
Hari ini saat Adam tengah sibuk berkutat dengan pekerjaannya tiba-tiba sang asisten menghubunginya dan mengatakan jika pihak dari MC Corp merasa keberatan dengan pemutusan kerja sama kedua perusahaan. Pasalnya mereka sudah yakin jika semua kesepakatan sudah disetujui bersama hanya tinggal penandatangannya saja. Adam menghela nafasnya pelan. Ia tahu tak semudah itu menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi saat ini. Tapi ia benar-benar sudah tidak ingin menjalin hubungan apa pun dengan perusahaan itu demi keutuhan rumah tangganya.
Sikap Mirna sudah diluar batas kesabarannya. Tak banyak yang tahu jika masa lalu Adam tak semanis yang orang luar lihat. Bahkan Jasmine istrinya pun tak tahu itu. Sebelum papanya meninggal pria itu pernah menorehkan luka yang dalam pada istri dan putra semata wayangnya. Ya papa Adam pernah ketahuan selingkuh dengan salah seorang rekan kerjanya. Dan sialnya ia yang saat itu baru berusia 15 tahun lah yang memergoki keduanya. Dan dengan tidak tahu malunya perempuan itu malah dengan santainya memperkenalkan diri sebagai calon mama barunya.
Sebagai remaja yang sudah tahu beberapa permasalahan orang dewasa membuat Adam langsung membenci papanya. Dan dengan jantan ia menyuruh ayahnya untuk meninggalkan dirinya dan juga mamanya saat itu juga. Tanpa rasa takut remaja tanggung itu mengambil keputusan untuk menjaga mamanya sendiri yang saat itu baru saja merintis bisnis kecil-kecilan untuk mengisi kegiatannya karena merasa kesepian di rumah setelah Adam beranjak dewasa. Keberaniannya itu rupanya membuat sang papa tersadar jika apa yang sedang ia lakukan adalah salah. Tanpa berfikir panjang pria itu langsung memutuskan hubungannya dengan wanita itu di depan putranya.
Meski ayahnya memilihnya dan juga mamanya tetap saja rasa hormat Adam pada pria itu telah berkurang. Sehingga hubungan ayah dan anak itu pun tidak bisa kembali seperti semula. Dan saat papanya meninggal karena kecelakaan tak membuat Adam merasakan kehilangan yang dalam karena ia masih mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh papanya. Bertahun kemudian barulah Adam mengetahui jika mamanya juga mengetahui perselingkuhan papanya. Namun ia masih berusaha bertahan demi Adam putranya. Karena itulah Adam jadi sangat dekat dengan mamanya.
"Katakan pada mereka keputusanku sudah bulat... namun jika mereka masih ingin melanjutkan kerja sama suruh mereka mengganti bu Mirna dengan yang lain karena aku tidak mau berurusan dengan bibit pelakor" kata Adam pada Hadi asistennya.
Hadi pun hanya mengangguk mematuhi perintah atasannya itu. Ia tahu sifat Adam yang sangat keras. Pria itu tidak akan pernah mengubah keputusannya jika ia merasa benar. Lagi pula Hadi juga melihat sendiri sikap Mirna yang berusaha menggoda Adam. Sedang ia tahu Adam sangat membenci wanita yang seperti itu. Setelah Hadi undur diri untuk mengurus permasalahan dengan MC Corp Adam langsung melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda. Saat mendekati waktu makan siang Adam langsung menghubungi Jasmine untuk mengajak istrinya itu makan siang bersama di luar.
Ia juga menyuruh Jasmine untuk membawa putra mereka dan membuat janji bertemu di restoran langganan mereka. Dan saat jam makan siang tiba pria itu bergegas menuju restoran dimana Jasmine dan Aby sudah menunggunya. Wajah Adam terlihat sumringah saat melihat Jasmine sudah sampai di restoran bersama Aby. Bayi gembul itu bahkan sudah mengoceh dan berusaha turun dari gendongan Jasmine saat melihat Adam.
"Anak papa kangen ya..." ucap Adam sambil mengambil alih Aby dari gendongan Jasmine.
"Iya Dear... dari tadi dia sepertinya sudah tidak sabar bertemu denganmu..." terang Jasmine sambil tersenyum dengan tingkah putranya yang begitu dekat dengan Adam.
