
Malam itu setelah makan malam Adam dan Jasmine keluar dari dalam hotel. Keduanya memang tidak menginap lebih lama disana karena Adam hendak membawa Jasmine ke villa miliknya dengan mengemudikan mobilnya sendiri. Selama perjalanan Jasmine tampak penasaran karena selama ini ia tidak tahu jika Adam memiliki villa di kota B.
"Apa kau tidak lelah kak mengemudikan mobil ini sendiri?" tanya Jasmine.
"Tentu saja tidak sayang... lagi pula tadi kan kita sudah beristirahat cukup lama..." sahut Adam sambil tersenyum dan menggenggam tangan Jasmine dengan sebelah tangannya.
Jalanan cukup lengang karena hari sudah mulai malam. Karena perjalanan yang cukup jauh membuat mereka beristirahat sejenak di rest area sekaligus melaksanakan sholat isya'. Baru kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka pun sampai di villa milik Adam. Di depan villa mereka di sambut oleh sepasang suami istri paruh baya yang merupakan penjaga villa dan istrinya.
Setelah membantu memasukkan koper ke dalam suami istri penjaga villa pun pamit pulang ke rumah mereka yang berada tak jauh dari villa. Mereka memang tidak tinggal di villa Adam karena mereka mempunyai rumah sendiri. Setelah kepergian penjaga villa dan istrinya, Adam dan Jasmine pun masuk ke dalam kamar mereka untuk membersihkan diri dan beristirahat setelah perjalanan jauh.
Jasmine tampak terkejut saat melihat jika kamar keduanya telah dihias sedemikian rupa hingga membuat suasana menjadi romantis. Bahkan banyak taburan bunga mawar di setiap sudut ruangan terutama diatas tempat tidur yang berbentuk hati. Melihat semua itu membuat Jasmine terharu dan kembali merasa gugup karena ia sadar jika sebentar lagi ia harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
Adam yang melihat jika istrinya itu tengah termangu langsung mendekati Jasmine dan memeluknya dari belakang.
"Bagaimana sayang... apa kau suka?" tanya Adam sambil melingkarkan tangannya dipinggang Jasmine.
"He...umm... suka..." sahut Jasmine berusaha menekan rasa gugupnya.
"Apa kau ingin mandi sekarang?" tanya Adam berbisik ditelinga Jasmine.
Suara pria itu sudah terdengar berat dan hembusan nafasnya membuat tengkuk Jasmine merinding.
"Eumm... iya..." sahut Jasmine berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Adam.
Namun bukannya melepaskan pelukannya pria itu malah mulai melepaskan pakaian yang melekat ditubuh istrinya itu sambil sesekali mencium tengkuk Jasmine. Tubuh gadis itu pun semakin meremang membuat nafasnya memburu.
"A... aku..." belum juga Jasmine menyelesaikan kalimatnya mulutnya sudah dibungkam dengan ciuman oleh Adam.
Suasana kamar yang semula sejuk berubah menjadi panas seiring dengan memanasnya kegiatan sepasang pengantin baru itu. Malam itu terjadilah hal yang seharusnya terjadi saat malam pertama bagi pasangan pengantin baru. Entah sudah berapa kali mereka mengulang kegiatan panas mereka hingga akhirnya keduanya tumbang dan tertidur dengan saling berpelukan dibawah selimut masih dengan tubuh polos mereka.
Suara azan dari musholla yang terdengar sayup karena jaraknya yang cukup jauh dari villa membangunkan Jasmine. Perlahan ia pun membuka matanya dan mengerjap saat menyadari jika kini ia merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit. Apa lagi pada bagian intinya. Perlahan ia berusaha untuk bangun namun sebuah lengan menahan tubuhnya. Saat menoleh kearah samping ia melihat Adam tengah tertidur masih dengan memeluk tubuhnya. Dengan perlahan ia mencoba memindahkan lengan Adam dari atas tubuhnya.
Namun pergerakannya justru membuat pria itu terbangun. Saat melihat wajah istrinya Adam langsung tersenyum.
