
Sesampainya di rumah sakit ada petugas medis yang sudah menunggu Jasmine di depan gedung. Adam memang sudah menelgon rumah sakit jika ia akan membawa istrinya ke sana. Karena takut jika istrinya sakit parah maka ia menyuruh petugas medis menunggu kedatangan mereka agar Jasmine bisa segera ditangani. Setelah di pindahkan ke atas brankar mereka pun membawa Jasmine ke ruang IGD untuk menjalani pemeriksaan. Sementara Adam dengan gelisah menunggui istrinya di luar.
Setelah tiga puluh menit akhirnya salah satu dokter yang merawat Jasmine keluar dari ruang pemeriksaan. Adam tampak sangat gugup dan khawatir jika ternyata istrinya memang sakit menderita parah.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Adam langsung.
"Anda tidak perlu cemas tuan... istri anda baik-baik saja... keadaannya yang terjadi sekarang itu karena nyonya sekarang sedang mengandung... dan usia kandungannya sudah memasuki lima minggu..." terang sang dokter yang membuat Adam tertegun.
Pria itu sepertinya masih belum bisa mencerna perkataan sang dokter karena sedari tadi sudah berfikiran buruk.
"Maksud dokter?" tanya Adam memastikan pendengarannya saat ia mulai tersadar dari keterkejutannya.
"Iya tuan... istri anda hamil..." ulang sang dokter sambil tersenyum melihat ekspresi Adam yang tampak linglung.
"Ha... hamil dok?" sekali lagi Adam mencoba meyakinkan jika pendengarannya tidak salah.
"Benar tuan..." ucap dokter itu kembali meyakinkan Adam.
Adam langsung berteriak senang dan langsung memeluk sang dokter sambil mengucapkan terima kasih karena menyampaikan kabar bahagia itu padanya.
"Terima kasih dokter... tapi apa keadaan istri saya dan kandungannya baik-baik saja? sebab tadi dia terlihat sangat lemah dokter..."
"Kondisi seperti itu masih terbilang wajar... nanti saya beri vitamin agar kesehatan nyonya cepat pulih... untuk sekarang biar nyonya istirahat dulu disini sampai infusnya habis... setelah itu baru boleh pulang" terang dokter.
Adam mengangguk mengerti. Dan setelah mendapatkan izin dari dokter ia pun segera menemui Jasmine. Wanita itu tampak masih sedikit pucat namun sudah lebih baik dari saat tadi di rumah.
__ADS_1
"Aku kenapa Dear?" tanyanya cemas saat melihat Adam mendekat.
"Tidak apa-apa Honey... kau hanya sedang mengalami fase hamil muda saja..." terang Adam yang membuat Jasmine tertegun.
Ingatannya langsung melayang pada jadwalnya datang bulan. Memang benar sudah hampir dua bukan ini dirinya belum didatangi tamu bulanannya.
"Ja... jadi..."
"Iya Honey... kau hamil... Aby sebentar lagi akan menjadi kakak..." ucap Adam langsung memeluk istrinya itu.
Jasmine tampak berkaca-kaca... tak menyangka jika ia akan kembali hamil anak kedua mereka. Adam mengelus perut Jasmine yang masuh terlihat rata.
"Baik-baik anak papa.... jangan buat mama kesusahan ya sayang..." bisiknya pada perut Jasmine seolah berbicara dengan sang calon anak mereka.
"Semoga hanya kali ini saja aku seperti ini ya Dear... aku masih ingin bisa mengasuh Aby..." kata Jasmine.
"Iya... semoga saja dek bay hanya memberitahukan tentang kehadirannya saja pada kita..." sahut Adam sambil mengecup kening Jasmine.
Setelah itu Adam segera menghubungi mamanya untuk mengabarkan keadaan Jasmine sekaligus kabar kehamilan keduanya. Mama Sinta yang mendapat kabar dari Adam pun sangat gembira dan langsung memberitahukannya pada mama Tika. Kedua oma itu pun tampak senang karena akan mendapat cucu kedua mereka.
Setelah menghabiskan isi kantong infusnya Jasmine pun diperbolehkan untuk pulang. Keadaannya pun semakin membaik. Ia sudah bisa berdiri dan berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain. Namun begitu Adam masih keukeuh agar Jasmine menggunakan kursi roda saat akan menuju ke mobil. Dan Jasmine pun hanya bisa pasrah dan tidak bisa berdebat lagi dengan suaminya itu karena ia juga ingin cepat-cepat sampai di rumah sebab ia sangat mengkhawatirkan putra pertamanya Aby.
