
Mirna melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah seoerti kehilangan akalnya saja saat tadi wanita yang di katakan oleh bu Dita tidak mengakuinya sebagai putrinya. Sebegitu hinakah dirinya yang terlahir dari hubungan terlarang ayah dan juga ibunya membuat wanita yang telah melahirkannya pun tak mau mengakuinya. Ia jadi teringat dengan bu Dita... wanita yabg selama ini telah merawatnya. Tak pernah wanita itu bersikap kasar yang memperlihatkan jika wanita itu tidak menyukainya.
Bahkan ia masih tak percaya saat wanita itu mengatakan jika dia bukan darah dagingnya. Apa selama ini wanita paruh baya itu juga merasa tersiksa saat merawatnya? apa ada garis wajahnya yang bisa mengingatkan wanita itu pada ibu kandungnya hingga saat ia melakukan hal yang sama dengan ibunya yaitu ingin merebut suami orang membuat bu Dita langsung emosi dan mengatakan segalanya? Lalu bagaimana dengan Alya? apa dia masih akan mau menjadi temannya saat tahu jika wanita perusak rumah tangga orangtuanya adalah ibu kandung Mirna?
Pertanyaan demi pertanyaan melintas di kepalanya membuatnya tak menyadari jika saat ini ia tengah mengarahkan mobilnya kembali ke rumah ayahnya. Pak Bima yang sedari tadi mengikuti Mirna dari belakang pun mulai merasa lega saat melihat mobil yang dikemudikan Mirna berbelok ke arah rumahnya. Sesampainya di depan rumah Mirna menghentikan mobilnya dan masih berada di dalam sana beberapa saat. Pandanganya masih kosong.
Ia yang selama ini selalu dilimpahi kasih sayang dan cenderung dimanjakan oleh kedua orangtuanya terutama pak Bima kini harus menghadapi kenyataan ditolak oleh orang-orang yang ada didekatnya. Juga orang yang kini mengusik hatinya. Sikap egoisnya kembali muncul saat mengingat keadaan ibu kandungnya yang terlihat bahagia meski sudah merusak rumah tangga orang lain. Bukankah dia juga bisa melakukannya? perkataan bu Dita yang mengatakan jika ia sama dengan ibunya kembali membuatnya berfikir mungkin saja dia bisa juga seperti ibunya.
"Jika wanita itu juga bisa mendapatkan apa yang ia inginkan maka aku juga bisa..." batin Mirna mulai menyunggingkan senyumannya.
Dengan segera ia pun turun dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Pak Bima yang baru sampai pun mengikuti putrinya dari belakang.
"Mirna!" panggil pak Bima pada putrinya itu saat ia berhasil mengejar ke dalam rumah.
"Papa..." sahut Mirna yang langsung membalikkan badannya dan menghambur ke arah pak Bima.
"Sudah sayang... jangan kau fikirkan apa yang wanita itu katakan... kau anak papa... dan kau tidak butuh siapa pun kecuali papa..." kata pak Bima sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Mirna.
Mirna meneteskan air matanya kembali. Papanya benar... ia masih punya papanya yang akan selalu ada dibelakangnya. Seketika senyumnya kembali terbit.
"Papa... aku ingin bahagia... dan Adam yang akan membuatku bahagia pa... buat dia menjadi milikku pa..." ucap Mirna ditengah tangisnya.
"Iya sayang... papa akan menuruti permintaanmu... sudah jangan menagis lagi oke?" sahut pak Bima yang memang tidak pernah bisa melihat putrinya itu menangis.
"Terima kasih pa... papa memang yang paling menyayangi..." ucap Mirna sambil tersenyum dan menghapus air matanya.
"Sekarang kau masuklah ke kamarmu... dan beristirahatlah!" kata pak Bima sambil mengecup kening putrinya.