"Kau sudah bangun sayang?"
Jasmine hanya mengangguk dan tersenyum membalasnya. Adam membelai rambut Jasmine yang hitam legam dan terurai. Ia sangat menyukai penampilan Jasmine yang bangun tidur.
"Sayang... aku mau mandi... sudah azan subuh...." ucap Jasmine berusaha untuk bangun.
"Kita mandi bersama saja... biar cepat" kata Adam langsung bangkit dan menggendong tubuh Jasmine ke kamar mandi.
__ADS_1
Jasmine yang masih merasakan nyeri pun pasrah dengan perlakuan Adam. Yang penting baginya ia bisa segera mandi dan mengerjakan ibadahnya sebelum waktu subuh habis. Tapi apa yang difikirkannya tidak sesuai dengan kenyataan karena pada akhirnya Adam malah kembali menggempurnya di kamar mandi sebelum akhirnya mereka benar-benar membersihkan diri dan bisa melaksakan ibadahnya sebelum waktu subuh habis.
Setelah selesai sholat subuh Jasmine yang merasa kesal dengan Adam pun langsung merebahkan lagi tubuhnya di atas tempat tidur. Adam yang tahu jika istrinya itu tengah merajuk pun ikut berbaring disamping Jasmine.
"Maafkan aku... kau pasti sangat kelelahan..." kata Adam sambil memeluk tubuh Jasmine.
"Kau keterlaluan... hampir saja kita kehabisan waktu subuh dan aku juga hampir tidak bisa berjalan..." sungut Jasmine.
"Maafkan aku..." sahut Adam sambil mencium puncak kepala Jasmine lembut.
Jasmine membalikkan badannya dan menatap wajah suaminya itu. Tampak gurat penyesalan menghiasi wajah tampan Adam membuat Jasmine kini malah merasa bersalah karena telah menyalahkan suaminya itu. Perlahan Jasmine mengelus rahang suaminya dan membuat Adam menatap Jasmine intens.
"Maafkan aku juga karena sudah kesal padamu..." ucap Jasmine lirih.
Sungguh ia tak bermaksud untuk marah atau kesal pada suaminya itu.
"Tidak apa-apa... aku yang salah sudah membuatmu kelelahan. Jadi... apa kau masih merasa sakit?" tanyanya.
Jasmine pun mengangguk sambil tersipu malu. Adam kembali memeluk tubuh Jasmine memberi kenyamanan agar gadis yang baru saja menjadi wanita itu merasa tenang.
"Apa kau lapar?" tanya Adam kemudian.
"Sedikit..."
"Jangan! biar aku saja..." cegah Jasmine berusaha bangun dari tempat tidur.
Namun baru saja kakinya menyentuh lantai ia langsung merasakan nyeri pada bagian bawah tubuhnya. Membuat Jasmine langsung menjatuhkan lagi tubuhnya di atas tempat tidur.
"Sudah... kau berbaring dulu saja disini... biar aku yang melakukannya..." kata Adam membaringkan tubuh Jasmine.
Jasmine pun mengangguk pasrah mengikuti perintah suaminya karena memang tidak mungkin ia bisa menyiapkan sarapan sedang untuk berdiri dan berjalan saja ia tidak bisa. Setelah membetulkan selimut Jasmine, Adam segera keluar dari dalam kamar dan segera menuju dapur. Tampak pria itu langsung sibuk mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas. Lalu dengan cekatan Adam pun mengolahnya.
Setengah jam kemudian tampak pria itu sudah menaiki tangga dengan membawa nampan berisi makanan untuknya sarapan bersama Jasmine di kamar. Dengan perlahan ia memasuki kamar. Adam langsung tersenyum saat melihat Jasmine yang sedang tertidur.
"Kau tampak sangat menggemaskan sekali sayang" gumamnya sambil membelai wajah Jasmine yang terlihat damai.
Merasakan sesuatu mengenai wajahnya membuat Jasmine terbangun. Saat membuka matanya ia melihat wajah Adam yang berada dekat didepan wajahnya.