Adam menciumi pipi Aby dengan gemas. Bayi itu pun terlihat senang dengan perlakuan papanya. Tangan mungilnya bahkan menarik dan meremat wajah Adam. Bukannya marah pria itu malah terkekeh senang.
"Ayo pesan makanan sekarang Dear... kau pasti sudah laparkan?" Jasmine mengingatkan suaminya itu.
"Kau saja yang pesan Honey... aku masih ingin bermain dengan putra kita" sahut Adam.
Jasmine hanya menggelengkan kepalanya melihat Adam yang melupakan semuanya saat bersama putra mereka. Wanita itu pun langsung memesankan makanan untuk dirinya dan juga suaminya. Untung saja mereka memakai ruang privat sehingga Adam dan Aby bisa bercengkrama dengan bebas tanpa terganggu dengan tamu yang lain.
Selesai makan siang Adam malah membawa istri dan putranya itu kembali ke kantor. Hari ini Adam ingin menghabiskan waktunya dengan istri dan putranya meski dengan membawa keduanya ke kantor. Entah mengapa sejak wanita yang bernama Mirna itu berusaha mendekatinya Adam merasa gelisah jika berjauhan dengan Jasmine dan Aby. Ia seakan merasakan bahaya sedang mengancam keluarga kecilnya.
Sesampainya di kantor Adam kembali berkutat dengan pekerjaannya. Untung saja Aby langsung tertidur saat mereka keluar dari restoran. Jasmine yang menjaga putranya tidur diatas tempat tidur memilih memainkan ponselnya untuk mengusir bosannya di kantor Adam. Setelah menikah Adam memang menyiapkan kamar khusus di sebelah kantornya untuk istirahat jika Jasmine datang berkunjung seperti ini. Saat Jasmine tengah berkutat dengan ponselnya tiba-tiba Maya menghubunginya. Meski kaget sahabatnya itu menghubunginya tiba-tiba namun Jasmine juga merasa senang.
"Halo May... ada apa?" tanya Jasmine.
"Aku hanya ingin berbincang denganmu Jess... rasanya aku sangat merindukanmu dan juga Aby..." ucap Maya sendu.
"Apa kau mau ganti dengan vidio call?" tanya Jasmine.
__ADS_1
Maya pun langsung mengiyakan dan mengganti panggilannya dengan vidio call. Melihat wajah Jasmine membuat Maya langsung bahagia. Sayang saat ia ingin melihat Aby ternyata bayi gembul itu tengah tertidur. Namun ia cukup senang karena bisa sedikit mengurangi rasa rindunya.
"May... apa kau tidak ingin kembali ke negara ini lagi?" tanya Jasmine hati-hati.
"Mungkin nanti setelah aku melahirkan akan aku fikirkan lagi Jess... lagi pula disini kak Rian juga sudah mulai betah dan kedua mertuaku bahkan sudah menyusul kami disini..." terang Maya.
Ia tahu keputusannya untuk pindah sudah membuat Jasmine sedih. Tapi ia sudah bulat pada keputusannya itu.
"Hei... kau jangan sedih lagi Jess... mungkin lain kali kau bisa kemari menjengukku... karena untuk saat ini aku belum bisa bepergian jauh karena kehamilanku..." hibur Maya.
"Iya... nanti aku akan bicarakan sama kak Adam..." sahut Jasmine sambil tersenyum agar Maya tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Keduanya pun berbincang hangat hingga akhirnya Maya harus mengakhiri percakapan mereka karena ia harus pergi memeriksakan kandungannya. Jasmine mendo'akan agar kandungan Maya selalu sehat hingga ia melahirkan sebelum ia mengakhiri sambungan ponselnya. Baru saja ia matikan ponselnya Adam masuk ke dalam kamar dan mengatakan jika sudah saatnya mereka pulang. Dengan hati-hati Adam menggendong putranya sedang Jasmine mendorong stroller yang berisi tas keperluan Aby.
Di tempat lain tampak Mirna tengah diinterogasi oleh ayahnya. Ia menanyakan mengapa Adam mengancam akan membatalkan kerja sama perusahaan mereka jika Mirna masih memimpin dalam proyek yang mereka kerjakan.
