Adam pun telah bangun dan pergi ke musholla untuk sholat subuh berjamaah. Selesai sholat Jasmine membantu bu Sumi di dapur untuk memasak sarapan pagi.
"Bu memangnya hari ini ada acara apa? kok ibu masak banyak sekali?" tanya Jasmine saat melihat bu Sumi memasak berbagai macam makanan.
"Tidak ada acara apa-apa kok neng... ibu bikin makanan banyak sekalian buat bekal kamu dan den Adam selama perjalanan ke kota nanti..." terang bu Sumi.
Jasmine langsung terharu dengan perlakuan bu Sumi padanya dan juga Adam.
"Sebenarnya ibu ga usah repot-repot seperti ini... aku dan kak Adam bisa membeli makanan di jalan" kata Jasmine yang merasa tidak enak telah merepotkan bu Sumi.
"Ini ga repot neng... lagi pula nanti kalian kan lewat hutan mana ada penjual makanan... disini sudah biasa neng membawa bekal jika mau keluar kampung..." terang bu Sumi.
Jasmine menatap haru pada bu Sumi yang telah begitu baik kepadanya dan juga Adam.
"Terima kasih bu... atas semua kebaikan ibu kepada kami berdua..." kata Jasmine.
Keduanya pun melanjutkan kegiatan mereka. Dan saat matahari mulai muncul mereka pun telah selesai memasak semuanya. Jasmine pun kembali membantu bu Sumi membungkus semua makanan ke dalam daun pisang lalu memasukkannya ke dalam tas selempang yang terbuat dari daun rumbia.
Setelah sarapan pagi Jasmine dan Adam berpamitan pada bu Sumi untuk pulang. Sedang pak Jajang akan mengantar keduanya hingga ke tempat ojek yang biasa digunakan oleh semua penduduk kampung jika ingin bepergian. Saat sampai di pangkalan ojek Jasmine terkejut karena ojek yang ada tak seperti ojek yang biasa ia gunakan. Mereka menggunakan motor yang sudah dimodifikasi menjadi motor trail sehingga dapat menempuh segala medan. Dan saat melihat jalur yang akan mereka lewati Jasmine menelan ludahnya sesah payah.
Jalur itu terlihat mengerikan bagi Jasmine, lebih mengerikan dari rollercoaster yang pernah ia naiki bersama Maya dulu. Saat menaiki rollercoaster mereka mengenakan pengaman tapi ini... mereka hanya akan berpegangan pada sang pengojek dan tanpa mengenakan helm pula. Adam yang memperhatikan istrinya itu yang sejak tadi terlihat syok dengan apa yang dilihatnya langsung menghampiri salah satu pengojek yang akan membawa mereka.
"Maaf kang... bolehkah jika saya yang membawa motornya?" tanyanya dengan sopan.
"Maksudnya aden mau mengendarainya sendiri?" tanya tukang ojek itu tak percaya.
__ADS_1
"Iya kang... istri saya tidak pernah melintasi medan seperti ini jadi..."
"Saya mengerti den... silahkan tidak apa-apa nanti biar saya yang membonceng teman saya yang lain..." kata tukang ojek itu yang faham dengan maksud Adam.
"Terima kasih kang..." ucap Adam.
Adam kemudian memanggil Jasmine untuk mendekat. Jasmine menurut dan melangkah kearah suaminya.
"Ayo naik..." titah Adam setelah sebelumnya dirinya menaiki motor terlebih dahulu.
"Dear..." ucap Jasmine tak percaya jika suaminya sendiri yang akan mengendarai motor itu.
"Percaya sama aku... dulu aku juga pernah ikut klub motor trail seperti ini..." ungkap Adam.
Senyum Jasmine langsung mengembang... sejak tadi ia memang merasa ragu karena memikirkan bagaimana caranya berboncengan dengan orang asing dengan medan yang seperti itu. Dan kini ia lega karena yang memboncengnya adalah suaminya sendiri jadi ia bisa leluasa memeluk punggung suaminya sebagai pegangan agar tidak terjatuh.
Jasmine pun langsung naik dibelakang dan langsung memeluk tubuh suaminya erat.
"Pejamkan matamu jika kau takut Honey" ucap Adam yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Jasmine.
Perjalanan terasa semakin panjang karena medan yang cukup sulit. Bahkan sesekali Jasmine harud turun dari motor dan berjalan kaki sebentar agar Adam dapat melajukan motornya diatas jalan yang berlumpur dan sulit. Setelah menempuh perjalanan hampir empat jam karena medan yang sulit akhirnya mereka pun sampai di daerah yang lebih ramai dengan jalanan yang lebih halus. Mereka pun berhenti di terminal kecil yang ada disana. Adam dan Jasmine pun turun dan mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkan mereka tanpa memungut biaya karena tahu kecelakaan yang menimpa keduanya.
Bahkan saat Adam hendak memberikan jam tangan mewahnya sebagai pengganti ongkos mereka tetap bersikeras tak mau menerimanya karena ikhlas menolong Adam dan Jasmine. Setelah mengucapkan terima kasih mereka pun berpamitan dan kemudian menumpang mobil bak terbuka pengangkut sayuran yang ada disana untuk melanjutkan perjalanan ke kota terdekat. Saat di dalam mobil keduannya pun memakan makanan yang tadi pagi dibawakan oleh bu Sumi. Keduanya bersyukur telah bertemu dengan orang-orang baik seperti bu Sumi dan pak Jajang serya warga kampung dan pengojek yang telah membantu keduanya tanpa pamrih.
