Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Hamil


__ADS_3

Adam bergegas masuk ke dalam kamar setelah mendapat laporan dari Artnya jika Jasmine sedang tidak enak badan. Saat membuka pintu kamar dan melihat ke arah tempat Adam tersenyum lega saat melihat istrinya itu tengah tertidur pulas. Dengan perlahan ia mendekati Jasmine dan duduk pinggir tempati tidur. Dipandanginya wajah istrinya itu, benar saja wajah Jasmine terlihat sedikit pucat. Meski begitu wajah cantiknya masih terlihat mempesona. Disentuhnya dahi istrinya...


"Tidak panas..." gumam Adam lega.


Merasa ada yang menyentuh dahinya Jasmine pun perlahan terbangun.


"Euughh..." lenguhnya pelan kemudian membuka matanya perlahan.


"Kau sudah bangun?" tanya Adam yang melihat Jasmine mulai membuka matanya.


"Hemm... kau juga sudah pulang? maaf aku ketiduran" balas Jasmine sambil bangun dan menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur.


"Kata bik Sari kau sedang tidak enak badan... kenapa memaksa untuk memasak?" tanya Adam.


"Aku ingin membuatkan makanan kesukaanmu Dear... lagi pula hanya masuk angin biasa... setelah istirahat aku merasa baikan..." terang Jasmine.


"Kalau begitu kita makan sekarang ya..." ajak Adam.


Jasmine pun mengangguk dan turun dari tempat tidur. Adam pun membantu istrinya berjalan ke ruang makan.


"Aku bisa jalan sendiri Dear" kata Jasmine yang merasa jika sikap Adam sedikit berlebihan.


"Tidak apa-apa Honey... kau masih terlihat pucat" ucap Adam yang bersikeras untuk menuntun Jasmine.


Akhirnya Jasmine pun pasrah dan mengikuti kemauan suaminya itu. Saat keduanya sampai di meja makan Jasmine kembali merasakan mual saat mencium hasil masakannya tadi. Dengan tergesa ia berlari ke arah kamar mandi yang berada di dekat dapur. Melihat istrinya yang berlari ke kamar mandi Adam pun langsung menyusulnya dan segera membantu Jasmine dengan memijat pelan tengkuknya. Setelah berhasil mengeluarkan seluruh isi perutnya barulah Jasmine merasa lega. Adam pun kemudian menutun Jasmine kembali ke dalam kamar setelah ia berkumur membersihkan mulutnya.


"Kau istirahat saja dulu Honey..." kata Adam saat dirinya membaringkan Jasmine diatas tempat tidur.


"Akan aku panggilkan dokter untuk memeriksamu" sambungnya.


"Tidak usah Dear... aku hanya butuh istirahat saja" tolak Jasmine.


"Tidak... kau harus diperiksa oleh dokter... sekarang istirahatlah..." kata Adam tak mau dibantah.


Jasmine pun menurut.


"Oh iya... kau ingin apa? karena sepertinya kau tidak mungkin makan masakanmu tadi..." sambung Adam.


Jasmine yang semula tak berselera lagi untuk makan kembali berselera saat mendengar tawaran Adam. Ia langsung teringat dengan ikan asam pedas buatan mamanya yang langsung membuat air liurnya akan menetes.


"Hemm... sebenarnya aku ingin ikan asam pedas buatan mamaku Dear..." ucap Jasmine dengan wajah memohon.


"Ikan asam pedas?" tanya Adam memastikan.


"Iya... tapi buatan mama... tolong bilang sama mama ya... please..." sahut Jasmine semakin memohon.


Adam tak mengerti mengapa tiba-tiba istrinya itu menjadi sangat manja. Namun ia langsung menuruti permintaannya karena tahu jika perut Jasmine kosong karena muntah tadi. Segera ia menghubungi mama Tika.

__ADS_1


"Halo Dam... ada apa?" tanya mama Tika di seberang.


