
Pagi ini saat melihat laporan dari orang suruhannya pak Adam tersenyum senang. Ia sudah mendapatkan informasi tentang gadis berkaca mata yang kini semakin membuatnya penasaran. Selain mencari hubungannnya dengan Jessica.
"Jadi kau Jasmine... anak dari bu Tika dan usiamu baru 15 tahun..." gumamnya sambil membaca file yang ada dihadapannya.
Saat ia memperhatikan wajah gadis itu ia merasa pernah melihatnya... tapi dimana? Saat itulah terdengar suara ketukan pada pintu kamarnya.
"Buka pintunya Dam..." terdengar suara ibunya.
Dengan cepat ia pun membuka pintu kamarnya.
"Ada apa ma?"
"Bisa kita bicara sebentar?"
Adam pun mengangguk dan mempersilahkan mamanya untuk masuk ke dalam kamar.
Kemudian mama Sinta pun duduk di sofa yang ada di dalam kamar diikuti Adam yang kemudian duduk disampingnya.
"Ada apa ma?" tanya Adam lembut.
"Mama tahu kamu ada masalah Dam..." ucap mama Sinta lalu menghela nafasnya pelan.
"Kamu sedang tertarik pada seseorang?" tanyanya langsung.
"Mama tahu dari mana?"
"Ga perlu tahu mama tahu dari mana...sekarang mana file tentang gadis itu..." kata mama Sinta sambil menadahkan tangannya.
Dengan terpaksa akhirnya ia pun menyerahkan semua file yang sudah ia kumpulkan tentang Jessica. Setelah membaca file yang diberikan oleh Adam, kening mama Sinta pun berkerut. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. Kemudian ia pun mendesah pelan.
"Kau itu pengusaha sukses dan cerdas Dam... tapi kenapa hal semudah ini tidak bisa kau selesaikan?" kata mama Sinta.
Adam pun mengernyitkan dahinya tak mengerti maksud dari mamanya. Mama Sinta pun mendesah kesal.
"Coba masukkan foto kedua gadis itu dalam laptopmu ..." perintah mama Sinta.
Dengan enggan Adam pun melaksanakan perintah mamanya.
"Coba kau lihat ini ..." ucapnya lalu memperlihatkan foto Jasmine dengan kaca matanya.
Lalu ia pun menghapus kaca mata dari gambar Jasmine.
"Apa kau sudah melihat kemiripan keduanya?" tanya mama Sinta.
Adam pun memperhatikan kedua foto tersebut.
"Iya ma.... mereka seperti adik kakak..." ucap Adam.
"Sekarang kau lihat ini...." kata mama Sinta sambil mengutak-atik keyboard laptop sebentar lalu memperlihatkan hasilnya pada Adam.
Seketika wajah pria itu terlihat terkejut dan matanya membelalak.
"Ini..." ucapnya sambil menatap foto yang ada dihadapannya.
"Tapi... bagaimana bisa..." sambungnya tercekat.
"Tentu saja semua itu bisa saja terjadi sayang... karena itu adalah keajaiban make up..." jelas mama Sinta sambil mengelus pundak putranya pelan.
"Tapi ma... aku bukan pedofil... " kata Adam syok.
__ADS_1
Bagaimana tidak gadis yang sudah menggetarkan hatinya ternyata anak yang baru berusia 15 tahun. Mama Sinta tersenyum melihat putranya yang masih syok.
"Tentu saja bukan sayang... bukankah kau jatuh hati saat gadis itu menyamar sebagai wanita dewasa?" Adam pun mengangguk.
"Jadi kau itu masih normal" ungkap mama Sinta sambil tersenyum.
"Lalu aku harus bagaimana ma?" tanyanya fustasi.
"Sekarang kau hanya bisa menunggunya dewasa..." jawab mama Sinta.
"Tapi ma... itu kan masih lama... " kata Adam sambil mengacak rambutnya frustasi.
"Dan selama itu pasti akan ada pria lain yang berusaha mendekatinya...terutama yang sepantar dengannya" sambungnya bertambah frustasi.
Mama Sinta pun terkekeh melihat tingkah anak semata wayangnya yang sudah seperti anak kecil yang takut kehilangan mainan kesayangannya.
"Kalau begitu dekati dia mulai sekarang agar dia merasa nyaman denganmu... tapi ingat jangan terlalu kentara karena ibunya pasti tidak akan mudah menerimamu karena putrinya yang masih dibawah umur" kata mama Sinta panjang lebar.
Adam pun hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.
"Tenang saja mama akan membantumu...." sambung mama Sinta.
"Jadi mama setuju jika aku dengan bocah itu?" tanya Adam heran.
"Tentu saja... gadis itu cukup cerdas karena dengan mudah menggantikan pekerjaaan ibunya mengingat usianya yang masih sangat muda. Dan lagi hanya dia gadis yang tidak terpesona dengan anak mama yang tampan dan kaya ini" kata mama Sinta terkekeh.
"Mamaaa..." seru Adam.
Mama Sinta pun menggelengkan kepalanya melihat Adam yang kini merajuk.
"Sudahlah... besok kau antar mama ke butik agar kau bisa membuktikan sendiri jika bocah itu benar Jessica yang kau cari..." kata mama Sinta kemudian ia pun keluar dari kamar Adam dan meninggalkan putranya itu sendiri.
"Besok adalah waktunya untuk membuktikan..." gumam Adam kemudian ia pun merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Namun matanya tak juga mau terpejam. Dadanya kini malah berdetak kencang karena tak sabar untuk menantikan esok hari. Sementara itu di rumah Jassmine tiba-tiba merasa dadanya berdebar dengan cepat entah mengapa. Rasanya seperti akan terjadi sesuatu padanya tapi tak tahu itu apa. Ia pun memutuskan untuk segera tidur tapi sebelumnya ia tak lupa untuk sholat isya' terlebih dahulu.
