
Tampak Moci melenggang dengan santai tanpa terganggu dengan beberapa orang yang mengikuti langkahnya pagi itu. Sesekali kucing itu mengendus rerumputan yang dilaluinya. Para manusia yang mengikuti kucing itu pun harus extra sabar karena tak mungkin memaksa kucing tersebut untuk cepat menunjukkan dimana Jasmine berada.
Untung saja kucing itu tidak berjalan menerobos tanaman perkebunan. Seolah mengerti jika ia sedang diikuti ia memilih melewati jalan setapak sehingga manusia yang mengikutinya tak kesulitan mengikuti langkah kaki-kaki kecilnya. Tiba-tiba perhatian Moci teralihkan oleh seekor kupu-kupu yang terbang rendah didepannya.
Secepat kilat kucing hitam putih itu menerjang dan mengejar kupu-kupu itu ingin menangkapnya. Semua orang tampak kewalahan mengikuti langkah Moci yang semakin cepat mengejar hewan buruannya. Untung saja aksi perburuan Moci cepat berakhir karena kucing itu bisa dengan sigap menangkap hewan buruannya. Bukannya memakan kupu-kupu itu langsung, tapi Moci malah membawa kupu-kupu itu dengan mulutnya dan melanjutkan perjalanan.
Setelah berjalan sekitar setengah jam orang-orang yang mengikuti Moci sudah dapat melihat jika kucing itu tengah menuju sebuah rumah yang mungkin juga merupakan villa yang cukup besar yang berada di tengah-tengah perkebunan teh.
"Apa kau tahu siapa pemilik villa itu Rian?" tanya Adam.
Rian menggelengkan kepalanya tanda ia juga tidak tahu siapa sang pemilik villa kuno itu.
"Hati-hati... mungkin saja disana banyak orang... jangan sampai kita ketahuan!" kata Adam yang langsung disetujui oleh semua orang disana.
Tampak Moci memilih mengitari villa dan masuk dengan melompati tembok pembatas di samping villa. Semua orang langsung mendekat kearah tembok dengan merunduk. Dinding tembok yang tidak terlalu tinggi membuat semuanya bisa mengintip apa yang ada dibalik tembok walau ada yang harus berjinjit.
Tampak dari balik dinding sebuah jendela lebar yang terbuka. Sepertinya itu jendela sebuah kamar.
"Kau sudah datang puss? apa ini untukku? ah terima kasih..." terdengar suara yang sangat familiar bagi mama Tika, Adam dan juga mama Sinta.
"Itu suara Jasmine..." bisik mama Tika yang diangguki oleh Adam dan mama Sinta.
"Aku akan masuk ke dalam ma... kalian semua tunggu disini!" kata Adam.
Lalu pria itu menyuruh anak buahnya untuk menghubungi polisi agar segera datang ke tempat itu. Kemudian barulah ia memanjat tembok pagar untuk menemui Jasmine. Dengan mengendap-endap Adam melangkah ke sisi jendela kamar. Ia pun mengintip dari sana. Terlihat Jasmine tengah memangku Moci. Sepertinya kucing itu membawa kupu-kupu tadi sebagai hadiah untuk Jasmine.
Karena Adam melihat jika Jasmine kini tengah memegang kupu-kupu mati itu ditangannya. Perlahan Adam menaiki kusen jendela kamar yang ditempati Jasmine lalu berjalan mendekati gadis itu.
"Jess..." panggilnya lirih cukup hanya didengar oleh Jasmine.
Seketika Jasmine menoleh kearah sumber suara. Betapa terkejutnya ia saat melihat Adam sudah berada disampingnya.
"Kak Adam!" pekik Jasmine tertahan.
Adam langsung menghambur ke arah gadis yang sangat ia rindukan itu dan memeluknya. Jasmine pun langsung membalas pelukan Adam dari kursi rodanya. Air mata bahagia langsung menetes dari kedua matanya. Sedang Moci langsung turun dari pangkuan Jasmine saat merasakan tubuh Adam yang sedikit menindihnya. Namun kucing itu tidak pergi jauh. Ia hanya berpindah ke atas tempat tidur Jasmine.