"Kak..."
"Hemm... kau sudah bangun?"
__ADS_1
Jasmine mengangguk.
"Kalau begitu ayo kita sarapan..." ajak Adam.
Jasmine pun menegakkan tubuhnya. Sedang Adam sudah meletakkan nampan berisi makanan diatas meja yang berada di balkon kamar mereka. Setelah itu ia pun membopong tubuh Jasmine dan membawanya ke balkon lalu mendudukkannya di kursi. Ia juga mengambilkan makanan untuk Jasmine dan menyuapi istrinya itu. Jasmine pun menurut. Akhirnya mereka pun makan bersama dalam satu piring dengan saling menyuapi.
Setelah sarapan pagi Jasmine merasa lebih baik. Namun Adam masih melarangnya untuk keluar dari dalam kamar. Setidaknya sampai istrinya itu tidak lagi merasa kesakitan saat berjalan. Alhasil selama seharian itu keduanya menghabiskan waktu di dalam kamar. Dan itu berarti mereka pun kembali melakukan kegiatan panas untuk menghabiskan waktu.
Keesokan harinya keadaan Jasmine lebih baik sehingga ia langsung meminta Adam untuk mengajaknya jalan-jalan di sekitar villa tempat mereka menginap. Dan Adam pun langsung mengabulkan permintaan istrinya. Mereka memilih untuk berjalan-jalan tak jauh dari villa. Menurut penjaga villanya tak jauh dari villa terdapat sebuah danau yang sangat indah. Hal itu tidak disia-siakan oleh keduanya. Mereka pun berjalan kaki ke danau.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit akhirnya mereka pun sampai dan benar saja pemandangan di danau itu sangat indah. Jasmine bahkan melompat kegirangan saat mereka baru sampai di sana.
"Kak... indah sekali pemandangannya..." seru Jasmine.
Adam tersenyum saat melihat kebahagiaan Jasmine. Pria itu pun lalu memeluk Jasmine dari belakang membuat Jasmine sedikit berjingkat karena terkejut. Tapi ia tak menolak perlakuan Adam padanya.
"Jangan panggil aku kakak lagi... aku suamimu sekarang" protes Adam.
"Lalu aku panggil apa?" tanya Jasmine polos.
"Terserah... asal jangan yang aneh" sahut Adam yang sudah mulai mengendus leher Jasmine.
Jasmine langsung membalikkan tubuhnya agar Adam tak melanjutkan aksinya. Tapi bukannya berhenti pria itu malah mencium bibir Jasmine sekilas.
"Kak..." protes Jasmine.
Tapi Adam malah kembali menciumnya.
"Itu hukumanmu karena masih saja memanggilku kakak..." kata Adam saat melihat Jasmine melotot kearahnya.
"Ish... kau ini selalu saja punya alasan untuk membenarkan perbuatan mesummu itu!" sungut Jasmine.
Sedangkan Adam malah tersenyum puas.
"Baiklah... aku akan memanggilmu Dear..." ucap Jasmine sambil tersenyum puas setelah beberapa saat ia berfikir.
"Oke... kalau begitu aku juga akan memanggilmu Honey..." kata Adam lalu mencium gemas pipi Jasmine.
Sementara itu tak jauh dari tempat keduanya berdiri tampak seseorang tengah melaporkan apa yang sedang dilihatnya pada majikannya. Sesekali orang itu juga mengambil gambar Adam dan Jasmine tanpa sepengetahuan keduanya. Lalu orang itu pun langsung mengirimkan hasil jepretannya pada majikannya itu.
Di tempat lain tampak seseorang tengah emosi melihat gambar yang dikirim oleh orang suruhan yang ia bayar untuk mengikuti Adam dan Jasmine. Wajahnya tampak memerah dan tangannya mengepal.
__ADS_1
"Awas saja kalian... lihat saja sebentar lagi kalian berdua tidak akan bisa lagi tersenyum bahagia seperti ini lagi!" batinnya sambil mengobrak abrik barang-barang yang ada dihadapannya.