"Dear... jika kita sudah kembali ke rumah kita harus membalas kebaikan semua orang yang telah membantu kita" kata Jasmine sambil duduk bersandar disamping suaminya.
"Kau benar Honey... kebaikan mereka sangatlah besar... sebisa mungkin kita akan membalasnya..." sahut Adam.
Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai juga di kota. Setelah berterima kasih pada sang sopir, Adam dan Jasmine segera mencari kantor polisi untuk menghubungi keluarga mereka. Setelah sampai di kantor polisi dan mengajukan laporan mereka pun diizinkan untuk menghubungi keluarga mereka. Adam pun langsung menghubungi mamanya. Saat menerima telfon dari Adam mama Sinta langsung mengucap syukur karena anak dan menantunya ternyata selamat. Adam meminta mamanya untuk merahasiakan jika dirinya dan Jasmine selamat dari orang luar karena ia tak ingin orang yang telah mencelakainya tahu jika tujuan mereka gagal.
Mama Sinta pun menurut. Setelah Adam mematikan telefon mama Sinta langsung mencari mama Tika yang selama ini tinggal bersamanya setelah kecelakaan yang menimpa Adam dan Jasmine. Ternyata mama Tika tengah berada di dalam kamar dan sedang mendesain untuk mengalihkan fikirannya yang sedih.
"Tika..." panggil mama Sinta.
Mama Tika pun menoleh dan melihat mama Sinta masuk dengan wajah berseri.
__ADS_1
"Ada apa mbak?"
"Adam dan Jasmine selamat Tik..." ucap mama Sinta sambil tersenyum bahagia.
"Benarkah?" tanya mama Tika tak percaya dengan pendengarannya.
"Iya Tika... baru saja Adam menelfon dari kantor polisi..." sahut mama Sinta.
"Alhamdulillah ya Allah..." ucap mama Tika langsung memeluk besannya itu.
Keduanya saling berpelukan karena bahagia sebab anak-anak mereka selamat dari kecelakaan yang mengerikan.
"Tika... kata Adam kita harus merahasiakan hal ini dulu dari orang lain. Sebab Adam berfikir jika ada yang sengaja ingin mencelakainya dan juga Jasmine..." kata mama Sinta setelah keduanya melepaskan pelukannya.
Mama Tika pun langsung mengangguk setuju.
"Lalu kapan mereka pulang mbak? aku sangat merindukan putriku..."
"Adam bilang secepatnya mereka akan pulang... kita bersabar saja dulu..." kata mama Sinta.
Mama Tika pun kembali mengangguk setuju. Yang terpenting sekarang ia tahu jika putri dan menantunya itu selamat.
Sementara di kantor polisi Adam pun mengutarakan rencananya pada pihak kepolisian untuk menutupi kenyataan jika dia dan istrinya selamat. Semua itu agar pihak kepolisian dapat mengungkap dalang dari kecelakaan yang menimpa keduanya. Setelah polisi mendapatkan bukti dan dapat menangkap mereka semua barulah Adam dan Jasmine akan muncul ke publik.
Pihak kepolisian pun setuju setelah itu Adam lalu menghubungi asistennya dan menyuruh agar membuat media tak lagi membahas kasus kecelakaannya agar orang percaya jika ia dan istrinya tewas dan tubuh mereka tidak ditemukan. Sang asisten pun menuruti perintah atasannya dan segera melaksanakannya. Dan saat itu juga tak ada lagi media yang membahas kecekakaan yang menimpa Adam dan Jasmine.
Menghilangnya berita tentang kecelakaan Adam dan Jasmine membuat pak Seno dan bu Rasti yakin jika Adam dan Jasmine telah tewas dan tubuh mereka tidak ditemukan. Sementara di rumah sakit jiwa Ghani kesal karena tak lagi ada berita tentang kelanjutan pencarian Jasmine.
"Apa kau benar-benar sudah meninggal Jasmine, dan tubuhmu tak bisa ditemukan?" gumam Ghani di dalam kamarnya.
"S**l! kenapa aku harus terkurung disini hingga tak bisa ikut mencarimu?" teriaknya dari dalam kamarnya.
Air mata Ghani meleleh kesedihannya jadi kian bertambah saat mengetahui jika jasad Jasmine tidak dapat ditemukan.
"Aku bahkan tidak bisa ke makammu karena jasadmu tidak ditemukan sayang..." ucapnya disela tangisnya.
__ADS_1
Wajah Ghani seketika berubah dingin. Matanya memerah bukan hanya karena habis menangis. Ada kilat kemarahan disana. Ya... Ghani merasa yakin jika kecelakaan yang menimpa Jasmine itu disengaja. Dan dia harus tahu siapa orangnya yang ingin menghilangkan nyawa wanita yang sangat dicintainya itu. Dengan segera otaknya bekerja mencari cara agar ia bisa keluar dari tempatnya sekarang. Ia harus mencari tahu dan membalas dendam pada orang yang telah membunuh kekasihnya.