Setelah melihat Mirna masuk ke dalam kamarnya pak Bima pun melangkahkan kakinya ke kamarnya sendiri. Hari ini ia sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Namun saat ia memasuki kamarnya ia langsung melihat ada yang berbeda dengan kamarnya. Semua kosmetik bu Dita tak lagi tersusun di atas meja rias. Ia segera tersadar dengan perkataan istrinya tadi yang ingin bercerai dengannya. Cepat pak Bima memeriksa lemari pakaiannya. Dan terlihat jika tak ada satu pun pakaian bu Dita ada disana.
Ia segera berlari mencari para Artnya untuk menanyakan dimana istrinya. Dan kenyataan kembali menamparnya. Menurut para Artnya istrinya itu sudah pergi dari rumah sejak pagi dengan membawa sebuah koper besar. Saat para Art bertanya bu Dita hanya mengatakan jika ia akan pergi lama.
__ADS_1
"Apa yang membuatnya tiba-tiba bersikap seperti ini? apa dia tahu hubunganku dengan sekretaris baruku itu? arrgghh! kau fikir kau bisa begitu saja meninggalkanku Dita? kau cuma perempuan mandul yang tidak bisa apa-apa tanpa aku!" seru pak Bima frustasi.
Sesungguhnya meski ia sering bermain dengan perempuan diluaran, hanya istrinyalah yang memjadi tempatnya untuk pulang. Karena hanya bersama wanita itu ia bisa merasa tenang. Tapi sifat doyan main perempuannya memang sudah tidak bisa dihentikan. Ia selalu saja gagal menahan godaan para wanita yang menawarkan kesenangan sesaat.
Sementara di sebuah mall tampak keluarga kecil Adam tengah menikmati waktu bersama. Sambil mendorong stroller Adam menggandeng Jasmine. Keduanya sengaja mengajak putranya jalan-jalan setelah tadi sempat pulang ke rumah dan membersihkan diri. Aby yang tadi sudah sempat tertidur tampak sangat bersemangat. Apa lagi saat melihat beragam barang dan mainan yang menarik baginya. Tangan bayi itu selalu saja melambai seolah ingin mengambil barang apa yang saja menarik baginya.
Saat mereka tengah asyik memilih mainan yang diinginkan oleh Aby tiba-tiba seseorang memanggil Adam.
"Selamat malam pak Adam..."
"Selamat malam?" Adam menoleh ke arah suara.
Terlihat Alya tersemyum pada pria itu.
"Bapak sedang bersama keluarga?" tanyanya saat melihat Adam bersama dengan seorang wanita muda yang cantik dan seorang bayi.
"Iya benar..." sahut Adam berubah ramah melihat Alya yang juga memperhatikan keberadaan istri dan juga putranya.
Jasmine langsung menyambut uluran tangan Alya dan memperkenalkan dirinya.
"Jasmine..." ucapnya sambil tersenyum.
"Anda sedang mencari mainan untuk siapa?" tanya Adam yang tahu jika Alya masih single.
"Tidak pak... saya bekerja di sini..." sahut Alya.
Adam tampak terkejut.
"Bukannya anda..." kata Adam mengggantung.
"Saya sudah mengundurkan diri dari perusahaan bu Mirna pak" sahut Alya.
__ADS_1
"Memangnya dulu kakak bekerja dimana?" tanya Jasmine yang ikut penasaran.
"Dulu saya bekerja sebagai asissten bu Mirna di perusahaan MC Group... tapi saya sekarang sudah mengundurkan diri karena ingin membantu usaha mama saya..." terang Alya.
"Jadi toko ini milik mama kak Alya?" tanya Jasmine dengan mata berbinar.
"Hei... ada apa denganmu Honey? kenapa kau jadi begitu bersemangat hem?" tanya Adam yang merasa jika istrinya itu tengah merencanakan sesuatu...
"Hem... hanya ada ide kecil yang terlintas saja Dear... mumpung kak Alya ternyata anak pemilik toko ini..." sahut Jasmine sambil tersenyum saat melihat sang suami sudah merasakan gelagatnya.