"Katakan Mirna... apa yang sudah kau lakukan hingga pak Adam menginginkanmu mundur dari proyek ini!" seru papa Mirna.
"A... aku tidak melakukan apa-apa pa..."
"Aku hanya mengajaknya bertemu lebih lama untuk mengobrol pa... pria itu saja yang sok kegantengan... sudah menolak tawaranku sekarang malah menyuruh menggantikan posisiku dalam proyek..." sungut Mirna.
"Kau jangan bohong Mirna... bahkan Alya sudah mengundurkan diri tiba-tiba dari perusahaan apa da yang kamu sembunyikan dari papa?"
"Aku akui pa... aku tertarik pada Adam dan aku ingin mendekatinya..." aku Mirna akhirnya.
"Apa kau sudah gila?"
"Mungkin saja pa... karena aku sudah menyukainya sejak kami pertama bertemu"
"Kau tahu Adam bukan pria biasa yang masih bisa ramah pada wanita yang mengganggu keluarganya? dan sikapmu itu sudah ia anggap mengganggu keluarganya...bisa-bisa bukan hanya kamu yang ia singkirkan tapi juga perusahaan kita!"
Mirna hanya terdiam.
"Tapi aku benar-benar menginginkannya pa..." kata Mirna keukeuh setelah terdiam beberapa saat.
__ADS_1
"Hah! kau benar-benar anak yang keras kepala!" kata papa Mirna.
Memang jika saja Adam masih sendiri ia pun pasti memanfaatkan momen kerja sama perusahaannya dengan Adam untuk mendekatkan putrinya Mirna dengan pria itu. Namun sayang pria itu kini sudah beristri dan dia juga bukan pria yang bisa digoda dengan wanita. Sudah banyak contoh dari korban kemarahan Adam karena berani mengusik pria itu. Makanya ia tak berani gegabah dengan menyuruh putrinya terang-terangan menggoda pria itu. Ia sudah bisa menduga jika akan begini akhirnya. Untung saja Adam hanya menyuruh menggantikan Mirna dari proyek kerja sama mereka.
"Pa... aku mohon bantu aku mendekati Adam..." ucap Mirna dengan nada manja.
Ia tahu jika sudah begini papanya pasti akan luluh dan akan menuruti semua kemauannya.
"Kau tahu itu akan sangat sulit sayang... bahkan belum apa-apa Adam sudah mendepakmu dari proyek ini..."
"Aku bisa mendekatinya dengan cara lain papa... yang terpenting papa mau mendukungku..."
Prok... prok...prok...
"Bagus sekali!" tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dan seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruang kerja papa Mirna.
"Mama!" seru Mirna dan papanya bersamaan.
"Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya... aku fikir karena kamu perempuan maka kau tidak akan mengikuti sifat papa kamu Mirna... tapi ternyata aku salah... kau bahkan rela menjadi j*l**g untuk mencapai tujuanmu!"
"Mama!" seru Mirna tak menyangka mamanya bisa menyebutnya j*l**g.
"Ma... dia putrimu!" seru papa Mirna.
"Dia bukan putriku! dia putrimu dan juga gundikmu! aku diam dan mau merawatnya karena aku tak bisa memberimu keturunan... tapi ternyata bibit dari pelakor tetap saja akan tumbuh jadi pelakor juga!"
"A... apa maksud mama?" tanya Mirna syok dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Ya... kamu anak pelakor dan pria tukang selingkuh! jadi tidak heran jika kamu juga akan jadi pelakor seperti ibumu!" seru Dita istri pak Bima papa Mirna.
"Ma... mama sudah berjanji akan menjaga rahasia ini dari Mirna... tapi kenapa sekarang mama malah memberitahunya?" tanya pak Bima.
"Karena dia sudah mulai menunjukkan sifat aslinya dan kau malah akan mendukungnya!" seru bu Dita emosi.
"Ini! tadinya aku hanya akan memberikan ini padamu tanpa melibatkan putrimu! tapi ternyata aku harus membuatnya sadar dimana posisinya yang sesungguhnya!" kata bu Dita sambil melemparkan amplop coklat pada pak Bima.
__ADS_1