"Begini ma... Jasmine lagi ga enak badan... dia dari tadi muntah dan ga bisa makan makanan yang ada di rumah... tapi dia minta makan ikan asam pedas buatan mama..." terang Adam.


Mendengar penuturan Adam, mama Tika seakan terlonjak dari duduknya. Sebuah pemikiran kini terlintas difikirannya yang membuatnya langsung melengkungkan bibirnya bahagia.


"Apa Jasmine sudak kau periksakan ke dokter?" tanyanya.


"Belum ma... aku baru mau memanggil dokter Heru kemari..."


"Baiklah... mama akan memasak untuk Jasmine... mama akan segera pulang..."


"Baik ma..." Adam pun memutuskan panggilannya.


Setelah itu mama Tika langsung menghubungi besannya. Ia pun mengungkapkan kecurigaannya saat mendengar keadaan Jasmine dari Adam. Mama Sinta pun sependapat dengannya dan memutuskan untuk ikut pulang memastikan keadaan Jasmine.


"Lebih baik kau makan saja dulu Dear... maaf jika aku tidak bisa menemanimu..." kata Jasmine.


"Aku makan nanti saja... sebentar lagi mama pulang dan akan memasak untukmu... begitu juga dokter Heru yang akan memeriksamu" terang Adam.


"Tapi apa kau tidak lapar?" tanya Jasmine.


Adam menggeleng dan malah berpindah duduk disamping Jasmine dan memeluk tubuh istrinya itu.


"Apa kau masih mual?" tanyanya.


Entah kenapa tapi Jasmine jadi sangat menyukai bau tubuh Adam yang wangi parfum bercampur keringat.


"Kau kenapa Honey?" tanya Adam yang merasa tingkah Jasmine semakin aneh.


Pasalnya istrinya itu membuat dirinya menjadi bergairah.


"Jangan menggodaku Honey!" serunya saat Jasmine tak mau menghentikan ulahnya.


"Aku tidak sedang menggodamu... aku hanya suka bau tubuhmu Dear..." terang Jasmine yang masih betah menyusup di dada Adam.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu kamar dan terdengar suara Artnya yang memberitahu jika sang dokter sudah datang begitu pun mama Tika dan mama Sinta. Adam pun segera membukakan pintu agar sang dokter bisa masuk dan memeriksa keadaan Jasmine. Mama Tika dan mama Sinta juga menyusul ke kamar untuk mendengarkan langsung hasil pemeriksaan sang dokter. Dalam hati keduanya berharap dugaan mereka itu benar terjadi sebab keduanya sudah tidak sabar ingin menjadi seorang nenek.


Setelah memeriksa kondisi Jasmine dengan seksama, dokter pun tersenyum.


"Keadaan nyonya Jasmine baik-baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan, malah saya menyarankan jika sebaiknya nyonya di periksakan ke dokter obgyn karena sepertinya sedang mengandung" ungkap dokter Heru.


Kedua wanita paruh baya yang ada disana pun langsung mengucap syukur dan saling berpelukan karena merasa bahagia begitu juga dengan Adam yang langsung menciumi kepala istrinya. Sedang Jasmine malah terlihat syok tak menyangka jika ia akan secepat ini hamil. Bukan karena tak bahagia namun rasanya begitu cepat setelah beberapa kejadian yang dialaminya bersama sang suami.


"Apa kau bahagia Honey?" tanya Adam saat melihat istrinya yang terlihat sedikit syok.


Jasmine mengangguk pelan lalu menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Ini bukan mimpi kan Dear?" ucapnya.


"Bukan Honey... ini nyata..." sahut Adam memeluk istrinya.


Jasmine pun meneteskan air mata bahagia karena mimpinya menjadi ibu akan menjadi kenyataan.


"Baik-baiklah didalam sana sayang... mama tidak sabar menunggumu lahir..." ucap Jasmine lirih sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Kita akan menjaganya bersama Honey..." kata Adam ikut mengelus perut rata Jasmine.