"Bagaimana jika kita bicara di dalam kantor saja..." usul Alya yang jadi penasaran dengan ide Jasmine.
Adam dan Jasmine pun lalu mengikuti Alya menuju ke dalam sambil Adam menggendong Aby. Stroller bayi itu segaja ditinggalkan dekat kasir. Sesampainya di dalam kantor Alya memperkenalkan keduanya pada mamanya. Dan setelah berbasa-basi sebentar akhirnya Jasmine pun mengemukakkan idenya untuk menitipkan baju anak desainnya sendiri untuk dijual di toko milik mama Alya. Karena menurut Jasmine toko itu akan lebih ramai dengan tambahan jenis barang jualan mereka selain mainan.
Ide Jasmine itu disambut baik oleh Alya dan juga mamanya. Bahkan Adam juga bersedia memberikan kucuran dan bagi istrinya itu untuk memproduksi pakaian anak. Selesai membicarakan bisnis Adam dan Jasmine pun berpamitan pulang karena hari sudah mulai malam.
"Apa pria itu yang sedang diincar oleh Mirna... Al?" tanya mama Alya.
"Iya ma..." sahut Alya sendu.
Alya semakin merasa bersalah karena ia tidak bisa mencegah sahabatnya itu untuk mengurungkan niatnya menggoda Adam.
"Istri pak Adam terlihat masih sangat muda dan cantik Al... berbanding jauh dari Mirna... mama yakin Mirna akan sangat sulit untuk menyaingi Jasmine... apa lagi seperti yang pernah kau bilang jika pak Adam sudah menolak temanmu itu mentah-mentah... mama jadi tambah yakin jika keluarga mereka akan baik-baik saja..." ucap mama Alya panjang lebar agar putrinya itu tidak terlalu merasa bersalah pada Jasmine dan Adam.
Sementara pak Pambudi sudah tiba di depan rumah mantan istri dan juga putrinya. Rumah itu terakhir ia datangi saat menyerahkan undangan pernikahannya dengan Nike. Jika mengingat itu ada rasa bersalah yang besar menyusup dihatinya saat ini. Bagaimana bisa ia dulu mengusir istri dan anaknya sendiri demi wanita simpanannya. Dan setelah satu minggu perceraiannya dengan mantan istrinya itu resmi disahkan dengan tega dan anggkuhnya ia mendatangi tempat ini bersama Nike dan memberikan surat undangan pernikahan mereka pada mantan istrinya itu.
Untung saja sang mantan istri adalah wanita yang kuat. Ia sama sekali tidak menunjukkan kelemahannya. Bahkan ia dan Alya datang memenuhi undangan mereka berdua dengan elegan dan tanpa drama. Tidak ada adegan tangisan dan caci maki saat mereka bertemu diatas pelaminan meski Nike bertingkah sangat manja untuk memanasi mantan istrinya itu. Hanya satu kalimat yang masih terngiang hingga kini oleh pak Pambudi yang diucapkan oleh putri kecilnya saat itu.
"Saya harap anda berbahagia dan saya berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan anda meski saat saya menikah nanti... saya harap saat itu saya sudah tidak membutuhkan anda sebagai wali..." ucap Alya dengan suara dingin.
Saat itu Pambudi tidak terlalu memikirkan perkataan putrinya itu. Tapi sekarang ia mulai kembali mengingat jika karmanya sebenarnya sudah di mulai. Ia dan Nike selamanya tidak akan memiliki keturunan. Sedang keturunannya sendiri sudah tidak sudi mengakuinya sebagai ayah. Ia seorang ayah... namun ia tidak akan pernah merasakan hal yang dirasakan para ayah lainnya. Yaitu menjadi wali nikah bagi putrinya. Mungkin karena itu juga hingga saat ini ia tidak pernah mendengar putrinya memiliki kekasih apa lagi berencana menikah. Apa Alya akan menunggu kematiannya baru putrinya itu mau menikah? sungguh miris... tapi itu merupakan balas dendam Alya padanya.
__ADS_1