Pagi hari seperti biasa Jasmine sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Khusus pagi ini ia akan berangkat bersama Maya karena mama Tika harus berangkat lebih pagi ke butik karena ada pesanan klien yang harus diselesaikan. Tin...tin... bunyi klakson di depan rumah Jasmine menandakan Maya sudah datang.
"Ma... Jasmine berangkat dulu ya..."
"Maya ga masuk dulu?" tanya mama Tika.
"Ga ma... soalnya hari ini kami ada piket jadi harus sampai di sekolah lebih awal...." kata Jasmine sambil mencium tangan mamanya .
"Ya sudah... mama juga sebentar lagi mau berangkat. Kamu hati-hati ya di jalan dan yang rajin di sekolah..."
"Baik ma..."
Kemudian Jasmine pun segera keluar dan masuk ke dalam mobil. Mereka pun segera melaju ke sekolah.
Sementara di rumah Adam, dia dan mamanya sedang menyantap sarapan mereka.
"Dam mama mau tanya, orang suruhan kamu itu laki-laki atau perempuan?"
"Memang kenapa ma?"
"Sudah jawab aja..."
"Hemm... laki-laki sih ma..."
__ADS_1
"Kalau begitu suruh dia membawa teman perempuan untuk membantunya" perintah mama Sinta.
"Maksud mama?"
"Agar ada yang bisa membuntutinya kemana pun termasuk ke dalam toilet..." terang mama Sinta.
"Aish... kenapa aku tidak terfikir sampai di situ?" ujarnya.
"Sudahlah sekarang cepat beri tahu orang itu seperti yang mama katakan"
"Baik ma..." lalu Adam pun segera menghubungi orang suruhannya.
Sesampainya di sekolah Jasmine dan Maya bergegas untuk masuk karena jika telat sedikit saja maka ketua piket mereka akan uring-uringan yang nantinya akan membuat keduanya dalam kesulitan. Untung saja keduanya datang tepat waktu. Saat pelajaran dimulai keduanya pun bisa berkonsentrasi dengan baik.
"May nanti saat istirahat kita ke perustakaan sebentar yuk..." ajak Jasmine.
"Kenapa? Apa ada buku yang ingin kau kembalikan?"
"Iya... sebentar aja kok cuma mengembalikan ga cari buku baru buat dipinjam..." terang Jasmine.
"Oke..." jawab Maya keduanya pun tersenyum.
Saat istirahat keduanya pun langsung menuju ke perpustakaan sekolah. Sementara di butik tante Fira terkejut saat pak Adam datang bersama seorang wanita paruh baya yang diakuinya sebagai ibunya.
"Selamat siang bu... dan selamat datang" sambut tante Fira ramah.
"Selamat siang juga... begini saya ingin bertemu dengan desainer yang kemarin merancang baju seragam di perusahaan anak saya" kata mama Sinta langsung.
"Eum maaf bu... dia sedang keluar" ucap mama Tika memberi alasan.
"Keluar? Bukankah ini masih jam kerja?"
Tante Fira langsung melirik mama Tika.
"Itu... dia sedang menggantikan saya menemui calon klien bu... sebab saya masih mengerjakan pesanan yang harus selesai hari ini juga..." sambung mama Tika memberi alasan.
Terlihat pak Adam salin pandang dengan ibunya.
"Kalau begitu panggil saja dia agar kemari sebab mama saya ingin dibuatkan gaun olehnya..." kini pak Adam yang angkat bicara membuat mama Tika dan tante Fira tampak cemas.
"Baiklah saya akan menghubunginya sekarang mungkin saja pertemuannya sudah selesai..." ucap mama Tika akhirnya.
Kemudian ia pun masuk ke dalam ruangannya lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Jasmine.
"Hallo Jess...."
"......."
"Cepatlah ke butik sekarang.."
"......."
"Datang saja segera nanti mama akan menghubungi guru kamu untuk minta ijin. Dan jangan lupa jadilah Jessica" kata mama Tika lalu menutup ponselnya.
Setelah itu ia pun langsung menghubungi wali kelas Jasmine untuk memintakan ijin agar Jasmine bisa pulang lebih cepat. Kemudian ia pun keluar untuk kembali menemui pak Adam dan ibunya.
"Sebentar lagi dia akan datang bu..." ucapnya pada mama Sinta sambil tersenyum ramah.
Mama Sinta pun membalas dengan anggukan. Sementara Jasmine yang baru saja menerima telfon dari mamanya menjadi gugup. Pasalnya ia harus segera berubah menjadi Jessica. Maya yang melihat jika sahabatnya itu cemas langsung menanyakan alasannya. Lalu Jasmine pun menceritakan semuanya pada sahabatnya itu. Maya pun memberi ide agar Jasmine pergi ke mall untuk membeli pakaian sekaligus berganti rupa disana.
__ADS_1
Jasmine pun setuju lalu keduanya langsung menuju ke kelas untuk mengambil tas Jasmine. Saat keduanya masuk ke dalam kelas guru wali kelas mereka datang dan menyuruh Jasmine untuk segera pulang karena mamanya sudah menelfon untuk meminta ijin. Tanpa membuang waktu Jasmine pun segera mengambil tasnya dan segera ke gerbang sekolah setelah sebelumnya berpamitan pada wali kelasnya dan Maya. Tak lupa ia pun memesan taxi online untuk mengantarnya.