Sedang Adam dan Jasmine sudah mengurai pelukan mereka. Kini Adam berjongkok di depan Jasmine agar dapat sejajar dengan gadis itu.
__ADS_1
"Kakak tahu aku disini dari siapa?" tanya Jasmine penasaran.
"Dari kurir kamu..." jawab Adam sambil menunjuk Moci dengan dagunya.
Jasmine langsung tersenyum bahagia. Tidak sia-sia usahanya menggunakan kucing hitam putih itu sebagai pembawa pesannya.
"Jadi pemiliknya sudah membaca pesanku?"
"Iya... dan dia menghubungi mama kamu" terang Adam.
"Apa mama juga ikut kemari?"
Adam mengangguk mengiyakan ucapan Jasmine.
"Ayo kita pergi dari sini..." ajak Adam sambil mendorong kursi roda Jasmine ke tepi jendela.
"Sini puss!" panggil Jasmine pada Moci.
Tak mungkin Jasmine meninggalkan kucing lucu dan pemberani itu di rumah Ghani. Apalagi pemuda itu alergi dengan kucing. Seakan mengerti Moci langsung bangun dan turun dari tempat tidur dan segera menyusul Jasmine. Sedang Adam sudah melompati kusen jendela dan kini berada di luar rumah. Moci lalu ikut melompat keluar.
"Ayo Jess..." kata Adam sambil mengulurkan tangannya pada Jasmine.
"Aku sudah menangkapmu..." bisik Adam di telinga Jasmine.
Gadis itu tersenyum dan membenamkan wajahnya di dada bidang Adam.
"Aku merindukanmu kak..." ucap Jasmine.
"Aku juga..." balas Adam mengeratkan pelukannya.
"Sekarang kita coba untuk melompati pagar ini ya... diseberang sudah ada yang menunggumu" sambung Adam sambil tersenyum.
Adam lalu berjinjit dan memanggil anak buahnya untuk membantunya membawa Jasmine melewati pagar. Terlihat anak buah Adam menggunakan tubuh mereka agar bisa membawa Jasmine melewati pagar.
"Kau naiklah dulu mereka akan menarikmu..." ucap Adam saat melihat salah satu anak buahnya sudah berdiri di balik pagar dengan bertumpu pada temannya.
Jasmine pun mengangguk. Adam menyuruh Jasmine untuk menaiki pundaknya setelah ia berjongkok. Dengan berpegangan pada tembok pagar Jasmine menaiki pundak Adam kemudian pria itu pun berdiri sehingga Jasmine bisa menarik tubuhnya ke atas pagar. Saat ia tengah duduk di atas pagar tiba-tiba seseorang memukul tengkuk Adam dari belakang.
__ADS_1
"Aaaaa...." teriak Jasmine terkejut saat melihat Adam tersungkur dan melihat sang pelaku pemukulan adalah Ghani.
Pemuda itu tampak marah dan langsung menarik tangan Jasmine sehingga gadis itu ikut terjatuh ke bawah. Tubuhnya terasa sakit saat beradu dengan tanah.
"Berani sekali kau mencoba melarikan diri dariku dengan pria lain hah!" teriak Ghani sambil menjambak rambut Jasmine.
"Aarrghh!" teriak Jasmine kesakitan.
Kemudian Ghani langsung menyeret tubuh Jasmine untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Anak buah Adam langsung melompat turun memeriksa keadaan Adam. Pria itu tampak mulai sadar dan mencari keberadaan Jasmine. Saat anak buahnya mengatakan jika Jasmine dibawa oleh penculiknya Adam langsung berdiri dan berlari mengejar. Anak buahnya pun langsung mengikutinya.
Ghani membopong tubuh Jasmine seperti membawa karung beras. Pemuda itu urung membawa Jasmine kembali ke dalam rumah tapi langsung membawanya ke dalam mobil. Jasmine terus meronta dan berteriak minta diturunkan. Namun Ghani tidak menggubrisnya. Dengan kasar pemuda itu membuka pintu mobilnya dan memasukkan Jasmine ke dalam mobil.
