
Jasmine dan mamanya baru saja menyelesaikan sarapan pagi mereka saat terdengar ketukan di pintu depan rumah mereka. Mama Tika mengernyitkan dahinya tak menduga sepagi ini ada yang datang ke rumahnya. Sementara Jasmine sudah merasa gugup karena sudah menduga siapa yang datang.
"Siapa ya pagi-pagi sudah kemari?" ucap mama Tika sambil memandang putrinya.
"Biar mama saja yang membuka pintunya" sambungnya sambil beranjak berdiri dari duduknya.
Jasmine pun mengikuti mamanya dari belakang. Saat mama Tika membuka pintunya tampak Adam sudah berdiri di depan pintu.
"Selamat pagi tante..." ucap Adam sopan.
Sengaja Adam memanggil begitu karena ia ingin menghormati mama Tika yang merupakan mama Jasmine, gadis yang dicintainya walau sebenarnya umur mereka hampir sama.
"Ah... maaf ada perlu apa ya pagi-pagi datang kemari?" tanya mama Tika yang sedikit kaget dengan kedatangan Adam.
"Maaf ... saya kemari untuk bicara sebentar dengan tante... boleh?" tanya Adam sopan.
"Emm... boleh, silahkan masuk!" ucap mama Tika.
Adam pun masuk ke dalam diikuti mama Tika. Jasmine yang baru keluar dari ruang makan pun tampak menatap Adam dengan wajah sedikit cemas. Melihat itu Adam hanya tersenyum dan mengangguk pelan mencoba meyakinkan Jasmine bahwa semua akan baik-baik saja.
"Silahkan duduk..." kata mama Tika.
Lalu Adam pun duduk di depan mama Tika sedang Jasmine tidak berani mendekat. Kemudian Adam pun mengutarakan tujuannya datang ke rumah mama Tika.
"Begini... sebenarnya saya kemari untuk membicarakan hubungan saya dengan Jasmine" ucap Adam.
"Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya jika saya serius ingin menjadikan Jasmine sebagai pendamping hidup saya..." terang Adam.
Mama Tika terdiam. Sebenarnya saat melihat tingkah Jasmine yang sedari tadi terlihat aneh mama Tika sudah dapat menduga jika anak gadisnya itu pasti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Jess..." panggil mama Tika pada putrinya itu.
Dengan perlahan Jasmine mendorong kursi rodanya dan mendekat kearah mamanya.
"Iya ma..." sahut Jasmine takut-takut.
"Apa kau tahu jika Adam akan kemari?" tanya mama Tika lembut.
"Iya ma..." sahut Jasmine sambil memandang wajah mamanya itu.
"Jadi... kamu sudah membicarakan semuanya dengan Adam sebelumnya kan?"
Jasmine hanya mengangguk pelan. Ia takut jika mamanya akan memarahinya karena bertemu dengan Adam secara diam-diam. Namun ternyata apa yang ia fikirkan itu ternyata salah. Mama Tika malah terlihat tersenyum bahagia sambil menatap putrinya itu.
"Mama ga marah kok sayang..." ucap mama Tika lembut sambil membelai kepala putrinya itu.
"Jadi mama..." ucap Jasmine tercekat.
"Iya sayang... kamu sudah cukup umur sekarang... jadi kamu bebas memilih pasanganmu sendiri... apalagi mama tahu jika orang yang kau pilih adalah Adam... mama malah lega karena dia pria yang baik" ungkap mama Tika panjang lebar.
"Kalau begitu bolehkah saya segera membawa mama saya untuk melamar Jasmine secepatnya?" tanya Adam yang sedari tadi hanya memperhatikan.
"Iya... tapi kalau bisa saat weekend saja ... agar tidak mengganggu jadwal kuliah Jasmine" sahut mama Tika yang langsung disetujui oleh Adam.