Sesampainya di rumah mama dan mama mertuanya sudah menunggu di depan rumah dengan mama Tika yang menggendong Aby. Mereka tampak antusias menyambut kepulangan Jasmine. Mama Sinta langsung memeluk menantunya itu dengan hangat dan mengucapkan selamat atas kehamilannya yang kedua. Begitu juga mama Tika setelah menyerahkan Aby pada mama Sinta. Aby yang sedari tadi belum memeluk mamanya tampak mulai merengek karena merasa tidak diperhatikan oleh mamanya.
"Jangan menangis sayang... sini sama mama..." ucap Jasmine mengambil alih Aby dari mama Sinta.
__ADS_1
Aby pun langsung diam saat dalam gendongan Jasmine. Namun Adam langsung mengambil alih kembali Aby karena ia takut jika Jasmine masih belum kuat untuk menggendong putra pertama mereka karena baru pulang dari rumah sakit. Untung saja Aby tetap tenang dalam gendongan Adam. Sehingga mama Tika dan mama Sinta yang menuntun Jasmine ke dalam rumah.
Sementara di rumah sakit Mirna kembali meminta agar dirinya diperbolehkan pulang pada dokter yang merawatnya. Ketakutannya jika Rudi kembali berusaha menemuinya membuat wanita itu ingin segera keluar dari rumah sakit. Apalagi mengetahui jika bu Nike belum juga jujur pada kedua orangtuanya tentang kejadian masa lalu bu Nike yang membuatnya ikut terseret dalam balas dendam Rudi hingga ia dilecehkan.
Ada rasa sakit dan marah menyadari jika ibu kandungnya itu masih saja egois tak mau mengakui masa lalunya yang kelam yang membuat Mirna harus membayar semua perbuatan ibunya itu. Jika tidak mengaku pada pihak berwajib setidaknya wanita itu mau jujur pada pak Bima dan bu Dita. Namun tampaknya itu tidak mungkin karena bu Nike sepertinya tidak mau masa lalunya itu diketahui oleh keduanya.
Sedang Mirna juga enggan membahas hal itu. Ia kini hanya ingin melupakan semuanya dan memulai hidup baru. Dan itu dengan mamanya... bu Dita. Bagi Mirna selamanya bu Dita adalah mamanya meski kini ia tahu jika wanita itu bukan ibu kandungnya. Dan setelah dokter memeriksa kondisi Mirna akhirnya ia pun mengizinkan Mirna untuk pulang meski ia harus tetap masih harus menjalani konseling untuk menyembuhkan traumanya.
Mendengar keputusan dari dokter membuat Mirna merasa lega. Ia tampak lebih ceria dan bersemangat karena akan segera pulang ke rumah.
"Mama... boleh aku pulang ikut dengan mama?" tanya Mirna pada bu Dita.
Mirna tahu jika mamanya tidak lagi tinggal di rumah dengan sang papa. Dan dia lebih memilih untuk tinggal dengan bu Dita.
"Tentu saja sayang... dari dulu itu memang rencana mama..." jawab bu Dita sambil memeluk sayang pada Mirna.
Wanita itu pun tersenyum. Ia merasa lega mamanya masih mau menerimanya setelah kesalahannya yang dulu ngotot ingin memiliki Adam.
"Terima kasih ma... dan maafkan Mirna yang dulu sudah membuat membuat mama marah karena tindakan bodoh dan egois Mirna...".
"Sama-sama sayang... mama juga minta maaf karena bukannya menasehatimu dengan lembut tapi malah membuatmu jadi terluka dengan kata-kata mama...".
"Tidak apa-apa ma... mungkin memang terkadang mama harus keras pada Mirna agar tidak lagi melakakukan kesalahan dalam hidup Mirna..." sahut Mirna mengeratkan pelukannya.
Keduanya pun larut dalam suasana haru karena kembali bisa seperti dulu saat Mirna masih kecil. Kini Mirna sadar jika tidak semuanya dalam kehidupan ini bisa selalu berjalan sesuai dengan keinginannya. Dan kini ia ingin memulai lagi semuanya dari awal bersama bu Dita mamanya yang selalu ada untuknya.
__ADS_1