Jasmine berusaha berontak namun sia-sia dan Ghani langsung menutup pintu mobil dengan keras begitu tubuh Jasmine telah masuk sempurna. Kemudian ia segera berpindah ke pintu kemudi dan langsung masuk ke dalam mobil. Lalu ia pun segera menyalakan mobilnya dan bersiap meninggalkan tempat itu.
Tiba-tiba Adam menjatuhkan tubuhnya diatas kap mobil dan menggedor kaca depan mobil Ghani.
"Berhenti! jangan lari kau k***r*t!" teriak Adam masih dengan terus menggedor kaca.
Ghani tak memperdulikan perbuatan Adam dan tetap melajukan mobilnya. Sedang Jasmine berteriak histeris melihat Adam bergelantungan diatas kap mobil.
"Aku mohon hentikan mobil ini" ucap Jasmine pada Ghani sambil bercucuran air mata.
"Aku tidak akan biarkan dia mengambilmu dariku!" sahut Ghani menambah kecepatan mobilnya.
Jasmine langsung berusaha mengambil alih stir yang sedang dipegang oleh Ghani. Seketika mobil itu pun oleng. Adam yang berada diatas kap mobil dan berpegangan pada sisi jendela dan atap mobil ikut terombang ambing. Pria itu berusaha keras agar dirinya tidak terjatuh dari atas kap mobil. Suara sirine mobil polisi mulai terdengar membuat Ghani semakin mempercepat laju mobilnya.
Jasmine yang tadi sempat berusaha merebut kemudi sudah tak berdaya karena tadi kepalanya sempat dipukul oleh Ghani membuat gadis itu kini pingsan. Sedang Adam yang melihat Jasmine terkulai tak berdaya setelah pemuda itu memukulnya semakin geram. Ia pun berusaha untuk merayap naik ke atas atap mobil. Melihat itu Ghani tidak tinggal diam. Dia sengaja melajukan mobilnya dengan zig zag. Hal itu cukup menyulitkan Adam. Tapi ia tak mau menyerah.
Setelah susah payah akhirnya ia berhasil naik ke atas atap mobil. Ia pun membaringkan tubuhnya dengan tangan kiri berpegangan atap dan tangan kanan berusaha untuk menarik Ghani yang berada di dalam mobil. Ghani berusaha menjauhkan tangan Adam dari dirinya namun ia jadi tak fokus pada jalanan sehingga mobilnya menabrak pembatas jalan. Adam yang berada diatas pun langsung terlempar ke depan dan jatuh terguling. Sedangkan mobil Ghani langsung mogok.
Tak mau menyerah Ghani langsung keluar dari dalam mobil dan segera membuka pintu samping untuk membawa tubuh Jasmine yang masih pingsan. Suara sirine mobil polisi terdengar semakin dekat. Segera Ghani membopong tubuh Jasmine dan membawanya menjauh dari jalan raya. Adam yang terjatuh berusaha bangun dan sempat melihat Ghani membawa Jasmine kearah hutan di pinggir jalan. Segera ia berdiri dan lari mengejar ke arah Ghani membawa Jasmine.
Anak buah Adam datang bersama anggota kepolisian dan sempat melihat Adam yang berlari ke arah hutan langsung menyusul. Tampak mama Tika dan mama Sinta juga ikut dan menunggu di mobil polisi bersama Rian. Bahkan Moci sudah berada dipelukan Rian. Adam yang mengejar Ghani berhasil menyusul pemudan itu. Ia pun segera mencegat langkah Ghani.
"Lepaskan Jasmine!" seru Adam.
Ghani tersenyum miring. Kini ia tahu jika ia memiliki saingan untuk mendapatkan Jasmine. Dengan perlahan Ghani meletakkan tubuh Jasmine dibawah sebuah pohon. Kemudian pemuda itu langsung menghadap ke arah Adam dan memasang kuda-kuda mengajak pria itu untuk berduel.
__ADS_1
"Ayo kita lihat siapa yang berhak mendapatkan Jasmine!" ucapnya sambil tersenyum miring.