Setelah itu Adam pun meminta izin untuk mengantar Jasmine kembali ke kota B. Mama Tika pun langsung menyetujuinya. Keduanya pun langsung pamit pada mama Tika agar Jasmine tak terlambat saat masuk kelas kuliah siangnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan tangan kiri Adam selalu menggengam tangan Jasmine. Pria itu tampak sangat bahagia. Jasmine pun sama sekali tak keberatan dengan perlakuan Adam padanya gadis itu bahkan terlihat sangat nyaman dengan perlakuan Adam padanya.
"Kau belajarlah yang rajin dan jangan berfikir yang macam-macam..." ucap Adam saat mereka sudah sampai di kampus Jasmine.
"Iya... kak Adam juga hati-hati di jalan..." sahut Jasmine.
Adam pun mengangguk lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Sedang Jasmine langsung mendorong kursi rodanya masuk ke dalam kelasnya. Hari ini Jasmine merasa jika kehidupannya menjadi lebih baik. Saat pulang dari kampus pun Jasmine masih terlihat bahagia. Hingga mang Oding yang sedari tadi memperhatikan nonanya pun menjadi penasaran.
"Kelihatannya hari ini nona tampak sangat bahagia?" ungkapnya.
"Iya mang... hari ini banyak hal baik terjadi padaku" sahut Jasmine sambil tersenyum.
"Nah begitu dong non .... jangan lupa untuk selalu tersenyum ..."
"Iya mang ... terima kasih..." sahut Jasmine lagi.
Sesampainya di kosan Jasmine langsung menuju kamarnya untuk segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Sebab sebentar lagi waktu makan malam tiba dan seperti biasa ibu kos selalu ingin setiap penghuni kos yang ada untuk makan bersama.
Selesai makan malam Jasmine langsung ijin untuk beristirahat terlebih dahulu karena sejak pagi ia belum sempat beristirahat sepulang dari rumah mamanya. Sesampainya di kamar Jasmine langsung mengambil air wudhu untuk sholat isya' sebelum ia pergi tidur. Selesai sholat ia pun memindahkan tubuhnya keatas tempat tidur dan bersiap untuk memejamkan matanya.
Baru saja ia memejamkan mata terdengar dering ponselnya yang membuat Jasmine kembali bangun dan mengangkat panggilan ponselnya itu. Ternyata Adam melakukan vidio call. Begitu Jasmine menerimanya tampak wajah Adam menghiasi ponsel Jasmine.
"Malam Jess..."
"Malam kak..."
"Kau sudah tidur?"
"Belum kak"
"Apa kau merindukanku?" tanya Adam.
Jasmine pun mengangguk sambil tersipu. Adam langsung tersenyum lebar melihat gadis pujaannya itu terlihat salah tingkah.
"Jess..." panggilnya.
"Iya kak?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi... apa kau merindukanku?" tanya Adam lagi.
"I...iya...kak" sahut Jasmine terbata dengan wajah yang sudah memerah karena malu.
"Syukurlah... itu berarti perasaan kita sama" ujar Adam yang membuat Jasmine semakin merona.
Saat keduanya tengah berbincang tiba-tiba Jasmine mencium seperti bau asap. Perhatiannya pun kini teralihkan karena hendak mencari sumber bau asap itu.
"Kamu kenapa Jess?" tanya Adam yang melihat tingkah aneh Jasmine.
"Ini kak ... aku seperti mencium bau asap..." sahut Jasmine.
"Coba kau periksa Jess... tapi vcnya jangan kau matikan oke?" kata Adam.
"Iya kak..." sahut Jasmine.
Lalu gadis itu pun berpindah ke kursi rodanya lalu meletakkan ponselnya diatas pangkuannya. Setelah itu Jasmine mulai mendorong kursi rodanya kearah pintu kamarnya. Saat gadis itu mulai mendekati pintu bau asap itu semakin terasa bahkan kepulan asap sudah mulai merembes dari bawah pintu kamar Jasmine.
__ADS_1
Perlahan gadis itu membuka pintu kamarnya dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati api telah berkobar di depan kamarnya. Jasmine pun langsung berteriak ketakutan.
"Aaarrggh..."
"Ada apa Jess? kenapa kau berteriak?" tanya Adam dari ponsel Jasmine.