Setelah dokter Heru undur diri mama Tika dan mama Sinta langsung sibuk di dapur memasak pesanan Jasmine. Sementara Jasmine ditemani Adam menunggu di dalam kamar.


"Apa kau tidak kembali ke kantor Dear?" tanya Jasmine.


"Tidak Honey... aku akan menemanimu" sahut Adam.


"Tapi Dear..."


"Kau jangan khawatir semua pekerjaan kantor sudah aku serahkan pada asistenku... jadi aku bebas..." terang Adam sambil membuka jasnya dan bersiap berganti pakaian.


"Biar aku bantu siapkan pakaianmu Dear"


"Tidak usah Honey... kau berbaring saja" tolak Adam.


Saat Adam baru selesai berganti pakaian mama Sinta dan mama Tika datang membawakan masakan pesanan Jasmine. Keduanya faham jika Jasmine tak mungkin makan di ruang makan karena mungkin akan kembali muntah jika mencium bau masakan lain. Karena itu mereka mengantarkan makan siang ke kamar. Jasmine yang sejak tadi menahan lapar karena perutnya yang kosong akibat muntah-muntah langsung berseri saat melihat menu pesanannya. Tanpa malu-malu Jasmine langsung memakan makanan buatan mamanya itu.


Semua yang melihat Jasmine makan dengan lahab sangat bersyukur karena akhirnya Jasmine bisa mengisi perutnya. Setelah Jasmine selesai makan mama Tika dan yang lainnya pamit untuk makan siang setelah menyuruh Jasmine bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Adam membantu Jasmine untuk berganti pakaian sebelum akhirnya Jasmine menyuruhnya untuk makan siang terlebih dahulu sebelum mereka pergi ke rumah sakit. Sengaja Jasmine tetap berada di dalam kamar agar tidak mencium bau masakan yang akan kembali membuatnya muntah.


Mama Tika dan mama Sinta bahkan ikut dengan keduanya untuk pergi ke rumah sakit karena begitu bersemangat. Jadilah mereka berempat berangkat ke rumah sakit bersama dalam satu mobil. Mereka pun dapat langsung masuk ke ruang pemeriksaan karena Adam sudah mendaftarkan sebelumnya. Meski hanya Adam dan Jasmine yang dapat masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Di dalam ruang pemeriksaan setelah Jasmine melakukan tes urine dokter pun mengungkapkan hasil pemeriksaannya.


"Selamat tuan... nyonya Jasmine hamil dan usia kandungannya sudah tiga minggu" terang sang dokter sambil tersenyum.


Adam langsung memeluk Jasmine dan mencium kening istrinya itu karena bahagia. Jasmine pun terlihat bahagia...


"Ini saya berikan resep vitamin agar ibu dan janinnya bertambah sehat..." kata sang dokter.


"Terima kasih dok..." kata Adam dan Jasmine bersamaan.


Kemudian keduanya pun keluar dari ruang pemeriksaan dan langsung disambut oleh mama Tika dan mama Sinta. Keduanya langsung memeluk Jasmine secara bergantian saat Adam memberitahukan hasil pemeriksaan yang menyatakan jika Jasmine benar hamil.


"Mulai sekarang kamu harus menjaga dirimu dengan baik sayang... jangan sampai kau stress atau pun kelelahan agar janinmu tumbuh dengan sehat..." nasehat mama Sinta.


"Iya ma..." sahut Jasmine patuh.


Setelah Adam mengambil obat di apotik mereka pun langsung pulang agar Jasmine dapat beristirahat. Sementara di rumah sakit jiwa tampak Ghani tengah membaca buku yang dipinjamnya di dalam kamar. Meski membuka bukunya namun fikirannya melayang entah kemana. Sebenarnya ia sedang gundah memikirkan apakah Adam mau mengizinkannya untuk melihat Jasmine meski dari jauh. Sebab ia merasa belum tenang sebelum melihat keadaan Jasmine dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2