"Kak...didepan kamarku ada api! uhuk...uhuk" sahut Jasmine sambil terbatuk karena menghirup asap.
"Cepat kau masuk kembali ke kamarmu Jess ... dan tutup pintunya!" suruh Adam.
Jasmine pun langsung mendorong kursi rodanya ke belakang agar ia dapat masuk kembali ke dalam kamarnya. Setelah itu ia pun segera menutup pintu kamarnya itu.
"Sudah kak..." ucap Jasmine pada Adam yang masih vidio call dengannya.
"Cepat ambil kain atau handuk dan basahi dengan air setelah itu jejalkan di lubang bawah pintu kamarmu!" perintah Adam.
Jasmine pun langsung melakukan apa yang disuruh oleh Adam. Ia segera menarik handuk yang tergantung di pintu kamar mandi dan segera membasahinya dengan air dari wastafel yang ada di samping pintu kamar mandi. Lalu gadis itu pun menjejalkan handuk basah itu dengan bantuan gantungan bajunya.
"Sudah kak..." ucap Jasmine setelah memastikan tak ada lagi asap yang masuk melalui bawah pintu kamarnya.
"Bisakah kau keluar dari sana melalui jalan lain? jendela kamarmu misalnya?" tanya Adam.
Jasmine pun segera memeriksa jendela kamarnya. Untung saja jendela itu tidak berteralis dan cukup lebar sehingga bisa dilewati oleh tubuh Jasmine. Segera gadis itu membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Lalu ia pun mencoba untuk berdiri dan melompati jendela tersebut. Namun sebelumnya ia mengambil tas ponsel yang bisa ia gantung di lehernya lalu memasukkan ponselnya ke sana. setelah itu ia menggantung tas itu dilehernya.
Kemudian Jasmine berusaha berdiri dengan berpegangan pada kusen jendela lalu ia pun menarik tubuhnya agar bisa keluar melewati jendela kamarnya itu. Usaha pertamanya untuk melewati jendela itu gagal namun Jasmine tidak mau menyerah apa lagi Adam yang masih mendampinginya melalui kamera ponsel terus memberinya semangat.
Setelah dua kali gagal dalam usahanya akhirnya Jasmine berhasil keluar dari dalam kamar setelah mencoba yang ketiga kalinya. Tubuh Jasmine langsung terjatuh ke tanah setelah berhasil melewati jendela kamar kosnya.
"Jess... kamu tidak apa-apa?" tanya Adam saat melihat hal itu dari ponselnya.
"A...aku ... tidak ...apa-apa kak..." terdengar suara Jasmine lirih seperti menahan sakit.
"Cepat kau menjauh dari sana Jess!" suruh Adam sambil meraih kunci kontak mobilnya di atas nakas.
Adam bertekad akan menyusul Jasmine ke tempat kosnya. Saat keluar dari kamarnya Adam berpapasan dengan mamanya yang baru saja dari dapur.
"Kau mau kemana malam-malam begini Dam?" tanya mama Sinta.
"Aku mau ke kosan Jasmine ma... kosan Jasmine kebakaran" sahut Adam masih memegang ponselnya.
"Apa? kosan Jasmine terbakar?"
Adam hanya mengangguk dan segera berjalan keluar.
"Tunggu ... mama ikut!" kata mama Sinta langsung masuk ke kamarnya dan mengambil sweater dan juga tasnya lalu langsung menyusul Adam yang sudah menunggu di mobil.
Setelah mamanya masuk ke dalam mobil Adam pun langsung melajukan mobilnya.
"Kamu sudah memberi tahu mamanya Jasmine?"
"Belum ma... soalnya ponselku masih tersambung dengan ponsel Jasmine" terang Adam.
"Baiklah biar mama yang menghubungi mama Jasmine" ujar mama Sinta.
Kemudian ia pun langsung menghubungi mama Tika. Saat menerima telfon dari mama Sinta tentang kebakaran di tempat kos Jasmine mama Tika langsung ingin ikut sehingga Adam pun mengarahkan mobilnya ke rumah mama Tika terlebih dahulu.
__ADS_1